Chapter 23

Pertandingan babak Ketiga adalah pertarungan papan catur, di Artara Dimensi, sebuah celah ruang dan waktu. Tapi, ini bukanlah pertandingan catur biasa.

Pion-pion catur ini bisa bertarung, sesuai kemampuan orang aslinya di pihak masing masing, dan posisi mereka di tentukan oleh yang menjalan kan mereka, dengan kata lain, oleh para pemain catur babak ini. Dan penentuan itu secara acak, akankah orang itu ada di posisi Queen, King, Bishop, Rook, Knight atau bahkan Pawn tidak ada yang tau kecuali pemain itu, dan tentu saja, pemain juga tak bisa mengetahui penempatan lawannya. Dan juga, ada pion kosong.

Lalu, untuk hukum menangkap dan menyerang, pemain akan memerintahkan pion untuk menyerang, dan akan mengurangi mana sihir atau tenaga orang aslinya, misalnya orang itu penempatannya ada di pion Knight yang menyerang Rook, pemainnya akan memerintahkan teknik yang digunakan untuk menyerang, dan orang itu akan kehilangan mana sihir atau tenaga sesuai dengan teknik yang digunakan pion Knight itu.

Dan juga, Semua 'luka' yang di alami pion akan mendampak pada orang aslinya, kecuali untuk hukum "termakan" orang aslinya tidak akan mati, tapi kesadarannya akan terenggut selama beberapa hari, hingga sebulan penuh, dan jika beruntung hanya akan selama permainan berlangsung.

Dan yang membuat Takuya dan yang lainnya merinding, adalah yang maju pada babak ini, dia memang orang yang paling tepat karena strateginya pasti jitu, tapi justru itulah yang mereka khawatirkan, pikiran orang itu selalu sepuluh-duapuluh langkah lebih dulu di banding orang lain, dan tidak pernah ragu-ragu jika sudah memutuskan sesuatu, meskipun itu merugikan orang lain.

Dan entah apa yang ada dipikirannya semua orang tak bisa sepenuhnya menebak.

Akashi Seijuurou, sang penguasa Kota Anzen pertama di usia muda.

"... Ayo kita katakan permohonan terakhir kita pada bintang mumpung malam ini cerah." celetuk Takuya pada malam sebelum Game babak ketiga. Saat makan malam. Beberapa menahan tawa saat mendengar ini.

"Kenapa kau berkata seperti itu Nii-san? Apa kau meragukan kemampuan Sei-nii? Dia pasti akan membawa kemenangan ke pihak kita dan kau tahu itu" timpal Seishirou dengan senyum tipis-lebih tepatnya geli- kearah kakak tertuanya yang sedang menatap piring didepannya seolah itu jamuan terakhir.

Takuya membanting kepalan tangannya ke meja, mengagetkan beberapa orang di sekitar, "Aku khawatir! Di pertandingan catur itu pasti ada yang akan di korbankan! Memang tidak akan mati, tapi kehilangan kesadaran selama sebulan?! Jangan bercanda! Memangnya siapa yang mau?! Lagipula siapa yang bikin ide game yang sinting begini?!" Teriaknya penuh semangat untuk hidup, tapi kehilangan kesadaran memang bukan sesuatu yang bisa di ucapkan dengan enteng seperti buah yang di curi anak tetangga. Dibanding babak sebelumnya game kali ini terlihat seperti lelucon.

Berarti Game ini tak pasti seluruh babaknya bakalan pertarungan di lapangan. Bikin pusing saja.

"Eh bentar, sepertinya hidupku penuh dengan lelucon" lanjutnya.

"... sudah lama aku tidak mendengar Takuya energik seperti ini" gumam Kagami sweatdrop perbedaan sikap keponakannya sangat drastis dan itu menakutkan dalam arti yang lain.

"Hahaha, malah bagus kan? Ada yang mencerahkan suasana-ssu!" jawab Kise yang duduk di sebelahnya, memandangi masternya dengan senyum ganteng.

"Diem kalian dasar banci comberan dan alis cabang!" teriak Takuya ke mereka berdua.

"Apa maksudmu bocah ababil!" Balas Kagami tak kalah sengit.

"Kenapa kau menyebutku begitu Takuyacchiiii!" Tanya Kise dengan air mata buaya.

Makan malam hari ini sangat hidup, mereka tertawa sepuas hati, melontarkan kata-kata kasar dan saling mencemooh, membuka aib dan saling berteriak. Membawa kembali kenangan sebelum semuanya terjadi, musik mengalun di sudut ruangan, beberapa orang menari mengikuti alunan musik, tapi semuanya menahan diri untuk tak kebanyakan makan atau minum hingga mabuk, karena ini masih belum berakhir.

Takuya sudah berbicara pada Seishirou, memang awalnya kaku tapi semua berjalan baik. Itu terlihat dari keakraban mereka malam ini dan Tetsuya bersyukur melihat hal itu.

