;HEONEYPEACH PROUDLY PRESENTS;

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini hari kamis, tepat seperti yang mereka rencanakan sebelumnya untuk pergi ke bandung. Tujuan utamanya adalah sebuah villa milik keluarga Daniel. Letaknya tidak jauh dari jalan raya utama, tapi masih mendapatkan kesan asri karena masih dikelilingi banyak kebun teh dan pohon kapas. Seongwoo sendiri sudah sibuk mempersiapkan koper bawaannya dari subuh, padahal mereka akan jalan menjelang sore untuk menghindari macet. Selama perjalanan mereka lalui dengan bernyanyi karaoke di mobilnya Daniel. Mulai dari lagu dangdut, intro akad 10 jam hingga lagu kesukaan Jihoon dari kelompok idola mau satu dengan judul Cantik—tapi bukan lagi cantik. Oh, kalau mau tahu, yang ikut dengan Daniel adalah, Seongwoo, Jihoon, dan Guanlin. Lalu beralih ke mobil Sungwoon yaitu Minhyun, Jaehwan dan Jinyoung. Sisanya ada kakak beradik Woojin dan Daehwi yang ikut dengan mobil Jisung yang berangkat belakangan.

Rombongan Daniel dan Sungwoon tiba di Bandung sekitar jam setengah tujuh malam setelah kurang lebih tiga jam menempuh perjalanan dan setengah jam beristirahat di area istirahat di jalan tol. Suasana dingin dan senyap langsung menyambut kedatangan mereka. Seongwoo yang sedang mengangkat kopernya jadi sedikit menggigil karena udara dingin mulai menusuk kaos tipisnya.

"Daniel, kok sepi banget sih di sini?" tanya Sungwoon setelah memastikan mobilnya terparkir aman di dalam bagasi. Dia menghampiri Daniel yang sedang menutup pagar.

"Iya, memang isinya paling hanya rumah punya petani daun teh, itu juga Cuma beberapa orang."

"Gede juga ya Villa di sini." Sungwoon berucap kagum sambil memandang sekitar. Memang benar faktanya bahwa villa besar milik keluarga Daniel ini terletak di dalam perkebunan teh yang juga masih milik keluarganya Daniel. Jadi tidak heran Sungwoon merasa takjub dengan luasnya perkebunan yang ada di depan mereka sekarang. Belum lagi di perjalanan tadi Sungwoon juga melihat beberapa villa yang besarnya sama bahkan lebih besar dari villa milik keluarganya Daniel.

Secara harfiah, ini milik ayah kandungnya, tapi sejak perceraian itu ibunya Daniel meminta villa dan perkebunan di sini menjadi harta gono-gini dari hasil perceraian mereka. Ibunya berdalih jika beliau tidak bisa membesarkan Daniel tanpa peninggalan harta gono-gini.

"Dulu bokap kandung gue beli villa ini dari salah satu warga yang nggak betah tinggal. Awalnya ini cuman rumah kecil biasa tapi bokap gue bikin ini jadi villa sekaligus bikin beberapa rumah kecil di belakang buat rumah para petani teh." Tutur Daniel. Seongwoo, Jihoon, Guanlin, Jaehwan dan Jinyoung yang sudah selesai mengangkut kopernya masing-masing memutuskan untuk menghampiri Daniel dan Sungwoon yang asik mengobrol.

"Kenapa nggak betah tinggal?" pertanyaan Sungwoon terinterupsi oleh seseorang yang berteriak dari arah garasi mobil.

"Woy, kalau mau cerita di dalam aja. Dingin banget nih!" Jaehwan berseru, membuat keduanya menoleh lalu mengangguk.

"Tuh, barang kalian masih ada di mobil. Bawa sendiri, punya tangan kan?" kali ini Minhyun yang bicara. Nadanya ketus dengan nafas tersengal. Seongwoo hanya bisa geleng-geleng melihatnya.

Sungwoon dan Daniel pun bergegas untuk mengambil sisa barang-barangnya yang tertinggal di dalam mobil. Setelah dua menit menunggu, akhirnya Daniel bisa mengunci pintu garasi. Ngomong-ngomong, garasi mobil terletak di belakang rumah yang menjorok ke bawah, sistemnya seperti basement, tempat menyimpan hasil perkebunan dan juga mobil bak terbuka untuk mengangkut. Tidak heran jika mereka semua tampak lelah karena berjalan menanjak dari garasi menuju teras rumah.

"Nah, kang Daniel, ini kuncinya, saya sudah bersihkan semua sudut rumah sampai nggak ada debu satu pun, sesuai perintah nyonya. Nanti kalau ada apa-apa, telepon saya aja ya?"

Seminggu sebelumnya, Daniel sudah bilang ke ibunya bahwa dia akan meminjam villa ini sebentar. Untuk itu sang ibu langsung menelepon orang kepercayaannya dalam mengurus kebersihan villa, namanya Mang Andi. Mang andi ini adalah salah satu pemetik teh kepercayaan ayah kandungnya Daniel sejak dulu, sekaligus juga yang menjadi pemegang kunci duplikat dari villa ini. Orang yang sudah dipercaya oleh keluarga Daniel menjadi tangan kanan mereka. Rumahnya tidak jauh dari sini, letaknya hanya satu kilo meter di belakang kebun teh bersama dengan para pemetik teh lainnya. Karena jarang dihuni, bapak paruh baya ini lah yang bertugas untuk membersihkan pekarangan dan juga isinya kalau diperintahkan oleh ibunya Daniel.

"Oh, stok kayu bakarnya ada di dapur ya, kang. Cukup buat beberapa hari. Nanti kalau kurang saya ambilkan lagi."

"Oke, hatur nuhun, mang."

"Sami-sami."

