Chapter 24

"Selanjutnya adalah pertarungan sihir, satu lawan satu di arena Querium"

Tetsuya menelan ludahnya dan melihat ke kawan-kawannya terakhir kali sebelum di teleport ke arena. Entahlah, melihat mereka seperti memberi keberanian lebih baginya.

Arenanya adalah sebuah lahan kosong, berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 10-15 km, arena itu dikelilingi puing-puing bangunan yang strukuturnya lebih buruk dari bangunan yang ia tau, bahkan ia tak mengenali jenis tanaman disana, sebelum maupun sesudah masa kegelapan ini.

"Ini adalah negeri untuk orang-orang yang terbelakang, sudah sewajarnya mereka tidak semaju kita, Tuan Akashi Tetsuya~"

Tetsuya langsung menoleh pada orang yang berbicara, berdiri berlawanan dengannya di sisi lingkaran yang lain. Orang itu memiliki rambut hitam yang agak panjang, kulitnya putih sedikit pucat, dia mempunyai tubuh tinggi dan cukup berotot untuknya masuk ke kategori atletis, bulu matanya panjang dan pakaiannya rapi. Tapi yang paling mengganggu Tetsuya adalah senyuman orang itu, dia tersenyum, tapi dia seperti tidak benar-benar tersenyum.

Dinginnya.

"Namaku Mibuchi Reo, tangan kanan tuan Hanamiya Makoto"

"Meskipun kau telah mengetahuiku rasanya tidak sopan jika aku tidak memperkenalkan diri juga. Perkenalkan, namaku Akashi Tetsuya, ketua badan intel dan mata-mata Kota Anzen, juga kepala medis di pasukan militer."

Mibuchi bersenandung mendengar pangkat lawannya. Bocah sombong. "sayang sekali aku harus menyakiti anak manis sepertimu~, karena, kau adalah adik dari orang yang paling ku benci" kepalan tangannya membara, dia menekuk lututnya dan berada di posisi siap bertarung.

Di awali oleh Tetsuya yang langsung menyerang dengan tombak Es yang ia lempar ke Mibuchi, tapi langsung di tangkis dengan sihir Reo: Bunga Api.

"Kenapa kau membenci kakakku?" Tetsuya tau kalau yang mereka maksud adalah Takuya, dan ia juga tau kalau Tenebris mengincar kakakknya itu, tapi kenapa Mibuchi membencinya?

Senyum Reo langsung berubah menjadi senyum jengkel "Karena dia, Hanamiya-sama dan ketua tidak pernah melirikku lagi! Padahal aku loyal dan terkuat di pasukan kami! Aku adalah tangan kanan mereka tapi masih kurang, kurang, kurang dan terus ada yang kurang dariku di mata mereka! Lalu kakakmu muncul begitu saja dan merebut perhatian mereka seketika, kau tau bagaimana perasaanku?! AKU BENCI! KAKAKMU MENJIJIKKAN!"

Tetsuya tau, ini sedikit mirip saat Takuya membawa pulang guardiannya, ataupun Mitsuki. Cemburu. Tapi "Bukankah terlalu kalau sampai mengatainya menjijikkan? Dia bukan penjilat sepertimu" Tetsuya memakai kuda-kuda bertarungnya, lingkaran sihir berwarna biru-putih siap di kedua tangan. Dari bicaranya barusan Tetsuya tau kalau Hanamiya ternyata bukan ketua Tenebris, yang mengumumkan adanya Game ini bukan Hanamiya dalam penyamaran.

Elemen sihir Reo adalah Api. Sedangkan Tetsuya Air. Ini akan jadi pertandingan yang sengit karena masing masing memegang kelemahan lawannya. Tapi meskipun begitu-

"Tetsuya tidak akan menang"

"Eh?" Aomine kaget akan perkataan pemuda di sebelahnya "Kenapa Seijuurou? Kukira kau akan mendukung adikmu itu" tanyanya heran pada Seijuurou yang duduk tegap menatap layar.

"Aku tidak akan berbohong tentang ini, aku juga telah memberitahu Tetsuya, kemampuan dan pengalaman mereka berbeda jauh" jeda sedikit sebelum dia melengos geli "Tapi ini Tetsuya yang kita bicarakan" soft spot.

