Chapter 4 : The rising of the sun

Disclaimer : Naruto dan beberapa chara Bukan punya saya

"The Scientist "

Pair:

Rating :T-M

Warning; Mungkin abal,typo,aneh,ancur,OCC, OC, AU. Bikin mata sakit dan perut mual.

"Victor" Monster voice

'Victor' inner monster

"victor" humans talk

'Victor' humans inner

-Victor- stance

...

...

...

...

...

...

Sumarry : Bagaimana jika masa depan dibawa kemasa lalu. Apakah akan berakhir bagus? Atau malah akan membawa petaka?

.

Di jalan setapak di sebuah hutan yang lebat, terlihat Naruto dan rombongan bandit yang membawa beberapa kereta kuda penuh akan koin emas sedang berjalan melalui jalur itu menuju wilayah klan Uzumaki. Sudah dua hari mereka melakukan perjalanan dari benteng itu. Naruto mulai mengenal latar belakang beberapa bandit dan juga pasukan Assasin yang dibentuk Zabuza. Kebanyakan dari mereka adalah rakyat yang tertindas lalu dikumpulkan oleh Zabuza. Zabuza sendiri adalah mantan prajurit istana yang membelot gara-gara jengah melihat kelakuan anggota para bangsawan yang selalu semena-mena pada rakyat kecil dan memutuskan membuat kelompok bandit yang membela kaum kecil.

"Naruto-sama, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya Zabuza yang sedang mengikuti Naruto dari belakangnya.

" Ya silakan paman Zabuza." Sambil melambatkan langkah kakinya sejajar dengan Zabuza.

"Sihir apa yang Anda gunakan saat melawan saya?" Sambil mengingat-ingat perubahan wujud yang mengerikan dari Naruto. Dan tiba-tiba bulu kuduknya berdiri saat mengingat mulut penuh gigi runcing yang terbuka sangat lebar di hadapannya.

" Itu bukanlah sihir paman." Ucap Naruto sukses membuat Zabuza tambah penasaran.

'Kekuatan sehebat itu bukan sihir? Lantas apa?' Batin Zabuza.

" Itu adalah kekuatan dari partnerku paman." Lanjut Naruto seolah menjawab pertanyaan batin Zabuza.

"Maksud And-" Perkataan Zabuza terpotong saat tiba-tiba melihat tangan Kanan Naruto memanjang dan membentuk sebuah kepala berwarna hitam.

"Hai, ingat padaku." Ucap kepala itu tepat di hadapan Zabuza lengkap dengan mata merah besar dan juga mulut lebar yang penuh gigi.

Degggg

Tubuh Zabuza tersentak melihat kepala sosok yang hampir memakannya.

'H-h-hawa membunuh yang mengerikan!' Batin Zabuza merasakan aura yang di pancarkan kepala hitam itu dan tidak hanya Zabuza yang merasakannya, beberapa bandit yang melihat juga dapat merasakan aura yang menebarkan nuansa horor tersebut.

"Cukup Venom!" Ucap Naruto agak tinggi dan sukses membuat Venom menarik auranya kembali

"Ah kau tak asyik, bocah."

"Mak-makhluk a-a-apa itu." Ucap pelan seorang gadis cantik bersurai hitam panjang sepunggung yang berjalan di belakang Zabuza dan tertangkap oleh pendengaran Naruto.

" Dia adalah Venom, sebuah lumpur hidup yang disebut symbiote, dia hidup dengan menempel di tubuh makhluk hidup lain." Jelas Naruto menjawab pertanyaan si gadis yang baru melihat makhluk hitam tersebut.

" Apakah seperti parasit?" Tanya si gadis sekali lagi.

"Haku! Bersikaplah sopan!" Bentak Zabuza pada si gadis yang bernama Haku. Haku sendiri adalah seorang anak gelandangan yang di pungut oleh Zabuza dan dilatih seni Assasin olehnya menjadikan Haku Assasin yang sangat hebat.

"Ma-maaf Zabuza-sama, Naruto-sama." Ucap Haku sambil menundukkan kepalanya.