Cuaca di luar mulai mendung dan awan hitam menggumpal di langit, membuat suasana semakin dingin menusuk ke tulang. Karena semua masih sibuk mengurus barang-barangnya, Daniel belum sempat menyalakan perapian yang ada di ruang tamu. Daniel sejak awal perjalanan sudah membuat permintaan pada mang andi untuk menyiapkan beberapa potong kayu bakar. Dia berniat menyalakan perapian agar suasana di dalam lebih hangat, terlebih karena Seongwoo dari tadi bersin-bersin karena memang pemuda itu tidak kuat dingin.

"Kak, nggak apa-apa?" tanya Daniel. Raut wajahnya terlihat cemas ketika Seongwoo berusaha mengangkat kopernya ke lantai atas sambil terus bersin-bersin.

"Dingin banget sih di sini, Daniel."

"Sini, aku bantuin."

"Daniel, aku lapar."

"Tadi lo bilang villa ini bekas rumah warga yang nggak betah tinggal?"

Jam menunjukan pukul setengah sepuluh malam, dan geng daun muda yang sudah sampai duluan tengah menikmati cemilan malam di ruang keluarga ditemani udara hangat dari perapian yang sudah Daniel nyalakan. Ada Sungwoon, Jaehwan, Jinyoung, Jihoon, Daniel, Seongwoo, Guanlin dan Minhyun yang duduk melingkar dengan masing-masing selimut.

"Iya, gue lupa-lupa ingat kenapa udah lama nggak dihuni sampai bokap gue beli rumah ini dengan murah."

"Coba lo inget-inget lagi. Siapa tau bisa jadi bahan cerita kita malam ini." Ujar Jaehwan sambil menyesap kopi.

"Kayaknya sih, kalo nggak salah rumahnya pernah ditemuin mayat gantung diri." Ucapan Daniel otomatis membuat Jihoon bersembunyi di balik selimutnya. "Bukan maksudnya bikin kalian takut, Cuma ya gue lupa cerita pastinya. Kalo ada salah-salah ya maaf aja."

"Coba dong ceritain yang lebih lengkap." Ucap Guanlin penasaran. Daniel menengok ke kanan di mana adiknya masih bersembunyi di balik selimutnya. Paling-paling habis ini Jihoon minta tidur sekamar, pikirnya.

"Jadi dulu tuh bokap gue nemu rumah ini entah gimana caranya dari seseorang yang bilang kalo dia lagi butuh uang dan mau ngejual rumah ini beserta pekarangannya yang seluas itu dengan harga murah. Rumahnya sih nggak terlalu gede kayak sekarang, Cuma yang memang luas banget tanahnya."

"Rumah di Jakarta can't relate." Sungwoon menyela pelan.

"Nah bokap gue dapet cerita dari warga sekitar kalau misalnya rumah itu dulu punya seorang dukun atau penyihir atau apa lah namanya itu. Beliau punya sakti mandraguna yang bisa bikin harapan orang terkabul tapi dengan tumbal. Terakhir kali dia bikin perjanjian sama setan lalu minta buat hidup abadi dan dia bikin adiknya jadi tumbal, nah yang ditemuin gantung diri itu sebenernya adiknya dan entah ke mana sekarang si dukun itu pergi." Jelas Daniel panjang lebar. Pemuda oriental itu menarik nafas sebentar sambil menyicip biskuit gandum sebelum melanjutkan ceritanya.

"Setelah sekitar sepuluh tahun nggak dihuni, rumah ini dibeli oleh orang kaya dari Surabaya yang mau buka usaha peternakan. Tapi nggak tahu kenapa baru dua bulan tinggal, dia ngejual rumah ini, bilangnya sih butuh uang entah bener atau nggak, dan bokap gue tertarik buat beli. Setelah renovasi besar jadi lah dibuat villa, dan kadang juga disewain sama bokap gue, kadang juga buat jadi pabrik pengelola hasil perkebunan."

"Serem juga ya. tapi kan yang namanya penyihir cuman tahayul, nggak beneran ada kok." Akhirnya setelah sekian lama diam, Seongwoo bicara. Sebenarnya dia tidak terlalu mau banyak bicara karena tenggorokannya mulai terasa kering dan sakit. Mungkin ini efek dari flu yang tiba-tiba menyerang.

Semua orang mengangguk setuju dengan ucapan Seongwoo, kecuali satu orang.

"Dek, kamu takut?" Daniel menyenggol lengan Jihoon. Yang disebutkan namanya pun menyembulkan kepala dari balik selimutnya dengan wajah merah padam.

"I'm okay. Cuma sedikit mual."

"Jangan dimulai dek, kamu kan baru makan sedikit masa udah mual lagi."

"Payah ah Jihoon baru segitu aja udah takut." Ledek Jinyoung. Membuat Jihoon semakin mengembungkan pipinya.

"Udah, bentar lagi Jisung Daehwi sama Woojin mau dateng. Mending kita bikin makan dulu."

Akhirnya sesuai usulan Minhyun, semuanya pun bergerak ke dapur untuk memasak, kecuali satu orang.

Kalau bener sihir itu ada, gue harap semua orang bisa merasakan akibat dari apa yang mereka perbuat.

"kak Seongwoo sayang, kok bengong? Ke dapur ayo katanya kamu lapar."

Suara Daniel menyadarkan lamunan Seongwoo. Kedua itu pun langsung bangun dari duduknya dan mengekor yang lainnya ke dapur.

Tidak ada yang salah dengan teman-temannya. Seongwoo pun mengakui itu di dalam hatinya. Namun, kadang jika Seongwoo mau menjadi orang jahat, Seongwoo ingin sekali memberi pelajaran atas apa yang telah mereka lakukan. Seongwoo sadar bahwa dia mahasiswa psikologi dan mayoritas dari teman-temannya bertindak atas perintah sel-sel pikirannya sendiri, tapi Seongwoo gregetan dengan semua ini, dia ingin mereka merasakan penderitaan yang lebih berat. Menurut Seongwoo, beban teman-temannya belum seberapa dengan apa yang ia alami selama ini. Mereka terlalalu cengeng, kekanakan dan tidak dewasa untuk menolong dirinya sendiri.

