Permainan terus berlanjut;

Minhyun itu kosakatanya kasar, suka membentak, dan sering menyakiti perasaan teman-temannya. Tidak ada yang menyukai Minhyun di kampus, dia sadar akan hal itu. Untuk itu dia datang dan bergabung dengan geng. Tapi kenyataannya memang tidak ada yang bisa mengubah Minhyun. Dia tetap menjadi Minhyun yang sering menyakiti hati orang-orang tanpa sadar. Seolah dia baru bisa merasakan sakit hati jika sebuah pisau benar-benar menusuk ke dadanya.

.

.

.

.
.

"DANIEL! PINTUNYA NGGAK BISA DIBUKA!"

"Anjir! Pintunya nggak bisa didobrak juga!'

"Gimana nih?!"

Di luar hujan semakin deras mengguyur dengan kilatan petir yang terus menyambar. Semua orang di dalam rumah itu pun sekarang semakin panik. Daniel, Sungwoon, Jisung dan Minhyun terus berusaha mendobrak pintu besar itu tapi nihil tidak ada yang terjadi.

"Kita bisa pecahin jendela!"

"Nggak bisa, semua jendela rumah ini ditralis."

Mereka berempat menghela nafas frustasi. Daniel kembali ke ruang tamu tanpa bisa menahan tangisannya. Bukan hanya Daniel yang menangis frustasi sekarang, ada Guanlin Jinyoung dan Daehwi. Melihat Daniel kembali menangis sambil memeluk jasad Jihoon yang terbujur kaku di atas sofa, Seongwoo coba menenangkan Daniel dengan mengelus punggung kekasihnya itu dengan lembut. Tanpa sadar setitik air mata lolos dari kedua mata Seongwoo.

Semua ini terasa sangat cepat bagi Seongwoo, seperti petir yang menyambar, tidak, bahkan lebih cepat. Seongwoo tidak menyangka bahwa dia akan kehilangan salah satu teman sekaligus adiknya yang paling ia sayangi, dan juga melihat kekasihnya hancur berkeping-keping. Seongwoo tidak yakin apak ia bisa menjadi sekuat Daniel jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Ini benar-benar terasa aneh.

"Ini semua gara-gara ide bodoh Daniel yang bikin acara kayak begini." Suara Minhyun menggema di antara keheningan. Membuat semua orang terdiam dan menatap lelaki yang duduk di pojok lemari dengan menekuk lututnya. Wajah Minhyun terlihat menahan marah.

"Coba kalau kalian dari awal nggak setuju sama acara kayak begini. Kalian semua bego apa gimana, hah?—"

"Maksud lo apa, kak?" kali ini Daniel angkat suara, merasa tidak terima disalahkan.

"Maksud gue, lo bisa aja kan sengaja bikin kita terjebak di sini? Pun awalnya juga nggak ada yang bisa nolak rencana ini hanya karena Seongwoo ulang tahun."

"Terus, kenapa lo nggak bilang dari awal kalo nggak setuju sama ide bodoh gue, kak?" suara Daniel mulai meninggi, Daehwi, Woojin, Jinyoung, Guanlin, Jaehwan, Sungwoon, Jisung dan Seongwoo menciut ketika Daniel mulai terlihat murka seperti sekarang.

"Gue udah bilang waktu itu kalau ke Bandung kejauhan, lo yang nggak mau dengar nasihat gue, Daniel."

"Oke kalau masalah nggak dengerin kata-kata lo gue ngaku salah, tapi bisa nggak sih lo sekali aja mikirin perasaan orang, kak?"

Tidak ada jawaban dari Minhyun, Daniel lanjut menarik nafas.

"Lo harusnya bisa mikirin perasaan gue, kak. Jihoon baru aja meninggal entah apa sebabnya, lo harusnya prihatin, seengganya diam aja kalau nggak punya kata-kata bagus yang bisa diucapin. Harusnya lo bisa ngeluarin uneg-uneg lo di tempat yang bener. Nggak semua orang suka sama apa yang lo omongin." Daniel terengah-engah setelah menyelesaikan kalimatnya. Suasana kembali hening, Minhyun masih bergeming di balik sinar lilin yang temaram, hanya ada suara petir yang menemani. Seongwoo berdoa semoga Daniel tidak kelepasan membicarakan apa yang seharusnya tidak dibicarakan. Malam ini akan sangat panjang jika Daniel mengungkapkan semuanya.

