Guanlin, harusnya lo tahu ketika semua orang peduli sama lo, itu artinya mereka benar-benar sayang sama lo. Nggak peduli mau bagaimana masa lalu yang lo alami. Sekarang lo bikin kita semua susah, lo bakal menerima akibatnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Eh, ada sesuatu di tangannya Minhyun!" teriak daehwi sambil menunjuk sesuatu. Jisung yang masih bergetar mencoba mengambil apa yang ditunjuk daehwi tadi. ternyata sebuah surat, yang ditulis dengan darah. Sebisa mungkin Jisung membacanya.

Akhirnya gue bisa merasakan gimana rasanya sakit hati, terima kasih buat semuanya terutama Daniel yang bikin gue sadar. Maafin gue kalau gue selama ini masih belum bisa berubah. Gue bakal pergi dan nggak akan nyakitin hati kalian semua.

"Ini nggak mungkin."

Seongwoo menjambak rambutnya sendiri sambil menggumamkan sesuatu, yang sayangnya didengar oleh Daniel.

"Hah, nggak mungkin kenapa, kak?"

"A—ah, engga kok. Nggak ada apa-apa."

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Ini semua seperti mimpi bagi Guanlin. Bayangan Minhyun dan Jihoon yang tewas mengenaskan di kamar mandi membuat traumanya kembali menghampiri. Trauma yang bahkan selalu menghantuinya sepanjang malam di setiap tahunnya. Bayangan tentang Guanlin yang selalu dicerca oleh semua orang karena tidak sengaja membuat sahabat karibnya koma selama tiga hari lalu meninggal dunia. Itu terjadi ketika Guanlin masih SMA dan dia tidak mengetahui jelas apa yang terjadi.

Jika sudah begini, maka Guanlin akan menunjukan gejala kumat. Di antaranya;

"Guanlin, lo nggak apa-apa kan?"

Jinyoung semakin cemas sekarang karena badan gualin semakin bergetar hebat setelah mayat Minhyun dibawa ke ruang tengah dan dibaringkan di samping mayat Jihoon.

"Guanlin lo harus tenang. Semua bakal baik-baik aja. Percaya sama sama gue." Kali ini Seongwoo yang coba menenangkan. Dia tahu bahwa penderita anxiety disorder seperti Guanlin seharusnya menjauhi apa yang menjadi traumanya saat ini. Tapi kenyataannya adalah anak itu harus dihadapkan dengan kejadian tewasnya Jihoon dan Minhyun di saat yang bersamaan. Bukannya tenang, bocah tinggi pucat itu malah semakin bergetar dan peluh di dahinya semakin banyak. Seongwoo tahu bahwa ini tidak akan mudah ketika dia harus dihadapkan dengan kejadian nyata bahwa dirinya lah satu-satunya yang mengerti keadaan Guanlin. Tapi di satu sisi, Seongwoo menolak fakta bahwa dia yang menyebabkan semua ini. Terkhusus, karena permohonannya.

"H—Haaahhh.. H—haaah.." nafas Guanlin semakin berat. Dia seperti tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. kedua tangannya mengepal begitu kuat sementara badannya bergetar hebat.

Seongwoo semakin bingung karena sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan. Seongwoo tahu pasti Guanlin tidak pernah mau membawa obat penenang di dalam tasnya karena sagtu hal. Dan sekarang dia juga tidak bisa meminta tolong pada siapa pun karena hanya dia yang mengerti berapa takaran obat yang biasa Guanlin minum untuk meredakan tantrumnya.

"Kak Seongwoo, ini Guanlin kenapa?" tanya daehwi sambil terus mengusap-usap punggung Guanlin.

"Guanlin kayaknya lagi kumat, ada yang bisa cek tasnya dia nggak? Siapa tahu dia bawa obatnya."
semua orang terdiam. Seongwoo pun bingung.

"Kumat?"

"Emangnya Guanlin kenapa, kak?"

