Chap 26

Badai petir dan puting beliung memenuhi Dataran Hitam seperti pilar bangunan megah, pilar-pilar itu melolong dan meraung tak henti-henti seperti ratusan monster buas yang mengamuk, awan hitam bergulung melingkar membuat pemandangan yang tak mengenakkan. Tanah tempat berpijak retak, bergoncang dan melayang di udara, debu bertebaran menghalangi mata untuk melihat, beberapa penyihir menghentikan serangannya hanya demi melihat kebangkitan makhluk yang sebelumnya hanya dikira sebagai dongeng, mitos. Mereka sekilas mengira pemandangan di depan mereka ini adalah gambar yang keluar dari buku.

The Hidden Ones, makhluk itu, melihat mereka yang dibawahnya menatap seperti hewan kecil pada predator. Reaksi mereka terbagi menjadi dua, gemetaran dalam ketakutan, atau terkagum dengan mulut terbuka. Benar benar menggelikan. Setelah ia melaksanakan tugasnya, ia akan kembali tertidur, itu sudah kodratnya. Karena itu, ia ingin bersenang-senang sejenak. Mempermainkan mereka, seperti yang ia lakukan kepada para makhluk sebelum mereka.

Umur yang panjang dan tugas yang sama sedikit menggugah keingintahuannya, pengetahuannya bertambah seiring permainannya dengan makhluk makhluk kecil ini, masa demi masa. Tapi ada beberapa hal yang tak berubah. Misalnya, makhluk berwujud sempurna yang disebut "manusia" dengan alasan mereka masing masing melakukan apa yang mereka inginkan ketika Ia muncul, melawannya meski percuma, ada yang memanfaatkan kehadirannya, ada juga yang pasrah menerima takdir. Oh, dan juga keberagaman dunia yang ia hancurkan selalu membuatnya takjub.

"Hahaha" The Hidden Ones tertawa.

Seijuurou langsung terlepas dari keterkejutannya, menjadi sangat waspada dengan satu gerakan makhluk itu yang hanya berupa dongakan kepala dan tawa yang terdengar datar tak bernyawa. Begitu juga yang lain, mereka langsung menyingkirkan ketakutan mereka dan fokus pada pertarungan (atau perang) ini, otak mereka berputar, bagaimana caranya mengalahkan Tenebris dan… jujur saja, mereka benar benar tak percaya diri bisa mengalahkan The Hidden Ones, setidaknya, mereka ingin menyegelnya kembali ke kehampaan tempatnya berasal. Memang sekarang bukan saatnya untuk takut, bukankah nereka sudah mempersiapkan diri sejak mengikuti game ini? Tapi…

"o-OI KAU!" teriak Kagami, makhluk itu menatapnya, Kagami sempat tersentak mundur tapi lalu ia berkata lagi setelah menelan ludahnya "TAKUYA! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA?! DIA KEPONAKANKU" setelah berkata itu, entah bagaimana tersulut api kemarahan di dadanya. Tanggung jawabnya, Takuya adalah tanggung jawabnya dan keponakan kesayangannya, ia gagal menyelamatkannya, ia membiarkan Takuya tertelan makhluk itu, seperti ia gagal pada anak itu sebelumnya dan istrinya, ia marah pada diri sendiri. Pria macam apa dia, kalau kakaknya ada diposisi Kagami, pasti dia tak akan membuat kesalahan seperti itu.

Dari tudungnya yang gelap gulita dan terdapat dua sinar merah sebelumnya, sekarang terbentuk sabit merah melengkung keatas yang lebar . "… I don't know, maybe sleeping, waiting for his soul to be vanished"

Kagami menggertakkan giginya, kini emosinya hanya murni kemarahan dan rasa protektif "Kau ada di dalamnya selama ini, apa kau tidak merasakan apa apa?!" andai, mungkin saja kita bisa mengembalikannya sebelum terlambat, secara baik-baik mungkin? Kata-kata semacam itu berputar di kepalanya. Kalau mereka menyerang makhluk ini, apa Takuya juga terluka?

Tapi pemikiran itu hanya numpang lewat di pikiran mereka yang terus berputar dan emosi yang berganti dengan cepat seperti saluran tv.

"I don't care because all I need is his body, I need a shape. And its not my origin to have a feelings"

Makhluk itu mengalihkan pandangannya kearah 'Takao' yang seketika menunduk padanya begitu merasakan pandangannya. Mereka semua tak akan menyangka apa yang terjadi di detik selanjutnya.

SLASH!