"Sudahlah paman, dan Haku .. jawabanmu tak sepenuhnya benar. Venom lebih seperti simbiosis yang Mutualistik (Saling menguntungkan) dia memberi inangnya kekuatan, kecepatan, dan juga beberapa kemampuan yang lain. Dan aku sebagai inangnya memberi dia tempat tinggal untuknya bertahan hidup." Ucap Naruto.

"Ah sepertinya gerbang klan Uzumaki sudah di depan kita." Dan terlihat di hadapan rombongan Naruto sebuah gerbang besar yang terbuat dari kayu yang bertuliskan うずまき一族 (Klan Uzumaki ).

.

Terlihat di depan gerbang Klan Uzumaki ada dua orang yang sedang bersantai ria.

" Aah membosankan." Ucap orang pertama dengan suara yang terdengar malas.

"Kau benar kawan." Ucap orang kedua tak kalah malas.

"Andai saja ada sesuatu hal menyenangkan yang bisa kita lakukan." Balasnya lagi.

"Kau be-" ucapan orang kedua terhenti saat tak sengaja melihat keluar gerbang matanya menangkap rombongan yang berpakaian bandit lengkap dengan senjatanya.

"Gawat para bandit menyerang kita!"

"Kau beritahu Arashi-sama! Dan aku akan membunyikan lonceng!" Perintah orang pertama.

.

.

Sementara itu Disebuah ruangan keluarga terlihat dua sosok dewasa dan seorang anak kecil tengah berkumpul.

"Kapan kau pulang Sochi." Gumam Mito dan terdengar oleh suaminya.

"Sabarlah sayang, putra kita bahkan baru seminggu pergi." Ucap Arashi sambil menyesap teh yang ada di hadapannya. Perkataan Arashi sukses membuat Mito memicingkan matanya.

" Diam kau! Gara-gara kau putraku pergi! Dasar kepala keluarga tidak berguna."

Jleb Uhuk

Perkataan bernada sinis dari Mito sukses membuat Arashi tersedak oleh tehnya.

" K-kau kejam sekali." Ucapnya sambil memegangi dada kirinya.

" Itu kenyataan. Kau hanya bisa membuat saja tapi tidak becus mengurusnya, setelah ini aku ingin mencari suami baru." Ucap Mito sambil membelakangi Arashi.

"S-s-sayang kau hanya bercandakah." Sambil berusaha merayu Mito.

"A-a-apakah kau tega pada suamimu yang tampan in-"

TENG TENG TENG TENG

Suara lonceng yang dipukul kencang memotong ucapan Arashi.

"Ada apa ini Arashi-kun?" Tanya Mito cemas.

"Aku tak tahu sayang."

Dor dor dor

"Arashi-sama! ini gawat!" Teriak seseorang yang menggedor pintu dengan keras.

Clek

"Ada apa Seno?" Ucap Arashi setelah mengetahui pelaku penggedoran pintunya.

"Haah haah ini haaah gawat haah."

"Tenangkan dulu nafasmu Seno dan bicaralah secara perlahan-lahan." Setelah beberapa saat mengambil nafas pemuda yang di sebut Seno mulai terlihat tenang.

"haaahh Ini gawat Arashi-sama gerombolan bandit sedang menuju kampung kita! "Mengagetkan Arashi dan Mito.

"Apa!? Suruh semua pria berkumpul di gerbang! kita pertahankan kampung kita!" seru Arashi.

"Anata, apakah terjadi sesuatu dengan Naruto." Ucapnya cemas dengan keadaan Putranya.

"Aku tak tahu Tsuma. Kau tunggulah bersama Karin aku akan pergi melihat keadaan di depan gerbang." Perintah Arashi.

"Tidak! Aku ikut denganmu." Bantahnya.

"Tidak Tsuma, kau berlindunglah jaga anak kita!"

"Aku juga bisa bertarung! Aku akan ikut mempertahankan kampung kita ini!" Ucapnya dengan lantang

"Haah baiklah ... tapi jangan terlalu memaksakan diri." Akhirnya Arashi menyerah menghadapi istrinya yang keras kepala.