Pertanyaan Woojin membuat Seongwoo kaget bukan main. Jadi ternyata selama ini Guanlin tidak pernah membicarakan tentang penyakitnya pada teman-temanya. Selama ini Guanlin menyembunyikan penderitaannya dan hanya mau berbagi pada Seongwoo. Seongwoo sendiri entah bagaimana harus menjelaskannya, yang jelas Guanlin harus mendapatkan pertolongan pertama untuk meredakan rasa panik dan cemasnya.

"Dia kena serangan panik." Jawab Seongwoo singkat.

Guanlin semakin tidak sadarkan diri dan terus bergetar seperti orang menggigil. Tatapannya kosong dan sesekali anak itu memejamkan matanya seolah menahan sakit. Melihat keadaan semakin tidak kondusif, Seongwoo berinisiatif untuk beranjak dan segera berlari ke kamar Guanlin. Buru-buru dia segera mengobrak-abrik isi tas Guanlin. Disingkirkannya segala gawai dan perlengkapan Guanlin; Seongwoo terus mencari ke setiap sudut tas gunung anak itu. Setelah sekitar lima menit mencari, Seongwoo menhela nafas berat, ia tidak menemukan satu pun obat yang biasa Guanlin konsumsi.

Guanlin, harusnya lo tahu ketika semua orang peduli sama lo, itu artinya mereka benar-benar sayang sama lo. Nggak peduli mau bagaimana masa lalu yang lo alami. Sekarang lo bikin kita semua susah, lo bakal menerima akibatnya.

Situasi makin tidak terkendali, semua orang jadi semakin panik tidak karuan. Belum lagi bau menyengat yang mulai muncul dari mayat Jihoon dan Minhyun yang tergeletak begitu saja tanpa pertolongan. Kepala Seongwoo mau pecah rasanya dan ingin cepat-cepat menyelesaikan semuanya.

"AHAHAHAHAHAHAHA."

Semua orang semakin panik ketika tiba-tiba terdengar tawa misterius seseorang dari arah dapur. Angin kencang pun datang menyusul entah dari mana, memadamkan semua lilin yang ada di rungan itu. Tanpa pikir panjang, semua orang berteriak panik, tidak terkecuali Seongwoo yang ketakutan.

"Seongwoo yang menginginkan semua ini cepat selesai, benar? Aku akan mengabulkan harapannya." Lagi-lagi suara itu muncul, suara sangat dalam dan menakutkan entah siapa pemiliknya.

"Kalian seharusnya tidak berada di sini. Kalian seharusnya lebih bersyukur atas apa yang telah terjadi, benar kan, Alfario Seongwoo Rahardian?" lanjut suara itu, membuat Seongwoo mematung dalam kegelapan. "Terkadang selain berhati-hati terhadap apa yang kalian katakan, ada satu lagi hal yang harus kalian perhatikan tentang hidup ini; yaitu, berhati-hati terhadap apa yang kalian harapkan. HAHAHAHAHA."

Suara itu menghilang, angin berhenti bertiup, dan ajaibnya, pijar cahaya lilin kembali menyala. Tapi ada satu hal yang janggal.

"Loh? Guanlin ke mana?"

Seruan Sungwoon membuat semua orang melirik satu sama lain dan memeriksa keadaan. Benar, Guanlin menghilang.

"Padahal tadi dia ada di samping gue." Jinyoung mencoba menjelaskan. "Bahkan sebelum lilinnya mati tuh dia masih gue pegangin tangannya."

"Jinyoung, lo nggak ngerasa ya?" tukas Woojin agak ragu.

"Tadi pas lilin mati, gue merasa tiba-tiba ada yang narik Guanlin dari belakang, entah apa itu tapi gue ngerasa kalau ada yang menggores paha gue." Jinyoung, Jaehwan, Sungwoon, Daehwi, Daniel, Jisung dan Seongwoo terdiam mendengar penjelasan Woojin, mencerna apa yang sedang terjadi. Apakah Guanlin diculik? Tapi, sama siapa?

"Guys..." Suara Jaehwan memecah keributan yang timbul akibat hilangnya Guanlin, membuat semua orang yang ada di sana langsung mengalihkan atensinya pada sosok Jaehwan. "Kalian sadar nggak apa yang suara tadi bilang?"