Semudah memotong jeli dengan pisau tajam, The Hidden Ones memotong wujud 'Takao' yang meledakkan mana hitam dan miasma. "Tuan… kenapa anda melakukan ini?" mana hitam dan miasma itu berkumpul kembali seperti asap hitam, di dalam kepulan itu seperti ada bola hitam sebesar kelereng bergerak sesukanya.

Midorima yang memperhatikan menebak kalau itu adalah 'inti' dari sosok pemimpin Tenebris itu. "Akashi Seijuurou, Aomine Daiki-dono. Aku ada usulan rencana" ujarnya. Seijuurou dan Aomine perlahan mendekat padanya.

"All this plan and you don't know my intention, guess you're not that smart" ledek The Hidden One bernada rendah.

Crik! Crik! BLAAARRR!

Sebuah petir tunggal terbesar yang pernah dilihat manusia menyambar The Hidden Onestanpa di sangka, tapi tentu saja pelindungnya tak bisa di tembus semudah itu. Dan serangan itu lebih kuat dari semua sihir listrik dan cahaya yang pernah dia lihat, mana sihir sebanyak ini tak masuk akal bagi manusia. Ia melirik dan mendapati Seekor Kirin bersurai kuning emas, matanya berkilat dan menyala garang "Tak akan kumaafkan kalian yang telah memanfaatkan Taku-cchi dan membuatnya menderita! Kalian akan hancur-ssu!" ucap Kirin itu.

"Kise?!" Kagami, Aomine, Midorima dan lainnya terkejut karena tak banyak orang yang bisa berubah menjadi makhluk mitos. Dibutuhkan jumlah mana yang besar dan beberapa persyaratan rumit lainnya.

Saat The Hidden Ones akan membalas, Seijuurou dengan cepat merapalkan sihir pemanggil "Cerberus!" dua ekor Anjing raksasa berkepala tiga dan bergigi setajam pedang keluar dari lingkaran sihir, mereka menggeram mengangcam, lalu melompat dengan pijakan tanah yang terbang dengan lincah, kakinya mengobarkan api berwarna hitam keunguan, api neraka. Tanah yang telah hewan itu pijak meleleh dan jatuh.

Cerberus-cerberus itu dengan mudah menjatuhkan penyihir-penyihir hitam dan makhluk panggilan mereka yang bermana rendah, membunuh mereka dengan sekali serangan untuk membersihkan kroco, Seijuurou melakukannya agar pihaknya bisa fokus melawan para tokoh Tenebris di hadapan mereka.

Para tokoh itupun juga tak berbuat apapun saat anak buahnya dibantai habis di hadapan mereka. Mereka diam menunggu perintah sambil mengunci sasaran masing masing untuk menjadi lawan. Mata mereka benar benar merendahkan musuh. Situasi mereka memang di atas angin. Tapi beberapa masih was was karena The Hidden One itu sendiri meskipun pemimpin yang mereka akui royal terhadap makhluk itu.

"Well, what're you waiting for?"

"SERANG!"

Dengan teriakan Seijuurou dan 'Takao' Kedua pihak maju bersamaan, memulai kembali perang yang sempat terhenti, sihir mana putih dan hitam berbenturan, efeknya tercampur dan meledak.

'Walau badan ini hancur sekalipun, kami pasti akan menyelamatkanmu, Takuya, kami akan membawa kemenangan padamu!' adalah yang mereka pikirkan untuk menyokong kejiwaan mereka yang lelah.

.

Sementara itu, para prajurit penyihir yang tak ikut Game menyadari kalau lambat laun, medan perang mereka meluas dan mendekati kota yang mereka lindungi. Karena mereka melihat beberapa penduduk pinggiran dan diluar kota Anzen yang mengangkat senjata untuk mereka dan berteriak akan memperjuangkan dunia damai mereka juga. Para manusia biasa itu berjumlah 56.000 pasukan, dua kali lipat dari jumlah pasukan penyihir mereka. Sebuah bantuan yang luar biasa, mereka pikir.

Para petinggi militer sedikit mengubah strategi demi menghormati perasaan para penduduk yang menjadi prajurit secara sukarela. Dan Aomine Shoichi, istri dari Aomine Daiki menjadi komandan dan menunjuk Kasamatsu Yukio bagi wakil komandan bagi pasukan sukarelanya.