"Lo tau, kak?" Daniel tiba tiba tersenyum mencurigakan, membuahkan tanda tanya untuk Minhyun.

Please, Daniel nggak usah ngomong yang aneh-aneh. Sekarang bukan saatnya berdebat nggak penting begitu.

"Di kampus banyak banget yang nggak suka sama kelakuan lo. Oh, bukan banyak lagi, bahkan sampai nggak bisa dihitung. Lo tau kan kalo lo nggak punya temen di kampus, karena apa? Karena omongan lo yang nggak bisa dijaga dan nggak tau tempat. Banyak orang yang sakit hati sama lo, tapi mereka takut disembur balik kalo bilang ke lo. Bahkan Jihoon pernah bilang kalau dia ngerasa nggak nyaman kalau lagi deket sama lo. Lo nggak tau perasaan orang lain, bahkan kayaknya lo nggak bisa ngerasain sakit hati sampai pisau beneran nusuk dada lo."

"G—gue..."

"Udah telat buat minta maaf, kak. Jihoon udah nggak ada, Nggak ada yang bisa lo lakukan sekarang. Bahkan orang-orang di sini juga banyak yang sakit hati gara-gara lo!"

"Daniel, udah. Udah dong jangan bikin makin kacau." Seongwoo merangkul bahu Daniel tapi ditepis olehnya. Seongwoo bisa merasakan bahwa Daniel benar-benar kacau sekarang. Ini bukan seperti Daniel yang dia pikir.

"Kenyataannya yang bikin kacau duluan kan orang itu." Daniel menunjuk Minhyun dengan dagunya. "Alvendra Minhyun. Percuma juga gue bilang kayak gini toh dia nggak bakal ngerasa sakit hati."

Permainan terus berlanjut;

Minhyun itu kosakatanya kasar, suka membentak, dan sering menyakiti perasaan teman-temannya. Tidak ada yang menyukai Minhyun di kampus, dia sadar akan hal itu. Untuk itu dia datang dan bergabung dengan geng. Tapi kenyataannya memang tidak ada yang bisa mengubah Minhyun. Dia tetap menjadi Minhyun yang sering menyakiti hati orang-orang tanpa sadar. Seolah dia baru bisa merasakan sakit hati jika sebuah pisau benar-benar menusuk ke dadanya.

"Udah ya, Minhyun. Daniel tadi cuman kesulut emosi." Suara kalem Jisung terdengar di telinga Minhyun. Pemuda mancung itu tersenyum hangat begitu Minhyun mendongak. Minhyun sendiri tidak berani bergerak ke tengah ruang tamu karena perdebatan sengit tadi dengan Daniel. Hanya Jisung yang berinisiatif datang dan merangkul pemuda yang duduk di pojok lemari itu.

"Kak Jisung, lo benci sama gue, ya?" Jisung tergagap begitu mendapat pertanyaan dari Minhyun. Kalau salah menjawab bisa semakin ruwet masalahnya. Dia menjadi satu-satunya yang paling tua di sini, harus bisa menjadi penengah antara Daniel dan Minhyun. Ya walau pun memang Jisung sedikit memiliki perasaan tidak enak dengan Minhyun.

"A—aah, engga kok. Gue mah biasa aja."

"Kak, emang bener yang dibilang sama Daniel? Lo jujur aja sama gue." Tanya Minhyun dengan suara lirih, hampir tidak terdengar.

"Alvendra Minhyun, dengerin gue." Jisung menarik nafas panjang sebelumnya. "Memang kadang orang lain punya persepsi yang berbeda. Jadi apa yang menurut lo biasa aja, kadang terlalu berlebihan menurut orang lain. Bagi gue, sikap lo udah termasuk biasa aja karena gue udah banyak makan asam garam kehidupan ketimbang Daniel, gue udah sering bahkan udah nggak bisa dihitung pake jari berapa kali gue ketemu orang macem lo. Nah, mungkin ini juga pertama kalinya Daniel bisa ngungkapin semuanya biar lo sadar. Mungkin maksud Daniel baik, tapi dia juga kesulut emosi karena dia lagi berduka."

"Terus gue harus gimana, kak?" suara Minhyun mulai terdengar frustasi. Lelaki tampan itu menahan air matanya sebisa mungkin. Jujur, itu membuat Jisung terkejut karena ini pertama kalinya Jisung melihat bola mata Minhyun yang berkaca-kaca.