Dan terlihat di depan gerbang banyak penduduk yang membawa berbagai perkakas dan juga senjata berkumpul di depan gerbang yang di pimpin oleh Arashi dan Istrinya.

"Mau apa kalian ke kampung kami!" Ucap Arashi di depan rombongan para bandit.

"Wah sambutan yang sangat menakutkan." Ucap seseorang dari balik tubuh para bandit dan mendapatkan perhatian dari anggota klan Uzumaki yang berada di gerbang.

" Tadaima, Kaa-sama, Tou-sama." Ucap Naruto yang keluar dari belakang tubuh para bandit.

"Okaerinasai Sochi." Terlihat mata Mito mulai berkaca melihat Anaknya ada di gerombolan para bandit.

Greeb

"Akhirnya kau pulang juga Nak." Sambil berlari dan langsung memeluk putranya.

"Bagaimana kabarmu, Kaa-sama?" Tanya Naruto membalas pelukan Ibunya.

"Ibu baik Sochi, sangat baik. Bagaimana dengan kabarmu?" tanya Mito sambil mengusap wajah Putranya dan tersenyum haru melihat putranya kembali.

"Seperti yang Kaa-sama lihat."

"Ekhem!" Suara deheman Arashi menyadarkan mereka berdua.

"Kau mengganggu saja." Gerutu Mito.

"Haah ..." hela Arashi melihat kelakuannya istrinya.

"Bisa kau jelaskan Nak?" Ucap ambigu Arashi.

"Maksud Tou-sama?" Dan tatapan Arashi tertuju pada para bandit yang sedang tersenyum lebar sambil menatapnya.

"Oh, mereka yang Tou-sama maksud." Melihat arah tatapan Ayahnya.

"Ya, bisa kau jelaskan?" Tanya Arashi sekali lagi.

"Eto .. akan saya jelaskan di ruanganmu, Tou-sama." Dengan menggaruk lehernya yang tidak gatal Naruto membalas ucapan Ayahnya.

"Baiklah ikuti Tou-san." Ajak Arashi.

"Baik." Balas Naruto.

"Tou-sama." Ucap Naruto membuat Arashi berhenti dan menolehkan kepalanya pada Naruto.

"Bisakah suruh seseorang untuk memandu mereka." Pinta Naruto.

"Hmmm baiklah, Seno ajak tuan-tuan ini berkeliling kampung kita dan jamu mereka." Ucap Arashi memberi perintah pada penjaga gerbang.

"B-b-baik Arashi-sama." Jawab Seno dengan tubuh bergetar melihat para bandit mulai melangkah padanya.

"Paman Zabuza dan Haku tolong ikut denganku." Ucap Naruto sambil melanjutkan melangkah bersama Ayah dan diikuti oleh Zabuza dan Haku.

.

.

.

Skip time

.

.

" Jadi seperti itu." Ucap Arashi duduk di meja kerjanya setelah mendengar cerita lengkap dari Naruto dan Zabuza.

"Aku bangga padamu Nak, di usia yang sangat muda kau sudah belajar diplomasi tanpa seorang mentor." Ucapnya dengan penuh rasa bangga.

"Dan aku penasaran dengan partnermu itu, bisakah aku melihatnya?" Tanya Arashi sangat penasaran akan sosok Venom

"Baik Tou-sama ... Venom keluarlah." Ucap Naruto dan tiba-tiba dari tangan Naruto keluar kepala hitam bermata merah.

"Kau mengganggu istirahatku bocah." Ucap Venom. Terlihat Arashi menyipitkan matanya melihat makhluk aneh keluar dari tangan Naruto.

'Jadi ini wujud Symbiote bernama Venom itu.' Batin Ayah Naruto sambil melihat Venom.

" Berhenti menatapku seperti itu, geli rasanya." Ucap Venom menyadari bahwa dirinya sedang diamati Arashi.

"Ah! Maafkan aku Venom-san." Ucap Arashi tersadar dari pikirannya.

"Dan soal rencanamu itu Anakku, kapan kau akan memulainya?" Tanya Arashi mengalihkan pembicaraan.

"Saya ingin memulainya hari ini juga Tou-sama." Ucap Naruto tegas.