Benar, Jaehwan mulai menyadari sesuatu yang aneh dan tidak beres, Seongwoo menatap pemuda berpipi gembul itu dengan tatapan nyalang. Semua orang di sana minus Seongwoo dan Jaehwan membuat pose berpikir, mencoba mengingat-ingat sesuatu.

"Tadi suara itu menyebut nama Seongwoo." Akhirnya Sungwoon ikut bersuara. "Gue curiga semua ini ada sangkut pautnya sama Seongwoo."

"Apa maksud, lo?"

"Ya, bisa aja kan Seongwoo dalang di balik semua ini. Kita aja yang nggak sadar."

"Selama ini dia pura-pura baik sama kita, dan ujung-ujungnya bisa aja kita jadi tumbal selanjutnya."

Ini yang sebenarnya Seongwoo benci dari Sungwoon dan Jaehwan. Dua orang itu mempunyai satu sifat yang sama persis entah datangnya dari mana. Kadang Seongwoo sendiri muak dengan mereka berdua, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan karena di kelompok mereka, Sungwoon dan Jaehwan yang jarang berbicara atau menyampaikan sesuatu, tapi Seongwoo tahu bahwa mereka berdua menyimpan banyak rahasia atau bahkan aib tentang anggota kelompoknya yang lain. Seongwoo yakin sekali.

Ibaratnya, mereka berdua itu mempunyai dua wajah yang saling bertolak belakang. Mereka sebenarnya mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui, mereka seperti bersembunyi dalam bayangan dan mendengarkan setiap nafas orang-orang yang berada di dekatnya. Mereka diam, bukan berarti mereka tidak tahu.

"Tumbal apa, sih? Gue nggak ngerti sama sekali apa yang lo omongon, Jaehwan, Sungwoon." Seongwoo berusaha mengelak atas tuduhan yang dialamatkan padanya. Karena memang faktanya, Seongwoo pikir ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Tidak mungkin dia menyebabkan semua ini, kalau pun iya, karena apa?

"Udah lah, lo ngaku aja." Sungwoon mulai mendesak. Wajah Seongwoo sudah merah padam dan kepalan tangannya mulai memutih menahan pukulan. Daniel yang melihat bahwa Seongwoo tidak baik-baik saja segera menahan bahu kekasihnya itu.

"Gue nggak—"

TOK TOK TOK TOK...

Dan tepat sebelum Seongwoo menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara pintu digedor dari arah kamarnya Jaehwan. Kamar yang sama yang ditempati oleh Guanlin dan Jinyoung.

TOK TOK TOK...

Suara gedoran itu semakin kencang, sayup-sayup juga tedengar suara seseorang yang sedang merintih kesakitan.

Alexander Guanlin, anak tunggal yang lahir dari keluarga kaya dengan cukup kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya merupakan pengusaha sukses keturunan tionghoa-australia dan memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Jakarta untuk membuka cabang perusahaan keluarganya. Guanlin sedari kecil sudah mendapat limpahan cukup materi dari keluarganya. Guanlin kecil sudah terbiasa dengan rumah besar, mainan banyak, makanan enak, gawai elektronik lengkap, hingga banyak koleksi sepatu mahal. dan kelak, hanya Guanlin yang berhak mewarisi semua harta kekayaan ayahnya.

Sikapnya baik hati namun agak pemalu membuat dirinya tampak dingin dan disegani oleh teman-teman sepantarannya. Ada beberapa teman yang dekat dengan dirinya, ada juga beberapa orang yang tidak mau mendekat dengan Guanlin karena merasa inferior. Bukan hanya satu dua orang yang merasa tidak pantas berteman dengan Guanlin hingga berusaha menjatuhkannya. Terlalu banyak cela yang Guanlin dapatkan ketika dia

Memang, mungkin kalian pikir Guanlin bisa saja tidak mengidap gangguan mental apa pun, secara hidupnya sudah hampir sempurna. Tapi kalian salah, Guanlin hanya lah manusia biasa, banyak orang yang mengincar cela untuk bisa menjatuhkan anak itu apa pun caranya.