Aomine terkekeh lalu berkata untuk meyakinkan dirinya juga "benar, lagipula dia adik kalian, para monster" katanya sedikit bercanda juga, ia jadi lebih optimis. Seijuurou hanya diam mendengarkan sementara Seishirou tersenyum mendengar percakapan singkat mereka.


Tetsuya terus melempar serangan sambil melompat mundur, sedikit kesulitan menghindari serangan beruntun yang Reo lepaskan selagi pria berrambut raven itu bertahan.

'Tak boleh begini terus, aku hanya akan kelelahan'

Tetsuya memikirkan taktik selagi mengulur waktu, staminanya pasti jelas kalah, Tetsuya kalah di berbagai sisi, kecuali beberapa hal, mungkin. Yaitu hawa keberadaan, ukuran tubuh dan akalnya.

"Berani juga kau melamun di tengah pertempuran kita!" Blaaarrr Tetsuya terpental cukup jauh, terbanting di tanah dan berguling. Dia cepat-cepat bangkit dengan kedua tangan dan kakinya, saat berdiri badannya sudah membungkuk. Terbatuk, tubuh sudah terkena serangan. Ceroboh, seharusnya ia tidak boleh lengah, satu lawan satu memang tidak pernah jadi bidangnya.

Lalu kenapa ia maju? hati kecilnya mulai bertanya.

Untuk kakaknya. Untuk warganya.

Bukan hanya untuk bertingkah keren? Pembuktian diri karena kakakmu yang terlampau hebat?

Bukan.

Kau yakin?

BWOOOSH

Bara api menjulang tinggi dan Reo menciptakan dinding di sekeliling mereka dari api itu, mencegahnya untuk keluar sekaligus bermaksud mempercepat jalannya babak ini, menghabiskan oksigen, pedang bermata dua. Menghiraukan pertanyaan samar yang tiba-tiba muncul Tetsuya menatap lawannya bengis.

"Kau ini bodoh atau bagaimana?" Tanya Tetsuya penuh sarkas, bukan dirinya yang biasa. Sudah dari awal ia tidak menyukai lawannya ini. Pengikut setia Hanamiya, ia tebak.

Reo masih tersenyum, tidak pernah lepas dari wajahnya sejak pertama "Nah, kalau begini kan lebih simple, aku ingin segera menyelesaikan ini dan bertemu dengan Hanamiya-sama, aku sudah rindu padanya, aih" katanya sambil memegang pipi dan berekspresi seperti seorang gadis yang sedang di mabuk cinta.

Tetsuya langsung mengayunkan tangannya cepat dari belakang ke depan, menuju Reo adalah ombak air yang cepat dan seperti akan membelah apapun di hadapan mereka, ia menghindar, dan disitu menunggu serangan Tetsuya yang lain, ia melemparkan beberapa sabit es yang berhasil mengoyak baju dan melukai Reo di beberapa titik yang akan menghambat pergerakannya.

Reo tertawa "Akhirnya kau mulai serius ya!" sambil melemparkan bola api yang meluncur cepat seperti meteor kearah Tetsuya. Dikarenakan suhu tinggi dan kurangnya Oksigen si bluenette harus memadamkan api di sekitarnya, sedikit memboros energi.

Rasanya seperti di kejar, Tetsuya berhasil menyusun taktik sederhana dengan cepat mengandalkan senjata miliknya. Ia menciptakan beberapa cloning air dan es dirinya, menyerang Reo bertubi-tubi dan tak menunjukkan celah lawannya untuk menyerang. Tapi Reo adalah penyihir berpengalaman, ia masih sempat menyerang balik tapi ia tak bisa menebak mana Tetsuya yang asli.

'Aku lupa kalau dia punya hawa keberadaan yang tipis!' batin Reo frustasi di tengah sengitnya pertarungan. Arena sudah di penuhi asap, suhu terus berganti secara drastis. Di arena itu kilatan Api dan Es terus berseling menyapu daratan, di sekeliling mereka telah tercipta lingkaran lumpur dan Reo tak ingin menginjaknya ataupun membuang-buang mananya untuk mengeringkan.

Klon Tetsuya mulai bergerak mendekat meskipun mereka sudah tidak sering melemparkan serangan seperti tadi, sekarang mereka menyeimbangkan antara serangan dan bertahan.