Lagi pula tidak ada yang namanya sihir, pun jika ada pasti itu bertentangan dengan hukum logika. Seongwoo bergumam di dalam hati.

"Seongwoo ambilin bumbu matang di atas lemari. Buat diri lo berguna jangan cuman bisa makan doang nanti kalau udah matang." Ucapan Minhyun membuat lamunannya buyar, lagi. Tanpa banyak protes dia pun menuruti apa yang pemuda tampan itu lakukan.

"Duh, Jinyoung itu lo bumbuin ayamnya salah, harusnya diiris dulu biar meresap, bego. Lo ngak pernah ngeliatin nyokap lo kalo lagi bikin ayam ya? gimana sih."

"Sungwoon apinya jangan kegedean nanti cepet gosong. Gue nggak mau ya mati duluan gara-gara karsinogen."

Ya, begitu lah mereka harus tahan dengan Minhyun yang bawel dan ceplas-ceplos. Sebenarnya masalah Minhyun ini sepele, dia dibesarkan di lingkungan yang tidak menyaring kata-katanya. Sejak kecil dia sering mendengar apa yang seharusnya tidak ia dengar dari kedua orang tuanya yang sering bertengkar. Minhyun juga mengakui itu dan dia pernah bercerita pada Seongwoo bahwa dia tidak mempunyai teman sejak saat itu. Seongwoo yang merasa iba pun menawarkan diri untuk bergabung dengan komunitasnya dan berusaha membuat Minhyun menjadi orang yang lebih baik.

"Woy, kak Jisung udah ada di depan gerbang katanya. Siapa yang mau bukain pintu?" ujar Guanlin di sela-sela kegiatan mencuci daging. Daniel yang mendengar itu pun langsung melepas apron dan berlari ke depan.

"Wah, udah lama yang geng kita nggak kumpul besar kayak gini."

"Iya, biasanya selalu ada aja yang kurang entah itu kak Jisung, kak Minhyun atau kak Sungwoon."

"Kan gue masih sibuk ngurus program pasca sarjana, maklum aja lah."

"Yang angkatan tua juga udah pada sibuk sama skripsi, kan."

"Siapa yang lo bilang tua woy."

"Eh, nggak ampun ndoro."

Di luar mulai hujan dan suhu semakin dingin. Untungnya Jisung, Daehwi dan Woojin datang tepat waktu sebelum hujan mengguyur. Walau di luar hujan mengamuk dengan angin yang kencang, tapi itu sama sekali tidak mengguyur api semangat mereka semua. Suara piring ditata dan gemerincing garpu sendok pun menjadi tambahan suara riuh di dalam rumah. Keadaan ruang keluarga kini penuh sesak dengan banyak pemuda yang bolak-balik untuk mengambil makanan. Di jalan tadi, Jisung membeli kue tart cokelat atas usulan Daehwi. Jadi lah mereka semua sedang bersiap untuk memulai sesi tiup lilin dilanjutkan dengan makan malam.

Sekarang, kesebelasan geng mereka telah berkumpul di ruang keluarga dengan Seongwoo yang sekarang duduk di tengah-tengah mereka dengan kue tart cokelat dipegang oleh Daniel. Suasana pun mulai hening ketika Jisung mengisyaratkan yang lain untuk diam dan membiarkan Seongwoo bicara. Seongwoo menarik nafas sebentar.

"Gue di sini cuman mau bilang terima kasih sebanyak-banyaknya. Gue nggak tahu kalau nggak ada kalian mungkin hidup gue nggak bakal berwarna seperti sekarang. Terutama ketika gue ketemu Daniel. Gue bisa belajar banyak hal dari kalian semua. Terima kasih buat kalian yang udah menyempatkan waktunya, terima kasih juga udah mau repot-repot bikin ini semua."

"Nah, kak sekarang tiup lilinnya, bikin permohonan."

Seongwoo menutup mata, menangkup kedua tangannya di dada, lalu mengucapkan permohonannya di dalam hati. Permohonan diucapkan.

Buat semua yang tidak nyata menjadi nyata. Semoga semua orang di sini mendapat apa yang menjadi balasannya. I hate my friends, also myself.

Dan yang tidak Seongwoo ketahui adalah, permohonannya menjadi satu-satunya cara keluar dari tempat itu. Permainan telah dimulai.

Duarrrr…

Suara petir tiba-tiba terdengar, membuat beberapa orang di dalam rumah itu terlonjak kaget. Termasuk Jihoon langsung lompat memeluk kakaknya. Untung Daniel sudah tidak memegang kue.

"Pasti di luar hujannya gede banget. Sampai kedengeran petirnya."

"Kak Daniel, Jihoon takut."

"Tenang, Jihoon. Kita semua di sini, kamu nggak bakal sendirian kok." Ujar Daniel sambil mengusap lembut rambut Jihoon yang hitam legam. "Kamu makan dulu, ya? nanti tidur di kamar kakak bareng kak Seongwoo sama Guanlin."

Jihoon mengangguk pelan. Melihat adiknya pergi mengambil piring, Daniel pun ikut bangun dari duduknya dan mengambil makanan.

"Oke semuanya, selamat makan."

"Anjir, enak banget ini bikinan siapa?" seru Jaehwan sambil terus mencicipi ayam panggang yang ada di piringnya, lengkap dengan nasi dan juga lalapan. Yang lain pun sama ikut bergumam menyetujui apa yang dikatakan oleh Jaehwan.

"Itu tadi gue dibantu Jinyoung sama Sungwoon juga." Kali ini Minhyun yang bersuara sambil menyendok nasi ke atas piringnya.