-Flashback-

"Selamat atas kemenanganmu, Shirou" ucap Takuya sambil menghampiri Seishirou yang duduk di kursi tanpa sandaran dan di sebelahnya ada meja dengan peralatan medis seadanya, mengganti balutan perbannya. "Biar ku bantu" kata Takuya sambil mengambil kursi dan duduk di belakangSeishirou.

"Terima kasih" balas Seishirou, dia tau kakaknya ingin mengatakan sesuatu tapi dia tak akan mencoba untuk membaca pikiran kakaknya, ia ingin Takuya mengatakannya secara lisan. Dibanding batin, apa yang dikatakan mulut terkadang memang lebih mempunyai keyakinan dan bisa di percaya.

"Maafkan aku" kata Takuya padanya.

"Kenapa kau meminta maaf kak? Tak ada yang perlu di maafkan" balasnya tenang.

Takuya tersenyum tipis, senyum tipis yang hambar "hm... menurutmu begitu? Aku merasa banyak sekali kesalahanku pada kalian hingga akupun tak tau harus di mulai dari mana" dan balutan Seishirou selesai "Nah, semoga cepat sembuh" lalu dia menepuk bahu adiknya pelan.

Seishirou berbalik dan tangan kirinya meraih kepala Takuya, menyandarkan kepala itu ke dada bidangnya, samar-samar ia bisa mencium wangi rambut kakaknya itu "Kau tak perlu minta maaf kak, semuanya bukan salahmu" kata Seishirou dengan suara lembut "Yang lebih penting, aku senang akhirnya kita bisa bicara lagi seperti ini" tangan kanannya memeluk punggung Takuya yang kini lebih kecil darinya, memeluk diri kakaknya sedikit lebih erat. Tak ingin melepaskan lagi.

'Dan dulu kami begitu bergantung dan mengagumi punggung ini' pikir Seishirou sedikit merutuki dirinya di masa lalu. 'Dan kini punggung ini juga mempunyai tanggung jawab besar'.

Takuya menghela nafas dalam pelukannya "Ada apa kak?" tanyanya.

"Bukan apa-apa, hanya terasa lucu." Takuya tertawa kecil, Seishirou melepas pelukannya dan mereka kembali duduk tegak, berhadapan "Kalau begitu, biarkan aku mengatakan ini, sudah lumayan lama aku ingin mengatakan ini padamu, saudaraku: Maafkan kakakmu yang tak becus ini, dan terima kasih sudah bersabar selama ini, kalian benar-benar adik-adikku yang hebat, dan mulai sekarang, menggantikan waktuku dengan kalian yang hilang, biarkan aku berada di samping kalian. Karena kalau tidak begitu, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri" katanya dengan senyum yang lebih baik dari sebelumnya.

Seishirou tersenyum kembali, senyumnya lebih tulus "Baiklah, mohon bantuannya dan juga biarkan aku mengatakan ini juga sebagai saudaramu: Bergantunglah pada kami, biarkan kami juga menanggung bebanmu, mendengar keluh kesahmu. Untuk ketenangan kami juga" Seishirou menggunakan kata 'kami' dari pada 'aku', dan saat itu juga Takuya seperti terkena air dingin dan bisa bernafas lebih leluasa. Matanya terbuka lebar.

"Astaga, aku terlihat seperti itu ya selama ini?" tanya Takuya sambil menutup mulut, terkejut.

Seishirou tertawa kecil "Kau tidak sadar ya? Kami selalu menunggumu untuk bicara loh".

Dan setelah sekian lama, percakapan mereka kembali normal, seperti percakapan yang mereka lakukan dulu, sangat ringan dan menyenangkan.

-Flashback end—

Suasana makan malam hari ini ramai, ketegangan beberapa hari lalu mulai memudar dan Seijuurou yang ada di situ dari tadi memilih untuk diam, tapi mendengar ada yang berkomentar seperti itu tentangnya memang sedikit membuatnya tersinggung.

"Memang adanya korban tak bisa dihindari" ucapnnya, meja makan yang semula ramai itu langsung sunyi senyap, semua mata tertuju padanya "Tapi aku akan membuat pengorbanan kalian tidak sia-sia, kalian bisa percaya padaku, aku mengetahui semua kelebihan dan semua kelemahan kalian dan cara untuk memanfaatkannya, terutama kau, Nii-san, aku punya peran khusus untukmu" katanya dengan seringai tipis di wajah tampannya. Takuya menelan ludah. "Aku pasti akan membawa kemenangan." lanjut Seijuurou tegas penuh keyakinan diri dengan perkataan angkuh yang membuat orang yang mendengarnya bisa mempercayakan semuanya pada pemuda ini. Kharismanya membuat tenang dan mengundang kepercayaan.

