JY present

Delinquent Student

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Two
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!

.
.
.


Hyungseob melangkah selambat mungkin di belakang 'poros hidup'nya. Kekasih? Oh, Hyungseob inginnya begitu. Teman? Kalau boleh, Hyungseob ingin menjadi teman seumur hidupnya sekalian. Senyum malu–malu terbit di bibir pria dengan marga Ahn itu. Hyungseob segera mempercepat langkahnya saat sosok yang ia ikuti berbelok ke kiri, ke arah menuju perpustakaan.

Awalnya Hyungseob hanya ingin kembali ke kelasnya setelah bertemu Jihoon yang ingin tetap di ruang kesehatan, tapi niat baiknya segera ia batalkan saat melihat sosok dengan dasi birunya dan vest abu–abu berjalan di koridor sendirian. Tak perlu klarifikasi, Hyungseob hapal dengan tubuh itu. Surai cokelatnya, tubuhnya, cara berjalannya, Hyungseob sudah hapal segalanya di luar kepalanya.

Hyungseob yang semula berbelok dengan senyum melebar hingga pipinya, perlahan mulai menghentikan langkahnya. Sosok itu hilang. Hyungseob menoleh panik, mencari sosok yang ia ikuti sedari tadi. Koridor sekolah sepi, tak ada siapapun disana. Hyungseob menghela nafas dalam.

"Ah! Apa dia ke perpustakaan?"

Hyungseob melangkah pelan ke perpustakaan, langkahnya ia buat seringan mungkin, ia tak ingin suara sepatunya memantul di dinding perpustakaan. Bisa–bisa keberadaannya disadari. Hyungseob nyaris memekik senang saat tak ada murid lain atau Seo ssaem sang penjaga perpustakaan. Segera ia mengendap ke arah rak buku dan mengendap di jalan sempit yang tercipta dari sela antara rak dengan dinding belakang perpustakaan yang juga diisi rak buku. Hyungseob melongok di tiap rak, mencari sosok 'itu'. Sepelan mungkin ia melirik jalan yang tercipta antar rak. Bahu Hyungseob luruh saat ia melongok rak terakhir. Ia tetap tak menemukannya. Hyungseob memajukan bibirnya kesal. Tanpa semangat, ia berbalik, hendak kembali ke kelas dan tidur.

"Ahk!" Hyungseob terdorong hingga punggungnya menabrak dinding. Netranya otomatis terpejam rapat. Ia bisa merasakan dua tangan menahan sisi sisi tubuhnya. Hyungseob merasakan jantungnya melompat cepat, naik hingga kepalanya. Seketika pria manis itu merasakan pusing menderanya.

"Kenapa kau terus mengikutiku, Ahn Hyungseob."

Eh?

Hyungseob membuka netranya. Irisnya memperhatikan rahang sang penanya. Perlahan, fokusnya naik dari leher kecokelatan hingga tepat pada iris tajam yang menatapnya bulat–bulat. Nafas Hyungseob tercekat. Kedua kelopak matanya terbuka lebar.

"W–woojin?"

"Berhenti memotretku, berhenti mengikutiku, berhenti membicarakanku, berhenti melakukan hal yang berhubungan denganku Hyungseob."

"K–kau tau namaku?"

"Kau menguntitku setiap hari, kau pikir selucu apa hingga aku tak tau namamu dan kegiatanmu?" netra Hyungseob tetap membola, tatapannya turun pada dagu Woojin. Ia tak berani menatap 'idola'nya saat ini. Ia kira Woojin takkan pernah tau atau takkan pernah peduli dengannya! Sungguh, demi seluruh gombalan Haknyeon, ia belum siap untuk menghadapi hari ini.

"Berhenti berimajinasi tentangku, Ahn."

Hyungseob semakin terbelalak saat Woojin dengan santainya mendekatkan wajahnya dan melumat bibir Hyungseob. Tangan kiri Woojin beralih pada pinggang Hyungseob, menahan pria bermarga Ahn itu agar tak terjatuh ke bawah. Hyungseob bisa merasakan telapak tangan hangat Woojin menyentuh tengkuknya dan menekannya. Hyungseob mematung dengan lutut selemas jelly. Terima kasih pada Park Woojin yang mau menyangga tubuhnya, kalau tidak, ia pasti akan roboh detik ini juga.