"Dan bisakah Tou-sama mengumpulkan Anggota klan di halaman depan kastil besok?" Ucap Naruto meminta pada Arashi.

"Baiklah akan aku kumpulkan seluruh anggota klan kita besok." Ucap Arashi menyanggupi permintaan Naruto.

"Dan paman Zabuza." Panggil Naruto.

"Hai Naruto-sama!" Jawab Zabuza dengan lantang menjawab panggilan Naruto.

"Malam ini apakah tidak apa kalian semua membangun tenda untuk bermalam sementara waktu?" Tanya Naruto.

"Anda suruh kami tidur di bawah guyuran hujan pun akan kami laksanakan Tuanku!" Ucapnya memperlihatkan kesetiaannya pada Naruto, dan Membuat Arashi dan Haku sweetdrop mendengarnya.

" Tidak paman kau berlebihan. Kalau begitu buatlah tenda untuk dan pasukanmu sekarang di bagian selatan kastil ini."

"Baik Tuanku! Kalau begitu saya permisi Arashi-sama, Naruto-sama, ayo Haku."

"Saya mohon undur diri Arashi-sama, Naruto-sama. " Pamit keduanya sambil mulai keluar dari ruangan itu.

" ... "

" ... "

"Kau punya bawahan yang sangat setia Putraku." Ucap Arashi memecahkan keheningan yang ada.

"Begitulah Tou-sama ..." Balas Naruto

"Tou-sama, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya Naruto.

"Tentu Putraku, tanyakanlah tak perlu sungkan."

"Apakah kita memiliki beberapa buku sihir?" Tanya Naruto.

"Buku sihir ya ... Kalau boleh aku tahu untuk apa kau menanyakan soal itu? Apakah kau mau belajar sihir?" Tanya Arashi.

"Bukan Tou-sama ... tapi lihatlah esok." Membuat Arashi penasaran oleh kata-kata putranya.

"Baiklah, kalau buku sihir kita memiliki banyak buku sihir dari yang umum sampai sihir khusus klan kita." Jawab Arashi

"Bolehkah aku melihatnya?" Tanyanya lagi.

"Tentu saja mari ikuti aku." Seraya beranjak dari duduknya Arashi mulai meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Naruto dibelakannya.

.

.

.

.

Skip time

.

.

Keesokan harinya di halaman klan Uzumaki sudah berkumpul banyak orang dari klan Uzumaki maupun pasukan bandit Zabuza. Dari yang muda sampai yang tua, laki-laki dan perempuan berkumpul memenuhi halaman kastil itu

Tap

Tap

Tap

Terdengar beberapa langkah manusia dari dalam kastil dan terlihatlah sekarang enam orang berdiri di atas balkon yang luas di kastil Uzumaki tersebut.

" Wahai saudaraku sesama Uzumaki, hari ini aku ingin menyampaikan kabar gembira untuk kita semua. Yang pertama keluarga kita bertambah, sambutlah dengan hangat Zabuza dan pasukannya!" Ucap Arashi memperkenalkan Zabuza beserta kelompoknya.

" Apa ini?"

"Apakah Arashi-sama bergurau?"

"Kenapa beliau mengizinkan para bandit ini tinggal bersama kita?"

"membuat malu saja."

Terdengar bisikan-bisikan dari beberapa anggota klan Uzumaki saat mendengar pimpinan mereka memperkenalkan Zabuza dan kawanannya, membuat beberapa bandit mengeraskan wajahnya menahan rasa kesal mereka.

"Dengarkan penje-"

"Cukup Tou-sama ... dari sini saya ambil alih." Potong Naruto sambil melangkah ke depan balkon.

"Kalian ... menjijikkan." Ucap Naruto membuat anggota klan Uzumaki tersindir dan mulai marah.

"K-k-kau!"

"Jangan seenaknya karna kau anak pemimpin klan!" Seru marah beberapa pemuda klan Uzumaki.

"Bukannya itu benar?" Ucap Naruto semakin membuat wajah para Uzumaki semakin memerah marah.

