;HEONEYPEACH PROUDLY PRESENTS;

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Terkadang selain berhati-hati terhadap apa yang kalian katakan, ada satu lagi hal yang harus kalian perhatikan tentang hidup ini; yaitu, berhati-hati terhadap apa yang kalian harapkan.

.

.

.

Musik simponi Mozart mengalun pelan dari kamar Seongwoo, lebih tepatnya dari ponsel Seongwoo. Dan disambut juga dengan sinar mentari yang menelisik dari balik tirai; alam berusaha membangunkan Seongwoo dengan lembut, menghasilkan gerakan kecil dari tubuh Seongwoo yang ada di atas tempat tidur. Sekarang hampir jam setengah tujuh pagi, Seongwoo ada kelas sekitar jam sembilan.

Namanya Alfario Seongwoo Rahardian, 22 tahun, jurusan psikologi, tinggal sendirian di Jakarta karena keperluan kuliahnya, terlebih karena kedua orang tuanya yang bekerja secara nomaden, jadi lah dia lebih memilih untuk menyewa apartemen yang daket dengan kampusnya. Kenapa bukan kos-kosan? Karena Seongwoo tidak suka berbagi tempat dengan orang asing dan juga dia tidak suka disuruh-suruh oleh ibu kos. Selain sangat bersih dan rapi, Seongwoo juga orang yang sangat logis. Untuk itu dia lebih memilih hidup sendiri daripada ikut mengurus perusahaan ayahnya dan hidup nomaden. Logikanya, jika dia hidup berpindah-pindah dalam setahun makan dia tidak akan mempunyai hal-hal menarik yang akan dia termui dalam jangka waktu panjang di satu tempat, begitu pikir Seongwoo. Dan, Seumur hidup Seongwoo tidak pernah mempercayai tentang hal-hal berbau mistis atau pun horor. Dia ada di barisan paling depan aliansi yang menolak eksistensi dunia lain. Apa yang ia lakukan ketika teman-temannya mengajaknya untuk nonton film horor? Seongwoo akan tidur selama film tanpa merasa terganggu dengan teriakan orang-orang di bioskop.

Sebelum masuk ke kamar mandi, Seongwoo mengecek ponselnya yang tiba-tiba dipenuhi dengan pesan masuk dari teman-temannya.

Seongwoo selamat ulang tahun, semoga blablabla..

Wah, kak Seongwoo bisa ulang tahun juga rupaya? Tolong jangan lupa traktir kami.

Hari ini ada yang nambah tua, nih. Seongwoo gue tunggu traktirannya.

Seongwoo met ultah ya, wish u all the best. Blablablabla.

Dan masih banyak lagi pesan yang ia dapatkan.

Oh, ternyata dia berulang tahun hari ini.

'gue bahkan lupa kalau hari ini ulang tahun.' Dilihatnya kalender yang duduk manis di atas meja belajarnya. Benar, ini hari sabtu tanggal 25 Agustus, tepat 22 tahun yang lalu ia dilahirkan ke dunia.

Seongwoo bergumam sebelum mengunci layar ponselnya dan beranjak mengambil handuk.

Berbagai kesibukan sebagai mahasiswa mulai-memasuki-angkatan-tua membuatnya sangat sibuk hingga melupakan banyak hal, termasuk ulang tahunnya sendiri. Bahkan sepertinya ia tidak merayakan hari lahirnya tahun kemarin karena sibuk menyusun rencana untuk masa depan komunitasnya. Lagi pula waktu itu tidak ada orang yang kenal dekat dengan Seongwoo hingga mengingat hari ulang tahunnya. Jadi lah dia melewatkan hari ulang tahunnya seperti dia melewati tujuh hari sibuk dalam seminggu seperti biasa.

Seongwoo hanya tidak mengetahui bahwa hari di mana umurnya bertambah, maka semakin besar tanggung jawabnya dengan perbuatan, kata-kata dan harapannya, secara harfiah. Banyak yang ia harapkan di tahun ini dan tentu saja dia tidak bisa ungkapkan semuanya.