Lalu Reo melancarkan menghantamkan tinjunya ke tanah yang seketika menimbulkan lingkaran api besar yang meluas beberapa kilometer, membakar semunaya dan menghilangkan klon tetsuya sekaligus, Reo kehabisan nafas 'aku tidak terlalu suka menggunakan teknik ini karena memakan banyak Mana dan tenaga' ia mengelap keringatnya. 'Anak itu berhasil memojokkanku seperti ini, lumayan juga' saat ia berpikir begitu, Reo terlambat menyadari kalau Tetsuya sudah berada di belakangnya, memegang tombak Es yang besar, lalu-

JRAASH

Menusuk tubuhnya dengan tombak itu hingga tembus ke bagian dadanya.

"Gukh!" Reo terbatuk darah. Tapi dia tersenyum, anak ini tidak menusuk di titik vitalnya, mengambil kesempatan atas kedekatan fisik mereka, Reo membakar Tetsuya tanpa ampun dengan kakinya saat salto, menandang tubuh ringkih pemuda itu untuk pijakannya menjauh.

Reo tidak langsung mencabut keluar tombak Es itu, kalau dicabut pendarahannya akan bertambah parah, ia tak menguasai sihir penyembuh.

"AAAAAAAAAAAAGH…KHAAAAAAAAAAAH" Tetsuya berteriak kesakitan, sebisa mungkin ia cepat-cepat memadamkan api itu tapi Reo terus membakarnya.

Lalu Tetsuya memutar tubuh dengan poros kaki kanannya, lalu kiri hingga tercipta dua langkah ke depan, terus begitu dengan kecepatan bertambah hingga gelombang air tercipta seperti dinding mengurung mereka, Reo tak bisa membuat dinding itu menjadi uap, ujung jarinya malah teriris karena dinding air yang berarus cepat itu.

Masih menahan rasa sakit yang luar biasa, Tetsuya melompat dan memutar tubuh 90 derajat dari posisinya berdiri, begitu kakinya menapak tanah beberapa jalur es tercipta, tangannya terbuka lebar, dan sebelum Reo bereaksi apapun, Tetsuya menghantamkan tangannya menjadi satu, meremukkan tubuh penyihir itu beserta tubuhnya.

Kelihatannya, tapi Tetsuya sempat menciptakan ruang agar api penyihir sialan itu saja yang padam terkena es.

Sihir menghilang, kedua penyihir ambruk. Tetsuya tergeletak tak berdaya dan tak sadarkan diri, dengan luka bakar yang sangat parah. sedangkan Reo bertumpu pada tangan dan lututnya, darah memancar dari berbagai bagian tubuh, kepalanya rasanya akan remuk dan ia kesulitan menyeimbangkan tubuhnya, penglihatannya tak fokus dan ia mati rasa, nafasnya memburu.

"Cukup, Reo" Reo langsung tersenyum senang, tadi adalah suara Hanamiya langsung di kepalanya "Baik!" dan ia menggunakan portal dengan tenaga terakhirnya.

Di pertarungan ini, pihak Tenebris yang menang.

Sekembalinya Tetsuya dengan keadaan kritis, para penduduk yang mengetahui pengobatan dan dipimpin oleh Midorima mengambil tindakan cepat, mereka membawa tubuh pemuda malang itu ke bangunan tersendiri dan pertarungan berpacu dengan waktu bagi tim medis dimulai.

Seishirou mengepalkan tengannya erat dan menggertakkan giginya hingga tangan dan mulutnya berdarah. Dan Seijuurou bersumpah dengan kebencian dan dendam yang memuncak, tak pernah mereka semarah ini pada siapapun.

"Demi seluruh darah yang mengalir dalam tubuhku dan harga diriku, mereka akan menerima karma dariku"

"Tidak perlu, Sei"

Kedua pemuda berambut merah itu menoleh. Mata mereka terbelalak saat menatap manik biru yang seperti bongkah es yang langsung menembus ke jiwa, amarah mereka langsung hilang dan tekad mereka membeku, lalu hancur berkeping.

"Takuya! Syukurlah kau sudah siuman!" Aomine memukul punggung Takuya keras dari belakang. Tangan satunya memukul, tangan satunya membawa peralatan medis. "Balaslah mereka sampai mereka berasa enggan hidup mati tak mau!" katanya kemudian dengan wajah serius dan menahan amarah. Lalu di menepuk pundak Takuya dua kali dan tersenyum simpel sebelum berlari kembali.