Permainan catur untuk babak selanjutnya diberitahukan tadi sore, tak seperti biasanya yang keesokan paginya, kata mereka mungkin untuk persiapan karena catur ini sedikitberbeda dengan catur biasanya, tapi merencanakan untuk jalannya keseluruhan permainan dengan simulasi semua kemungkinan sepertinya mustahil.

Kecuali untuk orang yang tidak 'biasa'

Fix Takuya tidak mau main permainan papan dengan Seijuurou.

Atau Ayahnya.

Untung memang tidak pernah.

"Hayoloh Takucchi sih kalo ngomong gak disaring dulu-ssu" celetuk Kise menggoda Takuya.

"Memangnya minyak goreng apa di saring segala" balas Takuya deadpanned.

"Oke, cukup sampai disana pertengkaran kalian dan CEPAT TIDUR PARA BOCAH" teriak Nijimura yang berumur paling tua dari mereka semua, sekitar awal 30 tahun. Dan secara reflek mereka langsung kembali ke kamar mereka masing-masing. Lalu para penduduk desa membereskan bekas pesta singkat mereka untuk mempersiapkan diri di game babak ke tiga besok.

Pagi itu, mendung yang menutupi langit bertambah gelap, seperti akan mengguyur padang ini, sebuah fenomena ajaib yang mustahil di lakukan secara alami, tapi di dunia yang mengabaikan akal sehat, ini merupakan hal biasa, tapi semua orang pada saat itu nekat berkumpul menonton 'Game' tanpa pelindung apapun.

Yang terpampang di layar hanyalah kedua pemuda terkenal jenius yang duduk berhadapan berantara meja dan papan catur, tak terdengar suara mereka, berbeda dengan siaran Game yang sebelumnya. Dan yang menjadi pencahayaan hanyalah gelembung bersinar yang muncul dari bawah.

Selesai bertukar beberapa cakap (mungkin basa-basi terselubung sinis dan sarkas, tebak beberapa orang) mereka duduk dan langsung memulai, dari sisi putih, Akashi terlebih dahulu. Penentuan giliran di putuskan dari pihak Tenebris, anehnya.

Akashi Seijuurou sedikit tersinggung karena sepertinya ia diremehkan dengan penentuan giliran di mana pemain putih sering memiliki keuntungan sebagai yang terlebih dahulul maju dalam permainan catur. Dan Seijuurou benar-benar akan membuat mereka menyesal atas keputusan mereka.

Di Artara Dimensi, segera setelah tanda dimulainya Game babak ini berbunyi, Seijuurou langsung menggerakkan Pawn/Prajurit putihnya dari E-2 ke E-4, dan tanpa banyak bicara, Makoto menggerakkan pawn hitamnya dari D-7 ke D-6.

Lalu Pawn putih dari D-2 ke D-4, Knight/Kuda hitam dari G-8 ke F-6, selanjutnya, Knight putih dari B-1 ke C-3, lalu Makoto mengambil langkah pertahanan, Pawn hitam dari G-7 ke G-6, defense.

Dari bangku penonton…

"Hmm…. Kalau tidak salah, biasanya untuk melawan itu bisa dengan Pawn putih dari F-2 ke F-4, atau Knight dari G1 ke F3… tapi kalau gitu jadi membosankan… kita sedang membicarakan Sei disini, haha" gumam Takuya di akhiri tawa datar. Tapi tidak cukup rendah untuk sekelilingnya tidak mendengar.

Di duduk di sampingnya ada Kise dan Tetsuya, di belakangnya duduk dari Kiri ke kanan adalah Aomine, Nijimura dan Kagami. Tiga dari mereka mengerutkan alisnya, khusus Kise memasang muka asam dan mereka membatin 'Ga ngerti…'

"Tapi sejauh ini sepertinya pionnya pion kosong semua" celetuk Nijimura, yang dibalas gumaman mengerti dan setuju Takuya dan Tetsuya. Midorima, Murasakibara dan Seishirou yang duduk sedikit jauh dari mereka dan duduk di antara penduduk lainnya diam memperhatikan, sedikit bertukar pendapat tentang jalannya Game babak ini.

Kembali ke tempat Game, Seijuurou mengeluarkan gerakan sedikit melenceng dari kebiasaan, dia melawannya dengan Menteri/Bishop putih dari C-1 ke E-3.

"Heeh…" Makoto menyeringai, matanya berkilat seperti seorang anak yang mulai tertarik pada mainan barunya. Seijuurou hanya melihat reaksinya tanpa berkomentar, lalu dia fokus pada permainan kembali.

Kemudian, Makoto menggerakkan Bishop hitam miliknya dari F-8 ke G-7 gerakan yang logis. Sejauh ini tidak ada yang menyerang dan mereka tidak saling membuka kartu pemain mereka.

Lalu Seijuurou mengambil langkah Queen/Ratu putih dari D-1 ke D-2, menghindari serangan kepada raja.