"Kak, Seongwoo aku boleh nggak nyicipin kuenya?"

"Oh, ambil aja, Daehwi, pisau plastiknya ada di samping kotaknya."

"Daehwi sini, gue punya hadiah buat lo."

"Woy Woojin sialan sini gue bales lo ya!"

"Guanlin lo jangan ngambilin mayonais mulu nanti—AAAARRRGH."

Prang!

"Guanlin kok lo bodoh banget sih jadi orang? ini kan baju gue jadi kotor semua. Kalo jalan makanya selain pake mata tuh otaknya dipake!"

Lampu mati, dan hanya ada bentakan dari Minhyun di kegelapan. Kalau mau diputar sepersekian detik yang lalu, ada Guanlin yang lagi cengengesan melihat Daehwi lagi dijahili oleh Woojin yang menyolek krim kue ke hidungnya. Guanlin tidak sadar telah memencet botol mayonais terlalu lama dan ditegur oleh Minhyun. Karena lampu tiba-tiba mati, Guanlin pun kaget dan tidak bisa melihat kemana dia berjalan, alhasil dia menabrak Minhyun dan memecahkan piringnya. Orang lain sih santai begitu lampu mati dan buru-buru menyalakan senter di ponsel mereka.

"Daniel buruan lo periksa listrik dulu, gih! Nggak mau tau pokoknya gue mau ganti baju dulu."

Tanpa babibu, Daniel pun bergegas ke depan rumah. Yang lainnya masih terdiam di tempat, dan ada Jihoon yang sekarang memeluk Seongwoo karena kaget. Minhyun tanpa rasa takut langsung melengos pergi ke kamarnya untuk ganti baju.

"Wah, kok bisa turun begini sih?" gumam Daniel sembari menekan tombol supply listrik ke atas. Ini gara-gara ada yang memakai daya terlalu berlebihan, tapi tidak biasanya, pikir lelaki bertubuh jangkung itu. Setelah Daniel bisa mendengar helaan nafas orang-orang, dia pun masuk ke dalam.

"Ada yang bawa gadget lebih dari satu, ya? dan lagi nyolok baterainya?" tanya Daniel begitu lampu menyala.

"Hehe, gue bawa iPad sama kamera, sih." Tersangka pertama, Guanlin. Yang paling muda itu menggeruk lehernya canggung.

"Gue juga bawa laptop lagi nyolok di kamar. Gue mau ngerjain revisi sedikit nanti." Tersangka kedua.

"Kalo yang hapenya ada dua kehitung nggak, kak Daniel?" itu Daehwi yang bertanya.

"Lagi nyolok dua-duanya, dek?"

"Iya, kak. Habisnya gue nggak bawa powerbank. Powerbank Woojin juga lagi nyolok di atas gara-gara seharian udah dipake."

"Ya udah TV kita matiin dulu sebentar, ya. kita ngobrol aja lagian nggak ada yang mau—EH? Jihoon ke mana?"

"Ini ada di samping—LOH?!"

Daniel panik begitu mengetahui adiknya tidak ada. Sayup-sayup dia mendengar sesuatu, dengan isyarat telunjuk di bibir semua yang ada pun langsung diam. Daniel diam-diam melirik ke arah tangga.

Huweeek… uhuk uhuk uhuk uhuk… Huweek…

Firasat Daniel bilang kalau Jihoon sedang muntah ternyata benar setelah bergegas ke atas, Daniel melihat adiknya sedang berjongkok menghadap toilet sambil mengeluarkan isi perutnya. Daniel yang panik langsung menghampiri Jihoon lalu memijat punggungnya.

"Dek, padahal kamu belum makan apa-apa loh. Kamu kenapa, hmm? Masuk angin?"

Jihoon tidak menjawab dan masih muntah dengan badan yang bergetar.

"Kamu mau pulang aja?" tanya Daniel lagi, dan hanya dijawab oleh gelengan lemah oleh Jihoon. Daniel menghela nafas berat sambil tetap memijat punggung adiknya itu.

Seongwoo yang kebingungan melihat Daniel langsung buru-buru menaiki tangga untuk ke atas. Setelah memberitahu Guanlin untuk membereskan kekacauan yang ia perbuat, Seongwoo pun menyusul Daniel ke atas dengan mengendap-endap. Dari balik tangga dia bisa melihat Daniel yang sedang memijat Jihoon di kamar mandi. Seongwoo yang iba pun langsung mendekati mereka lalu membantu Daniel memijat punggungnya Jihoon.

"Udah keluar semua, Jihoon?" setelah sekian menit akhirnya Jihoon berhenti. Kedua tangannya menumpu di lutut seakan-akan tubuhnya akan runtuh kapan saja. Daniel dan Seongwoo berinisiatif untuk memapah Jihoon menuju kamar mereka.

"Dek, kamu istirahat dulu di sini ya. nanti kakak ambilin minyak angin di bawah. Kak Sungwoon pasti bawa kotak P3K tambahan." Jihoon mengangguk lemah setelah dibaringkan di atas tempat tidur. Seongwoo bisa melihat bibir Jihoon mulai pucat dan juga matanya yang sayu karena kelelahan.

Setelah mendapat persetujuan dari Jihoon, mereka berdua pun turun.

"Guys, ada yang bawa minyak angin nggak? Atau mungkin kak Sungwoon bawa, gitu?"

"Buat apa emang, Daniel?"

"Buat Jihoon, kak. Dia kayaknya masuk angin gara-gara kedinginan."

Jisung, Sungwoon, Guanlin, Minhyun, Jaehwan, dan Jinyoung seketika membeku. Mereka membuat kontak mata satu sama lain, membuat Daniel dan Seongwoo bertanya-tanya.

"Jihoon? Masuk angin?" tanya Jinyoung meyakinkan.

"Jihoon lagi ada di dapur bareng Woojin sama Daehwi. Mereka lagi ngabisin kuenya Seongwoo."

