JY present

Delinquent Student

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Four
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!

.
.
.


Jinyoung menautkan alisnya saat melihat Jihoon dengan santainya berkeliaran di koridor belakang. Jihoon melirik Jinyoung. Sebuah senyum –menyebalkan– terlukis di bibir si Park. Jinyoung segera menghentikan gamenya saat Jihoon berdiri tepat di hadapannya.

"Kenapa kau kemari?"

"Oh, aku? Memangnya, ketua Organisasi Siswa tak boleh mengecek keadaan sekolah? Itu tanggung jawabku. Dan juga–," Jinyoung menaikkan alisnya melihat Jihoon menampilkan seringai lucu –coret miliknya. "–tentu saja untuk mengawasimu, tuan muda Bae."

.

(())(())

"Maaf?" Jihoon memajukan tubuhnya sigap saat kepala sekolahnya tersenyum singkat pada Jihoon. Tunggu, Jihoon sedang tak bermasalah dalam pendengaran 'kan saat ini? Bae Jinyoung? Si murid yang sudah ia maki kemarin di kamarnya? Bae Jinyoung yang itu?

"Tolong awasi dia, Jihoon. Aku tau kau ketua Organisasi Siswa yang baik."

"Bae Jinyoung, adik kelas? Yang sekarang kelas 1–D?"

"Ya, Bae Jinyoung yang itu."

Sial, ini bukan hari keberuntungan Jihoon.

"Ah, kalau begitu, saya permisi Tuan Bae."

"Tentu. Tolong bantu saya, Jihoon–ssi."

(())(())

.

"Anjing kerajaan..."

"Okay, sebenarnya anjing kerajaan itu apa? Kau dan gerombolanmu itu selalu– Oh, aku paham," Jinyoung kembali bersandar di sofa bekas –yang Jihoon yakin sofa andalan pemuda Bae itu. Jihoon mengambil tempat duduk disebelahnya. Dengan cuek ia bersandar miring dan meletakkan kakinya di atas paha Jinyoung. "Maksudmu, aku mengabdi pada sekolah ini dan selalu melakukan apa yang disuruh, seperti anjing kerajaan huh?"

Jinyoung masih terdiam dengan raut kesalnya. Ingatkan Jihoon untuk memotret wajah menyebalkan itu dan menunjukkannya pada siapapun bahwa Jinyoung akan tampak sangat jelek saat ia menatap marah seperti itu.

"Kurasa, sebutan menteri kerajaan lebih bagus dari pada anjing kerajaan."

"Menyingkir."

"Kenapa, Bae? Apa aku mengganggumu? Oh, pantas saja sekolah tak pernah protes soal berandalan–berandalan di– yak!"

"Kubilang, menyingkir," Jihoon melirik gelisah saat menyadari bahwa ia tengah terkurung di bawah Jinyoung. Ia tak bisa bergerak, ia tak bisa kabur. Mati sudah. Jihoon menatap iris Jinyoung yang berpendar kesal.

"Aku menolak," suara Jihoon bergetar, namun pemuda itu menahannya. Ia tak boleh kelihatan lemah di hadapan Jinyoung, tidak! Ia sudah tau kelemahan Jinyoung, untuk apa ia mundur? Jika Jinyoung mengancamnya, ia tinggal menyebarkan berita bahwa Jinyoung adalah anak dari Tuan Bae, kepala sekolah Hanlim Multi Art Highschool.

"Jangan coba–coba, aku sudah bersikap baik padamu Jihoon."

"Kau harus memanggilku sunbae."

Jinyoung mendengus. "Aku menolak."

"Kau–"

"Jinyoung hyung! Oh, kau sedang pacaran eh?" Jihoon mendongak, memperhatikan sosok namja surai hitam yang berdiri di belakang puncak kepalanya. Tunggu, Jihoon lupa nama adik kelasnya yang satu itu. Dan kenapa ia memanggil Jinyoung dengan sebutan hyung? Bukannya mereka ada di angkatan yang sama?

"Pacaran? Buka matamu Lee. Aku tidak berpacaran dengan anjing kerajaan."

"Oh? Jihoon sunbae?" namja surai hitam itu mendekat pada keduanya. Beberapa kali ia mengerjap lucu memperhatikan wajah Jihoon yang memerah sebelum tersenyum dan menunduk. "Salam kenal, Lee Euiwoong imnida. Aku kelas 1–D, seperti Jinyoung hyung."

"Hyung?" Jihoon akhirnya bertanya juga. Rasa penasaran menggelitik lidahnya. Padahal, ia masih terkurung dibawah tubuh Jinyoung.

"Aku kelahiran 2001, sunbae."

"Lalu, hyungmu ini kelahiran berapa?"

"Em, 2000 kan?"

Jihoon tersenyum manis pada Euiwoong. "Tolong bilang pada hyungmu ini, kalau aku kelahiran 1999. Hyungmu ini tidak sopan padaku."