"Kalian menganggap bahwa diri kalian lebih tinggi kastanya dari para bandit di sini."

"Tentu saja begitu! Mereka lebih rendah dari pada kami!" Ucap seorang orang tua sukses membuat para bandit murka mendengarnya.

"Dan itulah alasan aku memanggil kalian menjijikkan." Ucap Naruto seakan mengguyurkan minyak ke kobaran api yang menyala.

"Apa maksudmu bocah!" Teriak sang kakek.

"Apakah kalian tahu, hasil mereka menjarah dan merampok dipakai apa?" Tanya Naruto.

"Tentu saja untuk berfoya-foya dan menyewa wanita di rumah bordil! Untuk apa lagi!"

Sriiingggg

Sriiingggg

Sriiingggg

Sriiingggg

Tiba-tiba empat sosok sudah mengelilingi pemuda yang menjawab barusan dengan senjata masing-masing yang sudah siap menebas kepala si pemuda.

"Tarik ucapanmu kembali." Desis Zabuza begitu dingin ditelinga si pemuda.

" Sudah cukup! Zabuza, Haku, Fu, Torune!" Perintah Naruto.

"Dan kau! Dengarkan ucapanku baik-baik! Jangan pernah sesekali kau menilai buku dari sampulnya saja."

"Mereka para bandit lebih terhormat dari pada kalian semua yang ada di sini! Di saat kalian tidak berdaya melawan nasib yang mempermalukan klan kita ... Mereka para bandit menolak untuk diam saja seperti yang kalian lakukan. Mereka merampok, menjarah, dan mencuri agar mereka bisa membantu rakyat kerajaan ini yang tertindas!"

"Mereka tahu risiko dari tindakan mereka, tapi mereka tetap pergi tanpa memedulikan nasib nyawa mereka sendiri!"

"Dan aku bertanya pada kalian semua anggota klan Uzumaki ... Apakah kalian masih merasa lebih terhormat dari para bandit yang ada di sini!" Terdiam dan menunduk. Itulah yang hanya bisa dilakukan anggota klan Uzumaki setelah mendengar kata-kata Naruto. Mereka merasa malu pada diri mereka sendiri, mereka seakan lebih superior dari pada para bandit hanya karna mereka adalah anggota Klan bangsawan Uzumaki. Dan ucapan Naruto barusan seakan menampar mereka semua bahwa kehormatan didapat dari sebuah tindakan, bukan dari darah yang mengalir di Nadi mereka.

"Klan Uzumaki, sekali lagi aku bertanya. Andai saja ada kesempatan untuk merubah keadaan klan ini, apakah kalian mau mengambil kesempatan itu?" Tanya Naruto membuat Kepala yang tadinya menunduk mulai mendongak ke atas melihat kearah Naruto.

"T-tentu saja!"

"Ka-ka-kami mau!"

"Akan kami lakukan!" Ucap semua anggota Uzumaki.

"Bahkan bila itu mengorbankan nyawa kalian?"

"Ya!"

Ucap mantap semua anggota Uzumaki.

"Baiklah ... Aku Uzumaki Naruto Putra dari Uzumaki Arashi dan Uzumaki Mito, umumkan mulai hari ini! klan kita, klan Uzumaki! Akan kembali pada masa kejayaannya! Kita akan mengembalikan kehormatan yang telah di injak-injak oleh bangsawan lain! Kita akan mengambil kembali kebanggaan klan kita yang mereka curi! Hari ini akan dicatat dalam sejarah bahwa kita, Klan Uzumaki! sekali lagi akan menunjukkan taringnya di hadapan seluhur dunia! Menunjukkan kehebatan kita di mata para bangsawan yang telah merendahkan kita! Mengguncangkan dunia dengan teriakan kita! Bahwa kitalah predator yang sesungguhnya!" pidato Naruto membuat semangat juang yang tinggi dihati semua orang yang berada di situ.

"Dengan bantuan kalian semua, klan kita akan kembali menjadi klan yang ditakuti oleh musuh kita, klan kita akan menjadi klan yang disegani oleh rekan kita! JAYALAH KLAN UZUMAKI!"