"Tunggu semuanya tenang, dan lo harus lebih menjaga sikap mulai sekarang. Janji?"

Gelengan lemah dari Minhyun membuat Jisung menghela nafas, berusaha sabar. Lelaki berhidung mancung itu pun meremas bahu Minhyun yang sedikit gemetar.

"Gue tau ini bakal susah buat lo. Tapi apa salahnya, ya kan?"

"Gue udah terlalu sering ngecewain orang, kak. Tapi gue nggak pernah sadar. Bahkan gue pernah berjanji sama Seongwoo juga sebelumnya." Kali ini suara Minhyun terdengar datar tanpa emosi. "Gue tau, gue ini emang nggak pernah bisa ngerasain gimana sakit hatinya orang yang sering gue omelin atau gue semprot. Harusnya gue lebih peka, tapi gue nggak bisa—"

Ini bukan Alvendra Minhyun yang Jisung kenal.

"Udah, udah, lo lagi kacau pikirannya. Mending sekarang kita balik ke tengah terus tidur. Nunggu besok pagi pasti semuanya bakal baik-baik aja." Jelas Jisung. Lelaki itu menepuk pelan bahu Minhyun dan mencoba meraih telapak tangannya, mengajak Minhyun untuk bangun.

"Daniel juga udah agak tenang. Untuk sekarang lo jangan ngomong apa-apa dulu biar semuanya mengalir gitu aja."

"Sebentar, kak. Gue mau ke dapur."

Jisung mengangguk pelan lalu membiarkan Minhyun pergi ke dapur. Tidak ada firasat buruk bagi Jisung karena anggota tertua itu yakin semuanya akan baik-baik saja. Mereka semua hanya butuh keluar dari sini dan menjelaskan apa yang terjadi pada polisi untuk meminta bantuan.

"Ini kalo kita nggak bisa keluar sampe pagi gimana woy."

"Tenang aja, Guanlin, begitu pagi kita bisa coba cari bantuan. Buat sekarang semuanya harus tenang karena cuaca sama gelap nggak memungkinkan kita ngapa-ngapain." Daehwi sedari tadi menenangkan Guanlin yang terus bergelung gusar di dalam selimutnya. Memang sampai sekarang Guanlin tidak bisa menerima apa yang terjadi dengan akal sehatnya. Bagaimana bisa teman terbaiknya pergi begitu cepat dengan keadaan yang mengenaskan seperti itu. Itu membuat memorinya kembali berputar beberapa tahun lalu. Tepat saat Guanlin memejamkan matanya, kepingan kejadian masa lalu yang paling dia ingat mulai tergambar jelas di pikirannya.

"Guanlin, lo pembunuh."

"Harusnya yang meninggal itu lo, bukan Seonho."

"Gue tau Guanlin itu benci sama Seonho. tapi nggak harus ngebunuh dia juga. Keterlaluann."

"Eh, eh liat ada Guanlin si pembunuh. Kok bisa ya dia masih punya malu datang ke sekolah ini?"

"HAAAAAAH—haaaah haaah. Gue bukan pembunuh!"

Teriakan Guanlin mengejutkan semua orang, terlebih dengan Jinyoung dan Daehwi. Seongwoo yang mempunyai firasat tidak enak langsung bangun dan menghampiri Guanlin yang memejamkan mata di balik selimutnya.

"Guanlin, lo kenapa?"

"Eh, kenapa lagi, nih?"

"Guanlin, bangun! Lo ngigau ya?"

Setelah Seongwoo menggoyang-goyangkan badan bocah tinggi itu, Guanlin pun tersadar. Nafasnya tersengal seperti seseorang yang dikejar sesuatu.

"Lo kenapa, Guanlin?" tanya Seongwoo.

"Ng—nggak apa-apa kok, kak! Tadi kayaknya cuman ngigau."

Seongwoo tidak yakin, pasalnya sekarang Guanlin benar-benar berkeringat dingin seperti orang yang selesai lari marathon. Peluh mengalir dari dahi anak itu sebesar biji jagung, banyak sekali.

Keheningan kembali menyeruak. Semua orang kini sibuk dengan oikriannya masing-masing. Seongwoo sebenarnya gelisah dan terus berpikir apa ini semua karena hari ulang tahunnya, atau justru ada hal lain yang membuat rencana liburan mereka kacau balau.

Jika orang-orang mengatakan bahwa lingkungan adalah faktor utama tumbuh kembang anak, itu memang benar adanya. Anak kecil merekam semua yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dengan otak kecil mereka yang masih lugu, tidak terkecuali Minhyun.