"Kau baru siuman-"

"Memang kenapa?" perkataan Seijuurou terpotong, mata Takuya tak meninggalkan ruang sama sekali untuk argumen "Aku akan maju di babak selanjutnya."

Seishioru maju dan meninju dada kakaknya pelan "Tolong…" katanya seperti menitipkan semua perasaannya pada Takuya.

"Serahkan padaku" jawab Takuya, Seishioru mengangguk lalu pergi untuk membantu tim medis.

Takuya kembali menatap Seijuurou "Aku lebih kuat darimu, memang apa lagi yang membuatku tak bisa mengikuti Game huh?"

Seijuurou menghela napas kasar "Kau bisa kapan saja tak terkendali, apa kau tau kalau The Hidden One ada dalam dirimu?" Seijuurou meragukan kalau kakaknya tau ada makhluk lain yang bersemayam dalam dirinya.

Takuya memiringkan kepalanya, jeda sebentar "Aku tau kok" Seijuurou berkedip kaget.

"Kalau begitu kenapa kau masih tetap ingin maju?!"

"KA-RE-NAAAA, aku ingin menyelesaikan ini sekaligus, dan babak terakhir nanti adalah kesempatanku. Mereka menginginkanku kemungkinan bukan karena darah murniku sebagai penyihir, tapi karena Dia." Mendengar ini Seijuurou kaget karna Hanamiya mengatakan hal ini hanya padanya.

"Hal ini sedikit mudah tertebak jika kau memikirkannya" Takuya menggaruk kepalanya selagi mendekat, lalu dia menepuk bahu Seijuurou. Dia mengeratkan pegangannya pada bahu Seijuurou "… dukung saja aku"

Dengan begitu, selama dua hari masa interval antara babak, Takuya mempersiapkan pertampuran akhir Game ini, posisi antara pihak mereka dan Tenebris adalah seri.

Keadaan Tetsuya sudah lebih baik meskipun dia masih berada dalam keadaan koma dan kritis. Kedua guardiannya, Kagami dan Nijimura masih belum bangun.

"Babak Kelima, daratan yang terlupakan, Death Match."

Meskipun perasaannya campur aduktapi Takuya bersyukur pikirannya masih bisa tenang dan fokus. ia membuka matanya dan mengangkat kepalanya, tai saat itu juga fokusnya pecah dan hatinya mencelos. bingung, curiga

"... Takao?"

.

.

.

.

TBC


Duh kukira aku bisa bikin pertarungan panjang untuk cowok unyu satu ini tapi ternyata memang ga bisa -_- btw aku kok sadis bener ya di chapter ini, jangan-jangan aku psikopat :v #halah_tai

Ah, maafkeun atas keterlambatan ini, aku beneran gak bisa nemu gimana caranya bisa ngebuka website yang di blokir di mana-mana. Aku baru pindah kota buat kerja dan aku ga nemu wifi corner yang deket njing.

DAN KARENA TEMENKU YANG SUPER BAIK KAYAK EMAK MEMBERI PENCERAHAN

Pake vpn, aplikasinya bisa di download di play store, tinggal pilih aku punya proxy master ama turbo vpn si #ngiklanea

Pas aku ngetik chapter ini lagi lagi Takao yang jadi surprise material dan aku itu mbatin '…e kampang dia lagi'

aku cringe ama Reo disini sumpah.

YEEEY CHAPTER DEPAN UDAH TAKUYA LAWAN PIMPINAN TENEBRIS

LAST FIGHT

GONNA END THIS SHIT IN A FEW CHAP AND IM DONE

Aku harap pas pertarungannya ga terlalu banyak ngomong dan malah mengalahkan musuh dengan ceramah no jutsu #ngek

Takuya: kau segitunya membenciku? *masang muka melas*

Author: enggak, aku cinta kau tentu saja tapi ceritamu merepotkan. Tapi aku gak keberatan kalo disuruh nyeritain kisah cintamu yang harem itu, kalo lagi luang sih, eh ga jadi deh. Ngerepotin, mungkin ada reader yang mau. *makin kesini suaranya makin kecil*

Takuya: tapi aku tidak punya harem? *naikin sebelah alis*

Author: *tepok jidat* aku lupa kalo dia itu sangat tidak peka tentang sekelilingnya, coba kalo soal cewek dih- #dalemati