JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Five
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
.
.
.
"Kudengar anjing kerajaan kemari tadi," Daniel menyandarkan punggungnya senyaman mungkin pada sofa andalan 'rumah' mereka. Ekor matanya melirik Jinyoung yang masih menunduk sejak beberapa menit lalu. Euiwoong sudah menyenggol lengan pemuda Bae itu, tapi mau bagaimana lagi, Jinyoung tetap belum tersadar dari lamunannya.
"Tampaknya ia sangat suka berkunjung kemari, hm?"
"Aku sudah melarangnya, hyung."
"Then, why?"
"Dia bilang, dia menjalankan tugasnya."
Daniel tertawa lebar, menampilkan deret gigi putih kebanggannya. "Oh tentu saja, bukan begitu tuan muda Bae?"
Jinyoung kembali menunduk dengan dua tangan mengepal. Padahal ia sudah memperingati Jihoon untuk tidak kembali ke koridor belakang lagi. Jinyoung menghela nafasnya berat. Harusnya ia sadar, Jihoon itu manusia keras kepala. Mana mungkin Jihoon akan menuruti perkataannya yang notabenenya adalah seorang berandalan di Hanlim Multi Art Highschool dan Jihoon sendiri merupakan ketua Organisasi Siswa disini.
"Sudahlah, santai saja Bae. Kami takkan menghalangi kegiatan berpacaranmu."
"Apa? Oh wow, kau salah Daniel hyung. Aku takkan berpacaran dengan Park Jihoon. Ingat itu."
"Kau siap mentraktir kami, Bae?"
"Dalam mimpimu, hyung."
"Ya, Jinyoung hyung harus mentraktir kami! Kau sangat rom–"
"Shut the fuck up, Lee!"
Daniel menoleh, memindahkan fokusnya dari Euiwoong dan Jinyoung yang saling menendang satu sama lain ke Woojin yang terdiam sedari tadi. Daniel mengenyit. Aneh, biasanya Woojin akan ikut tertawa. Tapi sekarang? Pria gingsul itu asyik melamun sembari memantulkan bola basket. Ia bahkan nyaris saja melupakan keberadaan adik kelasnya itu.
"Woojin–ah, ada apa?"
"A–apa? Oh, tidak ada hyung."
"Apa kau sedang memikirkan pacarmu seperti Bae Jinyoung?"
Daniel mengedip pada Jinyoung yang mengacungkan jari tengahnya kesal. Woojin mengusap tengkuknya ragu. Daniel sadar itu.
"Tidak hyung, aku.. tidak punya."
"Oh, begitu? Euiwoong–ah, kita akan di traktir dua orang sepertinya."
Woojin memutar bola matanya jengah. "Jangan bercanda, hyung."
"Ah sudahlah, aku pergi saja. Aku lelah dikelilingi para remaja jatuh cinta seperti kalian," Daniel menepuk celana seragamnya pelan, membersihkan debu yang menempel disana. Tangan kanannya menyambar jas sekolahnya sementara tangan kirinya mulai merapikan rambutnya.
"Aku akan cari angin dulu."
"Eh? Kukira hyung mau berkencan."
Daniel menoleh pada Euiwoong yang menumpukan dagunya di atas lututnya. Sebuah senyuman khas tupai terbentang sepanjang pipi Daniel. Senyum terlebar yang ia keluarkan hari ini mungkin.
"Jangan mengatakan hal yang tak jelas seperti itu lagi, okay?"
.
.
"Jihoon? Yak, Park Jihoon!"
"Eh? A–ada apa Seob?"
"Jung ssaem sudah melirikmu dari tadi, kau tau?" Hyungseob melirik arah jam 10 berulang. Jihoon mau tak mau ikut melirik pada objek yang Hyungseob maksud. Ah benar, Jung ssaem tengah duduk manis dengan buku terbuka di hadapannya. Tapi Jihoon tau, guru wanita 'kesayangan' para murid itu sedang meliriknya tajam.
"Ah sial."
Ini semua karena Bae Jinyoung –sialan– itu! Sungguh, bukan salah Jihoon tidak fokus di kelas hari ini. Salahkan saja kenapa adik kelasnya itu sangat.. menyebalkan. Menyebalkan pangkat sepuluh. Kalau Jihoon bukan ketua Organisasi Siswa, ia mungkin sudah memukuli Jinyoung– Eh tidak. Sekalipun ia bukan ketua Organisasi Siswa, ia tetap tak bisa melakukannya. Ia pasti kalah.