"Tadi Minhyun ngebawa kuenya ke dapur biar nggak ada yang iseng lagi mainan kue di sini."tambah Jisung coba memperjelas keadaan. Kedua mata Daniel membola tidak percaya. Lelaki itu pun langsung berlari ke dapur untuk membuktikannya.

"DEK JIHOON?!"

Dan benar saja dia bisa melihat Jihoon, Woojin dan Daehwi yang sedang cekikikan sambil memakan buah ceri yang ada di atas kue.

"Eh kenapa, kak?" Jihoon bingung, pun sama dengan kedua kakak beradik itu. "Kak Daniel kayak abis ngeliat hantu aja."

Terus yang tadi muntah dan tidur di kasur siapa dong?

"Dek sejak kapan kamu ada di dapur?!" tanya Seongwoo yang tak kalah kaget dari Daniel. Sedangkan pemuda oriental itu sekarang sedang menempelkan punggung tangannya di dahi Jihoon; mengecek suhu tubuh adiknya, takut takut jika memang Jihoon sakit atau tidak enak badan. Daehwi dan Woojin hanya bisa diam berusaha mencerna apa yang terjadi. Bahkan wojin belum sempat mnyendok sepotong kue ke dalam mulutnya.

"Kenapa sih, kak? Aku di sini dari tadi kok."

"Ah, jangan bercanda. Tadi kakak liat kamu muntah di atas, kan?"

"Sumpah demi Tuhan, kak. Dari tadi aku di sini bareng Daehwi sama Woojin nyemilin kue. Kak Daniel sendiri yang bilang aku harus makan, kan?"

Pupil mata Jihoon pun membesar ketika otaknya berhasil mengetahui apa yang terjadi.

"Kak, jangan bilang—" sebelum Jihoon sempat menyelesaikan kalimatnya, Daniel buru-buru mendekap dan menutup telinga adiknya.

Seongwoo tetap menolak kejadian itu ada di dalam pikirannya. Itu jelas-jelas hanya halusinasi mereka berdua yang diproyeksikan oleh otak berdasarkan rasa cemas berlebihan. Ya, Seongwoo yakin itu.

"Nanti Jihoon boleh tidur di kamar kakak, kan?"

Permainan pertama pun, dimulai.

Jihoon, itu anak baik, tapi ada sesuatu di dalam dirimu yang salah. Ada dua hal dan itu membuat semua orang muak. Harusnya kamu lebih memperhatikan sekitar, terlebih dirimu sendiri. Dan juga, kamu harus mulai terbiasa membuka diri dan mengeluarkan apa yanga da di dalam hatimu. Jihoon akan menerima akibatnya; sebagai permulaan.

Jam dinding besar di ruang tamu berdentang tiga kali, menunjukan pukul dua belas tengah malam. Setelah puas makan malam dan bercengkrama, semua geng daun muda memutuskan untuk masuk ke kamarnya masing-masing. Villa ini mempunyai lima kamar yang terbagi menjadi dua. Tiga kamar di lantai bawah dan juga dua kamar di lantai atas dengan satu kamar mandi di setiap kamar. Tapi mereka hanya menggunakan empat kamar karena satu kamar di pojok dekat pintu belakang tidak pernah dipakai.

Daniel, Jihoon dan Seongwoo berada di kamar atas, pun begitu dengan kamar sebelahnya ada Jisung, Sungwoon dan Minhyun. Para angkatan tua ini memilih sekamar karena Minhyun tadinya dipaksa Jaehwan untuk sekamar, cowok ganteng itu mau suasana tenang tanpa adanya cekikan aneh dari Jaehwan, padahal faktanya suara tawa Sungwoon jauh lebih berisik. Tapi Minhyun yakin sunwgoon akan mengerjakan skripsinya dengan karena kalau dia berisik, akan ada Minhyun dan Jisung yang siap melabrak. Di kamar bawah ada Jinyoung, Guanlin, dan Jaehwan sedangkan di kamar satu lagi ada duo Woojin dan Daehwi. Mereka semua sedang beristirahat karena besok pagi rencananya mereka akan mencoba pengalaman memanen daun teh dan juga piknik di atas bukit.

"Anjir sinyal gue hilang!"

"Iya, nih. Di hape gue juga."

"Yah padahal gue tinggal nyari bab penutupan penelitian. Udah ada di hape gue kumpulan linknya padahal."

"Ah, payah nih!"

"Tapi nggak biasanya loh. Apa karena mungkin ini di pelosok kali, ya? hujan badai juga di luar kayaknya."

"Tadi pas makan malam masih ada kok. Iya mungkin gara-gara hujan."

Dari kamar para tertua terdengar keluh kesah dan helaan nafas berat menghadapi cobaan paling mengerikan anak jaman sekarang, yaitu tidak adanya sinyal data yang masuk.

"Sayang~ opo koe krungu~ jerite atiku~"

"Kak Jaehwan coba nadanya diimprovisasi lagi. Jangan tegang gitu mukanya."

"Tau nih, kak. Katanya mau bikin youtube channel sendiri, harus percaya diri di depan kamera."

"Ya, kalo gue seganteng Daniel mah nggak apa-apa."

"Ganteng mah relatif masih bisa dipoles tapi bakat kak Jaehwan kan udah alami tanpa pengawet dan pemanis buatan."