Bagi Seongwoo, hari ini—ulang tahunnya—sama sekali tidak berbeda dengan hari-hari lainnya dalam seminggu. Dia tetap sibuk seperti biasa dan juga harus mengejar dosen pembimbing guna mendapatkan gelar sarjana secepat mungkin. Tidak ada kelonggaran untuk tugas meskipun dia berulang tahun. Memangnya dosen pembimbing galak itu akan peduli? Jadi wajar jika ia melupakan hari ulang tahunnya tahun kemarin.

Mungkin ada beberapa perbedaan hari ulang tahun kali ini; pertama karena Seongwoo sudah mempunyai banyak teman dengan membuat komunitas di kampusnya, dia jadi mendapatkan banyak ucapan selamat ulang tahun seperti tadi pagi, kedua juga karena tahun ini mungkin Seongwoo sudah mempunyai seorang—ekhem—kekasih hati, jadi dia tidak melewatkan hari ulang tahunnya sendirian seperti jomblo ngenes. Ketiga, Seongwoo bisa mengharapkan kejaiban di mana sebelumnya dia tidak pernah mengharapkan apa pun. dia butuh keajaiban dari pengharapannya karena sebenarnya, Seongwoo sangat muak dengan teman-temannya.

Hari ini Seongwoo sarapan dengan roti bakar sederhana berlapis selai stroberi. Sederhana tapi setidaknya bisa memberikan Seongwoo tenaga untuk berjalan ke bawah menuju stasiun commuter line terdekat. Dia terbiasa berangkat sendirian karena kebanyakan teman atau geng komunitasnya berada di luar Jakarta, tetap masih di kota sekitar penyangga Jakarta. Mungkin kalian tahu betul di mana universitas tempat Seongwoo menuntut ilmu hanya ketika dia turun di daerah Jatinegara lalu naik TransJakarta sebentar menuju Rawamangun. Yang sudah tahu tolong diam-diam saja ya. Kampus itu terkenal dengan mahasiswa abadi soalnya dan Seongwoo—amit-amit—tidak mau kutukan itu jatuh ke padanya.

Yap, ini masih jam delapan pagi, dan karena kampusnya lumayan dekat Seongwoo lebih memilih untuk datang lebih cepat setengah jam. Di saat orang-orang biasanya akan masuk lima menit sebelum kelas dimulai. Tapi faktanya, Seongwoo harus menemui beberapa kawan komunitasnya di perpustakaan kampus. Oh, mungkin kalian harus menemui kawannya juga.

"Yo, ada kak Seongwoo yang hari ini ultah." Satu anak laki-laki tinggi dengan cengiran aneh langsung merangkul Seongwoo sok akrab begitu lelaki itu sampai. Karena suara si anak tinggi tadi, yang lainnya ikutan melongok penasaran dari balik meja baca. Salah satu anak berpipi gempal ikutan tersenyum gembira.

"Ssst, Guanlin jangan berisik ini di perpustakaan." Sela Seongwoo pada anak laki-laki tadi. Guanlin namanya.

"Tau nih berisik si tiang." Anak berpipi buntal itu pun ikut menyela sambil menyikut tangan Guanlin. Mereka bertiga pun duduk dan mulai perbincangan mereka.

"Oh, tadi kak Daniel bilang dia mau ketemu kakak sama anak-anak geng sehabis kelas siang."

"Hari ini kak Seongwoo ada berapa mata kuliah?"

"Hanya satu, Jihoon. Lagi pun sepertinya tidak ada dosen yang cukup rajin untuk datang sekarang."

Kalau kalian mau tahu, Seongwoo punya sebuah klub eksklusif bersama sepuluh orang, termasuk Jihoon dan Guanlin tadi. klub itu merupakan anak dari komunitas psikologi yang ada di kampusnya. Awalnya ada sekitar dua puluh orang yang ikut karena mereka semua rata-rata mempunyai latar belakang yang sama, tapi mulai ke sini hanya terseleksi sepuluh orang—ditambah Seongwoo—yang aktif. Tujuan Seongwoo membuat klub itu karena Seongwoo ingin mengajak mereka semua untuk membuka mata bahwa mereka tidak hidup sendirian dan bisa berbagi masalahnya dengan yang lain. Bahkan di tiap pertemuan tidak luput dari sesi saling terbuka yang tidak jarang menimbulkan tangisan pecah di antara anggotanya.