"Park Jihoon!" Jinyoung mendesis kesal. Ditatapnya Jihoon yang tersenyum mengejek padanya. Tidak, Jihoon tidak berani. Kalau Jinyoung sadar, lututnya sudah bergetar sejak tadi ia melangkah kemari.

Atau mungkin Jinyoung sadar?

"Kau bersikap seakan kau berani, namun kakimu gemetaran. Kau sedang melucu?" kini Jinyoung yang tersenyum mengejek pada Jihoon. Wajah Jihoon semakin memerah. Percampuran antara marah dan malu yang kentara. Jihoon menelan salivanya susah payah. Ketakutannya tercium. Tentu saja, berandalan mana yang tak menyadari korbannya sedang gemetaran?

"Uwah, jadi begitu ya caranya berpacaran? Wah, aku harus mencobanya pada Haknyeon hyung!" ah, mereka lupa dengan keberadaan Euiwoong. Jihoon menoleh dengan mata terbelalak. Tunggu, Haknyeon yang itu? Joo Haknyeon? Yang suka menggombal dan punya banyak fans? Yang informan– tunggu, jangan bilang kalau yang menceritakan soal koridor belakang pada Haknyeon adalah Euiwoong!

"Haknyeon? Joo Haknyeon yang itu?"

Euiwoong mengangguk manis. "Ya, ia sangat baik padaku. Ia juga menolongku, padahal aku sedang bermain, cih."

Keterkejutan Jihoon terpecah saat Jinyoung mencengkram kerah seragamnya dan mendekatkan wajah keduanya. Jihoon mau tak mau menatap langsung pada iris hitam Jinyoung.

"Urusanmu denganku belum selesai, Park. Dan Lee, enyah kau."

"Eh? Yah, padahal aku sedang belajar dari Jinyoung hyung dan Jihoon sunbae. Ya sudah, aku akan cari angin dulu okay?"

Jinyoung menoleh pada Euiwoong yang bersiap pergi. "Jangan berlebihan, Euiwoong. Daniel hyung takkan suka."

"Oh? Tentu saja hyung, aku akan santai kok!"

Jihoon mengerjap memperhatikan keduanya. Bukan kah Euiwoong akan mencari angin? Kenapa Jinyoung melarangnya berlebihan? Berlebihan apa maksudnya? Dan akan santai? Santai atas apa? Jinyoung kembali menatap Jihoon setelah Euiwoong pergi dari sana. Keduanya terdiam dalam posisi yang menurut Jihoon sangat 'mengerikan' itu. Ia bergerak sedikit saja, maka tamatlah ia. Tubuhnya akan langsung menabrak tubuh Jinyoung.

"Apa maksudnya? Euiwoong hanya akan mencari angin 'kan?"

"Oh tentu saja."

"Lalu kenapa kau– tunggu, cari angin? Yak! Apa ia mau berbuat keributan?! Lepaskan aku Bae Jinyoung!"Jihoon meronta dalam kurungan Jinyoung. Masa bodoh dengan tubuhnya yang menabrak tubuh Jinyoung berulang, karena yang terpenting, ia harus menghentikan Euiwoong yang sudah berlalu dengan langkah riangnya.

Nyatanya, Jihoon memang tak sebanding dalam melawan Jinyoung. Pemuda yang lebih muda darinya satu tahun itu punya kekuatan yang tak main–main. Bahkan Jihoon sudah mengernyit kesakitan saat merasakan cengkraman Jinyoung yang mengerat di pergelangan tangannya. Jihoon berangsur–angsur menghentikan kegiatan memberontaknya. Percuma saja, hingga ia lelah pun, ia tak bisa menyingkirkan Jinyoung yang masih mengurungnya dibawah tubuh pemuda Bae itu.

"Kau menyerah?"

"Brengsek."

Jinyoung tertawa mendengar umpatan Jihoon. "Oh wow, anjing kerajaan bisa berkata kasar rupanya. Kau hebat."

Ingatkan Jihoon untuk bernafas, karena sungguh, Jinyoung dan tertawa adalah hal yang sulit bagi Jihoon. Bagaimana bisa namja seindah itu saat tertawa? Haknyeon saja rasanya tak sebanding dengan Jinyoung dalam urusan tertawa. Dan catat, Jihoon tak pernah merasakan debaran aneh saat melihat Haknyeon tertawa. Tapi tidak untuk saat ini. Jantungnya berebar seiring dengan nafasnya yang memburu.

"Musnah saja kau, tuan muda Bae."


.

.


(())(())

"Eh?"

"Oh, Ong?"

"Kang Daniel?"

Daniel tertawa melihat raut terkejut Sungwoo. "Ya, ini aku. Ada apa hm? Kenapa berlarian seperti itu? Oh, apa karena ice cream ini? Apa ini ice creammu? Tapi ini dijual bukan?"