Di bangku penonton

"-sepertinya…" kata Takuya.

"kok 'sepertinya'?" Tanya Kagami. Takuya menggaruk belakang kepalanya "Yah, kau tau sendiri aku juga ga terlalu mengerti yang seperti ini" katanya sambil tersenyum malu.

Semua yang melihatnya berpikir 'sialan dia manis sekali' entah bagaimana bisa mereka berpikir seperti itu disaat seperti ini.

Kembali ke Game…

Pawn hitam: C-7 ke C-6, counter attack

"Asap beracun hingga dua petak di sekeliling." lalu pawn hitam itu mengeluarkan asap tipis hingga dua petak di sekelilingnya. Knight putih di C-3, Pawn putih di D-4 dan E-4, dan Bishop di E-3 terkena. Dan di bangku penonton, Murasakibara, Kagami dan Nijimura merasakan sesak di dada mereka dan tubuh mereka seketika mati rasa. Dan dengan tindak cepat Tetsuya, Midorima dan Takuya langsung merapal sihir penyembuh. Tapi, itu tidak berpengaruh.

"Berarti… apapun yang kita lakukan untuk mengobati luka yang disebabkan game ini percuma?" kata Midorima menyimpulkan, mereka frustasi dan tak menyangka akan se fatal ini ini berarti jika pihak lawan melayangkan serangan yang kuat luka fatal bisa mereka terima.

Tak perlu menunggu pion "termakan", kematian bisa menjemput mereka terlebih dahulu. Bahkan "termakan" mungkin lebih baik.

Dan saat itu semua orang berpikiran yang sama. Permainan sesungguhnya sudah dimulai.

Dan beberapa waktu kemudian, dengan posisi Pawn putih di F-3 dari F-2, Pawn hitam berada di B-5 dari B-7, Knight putih dari G-1 ke E-2, dan Knight hitam di D-7 dari B-8.

Seijuurou adalah yang pertama kehilangan pion Bishop putih di langkah dari E-3 ke H-6, termakan Bishop hitam, dan untuk membalasnya ia menggerakkan Queen Putih dari D-2 ke H-6, memakan Bishop hitam Makoto.

Makoto menggerakkan Bishop hitam dari C-8 ke B-7, dan Seijuurou menggerakkan Pawn putih dari A-2 ke A-3 untuk menghentikan laju Pawn hitam di B-5 "hancurkan titik sihirnya" perintah Seijuurou, Makoto masih tersenyum, artinya itu bukan apa-apa baginya, lalu ia menggerakkan Pawn hitam dari E-7 ke E-5.

Dari bangku penonton

"Duh, Pawn tadi pasti aku" ujar Aomine

"Mana sihirmu berkurang ya?" Tanya Kagami, Aomine menggeram pelan sambil menggumam "Tepatnya tenaga dan mana sihir sih…". Tetsuya mencatat posisi teman-temannya dalam permainan.

Lalu di pihak musuh, Allen tak bisa merapalkan sihir sedikitpun, dan rasanya tidak menyenangkan sama sekali. Ia seperti prajurit yang tak memiliki kekuatan apapun di tengah medan perang.

Di sisi lain,

Seijuurou lalu menempatkan King ke tempat yang lebih aman, dari E-1 ke C-1 dan Rook/Benteng putihnya dari A-1 ke D-1, bagaimanapun jika King tertangkap maka otomatis game over. Makoto sedikit tersenyum miring, meremehkan, ia memindahkan Queen hitam dari D-8 ke E-7.

Lalu, setelah King putih digerakkan dari C-1 ke B-1, Pawn hitam dari A-8 ke A-6, Knight putih dari E-2 ke C-1, King hitam dari E-8 ke C-8 dan Rook hitam di D-8, setelah Knight putih bergerak dari C-1 ke B-3, Pawn hitam bergerak dari E-5 ke D-4 memakan Pawn putih di D-4 dari D-1.

Semua orang yang menonton ini, bahkan yang tidak mengerti caturpun tau bahwa ini pertandingan yang sengit.

Lalu Seijuurou menggerakkan Rook dari D-1 ke D-4, memakan Pawn hitam makoto, lalu Makoto menggerakkan Pawn hitamnya dari C-6 ke C-5, setelah itu Seijuurou menggerakkan Benteng putih dari D-4 ke D-1, selanjutnya Knight hitam dari D-7 ke B-6, lalu Pawn putih dari G-2 ke G-3, setelah King hitam bergerak dari C-8 ke B-8, Knight putih yang datang dari B-3 ke A-5 menyerang bishop hitam di B-7, Seijuurou memerintahkan "Hancurkan", dan pion Bishop hitam mengeluarkan bunyi gemeretak kecil, yang disaat yang sama, Manuel di pihak Makoto merasakan salah satu tulang lengan, satu sisi tulang rusuk dan salah satu kakinya remuk berkeping-keping.