Ting..

Ada satu notifikasi masuk ke ponselnya Seongwoo. Ternyata itu dari Daniel Kalvin Sanjaya—ekhem—kekasihnya Seongwoo.

Danik 3

08;30

Yang, nanti kita ngomongin rencana liburan sama anak-anak ya. Aku punya kejutan buat kamu.

Seongwoo buru-buru mengetikan sesuatu.

Iya. Kamu ada kelas kan? Belajar yang bener jangan bolos ke warung sebelah lagi. Atau sampai aku liat kamu di atap gedung lagi, aku potong anumu biar ngga punya masa depan lagi.

Tak lama tiga notifikasi masuk lagi.

Danik 3

08;35

Iya sayangku cintaku manisku.

Jahat banget masa anuku dipotong, nanti kita skidipapap sawadikap gimana?

Aku jadi semangat belajar semenjak kamu ada di samping aku.

Seongwoo sangat tahu jika seorang Daniel Kalvin Sanjaya itu sangat tidak menyukai jurusan kuliah yang dia ambil sekarang. Pernah sekali laki-laki oriental itu menangis sambil memeluk Seongwoo karena dia sudah lelah dengan semuanya. Waktu itu posisinya Seongwoo belum mengenal Daniel, begitu pun dengan Daniel. Mereka bertemu di stasiun manggarai, ketika Seongwoo akan pulang menuju apartemennya dan melihat Daniel berjalan gontai ke arah rel kereta api. Iya, Daniel ingin bunuh diri. Untungnya Seongwoo yang kurus itu bisa langsung menarik tubuh besar Daniel menepi sebelum kereta argo jati benar-benar menghantam Daniel dan mengubahnya menjadi bubur. Daniel yang selama ini terkenal receh dan sering menjahili teman dan juga wanita-wanita cantik di fakultasnya ternyata tidak lebih rapuh dari pada setangkai bunga dandellion. Itu membuka mata Seongwoo akan fakta bahwa kemungkinan orang yang tertawa sangat keras mungkin menyimpan luka yang besar. Satu lagi tamparan keras dari kehidupan untuk Seongwoo.

Seongwoo yang secara harfiah berstatus sebagai mahasiswa psikologi tentu merasa iba dan tertantang untuk bisa mengurangi kecenderungan Daniel untuk bunuh diri selama ini. Daniel pun bercerita bukan satu atau dua kali saja dia mendapat bisikan untuk bunuh diri. Itu terjadi karena kedua orang tuanya Daniel yang tidak bisa diajak kompromi terlebih adiknya yang mendukungnya sama sekali. Dan itu juga yang akhirnya membuat Daniel merasa nyaman untuk bercerita bahkan menangis di depan Seongwoo. Sehari-hari Daniel tampak seperti pemuda riang pada umumnya, bahkan kerpibadiannya cenderung cerah dan hangat seperti mentari pagi. Banyak yang suka padanya karena Daniel tipikal orang yang akan menyapa siapa pun di jalan. Mau itu teman kuliahnya, pegawai kantor pos, tukang bersih-bersih di kampus atau bahkan bibi penjual gorengan di depan rumahnya.

Butuh waktu yang lama sebelum pada akhirnya dengan keputusan yang bulat, Daniel nekat menjadikan Seongwoo pacarnya. Seongwoo dan Daniel sih tidak keberatan, tapi kalian tahu bagaimana warga Jakarta yang masih belum menerima mereka sebagai sepasang kekasih. Kadang banyak orang terutama wanita yang menolak adanya eksistensi cowok ganteng suka cowok juga. Mereka pikir hanya mereka yang berhak mendapatkan cowok ganteng sebagai pasangan tapi realita mengatakan hal sebaliknya. Jadi mungkin itu yang memotivasi mereka untuk menolak adanya pasangan seperti Seongwoo dan Daniel ini. Tapi jangan khawatir di kampus mereka sangat terkenal bahkan mendapat predikat couple of the year dua kali. Jadi, selama kita bisa bahagia tanpa mengganggu orang lain, kenapa kita harus memikirkan ejekan dari orang lain?