Mungkin Guanlin tidak akan menceritakan hal ini pada teman-temannya. Tapi, orang yang terlihat baik-baik saja, mungkin bisa memendam luka yang sangat besar di dalam memorinya.

"Kita bunuh aja anak ini kalau orang tuanya tidak mau memberikan tebusan."

"Heh, anak kecil cepat bilang sama orang tua kamu di telepon untuk jangan menelpon polisi, atau pisau ini bikin leher kamu putus."

"Tuan besar mendapat sms terror dari rival bisnisnya. Itu bisa berbahaya buat Guanlin."

"Guanlin kan kaya, mana mungkin dia mau bergaul sama kita."

"Guanlin, lo baru aja dimusuhin sama geng orang kaya lo itu ya makanya mau ngomong sama gue?"

"Gue tau lo kaya, tapi nggak usah sombong gitu mukanya kalo lagi jalan."

"Dih, Guanlin kok bisa sih masuk SMA Negeri favorit itu?"

"Lo nggak tahu? Duit bokapnya kan segudang. Mungkin dia bisa aja nyogok."

Tidak hanya di sekolah Guanlin mendapatkan diskriminasi atau pun cemooh tentang dirinya, pun sewaktu kecil, Guanlin pernah menjadi sandera penculikan yang dilakukan oleh saingan bisnis ayahnya. Mereka tidak tahu dan tidak akan mengetahuinya karena Guanlin menutupnya rapat-rapat. Guanlin cukup kuat untuk mendapatkan diskriminasi di sekolahnya, terutama saat ia masuk ke sekolah menengah atas negeri favorit di Surabaya, banyak orang yang mengetahui bahwa Guanlin merupakan anak dari pengusaha kaya. Banyak yang meragukan Guanlin bahkan ada yang terus memandangnya sebelah mata. Beranggapan bahwa sebab keberhasilan Guanlin pasti tidak jauh dari uang atau koneksi ayahnya. Selain itu banyak juga yang memanfaatkan Guanlin dengan kedok berteman. Guanlin mengerti, selama itu tidak merugikannya secara fisik mau pun mental, dia tetap legowo untuk berteman dengan orang yang hanya memanfaatkannya. Lagi pula, ayah Guanlin pernah mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Semua kejadian manis, pahit, asam garam kehidupan telah ia lewati dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali satu orang. namanya Kevian Seonho, sahabat karib Guanlin. Seonho itu lahir dari keluarga sederhana, beda dengan Guanlin. Tapi bedanya, Seonho itu tidak pernah membedakan orang-orang hanya karena status sosial, itu yang membuat Guanlin betah bersahabat dengan Seonho.

Banyak yang mengira bahwa Seonho berteman dengan Guanlin hanya karena memanfaatkan kekayannya. Mereka sudah akrab sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, bahkan mereka satu sekolah selama dua belas tahun. Awalnya Seonho mencoba membujuk Guanlin untuk pergi ke psikolog untuk konsultasi perihal masalah yang dia alami, itu membuat Guanlin tersinggung dan merasa bahwa Seonho berpikir dia tidak waras, padahal bukan maksudnya Guanlin begitu. Memang mereka berdua seolah tidak terpisahkan seperti layaknya sendok dan garpu. Tapi yang namanya persahabatan pasti pernah mengalami perdebatan hingga keduanya memutuskan untuk tidak berinteraksi.

Seperti waktu Seonho bilang bahwa Guanlin harus mencoba pergi ke psikolog untuk konsultasi dan Guanlin menjadi tersinggung, itu membuat persahabatan mereka merenggang dan tidak saling berinteraksi satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Sekitar seminggu Guanlin masih tetap kekeuh untuk tidak meminta maaf dan tidak berbicara dengan Seonho, hingga puncaknya Guanlin harus menyesali itu semua karena dia tidak tahu bahwa Seonho akan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

"Ternyata di sekolah kita ada pembunuh."