Insting bertahan hidup mereka menendang masuk begitu melihat penyihir hitam, makhluk sihir, prajurit penyihir kota Anzen dan medan perang, mereka bertarung dengan melampaui batas mereka masing masing, mereka bertarung dengan segenap yang mereka punya, matipun mereka selalu dengan wajah puas dan bangga. Demi keluarga, demi teman-teman, demi tempat tinggal mereka, demi langit biru dan malam berbintang yang menaungi rumah mereka dulu.

Tapi bagi yang tak beruntung, jasadpun mereka tak punya.

Shoichi di tendanya tertawa pelan "Kami sudah berjuang begini," dia melihat keluar dari pintu tendanya yang dibuka, menampilkan sedikit prajuritnya yang lewat menjaga camp "Sebaiknya kalian menangkan ini ya" gemuruh di kejauhan dan langit mendung yang memutar dan bergulung menuju suatu tempat membuat perasaan tak enak. Di hati terdalamnya ia hanya ingin mereka pulang dengan selamat.

"Komandan! kami memerlukan kehadiran anda di baris belakang! Musuh menyergap dari sungai Thomas!" Kasamatsu melapor dengan singkat dan terburu.

"Baiklah, penjaga! Siapkan Gate!" dia mengenakan jubah pelindungnya, mengambil tas perlengkapan dan tongkat sihir miliknya. Dia pergi ke medan perang diikuti Kasamatsu.

.

Kagami, selesai membakar habis Hara hingga tulangnya menjadi abu, langsung maju menyerang The Hidden One dengan kepalan tangannya yang berkobar merah, dengan teknik bela dirinya dia melemparkan serangan beruntun ke The Hidden One tanpa jeda, tapi jangankan mengenainya, mendekatpun sulit, 'Takao' yang menjadi kumpulan mana hitam itu mengelilinginya dan membuat Kagami kesulitan bergerak dan melihat.

"Kau seharusnya adalah manusia biasa" satu kalimat itu membuat konsentrasi Kagami terpecah menjadi dua, membuatnya mudah untuk di serang, Kagami terlempar jatuh dan punggungnya membentur keras salah satu tanah yang melayang. Memang tulangnya tidak apa apa karena pelindung yang ia rapalkan, tapi tetap sakit dan shock yang disebabkan mengguncang.

Kagami baru ingat, ia berbagi mana dengan Takuya. Semua teknik sihir dan mana yang ia gunakan, aslinya adalah milik Takuya.

Kagami menggertakkan gigi, Takuya masih hidup di dalam The Hidden One, masih ada harapan untuknya menyelamatkan Takuya, keponakan kesayangannya, keponakannya yang paling ia banggakan. "TUNGGU AKU, TAKUYA! AKU PASTI AKAN MENYELAMATKANMU!" teriak Kagami sekuat yang ia bisa.

.

Mata Takuya terbuka, dingin dan gelap yang ia rasakan menyelimutinya mendadak hilang, berganti putih dan hangat. Anehnya ia tidak silau.

Dimana ini?

Sepertinya tadi ia mendengar suara Pamannya.

Yang ia ingat ia masih bertarung dengan 'Takao'.

Oh iya, sihir yang ia gunakan mulai kehilangan sinar dan warnanya terakhir kali ia rapalkan.

Oh iya, tubuhnya mulai berubah. Menjadi hitam dan berubah bentuk.

Oh iya, ia seharusnya telah keluar dari Dimensi tempatnya dan 'Takao' bertarung, berarti dia bisa bertarung bersama teman-teman dan saudaranya.

… Oh iya,

Sepertinya Śūn'yatelah mengambil alih tubuhnya.

"Sialan" gerutu Takuya pelan. Anehnya, ia merasa tidak ada yang bisa menyentuhnya saat ini. Perasaannya begitu tenang.

"Baru bangun dan kata pertamamu adalah umpatan, sepertinya aku harus mendidikmu lagi, Akashi Takuya. Untung adik-adikmu tak mencontohmu"

Nafas Takuya tercekat Karena yang berbicara adalah suara yang ia kenal, dengan cepat ia menoleh kebelakang.

Suaranya susah keluar, matanya terbelalak seperti ikan "A.. ayah..?"

"Bukan ayah saja lho!"

"Ibu?!"

"Lama tak jumpa, Takuya"

"Tatsuya!"

Takuya terdiam, mulutnya megap megap "apa-, apa aku sudah mati?!" jujur saja, separuh dirinya lega saat memikirkan hal ini.

"Kalau kau mati secepat ini aku akan menghukummu di surga, Takuya" seperti biasa Ayahnya tegas sekali.

