JY present

Delinquent Student

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Three
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!

.
.
.


"Yak, Ahn Hyungseob!" Hyungseob menoleh dari lamunannya, saat mendadak mendengar teriakan Jihoon dibelakangnya.

BUAGH

Sepatu Jihoon telak mengenai puncak kepala Hyungseob. Namja Ahn itu mengaduh. Beruntung ada Haknyeon yang menahan amukan Jihoon dan Sungwoo yang mengatakan 'sudahlah' berulang pada si pria Park. Hyungseob mengerjap kebingungan saat melihat ketiga sahabatnya mendatangi dirinya yang masih berpikir sendirian di rooftop. Padahal, ia nyaris menemukan jawaban atas apa yang baru saja terjadi di perpustakaan tadi, antara dirinya dan gingsul manis kesayangannya –coret.

"Ada apa?"

"Brengsek! Kemari kau Ahn Hyungseob!" Jihoon meronta dari cengkraman Haknyeon. Untung adik kelasnya itu punya tenaga yang kuat sehingga Jihoon tak bisa menyerang Hyungseob yang masih duduk manis dengan tatapan keheranan.

"Kau kemana saja? Bagaimana jika Haknyeon tak menemukanmu? Ini sudah pulang sekolah, kalau kau belum tau."

"EH?! Hyung, jangan bercanda!"

"Hyungseob hyung memang tidak tau ternyata," Haknyeon menggeleng pasrah melihat bagaimana Hyungseob melirik jam tangannya berulang. Sungwoo menghela nafasnya. Tas Hyungseob yang ada di tangannya ia serahkan pada Hyungseob. Jihoon menarik nafasnya kesal. Bagaimana tidak? Pemuda Park itu benar–benar mengira kalau Hyungseob diculik. Sekali lagi, terima kasih pada Haknyeon dan seluruh fansnya yang selalu punya informasi terpercaya. Kalau tidak, mungkin Jihoon sudah melapor ke polisi sekarang.

"Kau kenapa kemari sendirian huh?"

"Aku.. dicium Woojin Park."

Hening.

"Hah? Sudahlah hyung, berhenti lah berimajinasi seakan kau dicium Woojin sunbae. Kau lama–lama membuatku takut hyung," Haknyeon menghela nafasnya jengah sementara Sungwoo mengusap wajahnya malas. Tak ada yang sadar bahwa Jihoon tengah tercekat mendengar ucapan Hyungseob.

"Seob, berhenti mengharapkan Woojin okay? Kurasa dia bukan murid baik–baik," suara Jihoon mengecil di akhir saat tatapan seluruh sahabatnya beralih padanya, terutama Hyungseob yang mendadak berdiri dan membelalak.

"Eh? Kenapa begitu, Hoonie?"

"Em.. Feeling? Sudahlah, sebaiknya kita pulang saja okay? Bibi Ahn sudah menelponku terus dan menanyakan apa kau tersesat di jalan."

Hyungseob mencebik sebal mendengar tawa Sungwoo dan Haknyeon yang terlampau keras. Ah, Hyungseob bukan anak TK! Dia masih ingat jalan pulang meski kadang ia harus berpikir lama di persimpangan. Tapi dia bisa pulang sendiri, sungguh!

"Ah! Barangku ada yang tertinggal di laci! Hyung, Jihoonie, Haknyeon, pulang lah duluan! Aku ingat jalan pulang kok!" Hyungseob segera berlari meninggalkan ketiganya.

"Ya sudah, kajja."


.

.


"Ah! Disini kau hm?" Hyungseob menatap kotak pensil kesayangannya dengan wajah kesal. "Lain kali, jangan tertinggal okay?"

Hyungseob gila, mungkin. Mana mungkin manusia normal akan berbicara dengan kotak pensilnya sendiri? Well, pengecualian untuk Hyungseob tentunya.

Bibir Hyungseob mengerucut lucu sementara tangannya sibuk mengecek laci meja dan isi tas bergambar panda miliknya. Memastikan semua 'anak anaknya' sudah masuk ke dalam tasnya tanpa tertinggal sendirian di kelas.

"Em, mari kita lihat. Ah, sepertinya sudah semua."