"JAYALAH KLAN UZUMAKI!"

"JAYALAH KLAN UZUMAKI!"

Teriak semua orang dengan semangat yang membara.

"Ano, Zabuza-san maafkan aku atas perkataanku tadi." Ucap Pemuda tadi sambil membungkukkan badannya terhadap Zabuza.

"Hn, tak apa. Lain kali belajarlah menghargai orang lain, walau status orang itu lebih rendah dari pada kamu." Nasehat Zabuza.

"Hai! Terima kasih Zabuza-san."

" Sebagai awal rencana kebangkitan. Aku sudah menyiapkan beberapa meja di hadapan kalian. Pilihlah profesi yang menurut kalian cocok dengan kalian." Ucap Naruto sambil melangkah mundur.

"Kau membuat kami sangat bangga Nak." Ucap Arashi sambil mulai melangkah ke depan.

"Semuanya tolong dengarkan aku!" Ucap Arashi sukses menarik perhatian semua orang.

"Mulai hari ini, Aku mengangkat putraku Uzumaki Naruto sebagai Heir selanjutnya dari klan Uzumaki!" Teriak Arashi.

"Ya! Hidup Arashi-sama! Hidup Naruto-sama!" teriak para Klan Uzumaki dan pada bandit.

" Selamat Sochi." Ucap Mito.

Terlihat kini ada lima antrean dihadap lima meja. Jika diperhatikan anggota sekarang klan Uzumaki yang masih produktif mencapai empat ratus jiwa tidak termasuk para lansia dan anak-anak.

"Ternyata banyak juga." Ucap Naruto melihat antrean yang masih mendaftar.

"Ram tolong antarkan semua data ini jika mereka semua telah mengisinya." Ucap Naruto kepada seorang maid cantik berambut merah muda pendek dengan poni yang menutupi mata kirinya.

"Hai, tuan muda!" ucap Ram.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hehehe bercanda masih asyik menulis kok

Skip time

.

.

.

Keesokan harinya terlihat banyak sekali penduduk yang berbaris dengan rapi di halaman kastil klan Uzumaki. Dan terlihat lima antrean yang berbeda jumlah

'Yang mendaftar sebagai kesatria mayoritas pria berkisar usia dua puluh sampai tiga puluh tahun ada seratus orang, lumayan banyak juga. Dan sisanya untuk peternak dan petani mayoritas pria dan wanita yang berkisar tiga puluh ke atas ada seratus orang, pengrajin pakaian lima puluh kebanyakan wanita berumur tiga puluh tahunan, untuk maid kebanyakan perempuan muda seperti yang diharapkan dan juga jumlahnya lumayan banyak, delapan puluh orang. Dan terakhir untuk arsitektur bangunan tak disangka akan sebanyak ini tujuh puluh orang, mungkin akan ku pindahkan ke yang lainnya saja.' Batin Naruto

"Jadi? Selanjutnya apa bocah." Terdengar suara Venom terngiang dikepala Naruto.

Ya tentu saja memulai rencana ini ... haah andai saja aku tahu cara membuat mesi-'

Deeeggggg

Tiba-tiba tubuh Naruto tersentak saat sedang berkhayal.

"Keberuntungan yang sialan huh?" Tanya Venom sambil menyeringai di dalam pikiran Naruto.

" Ahahaha dewa benar-benar mencintaiku." Batin Naruto tak jelas.

"Baiklah, Selamat pagi saudaraku!" Ucapnya keras membuat seluruh perhatian mereka semu tertuju pada Naruto.

"Hari ini kita akan memulai langkah awal untuk perubahan Klan kita, kemarin kalian sudah mendaftar profesi apa yang kalian ingin lakukan. Dan semua datanya sudah masuk padaku."

"Sebagai permulaan aku akan mengenalkan instruktur sementara kalian. Dimulai dari Knight tang akan dilatih oleh Momochi Zabuza untuk sementara waktu, selanjutnya, Untuk para Maid akan dilatih oleh Ram dan Rem. Dan aku rasa tiga sisanya akan dalam pengawasanku." Ucap Naruto.