"Knight tadi adalah aku" kata Nijimura yang menyangga badannya yang tiba-tiba sedikit lelah terutama area sebagian atas tubuhnya dengan kedua lengan di lututnya, persis seperti dia menebas habis seseorang hingga tulang orang itu hancur. Tetsuya mencatat kembali, berpikir mungkin sekarang saat nya Sei-nii-sama nya berbalik menyerang setelah sempat terlihat kurang keren di awal, atau, memang semua telah di rencanakannya? Tetsuya tidak tau.

Makoto sedikit mengerut dan Seijuurou mulai merasa tertantang dengan permainan Makoto, Makoto memindahkan Bishop hitam dari B-7 ke A-8, sedikit maju, Seijuurou memindahkan Bishop putih dari F-1 ke H-3.

Dan Makoto menggerakkan Pawn hitamnya dari D-6 ke D-5, menyerang tepat di tengah, permainan yang berani dari Hanamiya, cukup membuat terkejut, tapi itu masih belum seberapa di banding langkah Seijuurou di Queen putih dari H-6 ke F-4, Check. "Sayat dia" perintah seijuurou. Dan Makoto menerima luka sayatan di sekujur tubuhnya.

Dari posisi penonton, Midorima tetap duduk tegak tapi ia merasa Queen tadi pasti adalah dia. Takuya menyadari hal itu dari perubahan ekspresinya dan memberitahu Tetsuya.

Makoto menggerakkan King hitamnya dari B-8 ke A-7, "Susah ya, punya kakak yang mempunyai banyak misteri seperti dia" Makoto mulai berbicara.

Nash yang melihat Makoto mendecih "Monyet itu… "

Seijuurou memindahkan Rook dari H-1 ke E-1, "katakan apa yang ingin kau katakan, aku tidak melayani basa-basi" jawabnya dingin.

"Jangan dingin begitu, aku yakin kau tau apa maksudku. Ia menghilang selama tiga tahun, tak di ketahui keberadaannya, lalu saat kembali dia membawa 'sesuatu yang menakutkan' dalam dirinya. Bukankah itu menarik?" Provokasi Makoto sambil memindahkan Pawn hitamnya dari D-5 ke D-4.

"Gerakan yang bagus" komentar Seishirou menatap layar, tapi matanya menyipit menyadari air muka kakaknya yang mengeras, apapun yang di katakan Hanamiya Makoto tadi, itu membuat konsentrasi Seijuurou sedikit terpecah. Apa itu tentang Takuya?

Seijuurou menatap Makoto tajam dan memindahkan Knightnya dari C-3 ke D-5 dengan sedikit terlalu banyak kekuatan hingga menimpulak suara saat pionnya menyentuh papan, ia mengirim kesatrianya ke dalam api, Knight hitam memakannya dari B-6 ke D-5, lalu Pawn putih balik memakannya dari E-4 ke D-5. Makoto bersiul.

"Peramal kami mengatakan akan ada keturunan penyihir Murni yang tersisa yang akan membawa kehancuran bagi dunia dengan kekuatan yang luar biasa dan tuan kami, The Hidden Ones bersemayam di jiwanya. Kami kira penyihir Murni sudah kami musnahkan tapi bagaimana bisa aku melupakan sang dewi malamku, Akashi Takuya?" jelas Makoto sambil tertawa. "Padahal tandanya sudah jelas."

"Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu, dasar binatang melata"

"Ah, maaf tuan muda, aku tidak akan mengatakan lebih dari ini. Tapi aku ingin kalian mengingat ini: Awasi dia baik-baik" setelah itu dia tertawa puas melihat wajah Seijuurou dan pasti beberapa yang melihat ini memiliki wajah yang menarik, sayang ia tak bisa melihatnya.

Makoto menggerakkan Queen hitamnya dari E-7 ke D-6.

Normalnya, pemain akan memindahkan Queen putih ke D-6, dan lawan bisa memakannya dengan Rook Hitam. Tapi Seijuurou melakukan gerakan yang luar biasa, ia memindahkan Rook miliknya dari D-1 ke D-4, mengorbankan bentengnya untuk pion hitam: C-5 ke D-4. Tapi Rook putih itu pion kosong.

Lalu, ia menggerakkan pion Rook lagi dari E-1 ke E-7, ke wilayah musuh, bisa saja Makoto termakan pancingan itu untuk Queen hitam, apa ia mengorbankan Rook? Tidak juga.

"Karena dengan itu King putih akan bergerak dari F-4 ke D-4, melakukan Check, lalu King hitam A-7 ke B-8, untuk menghindar, setelah itu King putih akan maju dari D-4 ke B-6, melakukan Check juga, lalu Bishop hitam dari A-8 ke B-7, Knight putih dari A-5 ke C-6, King hitam dari B-8 ke A-8 dan terancam oleh Bishop putih di H-3, dan terakhir, King putih ke A-8, dan Check mate" jelas panjang Seishirou yang didengarkan oleh semua orang. Mereka menggunakan papan catur yang dimiliki salah satu penduduk disana untuk menganalisis pertandingan.