"Gue nggak nyangka ternyata Guanlin aslinya bisa sekejam itu."

"Guanlin, lo pembunuh."

"Harusnya yang meninggal itu lo, bukan Seonho."

"Gue tau Guanlin itu benci sama Seonho. tapi nggak harus ngebunuh dia juga. Keterlaluann."

"Eh, eh liat ada Guanlin si pembunuh. Kok bisa ya dia masih punya malu datang ke sekolah ini?"

Teman-temannya benar, Guanlin pikir yang menjadi karakter pejahat adalah dirinya. Guanlin tidak akan pernah menyangka bahwa Seonho akan pergi secepat itu, terlebih dikarenakan kecerobohannya sendiri. hal itu terjadi karena Guanlin tidak sengaja mendorong Seonho yang mencoba meminta maaf pada dirinya. Kejadian itu membuat tubuh Seonho oleng dan terpeleset jatuh dari tangga lantai tiga. Kepala Seonho mengalami pendarahan hebat karena menghantam besi pegangan tangga dan membuatnya koma selama tiga hari sebelum akhirnya dinyatakan meninggal.

Keluarganya Seonho telah memaafkan Guanlin dan sepakat untuk tidak membawa hal ini ke jalur hukum. Rasa penyesalan memang datang terlambat, persis ketika Guanlin yang belum sempat meminta maaf atas kesalahannya pada Seonho.

Kejadian itu membuat Guanlin menjadi lebih pendiam dari biasanya. Bahkan sehari setelah kematian Seonho, dia langsung mendapat cemooh dari semua siswa di sekolahnya. Tidak jarang ada yang menyebutnya pembunuh, bahkan gosip yang beredar mengatakan bahwa keluarganya Seonho tidak berani membawa kasusnya ke jalur hukum karena telah mendapat ancaman dari pihak keluarganya guanlih. Itu tidak benar, tapi sekali lagi Guanlin tidak bisa menyangkalnya karena itu malah akan menambah efek seperti menyiram minyak tanah ke kayu bakar.

Guanlin merasa bahwa ia benar-benar telah membunuh Seonho dan ditambah caci maki dari semua orang membuatnya enggan menginjakan kaki di sekolahnya. Tubuhnya pun mulai menunjukan kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Terlebih ketika ada suatu hal yang bekaitan dengan kata tewas, meninggal atau pembunuhan, Guanlin akan langsung merasa mual dan nafasnya berat. Kedua orang tuanya pun cemas dan segera mencari seorang psikolog handal untuk mengobati Guanlin. Setelah beberapa kali konsultasi, Guanlin didiagnosa menderita gangguan kecemasan dan trauma berat karena telah kehilangan orang yang paling berarti di dalam hidupnya. Setelah ada rujukan untuk mencari psikiater ahli di Jakarta, keluarganya Guanlin sepakat untuk meninggalkan kota Surabaya dan segala kenangannya. Untuk itu Guanlin sering mengonsumsi obat penenang dan juga anti depresan ketika tanda-tanda kecemasannya kumat.

Beruntungnya, di Jakarta dia diterima dengan baik sebagai Guanlin yang baru, bahkan dia jadi bisa mengurangi kecenderungan untuk minum obat penenang dan anti depresan.

Guanlin di Jakarta benar-benar berbeda dengan Guanlin yang sebelumnya tinggal di Surabaya, untuk itu tidak ada yang menyangka bahwa dia adalah pengidap gangguan kecemasan hingga ia masuk universitas dan bertemu dengan Seongwoo, satu-satunya orang yang bisa menggantikan Seonho untuk menjadi tempat Guanlin membagi keluh kesah dan juga rahasianya.

Seongwoo tidak pernah keberatan dengan Guanlin yang sering menceritakan masalahnya, tapi hanya satu yang Seongwoo benci yaitu tentang sifat Guanlin yang sangat tertutup mengenai gangguan kecemasannya. Seolah-olah hanya ada Guanlin dan rasa kecemasannya yang terkunci di dalam sebuah ruangan, perlahan tapi pasti Guanlin akan mati karenanya. Tidak ada yang salah akan hal itu, tapi Seongwoo ingin Guanlin merasakan akibatnya.