"Baik untuk para calon Knight ikuti Zabuza. Dan juga kalian para maid."

"Aku beri nama rencana ini ... Rencana The rising of the sun!"

.

.

.

.

Sudah beberapa minggu setelah proyek The rising of the sun berjalan. Para arsitek sudah mulai membangun berbekal cetak biru yang Naruto berikan. Oh Ngomong-ngomong soal cetak biru, ternyata dewa juga memberikan Naruto beberapa pengetahuan pembangunan serta pembuatan alat-alat dan senjata api dalam bentuk cetak biru. Ya walau pun peralatan pembuatannya masihlah sangat-sangat terbatas tapi bukan hal yang tidak mungkin dua puluh tahun lagi klan Uzumaki akan menjadi kota metropolitan.

Untuk bertani masyarakat sudah mengenal da mulai menerapkan sistem hidroponik, membuat masyarakat dapat memanfaatkan lahan dengan sebaik-baiknya dan hasil yang jauh melimpah.

Untuk bidang peternakan sendiri, Naruto mulai mengajarkan cara mengolah pakan yang pas untuk binatang yang diternak. Membuat hewan ternak terlihat lebih gemuk daripada hewan ternak yang ada dipasar kerajaan.

Untuk para pengrajin pakaian Naruto memberikan beberapa teknik yang dulu ia pelajari di kelas tata boga dan juga desain beberapa pakaian modern yang terlihat berbeda dan lebih keren dari pakaian yang dikenakan orang-orang.

Para Knight didikan Zabuza sudah mulai beroperasi seperti mengamankan jalur klan Uzumaki agar para pedagang lebih aman dari serangan para magic beast, dan dari seratus knight yang ada Naruto memilih dua puluh anggota itu untuk menjadi kesatuan baru berjalur Assasin.

Anak didik Ram dan Rem sudah mulai siap beroperasi menurut Naruto. Dia berencana membuat beberapa Restoran di beberapa kota terkenal di kerajaan. Saat ditanya alasan dia membuat restoran jawabannya "Restoran adalah usaha yang tidak akan pernah padam sampai kapan pun, karena Makanan adalah kebutuhan pokok paling penting bagi seluruh." Membuat dia mendapatkan lampu hijau dari ayahnya. Dan tidak lupa memberikan mereka resep makanan modern yang belum pernah ada di jaman/dimensi ini, dan hanya tinggal menghitung waktu sampai dana dan juga para maid lebih siap lagi.

.

.

Tok

Tok

Tok

"Masuk!" Ucap seseorang dalam ruangan itu.

"Selamat pagi Tou-sama." Ucap Naruto memberi salam.

"Selamat pagi juga Putraku." Balas Arashi.

"Ada apa kau kemari Nak?" Tanya Arashi karna tak biasanya putranya itu mengunjungi dirinya karna sibuk dengan proyek The rising of the sun.

"Sekarang keadaan Klan kita sudah berangsur-angsur membaik."

"Ya aku tahu itu. Itu semua berkat kerja kerasmu Nak." Arashi sangat bangga atas pencapaian putranya itu. Di saat anak bangsawan lain bermain dan bersenang-senang, putranya sudah membuat sebuah klan yang terpuruk berubah menjadi klan yang makmur.

"Tidak Tou-sama. Semua ini karna kerja keras kita semua." Ucap Naruto membenarkan perkataan Arashi.

" Tujuanku kemari adalah meminta izin Adalah untuk berkelana selama beberapa tahun."

" ... "

" ... "

"Baiklah Nak, aku akan mengizinkanmu pergi."

"Tapi dengan satu syarat." Ucapnya lagi.

"Apakah itu Tou-sama?" Tanya Naruto.

"Kau harus menguasai sihir original Klan kita Adamantine Attacking Chain dan Adamantine Sealing Chain."

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai maaf di chapter ini gak ada adegan batlenya. Tapi mungkin chapter depan ada dan dimulainya perjalanan pendek Naruto.

Oke itu aja terimakasih yang sudah mau curat-coret di kolom reviews. Di tunggunya reviews selanjutnya.

see you next time!

.

.

Chapter 4 is complete.