Sekilas perdebatan dari kamar trio Jaehwan Jinyoung dan Guanlin terdengar. Sekarang mereka sibuk berdebat tentang Jaehwan yang akan memulai debutnya sebagai penyanyi ala-ala di youtube atas saran dari Jinyoung. Tadinya sih Jaehwan hanya iseng mengatakan bahwa ia mau mempunyai kanal youtube sendiri untuk merekam kegiatannya bernyanyi, dan ide itu disambut baik oleh Jinyoung. Lagi pun menurut Jinyoung, suara Jaehwan memang bagus dan Jaehwan sendiri sudah terlatih karena sudah sering ikut acara kampus atau pensi. Suaranya Jaehwan lumayan bagus hingga meyakinkan Guanlin dan Jinyoung untuk membantunya membuat kanal youtube. Dibantu oleh Jinyoung si ahli editing dan juga Guanlin sebagai dukungan properti dan finansial. Kan lumayan kalau Jaehwan beneran jadi artis, Jinyoung dan Guanlin yang pertama kali bakal kecipratan.

Kalau kalian mau main ke kamar duo Woojin dan Daehwi, mereka berdua sudah tidur pulas karena kelelahan. Maklum, mereka masih belum terbiasa dengan dunia orang dewasa yang serba terbalik jam tidurnya.

"Beb, nggak mandi?"

"Mager ah, Dan. Dingin banget."

"Badan kamu nggak lengket emang?"

"Lengket sih, mager banget tapi danieeeeel~"

"Biar anget mau aku mandiin?"

"Anjir, ogah! Tuh suruh Jihoon aja mandi."

"Enak aja, aku udah mandi tau. Kak Seongwoo sana mandi ih nanti badannya ada panu loh!"

Oke, mari kita berhenti di kamanya Daniel, Seongwoo dan Jihoon. Setelah perdebatan singkat tadi, akhirnya Seongwoo membongkar kopernya untuk mengambil baju salinan, perlengkapan mandi dan juga handuk. Sebelum beranjak ke kamar mandi, Daniel melemparkan senyum idiot pada Seongwoo."

"Apa liat-liat?! Dasar om-om mesum." Seongwoo menggertak lalu melengos begitu saja ke dalam kamar mandi, membuat Daniel cekikikan sendiri karena gemas. Setelah ditinggal sang kekasih ke kamar mandi, Daniel menghampiri Jihoon yang sedang asyik membaca komik di atas ranjangnya.

"Dek, kamu kalau mau muntah atau mulai nggak enak badan bilang sama kakak, ya?"

"Iya, kakak ku yang bawel!" Jihoon melet-melet ke arah Daniel seperti anak anjing pudle, membuat Daniel gemas lalu menjitak pelan kepala Jihoon.

"Kakak takut kamu kambuh lagi. Ini jauh dari rumah, soalnya. Kakak juga nggak terlalu ngerti soal penanganan pertama."

Memang faktanya Daniel sangat khawatir dengan keadaan Jihoon. Kadang adiknya itu terlampau pendiam dan tertutup, tidak mau mengatakan apa yang ia rasakan. Untuk itu kadang Daniel harus dengan ekstra sabar merayu Jihoon.

"Brrrrrr.. Dingin banget, Daniel!"

Setelah lima belas menit di kamar mandi, Seongwoo pun keluar sambil gemetar. Badannya yang terbalut piyama tipis tampak begitu ringkih, membuat Daniel tidak tahan untuk membuat isyarat agar Seongwoo tiduran di sampingnya. Seongwoo menghampiri Daniel lalu memeluk kekasihnya itu. Harusnya Seongwoo membawa jaket tambahan atau setidaknya selimut.

"Nah begini kan jadi hangat."

"Sini, dek Jihoon mau dipeluk juga?" tawar Seongwoo sambil merentangkan tangannya. Jihoon pun menghambur ke pelukan mereka berdua.

"Kak Seongwoo wangi banget." Daniel bisa menghirup aroma Seongwoo yang menguar dari sekujur tubuhnya. Ibaratnya mungkin Seongwoo mandi dengan menumpahkan sebotol sabun cair ke badan.

"Iya dong, aku kan—"

Blep...

"AAAAAAAAAARGGHHHH.

"DANIEL LAMPUNYA MATI LAGI!"

"WOY SIAPA SIH YANG NYOLOK BANYAK-BANYAK?! RESE BANGET."

"YAH VIDEONYA BELUM SELESAI DIEDIT."

"SKRIPSI GUE!"

Semua orang kini panik karena tiba-tiba lampu di rumah itu padam untuk yang kedua kalinya. Kali ini diperparah dengan hujan yang semakin kencang dan kondisi gelap gulita. Daniel tidak bisa bergerak karena sekarang posisinya dia ada di tengah-tengah antara Jihoon dan Seongwoo yang memeluknya semakin erat. Minhyun sudah mulai memanggil-manggil nama Daniel dari kamar sebelah, pun begitu dengan keluhan lainnya yang meminta Daniel untuk segera bertindak.

"Nyalain flash hape kalian, ayo kita turun ke bawah dulu. Karena nggak ada jaringan mending kalian mode pesawat biar hemat baterai sampe listrik nyala lagi." perintah Daniel langsung disetujui oleh Seongwoo dan Jihoon.

Setelah mengecek ke depan, Daniel mendapati bahwa listrik di rumah itu tidak turun seperti tadi. Jadi ketika ia kembali ke dalam rumah, dia hanya bisa menghela nafas pasrah. Ini sih sudah pasti pemadaman listrik.

"Semuanya kumpul di bawah dulu." suara Daniel menggema ke seluruh area rumah, membuat Jihoon dan Seongwoo segera menghampiri Daniel. Jaehwan Jinyoung dan Guanlin keluar dengan muka takut-takut. Sungwoon Jisung dan Minhyun keluar dengan muka ditekuk, sedangkan Daehwi dan Woojin dengan muka bantalnya.

Keadaan sekitar kamar menjadi gaduh karena kesebelas orang itu sekarang mulai panik. Tak terkecuali Jinyoung yang takut gelap. Badan cowok kurus itu sudah gemetar sedari tadi sambil mengekori Jaehwan keluar dari kamar. Entah dia memang takut gelap atau takut kena omel seisi rumah karena aktivitas rekaman yang memakan banyak listrik.