Sungwoo mengangguk, kemudian menggeleng. Masih dengan wajah terkejut ia menatap Daniel dan ice cream vanila di tangan Daniel bergantian. Tinggal setengah. Tanpa sadar, Sungwoo memajukan bibirnya kesal. Daniel yang menyadari arah tatapan Sungwoo mulai tersenyum.

"Kau mau ice cream ini?"

Lagi, Sungwoo mengangguk dan menggeleng.

"Kalau begitu, buka mulutmu Ong."

"Hah?"

HAP

"Nah, kau sudah makan ice creammu 'kan?" Daniel mengacak surai hitam Sungwoo gemas. Ah senyum tupai itu, Sungwoo benci –coret kagum dengan senyum itu. Atau orangnya? Sungwoo menggeleng tanpa sadar. Bodoh, apa–apaan pemikirannya itu. Mulutnya bergerak pelan, menelan ice cream yang baru saja Daniel suapkan padanya.

"Apa ice creamnya kurang? Buka mulutmu lagi kalau begitu."

Bodohnya, Sungwoo menurut. Hanya demi ice cream idamannya selama seminggu, ia rela membuka mulutnya dan menunggu Daniel menyuapinya. Tapi yang ia lihat, Daniel justru menyendokkan ice cream kedalam mulutnya. Sungwoo baru hendak protes, well sebelum Daniel menarik dagunya dan melumat bibirnya. Sungwoo bisa merasakan sensasi dingin menyapa bibirnya. Dan setelahnya, ice cream vanila itu berpindah ke dalam mulut Sungwoo. Susah payah ia menelan ice cream mencair itu disela lumatan Daniel. Bahkan ia sudah tak ingat kapan telapak Daniel menekan tengkuknya dan memperdalam lumatan keduanya.

Sungwoo baru memukul pundak Daniel pelan dengan rintihan yang keluar dari celah lumatan keduanya saat ia merasa oksigen yang ia miliki mulai menipis. Daniel melepaskan tautan keduanya dengan senyuman sementara Sungwoo sibuk mengatur nafasnya yang berantakan. Sungwoo bisa merasakan bibirnya berdenyut dan terasa tebal serta panas. Ah, bibirnya pasti membengkak.

Daniel kembali menyendokkan ice cream ke dalam mulutnya. Dan Sungwoo merasakan sesuatu bergerak menyapu di bibirnya. Apa itu lidah Daniel? Apa Daniel baru saja melumurkan ice cream vanila ke bibirnya yang membengkak? Sungwoo memejamkan netranya rapat, serapat mungkin yang bisa ia lakukan. Beberapa detik Daniel masih menyapu bibir Sungwoo yang juga terkatup. Daniel menyudahi kegiatannya dengan memberikan kecupan singkat di bibir Sungwoo setelah membersihkan ice cream yang ia lumuri di bibir Sungwoo.

"Aku baru tau–," Sungwoo mendongak, menatap tepat pada iris Daniel yang juga menatapnya dalam. "Aku baru tau, ice cream vanila bisa semanis ini, Ong."

(())(())

.

"Ah sialan!" Sungwoo mengacak surainya kalut. Mengingat kejadian kemarin sukses membuat kedua pipinya memanas. Padahal angin sedang berhembus di rooftop, tapi Sungwoo justru merasa gerah.

Sungwoo menyentuh bibirnya. Ia bahkan masih ingat bagaimana rasanya bibir Daniel melumat bibirnya. Ia masih ingat setiap detail kejadian kemarin. Dan ia merasa berdosa telah mengingat semua itu hingga detik ini.

"Ah sial sial sial!"
.
.
.
TBC


a/n: Hayyy, JY mau bilang makasih banyak untuk yang udah bersedia mengikuti, memfav, dan membaca FF ini.
Diri ini terhura huhu:"

.

Anyway, udah pada lihat pas Daniel nunjukin absnya?
SOOO ASDFGHJKL
Fangirl ini tida kuat mas, tida kuatttt:"
Mau mimisan tapi nggak bisa, mau njerit tapi ntar berisik:"

.

Oh iya, dari kemarin banyak yang tanya: "Daniel uke?"
Dan di chapter ini, saya, JY mempertegas kalau:
Daniel tidaklah uke.
Daddyable gitu kok uke:" Tida ah, Daniel seme sejati:""
Abs kayak lukisan gitu kok, bukan uke ah:"

.

Oh iya, banyak juga yang nanya apa motif Woojin baik ke Hyungseob.
Tenang, JY udah siapin special chapter untuk yang satu itu. (cie spoiler hm)
Terima kasih buat semua yang udah nanya soal Woojin yang bisa baik ke Hyungseob, karena kalian sudah menuangkan ide pada otak ini:")

.

And, sorry for late update. Maklum, masa ujian ya gini.
Don't forget to RnR okayyy!
XOXO,
Jinny Seo [JY]