"Selamat ulang tahun kak Seongwoo! Buruan tiup lilinnya."

Siang ini sesuai dengan rencana, Seongwoo merayakan hari ulang tahunnya di salah satu tempat makan favorit mereka di depan kampus. Di sana sudah ada sepuluh laki-laki tampan lain yang sedang bertepuk tangan riuh saat salah satu dari mereka meniup lilin yang ada di hadapannya.

"Ini baru pembukaan, sayang. Nggak masalah kan cuma pakai roti bakar sebagai kuenya?"

"Iya, kak. Rencananya pesta sungguhannya minggu depan—huhuhffft." Salah satu lelaki dengan gingsul tiba-tiba dibekap mulutnya oleh yang lain.

"Woojin ember banget mulutnya!" bentak seorang laki-laki berhidung mancung.

"Ya udah, mumpung udah terlanjur bocor jadi aku kasih tau aja ya?"

"Emang ada apa sih, Daniel?"

"Jadi rencananya kita mau bikin acara menginap sekalian merayakan hari jadi geng Daun Muda nah berhubung kak Seongwoo juga ulang tahun, kita rayakan bersama."

"Di mana, Daniel? Kapan?"

"Di villa keluarga aku di Bandung, kak. Rencananya sih kamis minggu depan sekalian libur terus biar kita bisa pulang sabtu sore. Nanti aku bawa mobil"

"Terus yang lainnya ikut?" Seongwoo tampak bingung lalu menatap sekelilingnya. Satu orang cowok yang wajahnya paling mulus pun mengangkat tangan.

"Tenang, nanti gue bawa mobil kok." Jawab cowok itu.

"Oh, Sungwoon juga bawa mobil?"

"Gue juga kayaknya. Soalnya gue bakal berangkat belakangan, ada urusan buat program pasca sarjana dulu sebentar. Yang mau berangkat belakangan ikut gue aja tapi mobil gue cuma muat empat orang. "

"Jadi, nanti Minhyun, Sungwoon sama Daniel bawa mobil? Rame banget kayak rombongan study tour anak teka." Celetuk Seongwoo disambut tawa renyah dari semuanya. Memang Seongwoo paling jagonya ngereceh.

Kalau kalian mau tahu, komunitas atau geng Daun Muda adalah komunitas yang didirikan oleh Seongwoo bersama Unit Kegiatan Mahasiswa peduli kesehatan mental di kampus. Isinya ada sepuluh orang anggota—ditambah Seongwoo sebagai pendiri—yang mempunyai prinsip kekeluargaan antar anggota. Anggotanya ada Jisung Alvario, Sungwoon Baskara, Alvendra Minhyun, Alfario Seongwoo Rahardian, Daniel Kalvin Sanjaya, Jaehwan Kusumo, Jihoon Kevin Sanjaya, Woojin Putra Simorangkir, Keenan Jinyoung Farizky, Daehwi Putra Simorangkir, dan Alexander Guanlin. Mereka sama sekali tidak mempunyai ide tentang nama di awal pembentukan komunitas itu, dan suatu hari Daniel mencetuskan Daun Muda—entah ide dari mana—tapi karena Seongwoo sudah terlanjur bucin, jadi dia pakai ide Daniel sebagai nama komunitasnya. Tidak ada yang berani protes karena jika Seongwoo sudah bertitah, maka tidak ada yang bisa menentangnya bahkan Daniel sekalipun.