"Ternyata listriknya mati beneran." Daniel menghela nafas berat. "Ini pemadaman listrik."

"Tuh kan, gue kira gara-gara kita lagi shooting di kamar." kalau ini Jaehwan yang bicara sambil menunjuk Guanlin dan Jinyoung.

"Hoaaam—" Daehwi juga ada sambil menguap digendong belakang oleh Woojin. "Terus gimana, kak Dan?"

"Kita nggak pindah ke hotel aja gitu?" protes Minhyun.

"Emang bisa? Siapa yang mau check in jam segini, woy."

"Lagian juga nggak ada sinyal. Boro-boro ada internet. Siapa yang bisa nelfon hotel jam segini?"

"Ya udah, kita tunggu aja bareng-bareng di sini. Siapa tau nggak lama mati lampunya. Gue ambil lilin, karpet sama kasur lipat dulu."

"Ayok kak Dan, gue bantu." tawar Guanlin yang langsung mengikuti Daniel pergi ke belakang.

Akhirnya mereka bersebelas memutuskan untuk kumpul di ruang tamu, tidur dengan alas karpet empuk dan juga kasur lipat yang sudah dibawakan oleh Daniel dan Guanlin. Pun begitu dengan tiga lilin sebagai penerangan, memberikan efek temaram yang lumayan terang untuk penglihatan. Walau sedikit sempit-sempitan tapi tidak apa-apa daripada gelap-gelapan di kamar. Sedikit banyak mengurangi rasa takut, setidaknya mereka masih bersama. Wajah daniel semakin khawatir pasalnya ada beberapa orang di sini yang takut dengan gelap dan mengidap gangguan kecemasan. Di antaranya ada Jinyoung, Guanlin dan adiknya sendiri.

"Daniel~"

"Hmm? Kenapa, kak?" Daniel yang tidur di samping Seongwoo menoleh.

"Kira-kira ini sampai kapan ya mati lampunya."

"Ya, nggak tahu juga, sayang."

"Aku cuman takut yang lain kenapa-kenapa."

"Semua bakal baik-baik aja. Ini cuman mati lampu biasa.'

Seongwoo tidak benar-benar bisa tenang sekarang. Di saat yang lain mulai memejamkan matanya, Seongwoo terus berpikir tentang harapannya. Apakah ia terlalu berlebihan?

"Dek Jihoon? kamu nggak apa-apa kan?" Seongwoo menoleh ke arah Jihoon dan mendapati anak itu sedang meringkuk di balik selimutnya.

"K—kaak.. perutku sakiiit."

Seongwoo dengan tergesa bangun lalu memeriksa Jihoon yang ada di sampingnya. Gerakan yang tiba-tiba dari Seongwoo mengejutkan semua orang yang sedang tidur di sana, terlebih Daniel.

"Dek, kamu kenapa? Astaga Tuhan!" Seongwoo dan Daniel semakin panik ketika melihat keadaan Jihoon yang masih meringkuk dengan mulut mulai mengeluarkan buih.

"K—kak Daniel, Jihoon mau ke kamar mandi sebentar. Perut Jihoon mau meledak rasanya." Ujar Jihoon lirih, membuat Daniel dengan segera menggendong tubuh kecil Jihoon ke atas. Seongwoo yang khawatir pun ikut mengekori dari belakang.

"Itu Jihoon kenapa?" tanya Jaehwan penasaran.

"Biasa, paling juga kambuh lagi. Biarin aja sih." Jawab Minhyun tak mengacuhkannya lalu kembali memejamkan mata.

Berbeda dengan minhyun yang terlihat santai, ke tujuh orang lainnya terlihat gusar, pasalnya suasana di atas makin tidak kondusif, Seongwoo dan Daniel terus berteriak dan suaranya jelas terdengar hingga ruang tamu. Mereka bisa mendengar daniel dan seongwoo terus menggedor sesuatu, dan mereka yang di bawah sadar bahwa itu adalah pintu kamar mandi yang tidak bisa terbuka. Daniel yang tidak bisa berpikir jernih terus berteriak histeris.

Tok tok tok tok…

"Jihoon! jangan dikunci pintunya!"

Huweeeek.. uhuk uhuk uhuk.. huweeeek..

"DEK JIHOON KALAU UDAH NGGAK ADA ISINYA JANGAN DIPAKSA!"

Huweeek... hiks.. hiks… huweeek…

Sudah hampir sepuluh menit Daniel dan Seongwoo dibuat panik dan terus menggedor pintu kamar mandi. Pasalnya ada Jihoon di dalamnya dan Daniel bisa mendengar adiknya itu mulai menangis. Tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang selain terus membentak Jihoon untuk segera membuka pintunya. Daniel sendiri bingung kenapa Jihoon tiba-tiba mengunci pintu kamar mandi.

"K—kak Daniel! Gi—gimana ini? Pintunya nggak bisa dibuka. Hiks.. hiks.."

Huweeek… uhuk uhuk uhuk.. huweek.

"Dek Jihoon! ayo kita beli es krim yang di taman."

Jihoon tidak suka es krim, sejujurnya karena dia tidak toleran dengan kandungan susu yang ada pada es krim. Tapi dia hanya pasrah tanpa bisa menolak.

"Jihoon! bantuin gue dong pilihin baju yang paling bagus!"

Jihoon sering diajak oleh Jisung untuk pergi belanja dan membantunya memilih baju-baju bagus. Tapi ujung-ujungnya anak itu pasti jadi pesuruh dadakan. Tapi dia hanya pasrah tanpa bisa menolak.

"Eh, makanan di situ kan nggak enak, kok lo mau aja sih diajak sama Jaehwan makan di situ, Jihoon?"