"Lo itu anak nggak tahu diuntung ya, udah bener mama masih mau ngasih makan kamu."

"Minhyun! Kamu bego apa gimana, sih? Kok nilai matematika cuman dapet segini?"

"A—ampun, ma. Minhyun janji nggak bakal jajan sembarangan lagi."

"Alvendra Minhyun udah berapa kali papa bilang kamu tuh udah gede, kok bisa ngompol begini?! Sekarang kamu cuci seprai itu semua terus jemur kasur sendiri. abis itu diem di kamar mandi sampe malam! Kalau kamu berani keluar awas, ya!"

"Hiks, dingin. Minhyun mau keluar. Hiks—papa buka pintunya, Minhyun janji nggak bakal nakal lagi."

Masa kecil Minhyun tidak terlalu bahagia karena dilahirkan dari kedua orang tua yang sama sekali tidak menginginkan dirinya lahir ke dunia. Minhyun bisa dibilang anak yang lahir dari pernikahan terpaksa. Kedua orang tuanya Minhyun tidak pernah mencintai satu sama lain tapi demi menjaga nama baik keluarga dan juga bisnis keturunan, mereka harus menikah dan mempunyai keturunan laki-laki. Berat memang. Minhyun sendiri merasa hidupnya sangat dramatis, tapi bedanya ia dilahirkan oleh kedua orang tua yang sama sekali tidak bisa memberikan contoh yang baik.

Kata-kata makian, sumpah serapah, ujaran kebencian, teriakan, cambuk rotan dan lain-lainnya sudah menjadi sarapan sehari-hari bagi seorang Alvendra Minhyun. Yang mana membuat Minhyun besar menjadi pribadi yang kasar, jutek dan juga blak-blakan. Sedari sekolah dasar, Minhyun tidak mempunyai teman. Bahkan Minhyun tidak segan memaki guru olah raganya sendiri ketika ia disalahkan atas pecahnya kaca jendela kelas.

Bukannya Minhyun anti sosial, hanya saja jika ada orang yang ingin mendekati Minhyun, maka Minhyun akan langsung menatap orang itu penuh curiga. Kelopak matanya yang tajam seperti rubah membuat siapa pun berpikir dua kali jika sudah berhadapan dengan Minhyun. Bahkan daehwi sempat kabur saat pertama kali mengetahui bahwa Minhyun akan bergabung dengan geng mereka.

Image Minhyun yang tidak terlalu ramah bagi sebagian orang membuat mereka kadang sangat takut berurusan dengan pria itu. Tidak jarang Minhyun sekadar mencoba bersikap ramah tetapi ada saja orang yang lama-lama menjauh darinya. Bahkan Minhyun sadar jika semua orang yang ada di sekitarnya hanya berusaha bersikap baik di depannya. Minhyun sendiri bukan lah tipe orang yang senang menggunjing dan membicarakan keburukan orang di belakang. Ia lebih suka langsung melabrak yang bersangkutan apabila memang mempunyai masalah dengannya, namun Minhyun cukup sadar diri bahwa cukup dirinya yang menerima kekerasan dari orang tuanya. Dia tidak akan pernah mau berbuat kasar pada siapa pun.

Awalnya memang Minhyun mempunyai prinsip begitu, dia lebih baik bersikap ceplas-ceplos dan apa adanya ketimbang harus menyakiti orang lain dengan kekerasan. Minhyun sangat naif hingga menganggap semua orang akan menerima prinsip hidupnya dengan lapang dada, hingga suatu hari dia tidak tahan lagi dan menceritakannya pada Seongwoo. Seongwoo juga paham di sini posisi Minhyun sebenarnya berniat baik dan juga enggan memberikan contoh buruk dari kedua orang tuanya, namun banyak yang tidak menerima Minhyun karena sikapnya. Untuk itu Seongwoo memberitahu Minhyun bahwa dia dan geng daun muda akan sangat senang menerima anggota baru sebagai teman. Seongwoo juga memberikan Minhyun kesempatan kedua untuk memperbaiki sikap.

Menurut Seongwoo, ibarat kata Minhyun itu sudah kebal, dan tidak akan pernah merasakan sakit hati hingga sebuah pisau benar-benar menikam dadanya.

"Eh, kok Minhyun nggak balik-balik sih?"