Kelompok mereka bisa terbentuk atas inisiatif Seongwoo yang sering membuka sesi konseling gratis di kampusnya dan menyuarakan pentingnya kesehatan mental bagi para mahasiswa. Awalnya Seongwoo merasa putus asa karena banyak yang meremehkan idenya, namun Daniel sebagai kekasih yang baik tentu akan mendukung Seongwoo sepenuh hati. Awalnya Daniel mengajak Jihoon, adiknya, untuk ikut bergabung karena Jihoon punya riwayat bulimia dan sering memuntahkan lagi apa yang dia makan. Jihoon bahkan punya psikiater langganan setiap bulan demi mengurangi kecenderungannya untuk muntah. Untuk itu ketika Jihoon berhasil masuk ke universitas yang sama, Daniel langsung mengajak anak itu untuk bergabung, berharap Jihoon akan mengubah pikirannya dan mulai mencintai dirinya sendiri.

Setelah itu Jihoon mulai mengajak beberapa temannya untuk ikut seperti Woojin, Daehwi, Jinyoung dan Guanlin. Pun karena relasi Daniel lumayan banyak dan cowok oriental itu termasuk salah satu mahasiswa terkenal di kampus, maka terkumpul sekitar 25 orang. seperti seleksi alam, hanya sisa 11 orang sekarang yang benar-benar lengket satu sama lain seperti sebuah keluarga.

Kalau mau diceritakan, sebenarnya Daniel dan Jihoon mempunyai masa kecil yang tidak begitu menyenangkan. Kekasih Seongwoo yang awalnya bernama Daniel Bagas Santoso, mempunyai kecenderungan untuk bunuh diri dan Jihoon yang mengidap bulimia merupakan akibat dari retaknya hubungan rumah tangga kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya Daniel memutuskan untuk berpisah dengan tidak baik-baik setelah ibunya menemukan sang suami, yang waktu itu berstatus sebagai ayahnya Daniel, selingkuh bersama dengan perempuan lain. Sebenarnya sang istri telah mencurigai hal itu bahkan tiga bulan sebelum akhirnya dia yakin untuk melayangkan cerai pada suaminya. Pun sebelumnya sang ayah mempunyai rekam jejak yang tidak baik dan tidak pernah mau mengurus Daniel.

Setelah perjalanan panjang nan melelahkan di pengadilan, hak asuh Daniel jatuh ke tangan ibunya dan Daniel pun menghapus nama belakangnya yang merupakan nama dari ayah kandungnya. Untuk itu Daniel kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah hingga detik ini. Bahkan ketika sang ibu menikah lagi dengan seorang duda beranak satu, yaitu ayahnya Jihoon, Daniel tidak pernah mendapat apa yang ia inginkan karena ada Jihoon kecil yang lebih diperhatikan oleh mereka. Mereka bilang, Daniel tidak boleh egois, Daniel harus sering mengalah, Daniel harus mendengarkan apa kata ayahnya, Daniel blablabla. Bahkan Daniel tidak diperbolehkan mengambil jalan hidupnya sendiri. Ayah tirinya sekarang telah memaksa Daniel untuk mengambil jurusan administrasi perkantoran karena kelak ia akan meneruskan perusahaan ayahnya. Ibunya tidak bisa menentang karena memang dia terlalu takut menghadapi perpisahan lagi jika dia menentang suaminya. Untuk itu Daniel merasa tertekan dan sering menyimpan semuanya sendiri, di balik tawa dan senyumnya yang cerah. Orang yang paling kencang tertawa juga orang yang paling kuat menahan luka di balik senyumnya.