Ibunya tersenyum lembut, berjalan kearahnya, lalu duduk di depan Takuya, membelai rambutnya "belum, lebih tepatnya kau berada di antara hidup dan mati, anakku" lalu senyumnya menghilang, jarang jarang Takuya melihat ibunya berwajah serius "tapi kalau ini diteruskan maka kau akan benar benar mati, dan aku tidak menginginkanmu cepat cepat ke sisi ini, Takuya sayang" terakhir ibunya menangkup wajah Takuya di kedua tangannya.

"Ibu ingin kalian menyusul kami saat sudah tua, saat kalian telah melakukan semua yang ingin kalian lakukan, dan semua yang harus kalian lakukan." kata ibunya sambil menatap matanya sungguh sungguh, dan menggoyangkan tangan yang menangkup wajahnya, memberitahu kalau yang wanita itu mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

Warna mata ibunya masihlah indah dan hangat seperti yang ia ingat, Takuya tak ingin melihat mata ini dalam keadaan kehilangan sinarnya dan mati. Satu dari beberapa hal yang membuatnya bersyukur tidak melihat jasad orang tuanya.

Takuya tersenyum tipis, ibunya melepaskan tangkupan tangannya di wajah Takuya.

Mata Takuya melihat lantai "Apa aku bisa melakukannya ya… aku tidak yakin, dan juga, aku lelah" senyumnya senyum sedih dan matanya terlihat tidak yakin, raut wajahnya lesu dan lelah. Untuk anak umur 16 tahun ini memang berlebihan…

Takuya menunduk, wajahnya sekarang sama sekali tak terlihat "Aku, aku lelah terus bertarung dan kehilangan, aku lelah bertarung seorang diri, aku lelah bertingkah sok kuat dan bilang semuanya baik-baik saja. Kalian tidak menganggap aku sepenuhnya siap ketika dibebani ini kan? Aku tidak kuat, apalagi sempurna, aku hanya bisa berjuang dengan segala yang kumiliki"

"Aku hanya…" mata dan hidungnya memanas, ingin ia peluk ibunya, tapi entahlah, rasanya Takuya tak pantas mendapatkan pelukan atau mengaku anak dari orang tuanya. Ia selalu sadar kalau ia terlalu egois untuk lingkungan hidupnya yang seperti ini. "Aku hanya orang egois yang ingin mempertahankan kebahagiaanku" karena waktu kecil ia dididik keras hingga ia hampir saja menjadi robot milik ayahnya. Andai ia tak bertemu dengan Kise atau Murasakibara… Andai dia tak mendengar cerita Paman Kagami…

Dulu Takuya tak diijinkan bertindak seperti anak seumurannya, otaknya terus berputar setiap hari dengan marga Akashi di intinya, satu satunya waktu bermain adalah hari libur selama beberapa jam dengan Seishiro dan Tetsuya, Seijuurou tidak pernah akur dengannya. Karena itu saat ada kesempatan mengikuti pamannya, Takuya langsung lepas kendali akan apa yang di kubur dalam-dalam itu.

Saat merenungi masa lalunya tiba tiba Takuya merasakan pelukan dari belakang, Rambut hitam lembut mengenai kulitnya, lengan yang memeluknya erat terlihat lebih pucat dari yang ia ingat. "Aku tau aku beruntung bisa memiliki sesuatu yang bisa jadi lebih baik jika dimiliki orang lain, karena itu aku berjuang sekuat tenaga dengan segala yang kumiliki. Aku tak cocok jadi penerus keluarga, tapi aku mencintai keluargaku, jadi aku mencari jalan lain untuk menaikkan derajat marga Akashi. Aku juga mencintai petualangan dan sihir, aku ingin melakukan banyak hal, melihat banyak hal, mengetahui banyak hal, rasa ingin tau ku tak pernah puas. Aku tau ini tindakan bodoh, tak bertanggung jawab, kekanakan dan pecundang. Aku seperti lari dari kewajibanku tapi aku tidak menyesal."

"Lalu bagaimana dengan orang orang yang terkena imbas perbuatanmu?"

Dada Takuya serasa di tusuk sebilah pedang mendengar itu. Ia tau cepat atau lambat pertanyaan ini akan muncul dari mulut orang lain. Pertanyaan yang senada dengan "Dasar egois"

Takuya melihat kearah Tatsuya, mata yang mempunyai beauty mark di bawahnya itu menatapnya balik. "Kau melemparkan tanggung jawab yang seharusnya kau pikul pada Seijuurou dan Seishirou, adik kembarmu. Memang mereka tidak komplain, tapi pasti pernah terbesit di kepalamu terkadang mereka akan memandang keluar jendela dengan tatapan itu" manik pemuda itu terlihat tulus dengan sedikit tekanan dan kekecewaan. Tatsuya pasti kecewa padanya.