Jisung bergumam sendiri, namun terdengar oleh jinyoung yang tidur di sebelahnya. Sebenarnya Jisung tidak bermaksud menggumam terlalu kencang tapi sudah terlanjut didengar oleh jinyoung

"Kak Minhyun pergi ke mana emangnya?" tanya jinyoung penasaran.

"Tadi sih katanya ijin ke toilet."

Memang, sudah berselang dua puluh menit Minhyun tidak kembali dari toilet. Dan hanya Jisung yang tahu, ditambah jinyoung sekarang. Jisung tidak mau membuat yang lainnya tambah khawatir, maka dia memutuskan untuk bangun dan menyalakan senter di ponselnya.

Ada firasat tidak enak yang menggerogoti pikiran Jisung ketika ia berjalan ke kamar mereka. Entah ada namun Jisung sendiri tidak bisa berhenti menggigit bibir bawahnya karena khawatir. Pasalnya, Jisung tahu bahwa Minhyun sudah menerima banyak hal pahit di dalam hidupnya, dan kadang Minhyun sendiri juga sering mempertanyakan seperti apa yang dikatakan oleh Daniel. Sebenarnya Jisung tahu bahwa itu semua bukanlah kemauan Minhyun untuk menjadi pribadi yang kasar dan ceplas-ceplos.

Ketika Jisung sampai ke kamar, dia bisa mendengar isakan kecil dari arah kamar mandi. Jisung berjalan pelan menuju sumber suara dan ketika pemuda mancung itu mendekati pintu kamar mandi, suara tangisan itu semakin jelas. Jisung tahu bahwa itu pasti Minhyun.

"Minhyun? Lo di dalam?" tanya Jisung sambil memgetuk pelan pintu kamar mandi. Tangisan Minhyun sempat berhenti sejenak, sepertinya Minhyun kaget akan kedatangan Jisung.

"Minhyun, lo nggak apa-apa kan di dalam?" Jisung memastikan. Daun telinganya kini menyentuh pintu, berusaha mendengar apa yang sedang terjadi di dalam.

"S—sakit..." suara Minhyun terdengar bergetar, lebih mirip sebuah rintihan. Jisung yang semakin cemas pun berusaha membuka pintu kamar mandi, namun nihil sepertinya Minhyun menguncinya dari dalam.

"Minhyun! Buka pintunya! Jangan aneh-aneh! Masih banyak yang sayang sama lo. Kita bisa ngomong baik-baik sama Daniel kalo dia bikin lo tersinggung."

"K—kak Jisung, sakit. Hiks..."

Tanpa pikir panjang lagi, Jisung pun segera lari ke bawah untuk memberitahukan yang lainnya.

"WOY SESEORANG BANTUIN DOBRAK PINTUNYA! MINHYUN ADA DI DALAM!"

Teriakan Jisung pun membuat semua orang di sana kaget dan langsung menghampiri. Kali ini woojin dan sungwoon yang berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar mandi.

Tak bisa dipungkiri jika sekarang mereka terkejut bukan main setelah Woojin dan sungwoon mendobrak pintunya. Pemandangan mengerikan Minhyun yang terbujur kaku dengan sebuah pisau menancap di dada menyambut Jisung dan yang lainnya ketika pintu berhasil dibuka. Semua orang kembali diserang rasa kaget bercampur mual karena sekarang lantai kamar mandi penuh dengan darah.

"Minhyun!" Jisung dan sungwoon sontak berteriak. Sedangkan yang lain hanya bisa menutup mulut sambil menahan isakan.

"Eh, ada sesuatu di tangannya kaj Minhyun!" teriak daehwi sambil menunjuk sesuatu. Jisung yang masih bergetar mencoba mengambil apa yang ditunjuk daehwi tadi. ternyata sebuah surat, yang ditulis dengan darah. Sebisa mungkin Jisung membacanya.

Akhirnya gue bisa merasakan gimana rasanya sakit hati, terima kasih buat semuanya terutama Daniel yang bikin gue sadar. Maafin gue kalau gue selama ini masih belum bisa berubah. Gue bakal pergi dan nggak akan nyakitin hati kalian semua.

"Ini nggak mungkin."

Seongwoo menjambak rambutnya sendiri sambil menggumamkan seusatu, yang sayangnya didengar oleh Daniel.

"Hah, nggak mungkin kenapa, kak?"

"A—ah, engga kok. Nggak ada apa-apa."

TO BE CONTINUE