Tapi Makoto tidak terpancing dan memindahkan King hitam dari A-7 ke B-6, selanjutnya, Seijuurou memindahkan Queen putih dari F-4 ke D-4, dan King hitam memakan Knight putih di A-5

"Wah, jumlah mereka seimbang" komen Kagami setelah menghitung pion, sama sama sebelas.

"Fokusmu di itu paman?" Tanya Takuya mengerutkan alis melihat pamannya.

"Aku ga ngerti, juga ga pernah main catur, jadi ngapain juga mikir keras buat paham" jawab Kagami tidak peduli.

"Sikap dan kemampuan otak paman Kagami memang patut di acungi jempol" komentar Tetsuya yang membuat beberapa orang di sekitar sana tertawa.

"Dasar keponakan kurang ajar" olok Kagami menahan kesal dan tangannya untuk tidak mencubit pipi keponakan yang paling bunngsunya itu.

Game berlanjut dengan gerakan Pawn putih dari B-2 ke B-4, King hitam dari A-5 ke A-4, Queen putih dari D-4 ke C-3, Queen Hitam dari D-5 ke D-4, Rook putih: E-7 ke A-7 .

"Akashi Seijuurou akan kena Check Mate jika Rook hitam bergerak dari D-8 ke D-6, King putih dari B-1 ke B-2, Queen hitam dari D-5 ke D-4, akan termakan Queen putih yang ada di C-3 dan Queen putih termakan Rook hitam yang di D-4, sebuah kekalahan di pihak kita-nanodayo" kata Midorima menganalisa.

"Midorima-san, kau main catur juga?" Tanya Seishirou.

"Iya, Shogi juga terkadang" jawab Midorima.

Tapi prediksi Midorima tak berjalan, Bishop hitam bergerak dari A-8 ke B-7, Dan Rook putih dari A-7 ke B-7, memakan Bishop hitam, Queen hitam dari D-5 ke C-4, Queen putih dari C-3 ke F-6, memakan Knight hitam di F-6. Lalu King hitam membuat ruang untuk bergerak dengan memakan pawn putih di A-3 dari A-4, dan Queen putih bergeser dari F-6 ke A-6, Check.

Makoto menggerakkan King hitam dari A-3 ke B-4, menyadari kesalahannya dia sedikit mengerutkan alisnya, King hitamnya memakan pion putih, dan Seijuurou mengalami kebuntuan, dia tidak bisa bergerak lagi, seharusnya, tapi dia menemukan satu gerakan, Pawn putih: C-2 ke C-3 untuk di makan Queen hitam di C-4. Jika itu terjadi, ia tinggal menggerakkan Queen putih dari A-6 ke B-5 dan Check mate.

Tapi, Makoto melakukan gerakan di luar itu, ia kembali menggerakkan King hitamnya dari B-4 ke C-3, lalu Seijuurou berniat mendesak Makoto dan melakukan Check dengan memindahkan Queen putih dari A-6 ke A-1, King hitam: C-3 ke D-2, Queen putih dari A-1 ke B-2, Check kembali.

"Kau keras kepala sekali, ingin cepat-cepat kembali dan membongkar semua rahasia kakakmu?" goda Makoto dengan nada mengejek khasnya "Dasar brother complex"

Akashi tak langsung membalas, dia menutup matanya dan mengambil nafas dengan kepalanya yang sudah berkedut keras menahan amarah. Jangan terpancing atau kau akan terperangkap dalam permainan emosinya.

Makoto mendengus dengan tawa singkat, tak berniat untuk berhenti memprovokasi si rambut merah, ia menggerakkan King hitam dari D-2 ke D-1. Tapi dia juga bisa melihat bahwa keadaannya tak begitu bagus, ia harus mengakhiri ini dengan kemenangan.

Seijuurou menggerakkan Bishop putih dari H-3 ke F-1, menyerang Queen hitam di C-4 "Ilusi keputusasaan tak berdasar" dan mana sihir Murasakibara terhisap, lalu Nash ambruk dengan mata terbuka, berteriak seperti orang gila.

Makoto menggerakkan Rook hitam dari D-8 ke D-2, berniat mengunci semua pergerakan Seijuurou dan menyerang Queen putih "Hujan petir" dan Midorima berteriak kesakitan tepat saat pion Queen terkena hujan petir itu, dan Seto yang masih mengalami luka berat dari pertandingan sebelumnya langsung tergeletak koma.

Dan setelah itu, saat semuanya kembali terlihat buntu, Seijuurou menemukan gerakan luar biasa lagi, menemukan hanya satu gerakan yang bisa meneruskan pertandingan.