Jika kalian berpikir bahwa hidup Daniel menderita, maka ada Jihoon Kevin Sanjaya, adiknya yang memiliki kisah yang sama. Dulu Jihoon itu anak kesayangan, orang tuanya butuh waktu sekitar delapan tahun pernikahan hingga Jihoon lahir ke dunia. Sebelumnya, ibunya Jihoon keguguran karena hamil dengan kondisi tertekan karena pekerjaan yang menuntutnya hidup nomaden. Untuk itu ketika beliau mendapatkan kabar kehamilan jabang bayi Jihoon, ayahnya menjadi sangat protektif dan memanjakannya. Hingga Jihoon lahir ke dunia, semua orang turut bahagia, termasuk kedua orang tuanya yang menangis terharu. Jihoon itu manis, dan riang. Menjadi permata berharga bagi kedua orang tuanya. Anak semata wayang yang paling disayang. Apa yang Jihoon minta akan dikabulkan, mulai dari mainan, gawai terbaru, pergi ke tempat rekreasi seru, hingga makanan enak tidak pernah lewat dari mulutnya untuk dicicipi. Mulai dari makanan manis hingga makanan cepat saji yang menjadi kesukaan Jihoon setiap hari. Ya, setiap hari, akibatnya Jihoon kecil menderita kegemukan hingga masuk sekolah dasar. Dari situ dia menjadi korban penindasan di sekolahnya, dan parahnya guru-guru di sekolah Jihoon tidak ada yang mempercayai dan malah menyuruh Jihoon untuk mengurangi makan. Hinaan seperti babi, gendut, bola berjalan, gentong, dan lain-lain sudah menjadi santapan Jihoon sehari-hari di sekolah dasar kelas satu hingga kelas enam. Keadaan menjadi parah ketika suatu hari di kelas lima sekolah dasar, dia dikunci di dalam kamar mandi hingga sore di sekolah. Kejadian itu tepat setelah mata pelajaran olah raga dan tim Jihoon kalah dalam permainan sepak bola, anak-anak lain tidak terima dengan itu dan menyalahkan Jihoon atas kekalahannya. Menurut mereka, badan Jihoon yang terlalu gemuk dan tidak bisa berlari dengan cepat untuk mengecoh lawan mengakibatkan kekalahan. Untuk itu Jihoon mendapat hukuman membersihkan kelas, namun ketika Jihoon harus ke kamar mandi untuk membasahi kain pel, anak-anak tadi menguncinya di dalam kamar mandi hingga sore menjemput. Jihoon yang takut gelap menangis sejadi-jadinya hingga kehabisan nafas. Untungnya setelah dua jam terkunci, Jihoon bisa selamat karena penjaga sekolah mendengar teriakan Jihoon yang lirih dari dalam kamar mandi. Untungnya penjaga itu baru akan berkeliling sekolah guna memastikan tidak ada siapa pun di dalam sekolah untuk kemudian mengunci gerbang sekolah.

Tidak berhenti sampai di situ saja, ketika ia pulang, Jihoon pun harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa sang ibu harus pergi selama-lamanya dalam kecelakaan mobil. Jihoon yang tidak mengerti apa-apa pun hanya diberitahu jika sang ibu harus tidur lama karena kelelahan. Anak itu bingung kenapa ayahnya harus menangis hanya karena sang ibu tertidur? Butuh waktu seminggu bagi Jihoon untuk mengetahui arti dari semuanya. Jihoon terlalu kecil untuk menerima kenyataan pahit pun menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Tidak ada yang ayahnya ketahui tentang Jihoon karena selama beliau hanya memantau perkembangan Jihoon melalui sang istri. Selepas kepergian sang istri, ayahnya Jihoon pun kewalahan untuk mengurus Jihoon, bahkan dia tidak pernah punya waktu ketika Jihoon mau menceritakan perihal penindasan yang dia alami di sekolahnya.

Mulai saat itu Jihoon yang masih kelas lima sekolah dasar memutuskan untuk mencoba berbagai diet untuk mengurangi berat badan. Awalnya Jihoon iseng mencoba melukai lidahnya sendiri dengan silet hingga berdarah, maka dengan begitu Jihoon akan kehilangan nafsu makan, begitu pikirnya. Namun karena satu dan lain hal, Jihoon jatuh sakit dan itu malah membuat ayahnya semakin marah. Jihoon pun menemukan alternatif lain, yaitu dengan tetap makan seperti biasanya, tapi setelah itu dia akan mencongkel mulutnya dengan sikat gigi untuk memancing semua makanan yang telah dia telan untuk keluar lagi. Di sekolah, Jihoon selalu membawa sikat gigi kecil yang dia simpan di balik saku di dalam tasnya. Dari kelas lima sekolah dasar Jihoon sudah mulai berpura-pura ke kamar mandi untuk menggosok giginya setelah makan.