Takuya tak bisa menjawab.

"Yah, ayah ibumu juga tak keberatan, karena kamu mengerjakan peran yang seharusnya di jalankan si kembar, belajar dari Pamanmu tentang dunia dan mengangkat derajat keluarga di mata dunia, sejujurnya kamu melakukannya lebuh baik dari yang kami pikirkan" kata Ibunya dengan humor, berniat menghibur. Ayahnya masih berdiri sambil bersidekap di belakang sang ibu. "Tapi ibu tidak pernah menyangka selama ini kau berpikir begitu" Ibunya terdengar sedih, Takuya tak berani menatap ibunya.

"Tapi bukan berarti aku tidak pernah protes dalam hati, yang aku didik untuk menjadi penerus sejak kecil adalah kau, Takuya." suara berat dan regal ayahnya memberi sensasi dingin dari telinga ke seluruh tubuh. "Pemikiran seperti itu benar benar mengecewakan".

Benar, semuanya benar, setiap hari ia juga berpikir seperti itu.

Suara Tatsuya lembut menyapa telinganya lagi, "Bertambah dewasa, semakin kau menyadari apa yang kurang dan salah dalam tindakanmu. Karena itu, tidakkah kau ingin melakukan sesuatu karenanya? Karena itu kau berjuang melindungi mereka dari sentuhan Tenebris sejak kembali dari MistGound kan? Kau juga lanjut berusaha meringankan beban mereka sejak mendapatkan kembali ingatanmu".

Itu memang salah satu alasannya.

"Karena itu juga kau mati matian mendapatkan maaf, atau restu mereka dan melindungi mereka dengan caramu. Juga mencari jalan keluar dari situasi ini".

Itu juga benar.

"Karena itu juga kau berjuang selama ini seorang diri menekan The Hidden One dalam dirimu agar semua yang kau sayangi, semua yang berharga bagimu tidak terluka, tidak lagi." Tatsuya mengeratkan pelukannya, ia tau Takuya masih merasa bersalah tentangnya.

"Kau ini apa? Cenayang?" tanggap Takuya dengan humor hambar, itu juga tepat.

Tatsuya tersenyum selagi menghembuskan nafas pelan, meletakkan kepalanya pada bahu Takuya "Karena kau memang orang yang seperti itu, Takuya. Kau pikir sudah berapa tahun aku mengenalmu? Sudah berapa lama aku memperhatikanmu? Kau saja yang tidak peka".

Takuya tersenyum pahit.

Ibunya memeluknya juga, dan tanpa ia sadari ayahnya juga mendekat, menepuk dan mengusap kepalanya. Gestur yang mengejutkan, Takuya kehilangan kata-kata untuk sesaat.

"Meskipun begitu, kau adalah anak kami, kebanggaan kami. Kami mendukung semua yang kau lakukan dan hanya berharap kau baik-baik saja di perjalananmu. Jadi jangan berpikir kalau kau tak pantas ya?" ibunya berkata sambil melepaskan pelukannya dan berdiri "Tetaplah tegar, anakku, kau kuat, kau pantas, kamu tak tergantikan dan jalanmu masih panjang, belum saatnya kau ke tempat kami". Wanita itu tersenyum,

"Apapun yang kau lakukan, kami memaafkanmu"

Dan seketika terasa ada bongkahan es yang meleleh dalam dada. Rasanya lega dan membuat haru. Air matanya menetes, mungkin es yang mencair di dadanya meluap dan keluar lewat mata, pikir Takuya bercanda pada dirinya sendiri. Dia tertawa sambil mengusap matanya.

"Kalau kau mati cepat, aku tak akan mengakuimu sebagai anakku. Jaga adik-adikmu itu baik baik sampai mereka pulang pada kami." ayahnya berkata sambil mengikuti ibunya pergi.

'Tapi kematian tak ada yang tau, mungkin saja aku lebih cepat mati daripada mereka. Ah, meskipun begitu-'

"Baiklah, ayah,ibu! Aku janji akan menjaga mereka dengan segenap jiwa ragaku seumur hidup!" katanya pada punggung kedua orang tuanya, sosok mereka berdua perlahan menghilang dalam kabut.