Rook putih bergerak dari B-7 ke D-7, Makoto yang menyerang Queen putih dengan Rook hitamnya, memakan rook putih di D-7. Bishop putih bergerak dari F-1 ke C-4, memakan Queen hitam, dan pion hitam B-5 memakan Bishop putih.

Dan seiring waktu, hasil pertandingan ini mulai kelihatan dengan jelas. Dengan itu, semua yang menonton pertandingan ini mencapai satu pikiran. Hanamiya Makoto telah kalah.

Queen putih di B-2 memakan Rook hitam di H-8,

Rook hitam: D-7 ke D-3,

Queen putih: H-8 ke A-8,

Pawn hitam: C-4 ke C-3

Queen putih: A-8 ke A-4

King hitam: D-1 ke E-1, menghindari check mate Queen putih

"Dia sudah berakhir"

Pawn putih: F-3 ke F-4

Pawn hitam: F-7 ke F-5

King putih: B-1 ke C-1, menghindar dari Rook hitam di D-3

Rook hitam: D-3 ke D-2, untuk memakan pawn putih di H-2

Queen putih: A-3 ke A-7, rook hitam memakan pawn putih D-2 ke H-2, dan dia bisa check mate King hitam di E-1, atau bisa memakan Rook hitam di H-2.

"Dengan semua omong besarmu hanya segini kemampuanmu?" kata Seijuurou dengan sikap angkuh keahliannya.

Makoto tertawa "Biar kukoreksi, itu semua bukan omong besar, tapi barusan adalah pertandingan yang menarik" lalu Hanamiya mengulurkan tangannya untuk bersalaman tepat saat pintu dimensi untuk keluar terbuka.

Seijuurou menatap tangan Hanamiya yang terulur dan mendengus geli "Sikapmu menjijikkan sekali, kau berbakat dalam memprovokasi orang kuakui itu" dan dia berbalik tanpa menjabat tangan Hanamiya.

Hanamiya menarik tangannya "Well, Thank you" katanya dengan suara yang bersahabat tapi terdengar seperti sinis yang sangat menyinggung kesabaran.

Pertandingan selesai dengan kemenangan Akashi Seijuurou.

Di akhir pertandingan, pemain di perlihatkan siapa saja pion ber'isi' yang telah termakan dan tumbang.

Dari pihak Akashi:

Akashi Takuya

Kagami Taiga

Nijimura Shuuzou

Kise Ryouta

Murasakibara Atsushi

Dari pihak Hanamiya:

Nash Gold Jr

Seto

Veneva

Manuel

Hara Masato

Tinggal tersisa 2 babak game lagi, dan Seijuurou sudah cukup puas dengan hasilnya, orang-orang yang berhubungan erat dengan semua ini tidak bisa ikut serta dalam game babak selanjutnya dan dia harap mereka akan terus seperti ini hingga game selesai,orang-orang dari pihaknya yang masih punya kesadaran bisa di andalkan dan mudah di atur. Masih banyak sekali pecahan puzzle yang harus dia kumpulkan dari orang-orang ini agar ia mengerti semua keadaannya, secara menyeluruh. Lalu, untuk dari pihak lawan…. Di asumsikan jika pihak lawan mengikut sertakan ke sepuluh anggotanya termasuk Hanamiya, berarti yang bertahan tinggal 5 orang lagi termasuk lelaki menjengkelkan itu.

.

.

.

Takuya perlahan membuka mata langit musim panasnya, kelopaknya rasanya seperti di beri lem dan badannya seperti diberi beban yang tak terlihat, sulit sekali untuk 'bangun'. Saat ia berhasil minimal membuka matanya, yang ia lihat adalah langit-langit tanah liat yang disinari cahaya lilin.

Sudah berapa lama ia tak sadarkan diri?

Sialan Seijuurou benar-benar menjadikannya kunci permainan, Rook yang bergerak ke E-7, melakukan Check dan menyerang sang Raja hitam, Hanamiya Makoto. Sejak langkah itu alur pertandingan sebenarnya sudah terlihat tapi ia tak menyadarinya, pergerakan Seijuurou terlalu halus.

"Ternyata kau sudah bangun-nanodayo" suara berat yang familiar menginterupsi pikirannya, saat Takuya menoleh MIdorima duduk di sebelah kasurnya. Hanya duduk di sana memperhatikannya.

"Jangan mengagetkanku begitu, hampir saja aku teriak tadi" kata Takuya "berapa lama aku tidak sadar?" tanyanya.

"Beberapa jam setelah Game berakhir, kita menang" jawab Midorima

"… begitu ya, entah kenapa aku tidak kaget" komentar Takuya, tapi Midorima tidak membuat tanggapan, setelah beberapa detik berlalu Midorima bangkit dari kursinya dan berjalan keluar.