Jihoon pernah diajak makan oleh Jaehwan ke suatu tempat makan mie super pedas. Semua orang tahu bahwa tempat makan itu terkenal karena banyak orang yang mencoba tantangan makan pedas. Tadinya Jaehwan ingin membuat video blog ala-ala dengan mengajak yang lain, tapi karena hanya Jihoon yang jadwalnya kosong, jadi lah Jihoon terpaksa ikut menemani Jaehwan. Padahal Jihoon tidak bisa makan pedas. Tapi dia hanya pasrah tanpa bisa menolak.

Jihoon itu paling tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Itu yang membuatnya menjadi pribadi yang sangat tertutup. Bahkan dia hampir tidak pernah curhat ke orang lain, kecuali pada kakak tirinya. Jihoon tidak bisa menceritakan apa yang telah terjadi pada orang lain selain kakak tirinya. Jihoon merasa bahwa setiap orang yang mendengar ceritanya hanya butuh karena penasaran. Dan itu membuat Jihoon semakin kecewa. Jihoon tidak mau membuat dirinya kecewa atau dia akan terus menyalahkan dirinya sendiri seperti belasan tahun lalu.

Jihoon tidak terbiasa untuk mengungkapkan isi hatinya karena dia takut ayahnya akan memaksanya untuk diam dan merenung di kamar. Jihoon sangat menyayangi ayahnya, tapi ketika Jihoon mengatakan bahwa Jihoon lelah, ayahnya berubah jahat dan sering membentaknya. Untuk itu Jihoon tidak pernah lagi mengeluh di depan ayahnya. Jihoon tidak suka jika ada yang terganggu karena dirinya. Sudah cukup Jihoon terlalu sering disalahkan karena banyak orang yang kecewa dengannya sewaktu kecil. Jihoon tidak mau itu terulang lagi. Itu sebabnya dia mengunci semuanya, untuk dirinya sendiri. Jihoon terperangkap di dalam tubuhnya sendiri. Jihoon menyimpan semua lukanya sendirian, menguncinya di lubuk hati paling dalam.

Jihoon sayang dengan Daniel, Jihoon juga sayang dengan sepuluh anggota geng daun muda yang lain. Tapi jika sayang itu artinya tidak boleh mengecewakan siapa-siapa, maka Jihoon akan melakukannya walau nyawa menjadi taruhannya. Jihoon akan menguncinya rapat-rapat, bahkan hingga darah terakhir menetes di tubuhnya.

Tidak ada lagi suara tangis atau pun muntah dari dalam kamar mandi. Daniel semakin kalut.

"SESEORANG TOLONG BANTUIN GUE DOBRAK PINTU DONG!"

Daniel berteriak dari atas tangga, membuat semua orang buru-buru menghampiri. Sungwoon yang pertama kali berinisiatif untuk mendobrak pintu itu dengan tubuhnya dibantu Daniel. Setelah empat kali dobrakan yang kuat, engsel pintu itu pun patah, dan menyisakan pemandangan yang tidak bisa diterima oleh siapa pun yang ada di sana, termasuk Daniel.

Jihoon pingsan, dengan mulut mengeluarkan darah, ditambah dengan seisi lantai kamar mandi yang bermandikan darah. Yang paling parah adalah kondisi Jihoon yang sudah tidak karuan dengan darah di seluruh tubuhnya yang keluar dari mulutnya. Daniel tanpa rasa jijik sedikit pun langsung menggendong adiknya yang sudah tidak sadarkan diri itu untuk keluar dan dibaringkan di atas ranjang.

"DEK JIHOON?! Bangun dek! Please kakak mohon dek, sadar!" Daniel berteriak frustasi, pemuda itu terus menggoyangkan tubuh Jihoon yang mulai pucat. Tidak sadar Daniel menangis ketika Jihoon mulai membuka matanya pelan. Bibir Jihoon yang berlumuran darah bergerak pelan untuk mengatakan sesuatu. Suara lirih terdengar.

"Kak, Jihoon sayang kak Daniel. Maaf kalo Jihoon selalu bikin kakak khawatir." Tangisan Daniel semakin menjadi ketika Jihoon kembali menutup kedua matanya. Daniel yang semakin histeris terus mencoba menggoyangkan tubuh Jihoon, Seongwoo yang iba pun mengambil langkah pertama untuk mengecek pergelangan arterinya Jihoon, dilanjut dengan detak jantung lalu denyut nadi di lehernya.

Hasilnya negatif. Jihoon sudah tiada.

"Daniel, Jihoon udah pergi."

Semua orang terkejut. Daniel kembali menangis histeris, lalu disusul isakan kecil dari Guanlin dan Daehwi.

"NGGAK! Nggak mungkin! Seseorang cepet panggil ambulan! Panggil rumah sakit terdekat!" Daniel berteriak lagi, kali ini pemuda itu terus memeluk tubuh Jihoon yang sudah dingin. Semua orang lantas mengecek ponselnya. "Dek, Jihoon nggak lucu dek! Kamu bangun atau nanti kakak tinggal pulang ya?!"

"Nggak ada sinyal di sini, Daniel."

"Ya siapin mobil atau apa gitu di depan! Kunci mobil gue ada di nakas!"

Sungwoon Jisung dan Minhyun mengikuti perintah Daniel dan segera berlari ke bawah. Sisanya membantu Daniel mengangkat tubuh Jihoon untuk dipindahkan ke ruang tamu. Sungwoon yang panik berkali-kali salah mencari letak kunci mobilnya.

Setelah dua menit pencarian berhasil, Sungwoon Jisung dan Minhyun segera berlari ke arah pintu. Sebelumnya Jisung sudah meminta kunci pada Daniel tapi usaha mereka nihil karena sekarang pintu utama rumah itu tidak bisa dibuka. Seakan ada yang menyegelnya dari luar dengan balok kayu, pun pintu itu tidak bisa didobrak dari dalam.

"DANIEL! PINTUNYA NGGAK BISA DIBUKA!"

TO BE CONTINUE