Hyungseob tak pernah berpikir untuk menghadapi hari seperti ini. Dan oh astaga, Woojin yang menciumnya! Park Woojin! Bukan dirinya yang mencium Park Woojin! Hyungseob meremat lengan seragam Woojin erat saat merasa pasokan oksigennya mulai menipis. Wajahnya kini sudah memerah. Entah karena malu atau sesak. Yang jelas, saat Woojin melepaskan tautan mereka dengan benang saliva yang terbentang antara bibir keduanya, Hyungseob tak bisa tak menatap iris Woojin.

"Aku bukan imajinasi. Aku nyata, Hyungseob" jantung Hyungseob berdetak kasar. Kerja otaknya semakin di perparah saat Woojin mengusap surainya lembut dengan senyum miring, menampilkan gigi gingsul manis kesukaan Hyungseob. Sebuah kecupan lembut menyapu bibir Hyungseob sejenak. Kecupan itu mulai beralih ke kedua pipinya, hidungnya, kedua kelopak matanya, dan terakhir, di dahinya. Hyungseob bisa merasakan hangatnya bibir Woojin yang selama ini hanya bisa ia pandang dari jauh menyapa kulitnya.

"Kembalilah ke kelas, okay?"

Woojin mengedip sebelum berlalu meninggalkan Hyungseob yang masih berusaha mencerna segalanya dengan otak 2G miliknya.

"Apa yang–"

Tolong, Hyungseob tak ingin pingsan sekarang.


.

.


Bel istirahat makan siang menggema di seluruh penjuru sekolah sejak beberapa menit lalu. Jihoon, Sungwoo, dan Haknyeon sudah berkumpul di meja kantin yang biasa mereka tempati.

"Tunggu, mana Hyungseob? Dia tidak tersesat ke kantin 'kan?"

"Eh? Aku tak tau, bukannya ia sudah kembali ke kelas tadi?" Jihoon berhenti menyedot lemon teanya. Seingatnya, temannya itu mengatakan kalau ia ingin kembali ke kelas, mengingat Yoo ssaem tengah mengajar di kelas mereka. Apa temannya itu membolos? Hyungseob? Ah, tidak mungkin. Jihoon merogoh ponselnya, mengecek apakah temannya itu mengirim pesan padanya.

"Aneh, dia juga tak mengabari."

"Dia tak muncul di chat," Sungwoo meletakkan ponselnya dengan raut cemas. Aneh. Hyungseob tak pernah lepas dari ponselnya. Pria itu selalu membawa ponselnya bahkan saat ia mandi atau di toilet sekalipun.

"Aku cari saja, bagaimana? Pesananku juga belum datang."

"Kau mau mencari dimana memangnya bodoh," Sungwoo melempar bungkus sumpit kayunya pada Haknyeon yang meringis ragu. Jihoon menghela nafasnya berat. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Bagaimana jika Hyungseob 'diganggu' para berandalan, mengingat ada Park Woojin disana. Bisa saja Hyungseob dipengaruhi lalu ditindas. Jihoon bergidik membayangkannya.

"Cepat cari dia, Haknyeon–ah."

"Ayayay captain!"


.

.


"Hei, apa yang kalian lakukan brengsek!" Haknyeon segera berlari saat melihat seorang namja di kerubungi oleh murid lain. Ia bisa melihat bagaimana mereka memukul dan menendang pria mungil itu. Beruntung Haknyeon melewati taman sekolah yang sedikit tak terurus. Kerumunan itu segera berlarian saat melihat siapa yang datang.

"Hei hei, kau baik baik saja?" Haknyeon mengguncang pundak pria yang tampak lebih kecil darinya. Surai hitamnya bergoyang terkena hembusan angin. Pria dihadapan Haknyeon mendongak, sebuah senyum terulas di bibirnya.