Lambat laun ruang putih itu memudar, berganti hitam, udara dingin mulai meruak masuk. Kabut mulai menebal. Tatsuya yang memeluknya dari belakang mempererat pelukannya hingga Takuya menahan nafasnya sebentar, lalu Tatsuya mencium pipinya sebelum berdiri.

"Aku titip Taiga juga ya" adalah kalimat terakhirnya sebelum pergi dan menghilang.

Takuya menatap kosong ke arah ketiga orang itu menghilang. Ia sendirian, tapi begitu pun juga adik adiknya selama ini. Begitupun juga dengan pamannya sepeninggal Tatsuya. Murasakibara juga selama yang ia tau selalu sendiri, Kise juga meninggalkan keluarganya demi dirinya, sedangkan Midorima, ia juga pasti berjuang karena vampire adalah kaum yang menganggap diri mereka tinggi, mengetahui kalau Midorima mengikutinya juga pasti mereka tidak akan tinggal diam. Aomine Daiki juga sendiri sejak mengikutinya menjalani Game, jauh dari orang tersayang saat kekacauan begini adalah perjuangan juga. Ah, meski dengan semua itu mereka tetap mendorong punggungnya, memeluknya, tertawa dan menangis bersamanya, mereka bertahan dengannya dan sifat uring-uringannya ini. Takuya dihujani oleh rasa malu yang luar biasa.

Takuya tersenyum, karena ia tidak memiliki semua masalah sendirian di dunia ini, tersenyum untuk membangun mentalnya sendiri, tersenyum karena kebodohannya tak menyadari hal ini lebih awal. Semua belokan itu dan solusinya semudah ini. "Sepertinya aku harus bangkit lagi, kehidupanku bukan hanya milikku, kesengsaraan bukan hanya pada diriku. Ayo, Takuya! Mereka menunggumu pulang!" kata-kata penyemangat ia lontarkan pada dirinya. Takuya menarik napas panjang sebelum membersihkan pikirannya, mendongak dan berkata lebih keras.

"This body is mine Śūn'ya, how dare you."

Takuya melebarkan kakinya dan membentuk kuda-kuda yang kuat, lalu muncullah lingkaran sihir bercahaya perak sebesar lapangan tenis di bawah kakinya. "Seal magic: God's Prison: Tartaros!"

Muncul berpuluh-puluh rantai sebesar rantai kapal dari lingkaran sihir yang besar dan bercahaya perak, baju dan rambutnya tertiup angin kencang tapi posisinya tak berubah sama sekali. Rantai itu terus menjulang keatas menuju kegelapan yang seakan tak berujung.

.

The Hidden Ones tersentak dengan sesuatu yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya, sesuatu itu seperti menariknya, kekuatannya menghilang perlahan, ini adalah perasaan saat dia akan tersegel (oleh makhluk ras terkuat dulu) atau akan tertidur setelah menjalankan tugasnya. karena terkejut ia melemparkan gelombang ke Kagami di hadapannya yang bangkit kembali. Gelombang sihir itu cukup besar dan meluas, Kagami tidak bisa menghindar jadi dia merapalkan dua sihir, Tameng api dan Protector.

Tapi kedua sihir itu tak bisa menahannya lama, Sesaat Kagami akan terkena gelombang sihir itu badannya tak bisa bergerak karena reaksi otak pada bahaya, pandangannya menggelap. Semua lukanya seketika tak terasa sakit lagi "Ah, apa yang akan terjadi padaku"

Satu satunya penyesalan Kagami adalah ia tak bisa menyelamatkan Takuya. Sial, kakaknya pasti akan memarahinya di akhirat nanti. Tapi disamping itu, apa yang harus ia katakan pada istrinya?

Di kesadarannya yang lambat laun menghilang waktunya seakan terhenti, otaknya memutar rekaman kehidupannya, Kagami tertawa hambar. "Berapa kalipun aku akan bangkit, aku tidak akan menyerah. Masa' seorang paman kalah dengan keponakannya? Hah, lucu" Tapi sejujurnya Kagami tak tau bagaimana ia bisa keluar dari kondisinya ini.