"Hyungseob?"

"UWAKHH! Aku akan pulang, aku akan pulang! Eomma tolong, huwee."

"Yak yak, kenapa menangis bodoh."

"Eomma~ Aku berimajinasi lagi huwee, tidak mungkin Woojin gingsul manis kesayanganku sedang berdiri di depanku! Pasti hantu! Eomma, bagaimana ini huhu," Hyungseob meringkuk di samping mejanya dengan tangan melindungi kepalanya. Beberapa kali ia merengek saat mendengar langkah kaki yang mendekat padanya.

"Pfft, kau bilang apa tadi?" Hyungseob mendongak perlahan, memperhatikan Woojin yang tertawa. Manis, gingsulnya juga. Eh, tunggu. Jadi, bukan hantu berwujud Woojin? Hyungseob berdeham, buru–buru ia berdiri dan membungkuk berulang pada Woojin.

"Ti–tidak, aku tidak bermaksud begitu! Sungguh! Ma–maaf, aku tidak berimajinasi lagi. Maafkan aku."

"Ck, kenapa meminta maaf, Hyungseob kesayanganku," Woojin kembali tertawa sementara Hyungseob mematung dengan wajah memerah. Apalagi saat telapak tangan Woojin mengacak surai Hyungseob gemas. Semburat kemerahan semakin nampak di pipi pemuda Ahn itu.

"Ja–jangan tertawa."

"Kenapa? Apa karena gigiku yang manis ini?"

Sial.

Sayangnya, iya.

Hyungseob menunduk malu. Tidak, ia tak mau berimajinasi lagi tentang Woojin! Woojin sudah melarangnya berimajinasi! Woojin menghentikan tawanya, meninggalkan sebuah senyum yang melengkung di bibirnya. Jemarinya terulur, menyapa dagu Hyungseob dan mendongakkan wajah manis Hyungseob.

Woojin membungkuk. Segera ia menipiskan jarak diantara wajah keduanya. Bibirnya bergerak melumat bibir Hyungseob yang terbuka, efek terkejut Hyungseob yang satu itu sangat manis baginya. Woojin bisa merasakan tubuh Hyungseob yang mematung. Telapak tangannya berpindah pada tengkuk Hyungseob dan mendorongnya. Hyungseob melenguh tanpa sadar saat lidah Woojin menyentuh lidahnya. Hyungseob mencengkram pinggiran mejanya erat. Nafasnya mulai tersendat. Untungnya, Woojin menghentikan lumatannya dan melepaskan tautan mereka. Woojin tak bisa tak tersenyum miring melihat bibir Hyungseob yang memerah dan sedikit bengkak akibat ulahnya.

"Kajja, kita pulang. Woojin gingsul manis kesayanganmu ini akan mengantarmu hingga depan gerbang rumahmu."


.

.


Jihoon merebahkan tubuh lelahnya pada kasur kesayangannya. Beberapa kali ia menghela nafas. Peluhnya bahkan belum berhenti menetes meski ia sudah menyalakan pendingin ruangan. Lengan Jihoon terayun, berpindah menutupi kedua netranya yang terpejam. Hari ini ia lelah. Sangat. Apalagi bertemu dengan berandalan sekolahnya, itu sangat menguras tenaganya.

Dahi Jihoon mengernyit. Kalau siswa siswi saja tau tentang berandalan sekolah mereka, kenapa sekolah tidak menugaskan Jihoon untuk turun langsung? Kenapa sampai detik ini sekalipun, kepala sekolahnya belum memberikan tugas bagi Jihoon untuk 'membubarkan' para berandalan itu? Jihoon berguling ke kanan, memperhatikan tasnya yang teronggok begitu saja di lantai.

–"Jangan kemari lagi."–

"Yak! Dia pikir dia siapa hah?! Aku ketua Organisasi Siswanya, kenapa dia yang mengaturku! Aish..," Jihoon menendang udara kosong di depannya. Boneka yang semula ada di kasurnya mulai terjatuh ke lantai akibat ulahnya. Tangan Jihoon mengepal, dadanya naik turun seiring dengan detak jantungnya.