"Eh? Haknyeon–ah?"

"Euiwoong?"

Euiwoong tertawa melihat ekspresi terkejut Haknyeon. "Sudahlah, aku baik. Sungguh. Aku tak selemah yang kau kira kok."

"Mereka memukulimu bodoh!" Euiwoong menepuk seragamnya yang kotor sementara Haknyeon terpaku. Haknyeon tak menyangka, sungguh, kalau Euiwoong adalah korban bully seperti ini. Memang, Euiwoong itu manis dan imut –eh. Haknyeon berdeham canggung. Sial, kenapa dia jadi berpikir seperti itu sih.

"Kau mengkhawatirkan ku? Lihat lah, rambutku yang sudah aku rapikan tadi pagi berantakan," Euiwoong memajukan bibirnya. Jemari mungilnya sibuk merapikan helai rambutnya yang tampak mengenaskan.

"Terserah, Lee."

"Ah, aku terharu, Joo. Sudahlah, aku mau ke kelas saja. Kau sendiri kenapa kemari?"

"Astaga! Hyungseob hyung!" Haknyeon segera berlari meninggalkan Euiwoong yang kembali tertawa melihat raut panik Haknyeon. Kembali, Euiwoong menepuk seragamnya yang masih kotor. Jejak sepatu di seragamnya masih samar terlihat. Senyum miring Euiwoong kini terlukis di bibirnya.

"Ah, Joo. Padahal aku sedang bermain–main. Apa kuberitahu Daniel hyung atau nanti saja ya?" Euiwoong melompat riang meninggalkan tempatnya tadi. Senandung acak ia nyanyikan, tak peduli dengan ujung bibirnya yang berdarah atau tungkainya yang lebam.


.

.


Jihoon menggerutu kesal. Sudah 15 menit berlalu dan Joo Haknyeon belum kembali dengan Hyungseob. Mau tak mau, Sungwoo dan Jihoon ikut mencari 'anak kecil' mereka. Ragu Jihoon melangkah ke koridor belakang gedung sekolah. Perlahan, ia melongok. Memperhatikan sejenak keadaan disana. Aman. Jihoon segera melangkah, sesekali ia bercicit memanggil nama Hyungseob. Beruntung, para berandalan tidak sedang berada disana.

Mungkin.

Jihoon memekik dengan nafas tertahan saat melihat seorang namja dengan topi hitam duduk di sofa bekas yang diletakkan di koridor belakang. Jihoon segera berlari semampunya saat namja itu menoleh padanya. Untuk kedua kalinya, Jihoon merutuki keputusannya di hari ini. Jihoon langsung terbatuk saat kerah bajunya tertahan dari belakang.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Te–teman, aku mencari temanku!"

"Tidak ada."

"Le–lepaskan aku, kumohon," Jihoon memejamkan netranya saat namja dibelakangnya memutar tubuhnya. Hening melanda keduanya hingga akhirnya Jihoon berani membuka matanya. Ia langsung dihadapkan dengan collar bone siswa dihadapannya. Astaga, bahkan ia membuka seragamnya dan hanya menyisakan baju tanpa lengan dengan kerah sangat rendah yang melekat di tubuhnya.

"Jangan kemari lagi."

"Se–semoga," Jihoon menarik nafas lega saat kerahnya dilepaskan perlahan. Segera ia berbalik dan berlari meninggalkan adik kelasnya yang masih berdiri menatap dirinya tajam. Jihoon mengerjap, ia baru teringat sesuatu. Perlahan ia membalikkan tubuhnya, menatap sang adik kelas yang masih terdiam dengan alis terangkat.

"Kembali ke kelasmu Bae Jinyoung. Kenakan seragammu dengan benar."

Jinyoung mendengus pelan. "Ketua Organisasi Siswa."
.
.
.
TBC


a/n: Gimana gimana? Chapter 2 more better dari chapter 1 kan? Iya emang:"
Maafkan chapter 1 masih amburadul gitu huwee:"
RnR juseyooo~!

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]