Untuk waktu yang lama aku telah memperhatikanmu, kau yang mempunyai hati yang besar yang menginginkan kebahagiaan untuk semuanya, saat kau mengirimkan pasukanmu ke medan perang kau pun menangis dan berdoa untuk mereka. Maafkan aku, saat aku berada sedekat ini denganmu pun aku tak menyadari seberapa dalam lukamu, seberapa kerasnya kau berusaha untuk tak hanyut dalam arus kesedihan dan keputusasaan. Dan matamu yang biru secerah musim panas terletak kekuatan yang tak pernah kulihat di mata siapapun karena itu aku…

Kagami tak merasakan sakit yang dia tunggu, dia rasa dia juga tidak mati, karena itu Kagami membuka matanya yang entah sejak kapan tertutup. Dia bisa merasakan tubuhnya kembali. Yang retinanya tangkap adalah surai merah yang memanjang, efek menggunakan sihir yang terlalu banyak. Gejala pertama kehabisan mana.

"Mundurlah Paman, maafkan kelancanganku ini tapi, jangan gegabah." Seijuurou menoleh ke arahnya "Jangan mati" Kagami menggumamkan maaf dan terima kasih. Lalu ia merasakan sakit tak tertahankan di mata kanannya.

"Akh sial" Kagami kehilangan mata kanannya, padahal setelah ini selesai ia berniat mamberikannya pada Takuya. Kagami langsung meminum ramuan penyembuh yang disediakan untuk situasi genting dan tak ada penyihir yang bisa sihir penyembuh di sekitar.

Aomine menyalip dari belakang dengan kecepatan tinggi dan melepaskan teriakan keras. "HAAAAAAAAAA!"

SLASH! SLASH! BRAAAK!

Aomine bertarung habis habisan melawan dua orang petinggi Tenebris yang ada di mode monster mereka. Kini arena mereka di depan Kagami dan Seijuurou, mereka bertarung dengan kecepatan, kelincahan dan kekuatan tanpa peduli sekitar. Sihir mereka mereka gunakan penuh untuk terbang dan bertahan. Aomine dan musuh musuhnya terpental setelah membenturkan kekuatan dan sihir mereka yang sama-sama kuat.

Lalu mata mereka menangkap sekelebat hitam dan ungu lalu saat sesuatu itu berhenti, mereka bisa melihat kalau itu adalah orang berperawakan besar, berjubah dan bertopi hitam dengan pinggiran emas, dan dari topinya keluar rambut lumayan panjang berwarna ungu. Itu Murasakibara, dia membuat kloning, entah yang mana dia yang asli yang jelas dengan mudah ia 'melipat' musuhnya di sekitarnya dengan sihir ruang yang langka. 'Takao' berniat menyerang Murasakibara karena paling dekat dengan The Hidden Ones (dan juga yang paling kuat), wujudnya yang sekarang lebih memudahkannya untuk bergerak dengan leluasa dan tidak mudah dikalahkan. Tapi dia langsung di hadang oleh Semburan api Seishirou yang di kelilingi lava yang dibuatnya untuk penyerangan dan perlindungan. Lalu saat akan menyingkirkan Seishirou dia terlempar oleh angin puyuh yang di hembuskan sayap Pegasus. Cerberus menghilang menggantikannya.

"Lawanmu adalah kami" Seijuurou berkata dengan tatapan seekor pemangsa. 'Takao' dengan cepat melesat kearah lain dan kedua Akashi langsung mengejarnya.

"Aku akan menjelaskannya dengan singkat-nanodayo. Aomine-dono dan Kagami-san melawan petinggi Tenebris sebanyak-banyaknya dan menjauhkan mereka dari The Hidden Ones sementara makhluk itu sibuk dengan Kise dan Murasakibara. Akashi Seijuurou dan Akashi Seishirou, jika dia berkenan meninggalkan pos nya, akan melawan Pemimpin Tenebris, aku asumsikan kelemahannya adalah bola hitam sekecil kelereng yang terus bergerak di dalam.. dirinya. Sementara aku akan jadi back-up dan healer kalian karena jenis, jangkauan sihir dan penglihatanku-nanodayo" kata Midorima tidak yakin bisa menyebut kumpulan asap hitam itu tubuh.

Kise yang kini menjadi Kirin melesat maju dan menyerang The Hidden Ones dengan hujan Petir yang ia panggil dari awan di atasnya, cuaca ada dalam kuasanya sekarang jadi Kise sedikit percaya diri. Dengan lihai dia menghindari tali hitam yang di julurkan The Hidden Ones, sepertinya sekali saja terkena itu daya hidupnya akan terserap banyak. Dia sudah terkena sekali, jika selanjutnya terkena lagi, dia sudah tidak ada kesempatan. Kise terus menyerang dengan agresi di jarak dekat sementara Murasakibara melancarkan serangan kuat sambil menjaga jarak, mencari kesempatan.