"Awas saja kau Bae kantung-mata-hitam Jinyoung! Aku akan kesana lagi besok! Lihat saja! Cih, seenaknya mengusir ketua Organisasi Siswa. Tenang tenang, tarik nafas Jihoon."

Hening.

"Yak! Bae sialan! Awas saja kau besok! Dasar pelanggar aturan menyebalkan!"


.

.


Sungwoo menghela nafasnya kesal. Lagi, ia kehabisan ice cream vanila kesukaannya. Andai saja ia langsung pulang dan tak mencari Hyungseob tadi, ia pasti bisa mendapatkan ice cream yang ia idamkan selama satu minggu ini. Ia sebenarnya sudah menitipkan pesan pada bibi Hwang untuk menjaga ice creamnya, tapi sepertinya wanita 56 tahun itu lupa dengan peringatan Sungwoo seminggu lalu.

"Bibi, apa ice creamnya habis lagi?"

"Ah, Sungwoo. Kau terlambat lagi. Pria itu sudah mengambil stok ice cream vanila terakhir lagi."

Sungwoo mengernyit kesal. Sudah dua minggu ice cream vanila kesukaannya habis. Dan bibi Hwang selalu mengatakan hal yang sama padanya. Pria itu. Sungwoo bersumpah, ia akan menjejalkan kaus kakinya jika ia bertemu pria itu. Ah, ia akan mengucap sumpah serapah juga.

"Siapa bi? Apa kau hapal ciri–cirinya?"

"Oh, dia sangat tampan! Dia selalu pakai hoodie hitam, tadi pun ia juga pakai hoodie hitam. Dia baru saja keluar, tak lama kemudian kau masuk kemari. Dia berbelok di pertigaan tadi. Kurasa ia masih deka– Sungwoo–ya! Kau tidak berniat mencarinya 'kan! Yak, Ong Sungwoo!"

Sungwoo tak peduli dengan bibi Hwang yang terus berteriak di belakangnya. Ia tak peduli. Ia harus bertemu dengan pencuri stok ice cream vanila miliknya dua minggu ini! Harusnya ia bisa langsung pulang ke rumah, mengingat bahwa jarak antara rumahnya dengan toko milik bibi Hwang tidaklah jauh. Tapi terpaksa, ia memutar dan mencari pencuri ice creamnya.

"Ketemu kau!" Sungwoo mempercepat langkahnya saat melihat seorang pria tengah berjalan santai dengan hoodie hitam di cuaca sepanas ini. Sungwoo yakin, pria itu sedang memakan ice cream vanilanya, melihat dari pergerakan tangan pria itu. Sial!

"YAK! Kau yang pakai hoodie hitam!" langkah pria ber–hoodie hitam terhenti. Sejenak ia menoleh ke sekelilingnya, memastikan apa ada yang mengenakan hoodie hitam sepertinya.

"Iya kau yang makan ice creamku!" Sungwoo menepuk pundak pria itu dan membalik tubuhnya kesal.

"Eh?"

"Oh, Ong?"

"Kang Daniel?"
.
.
.
TBC


a/n: HUWEEE BANYAK YANG REVIEW, NGEFAV, SAMA NGEFOLLOW.
Terima kasih banyak yaa huweee:"" /nangis ala Jisung/

.

Jadi, kemarin ada salah satu reviewer, sebut saja sebening.
Dia bilang biasanya Euiwoong jadi ketua kedisiplinan atau sejenisnya, tapi disini jadi badboy.
Okay, why?
Karenaaaa... EUIWOONG PUNYA ROTI SOBEK BANYAKSS /?
Iya serius. Coba liat episode 5 deh. Atau pas tampil Boys In Luv.
DAT ABS DEMNN:"" Padahal masih muda gitu weh wth:""

.

Dan sebenernya awalnya FF ini mau fokus ke JinHoon kapel.
Jadi, itulah alesan kenapa chapter 1 perkenalannya tentang Jihoon.
Tapi lagi lagi, iman ini goyah. Apalagi sama kapel OngNiel. Haduh.
Dan jadilahh, meluber ke kapel mana mana.
Mianhae huwhuw:""

.

Soo, RnR juseyoo!
XOXO,
Jinny Seo [JY]