Jihoon menjadi kecanduan untuk muntah sejak saat itu dan baru terungkap ketika Daniel berhasil memergokinya di kamar mandi sedang muntah. Waktu itu awal masuk universitas dan keluarga mereka sedang makan malam besar guna merayakan keberhasilan Jihoon masuk ke univeritas yang sama seperti Daniel, kakaknya. Awalnya Daniel tidak curiga pada anak itu yang ijin untuk menyikat gigi namun saat Daniel hendak mencuci muka, dia pun mendengar Jihoon muntah di dalam kamar mandi. Daniel yang panik mengira Jihoon masuk angin atau semacamnya tapi setelah Jihoon berhasil meyakinkan kakak tirinya itu, Daniel pun melupakan apa yang terjadi. Namun, kejadian itu pun berulang hingga tiga kali dan yang terakhir Daniel berhasil memergoki Jihoon sedang mencongkel kerongkongannya dengan sikat gigi untuk memuntahkan apa yang telah ia makan.

Tangis Jihoon pun pecah di depan Daniel setelah lama sekali ia tidak menangis. Jujur, Daniel kaget dan tidak menyangka akan adik kecilnya ini. Daniel pun tidak menyangka pasalnya di balik Jihoon terlihat sangat penurut dan tidak banyak neko-neko, ada Jihoon yang terakhir kali menangis kelas tiga sekolah dasar, Jihoon yang telah disakiti sekian lama oleh jahatnya kehidupan. Bahkan ketika ibu kandungnya meninggal, Jihoon tidak mengeluarkan air mata sedikit pun.

'Aku kalau lagi muntah bisa keluar air matanya, kak. Jadi sekalian juga rasanya plong banget di dada. Kayak, semua masalah yang ada di pikiranku ikut keluar bareng muntahan sama air mata.'

Kata-kata itu masih diingat oleh Daniel ketika suatu malam Jihoon menceritakannya sambil menangis di dalam dekapan Daniel. Selama ini Jihoon tidak pernah bohong dan memang perasaannya seolah berubah menjadi batu ketika banyak orang yang menindasnya, bahkan hingga air matanya enggan untuk keluar maka Jihoon harus memaksanya. Jihoon sudah terlalu kebal dengan semua itu dan dia tidak mau air matanya keluar lagi. Jihoon hanya akan terlihat lemah di depan Daniel, kakak tirinya. Satu-satunya orang yang bisa ia peluk ketika menangis, dan satu-satunya orang yang tidak akan memandang sebelah mata dirinya seperti yang lain. Tentu Daniel tidak berani menceritakan hal ini pada kedua orang tuanya karena dia tidak mau membuat mereka cemas dan khawatir. Pelan-pelan Daniel ajak Jihoon untuk bangkit dan mencoba pergi ke psikiater dua minggu sekali. Memang mahal harganya untuk sekali konseling, mereka harus menyisihkan uang jajan mereka untuk itu. Bahkan Daniel rela kerja paruh waktu demi mendapatkan pundi-pundi uang. Dia rela melakukan hal itu demi adiknya, hingga dia melupakan dirinya sendiri. Daniel tidak punya seseorang untuk bersandar. Daniel tidak sekokoh batu karang, dia hanya manusia biasa. Dan tentu sebagai seorang kakak dia tidak boleh terlihat lemah di depan Jihoon.

Tapi tidak sekarang karena dia telah mempunyai Seongwoo, kekasih hati sekaligus orang terpercaya yang bisa melihat sisi Daniel yang rapuh.

Mungkin baru itu cerita singkat yang bisa kalian dengar tentang Daniel dan Jihoon, dua kaka beradik yang bersama-sama melawan kerasnya dunia. Masih ada delapan orang lagi yang ada untuk diceritakan, tapi yang Seongwoo tidak tahu adalah, hanya dia yang menjadi karakter utama di sini. Hanya dia yang tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Atau, tidak ada jalan keluar sama sekali?

TO BE CONTINUE