Sekarang semua orang berlari ke kamar Guanlin, meninggalkan mayat Jihoon dan Minhyun dalam kegelapan di ruang tengah. Suasana semakin mencekam karena suara petir dan teriakan Guanlin semakin menjadi-jadi.

"Aaaarrghh buka pintunya!"

Suara pintu semakin digedor kuat. Jisung dan Daniel berusaha mendobrak pintu besar itu sekuat tenaga, namun nihil seperti ada yang menahan dengan kuat dari dalam.

"Guanlin! Lo harus tenang jangan panik." Seongwoo tahu dia seharusnya tidak berkata seperti itu karena percuma, di dalam kamar mandi itu pastu pengap dan gelap, dan Guanlin terkunci di dalamnya. Mana mungkin dia bisa bertahan terkunci di tempat gelap dan dengan gangguan kecemasan yang dia punya? Tunggu, mungkin kah?

"Ini semua gara-gara lo! Seongwoo biang dari semua ini."

Keadaan semakin kacau dan Sungwoon sepertinya mulai tidak berpikir jernih dengan mencoba menyulut amarah Seongwoo. Pemuda itu tentu tidak terima dengan kata-kata Sungwoon tadi.

"Jaga omongan lo, ya! gue nggak ada sangkut pautnya, bangsat!" kepalan tangan Seongwoo memutih tapi berhasil ditahan oleh Woojin, sedangkan Jinyoung memegangi Sungwoon yang mulai emosi.

"Bisa nggak sih lo berdua jangan adu bacot dulu! Ini Guanlin di dalem harus selamat dulu!" Jisung berteriak frustasi sambil terus mendobrak pintu dengan tubuhnya.

"T—tolong! T—tolongin gue! Hiks... hiks..." Guanlin semakin histeris di dalam, tapi setelah beberapa saat, suara Guanlin menghilang begitu juga suara pintu yang digedor. Suasana menjadi hening, semua orang saling menatap satu sama lain. Tangan Daniel terulur untuk memutar knop pintu.

Cklek..

Seketika pintu kamar mandi itu terbuka dengan mudah, seperti tidak ada apa-apa yang terjadi sebelumnya. Daniel mendorong pintu kayu jati itu dengan perlahan.

"Guanlin!"

Daniel berteriak panik, sementara semua orang terbelalak. Daehwi dan Jisung tak kuasa menahan air matanya ketika menemukan Guanlin yang terkapar kaku dengan pendarahan hebat di kepalanya. Guanlin tewas, dengan luka benturan hingga pendarahan hebat di kepalanya. Ada banyak bercak darah. Di wastafel, di lantai, di pinggir bath tub, dan juga di pintu. Apa mungkin Guanlin sendiri yang membenturkan kepalanya ke wastafel hingga ke pintu? Atau mungkin ada seseorang yang mencoba membunuh mereka semua?

Tidak ada yang berani menyimpulkan karena memang semua ini terjadi sangat cepat. Mulai dari Jihoon, lalu Minhyun, dan sekarang Guanlin. Selanjutnya siapa? Seongwoo jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi? Dan apa motif di balik semua ini.

"Lihat? Sekarang Guanlin, nanti siapa lagi? Bisa-bisa gue jadi korban selanjutnya." Jaehwan angkat bicara memecah keributan. Semua orang tiba-tiba diam, daehwi dan Jisung tetap menangis dengan menutup mulutnya. Mereka tidak sadar bahwa ada satu orang yang sedari tadi diam dan memperhatikan mereka dengan tatapannya yang menusuk.

"Ini pasti ulahnya Seongwoo."

Kali ini Seongwoo enggan menimpali cercaan Sungwoon karena ia masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi sekarang. Ini bahkan belum jam dua pagi dan tiga orang temannya sudah tewas mengenaskan. Apakah ada sesuatu yang salah di sini?

[TO BE CONTINUE]