"Midorima, sudah agak lama sejak kau tidak menghisap darahku, kau baik-baik saja?" Tanya Takuya, Midorima berbalik dan melihat Takuya sudah membuka dua kancing atas kemeja yang di kenakannya. "Kemarilah" kata Takuya sambil menunjuk lehernya.

"Aku masih baik-baik saja, kupikir masis belum perlu untuk meminum darahmu-nanodayo" tolak Midorima sambil menaikkan kacamatanya.

"Memang keadaanmu tak separah sebelumnya, tapi masa harus menunggu sampai kau seperti zombie begitu? Kau bahkan tak bisa mengeluarkan sepertiga kemampuanmu, pihak kita sendiri yang repot jika memiliki prajurit tidak siap tempur sepertimu" teknik untuk memaksa Midorima melakukan sesuatu demi kepentingannya sendiri dengan bilang 'ia akan merepotkan orang lain' ini masih berhasil.

Midoirma menghela napas "… baiklah"

Dan saat di tengah melakukannya Aomine dan Seishirou tiba-tiba masuk "Ooi Midorima bagaimana keadaan Taku-GEH!"

"Ada apa Aomine-sa…."

Midorima akan menarik tarinngnya saat Takuya mengancam "Jangan kau berani, selesaikan saja seperti biasa, ambil sedikit lebih banyak juga boleh."

Midorima menggeram rendah menurut dengan terpaksa dan itu membuat leher Takuya terasa geli.

"…. Maaf, sepertinya kami mengganggu…" Seishirou akan keluar dengan mendorong mundul Aomine yang menganga , saat Takuya menghentikan mereka dan menyuruh mereka duduk, lalu mengatakan apa urusan mereka kemari.

Midorima mati-matian menahan malu dan untunglah ia sudah selesai meminum sebanyak yang ia perlukan jadi ia mengakhiri itu dengan cepat, tak lupa menjilat luka yang ia timbulkan agar sembuh lebih cepat.

Saat Midorima akan pergi pergelangan tangannya di genggam Takuya "Kenapa tergesa begitu? Duduklah dan temani kami berbincang" katanya dengan senyum dan suara yang manis.

'TAKU SADIS KUPING SI MIDORIMA MERAH PARAH GITU OI' batin Aomine takut akan sisi jahil Takuya yang terkadang sadis, walau tidak terlalu akrab ia menaruh simpati pada Midorima.

"Ti-tidak, aku harus memberitaukan yang lain kalau kau sudah sadar-nanodayo" tolak Midorima dengna suara yang bergetar.

"Oh iya, tentang itu, maukah kalian tidak memberitahu yang lain kalau aku sadar?" pinta Takuya.

"Kenapa?" Tanya Seishirou penasaran . "Kau gila Taku, resikonya kena amuk Seijuurou!" dan protes Aomine bersamaan. Midorima hanya menoleh cukup hanya untuk melihat Takuya.

Takuya memasang wajah sedikit patah harapan "Kalian tidak bisa..?" katanya dengan suara memelas.

Takuya: 1 vs Seisirou, Aomine dan Midorima: 0

"… baiklah"

.

.

.

.

.

Setelah mereka keluar meninggalkannya, Takuya mengangkat kepalan tanganya "Yes, ga ketemu Seijuurou, yes, santai lebih lama!"

….

Harap maklum, kakak mana yang ga gentar punya adek segarang macan betina yang lagi hamil.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Pionnya berbentuk seperti pion di catur di harry potter and the Philosopher's Stone (film pertama, kalau tidak salah sih judulnya itu)

Maaf kalau ada langkah pion yang janggal, aku mencontoh langkahnya dari video The Greatest Chess Game Ever Played, aku bukan orang yang teliti. Betewe videonya download dari yutup, ada Kasparov2 gitu deh, betewe orang yang ngomong logatnya kentall banget ga ngerti si doi ngomong apaan.

Cukup lama mendelay chap ini AKU JADI GA TAU GAME BABAK INI TUJUANNYA APA sumpah, ga ngerti. Alasan delaynya macam macam jadi terserah imajinasi pembaca saja intinya RL. (For god sake my uterus jumping for my period IT HURTS, im crimpled over in pain QvQ)

Aku tau kebanyakan pembaca bakalan nyekip langkah pion dan angka-angka di atas, aku juga ngerti, makanya aku bermaksud memasukkan hal lain, plot hint misalnya, tapi kalo terlalu mengekspos nanti menghancurkan mood pembaca, kalo masukin Hint homo kenceng tar ga jadi tegang gegara plot yang mulai serius malah berfangirling menuju tak terbatas dan melampaui dinding kamar, PLUS ULTRA banget deh

Dan jadilah yang diatas, aku tak ingin terseret nafsu fujoshi dan menghancurkan mood cerita #eisedap

kuharap plot hint-nya ga receh banget

ane lagi dikejar waktu up ini jadi ga sempet re-read ulang

bye