WUUUSH

"Kh…!" Kise kesulitan mengendalikan tubuhnya yang terlempar dan terseret gelombang udara dan Mana Hitam yang menyebar. Dari pada menyerang pikirnya akan jauh lebih mudah untuk memanfaatkan arus gelombang ini, tapi resikonya, mana hitam di tubuhnya akan meningkat pesat. Beberapa bagian tubuhnya menghitam lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Murasakibara kembali merapalkan sihir ruang agar The Hidden Ones terkurng dan tak bisa bergerak tapi dengan satu kibasan tali hitam sihir ruang yang diarapalkan dua sekaligus hancur seperti kaca yang rapuh. Padahal The Hidden Ones terlihat sibuk dengan Kise dan Midorima tapi itu masih belum cukup. Murasakibara frustasi lalu dia teringat perkataan Takuya

"Kalau tak bisa menahan atau menghadapi, kau masih bisa menghindar, membelokkan, memperlambat, banyak pilihan. Apalagi kalau kau bekerja sama dengan orang lain. Intinya, lebih fleksibel aja!"

"RASAKAN INI!" Lagi, Kise melepaskan mantra sihir cahaya berskala besar. Cahaya itu berbentuk sabit dan telak mengenai The Hidden Ones. Dan Midorima menumbuhkan Pohon raksasa terbesar yang pernah ada dari tanah yang masih di bawah sana, memerangkap The Hidden Ones di batang utamanya yang tebal dan kuat. Mana Midorima sudah terkuras, terlihat dari wambutnya yang memanjang dan pipinya yang menghitam.

Tentu saja tidak berpengaruh banyak. Tapi tergerakannya terhambat, bahkan sempat terhanti.

"Murasakibaracchi! Sekarang!" Saat ada jeda sebentar dari pergerakan The Hidden Ones Murasakibara langsung mengaktifkan sihir "Seal Magic: Hades Prison!"

.

.

.

.

TBC


Ah, aku nggak bagus di bagian inspirasional, bicara, pidato, dsb...

LAMA TAK JUMPA KAWAN, SAYANG, DAN BOS

*Inhale* *long sigh*

Aku usahakan chapter depan adalah chapter yang terakhir. Aku nggak tau menurut kalian bagaimana tapi menurutku end-nya sudah cukup bagus, banyak cerita yang end-nya dibuat gitu. JUST WAIT FOR IT.

#Rant (gak usah baca juga nggak papa)

Aku, aku buntu di tengah.

Jadi

Aku membaca beberapa fic di wattpad yang mendapat peringkat di fandom knb dan orifict berbau otome dan shojo. Karena menurutku fic ini masuk ke genre shojo. Untuk inspirasi atau referensi karena aku benar benar buntu di fic-ku yang satunya dan kesulitan di yang ini, banyak kali kesempatan saat semangatku menulis tiba-tiba tinggi karena mendapat ide, tapi karena keadaan tidak memungkinkan ide-nya lepas (saat aku masih di tengah-tengah kerja atau melakukan sesuatu dan nggak bisa ditinggal, saat nggak ada hp atau buku atau alat tulis di dekatku, dsb). Ini benar benar memuatku kesulitan meskipun kerangka ceritanya udah jadi, kayak-

Manik manik dan desainnya udah ada tapi benangnya belum ketemu.

Btw kembali ke baca fict di wattpad. Ada yang bagus tapi lebih banyak yang cringe kebanyakan yang cringe ada di caranya menulis, POV (mungkin udah fic lama jadi bau wibunya ketara banget kayak aku). Atau mungkin menyelamku kurang jauh aja ya. Btw aku belum dan males menyelam AO3, idk why.

Dan aku masih suka genre travel back in time di fandom knb, atau cerita yang settingnya dari masa SMP haha. Dan tentunya nggak cringe dan meskipun baca romance aku nggak pingin yang… mainstream. Dan masih males baca yang bahasa inggris

Padahal fict inggris bagus-bagus ya. Yang indo terlalu puitis atau berlebihan dan bertele-tele (meskipun kayaknya aku juga gitu sih, damn)

Aku pengen baca fict petualangan dan fantasy, atau AU. Aku pingin merasakan debaran aku ingin ledakan, aku ingin fict yang membuatku menghela nafas puas atau membuatku teriak gebuk-gebuk bantal, aku ingin yang bisa membuatku tertawa kayak orang gila.

Intinya aku butuh asupan yang memuaskan dahagaku, para author yang story-nya ku-like dan ku follow, kapan kalian update huhu T^T)o

Tolong kasih review?