"Kau itu yang bodoh, untung ia tak melempar penghapus papan tulis kemari!" Hyungseob menunduk perlahan, menghindari lirikan tajam Jung ssaem yang juga mengarah padanya.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Hah?"
"Aku lelah dengan Jung ssaem yang terus menghadap kemari."
"Apa?"
Jihoon mendesis kesal setelahnya. Tak lupa, ia menghadiahkan sebuah jitakan lumayan kuat di pucuk kepala Hyungseob.
"Bisa tidak kau sekali saja tidak polos polos bodoh hah? Atau sekarang kau ada gangguan pendengaran, Ahn?"
.
.
Sungwoo menghela nafasnya berat. Ia tau, ia merupakan murid kesayangan Yoon ssaem. Tapi tetap saja, menyuruh Sungwoo untuk mengangkat seluruh buku teks mata pelajaran Sejarah Korea untuk teman satu kelasnya sendirian sangatlah kejam. Kalau boleh, Sungwoo ingin melempar meja guru saat Yoon ssaem dengan senyum manis menyebalkannya menyuruh Sungwoo ke perpustakaan.
"Ah, apa aku bolos saja? Ah, tidak mungkin. Jihoon akan mence– Eh?" Sungwoo menghentikan langkahnya saat melihat suatu gumpalan berwarna hitam yang tergeletak di taman sekolah. Awalnya Sungwoo mengira itu hanya kucing liar saja. Tapi segera ia terperangah saat gumpalan itu bergerak naik secara terpatah dan kembali tersungkur ke bawah beberapa saat kemudian.
Itu kepala manusia!
Sungwoo menjatuhkan seluruh buku dalam gendongannya. Kedua matanya menyipit, memperhatikan tubuh siswa yang sebagian tertutupi gedung sekolah. Apa yang dilakukan namja itu di halaman belakang sekolah? Samar, Sungwoo bisa mendengar suara khas benda berat yang terjatuh dari sana. Segera Sungwoo berlari mendekat ke tempat kejadian.
"Hei! Apa yang– Daniel?"
Sungwoo mundur selangkah dengan raut shock.
Sangat shock.
Bagaimana tidak? Ia kini bisa melihat apa yang terjadi disana. Di dekat kakinya, Kim Sangbin, teman satu angkatan Sungwoo, sedang terbaring dengan wajah lebam dan mengerang kesakitan. Dan Sungwoo tak bisa tak terkejut saat melihat menangkap objek dengan surai pink yang ia kenali sedang berdiri di dekat Sangbin dengan penampilan sangat berbeda dari yang biasa ia kenali. Jas sekolah Daniel sudah teronggok di tanah, kemejanya kusut berantakan, dasinya? Ah, Sungwoo tak tau kemana dasi beruang pink itu menghilang.
"Ong?"
"Kau– kau.. memukul Sangbin?"
Daniel mengusap wajahnya pelan keatas, terus hingga jemarinya menyisir surainya kebelakang, merapikan penampilannya yang berantakan. Helaan nafas terdengar dari celah bibir pemuda Kang.
"Sial."
Daniel menatap Sangbin tajam. Irisnya bergerak kesamping, memberikan pesan pada siswa kelas 3–B itu untuk segera menyingkir dari sana. Sangbin segera berdiri terhuyung dan berjalan cepat, meninggalkan Sungwoo berdua dengan Daniel.
"Kau.. kenapa?"
"Kalau aku menjelaskannya, kau takkan mengerti."
"Aku akan mengerti, Kang."
Daniel terkekeh. "Lalu apa? Kau juga akan pergi menjauh akhirnya."
"Menjauh? Darimu? Kenapa?"
Daniel melangkah mendekat pada Sungwoo setelah memungut jas sekolahnya. Senyum manis ia berikan pada Sungwoo yang masih mematung dengan raut keheranan. Tangan Daniel terangkat, mendekat pada kepala Sungwoo. Jemarinya bergerak pelan merapikan surai hitam Sungwoo yang terkena hembusan angin.
"Jelaskan padaku, ada apa Daniel?" Sungwoo menepis tangan Daniel pelan. Ia sendiri terkejut kenapa ia melakukan hal seperti itu. Sungwoo hanya bisa menelan salivanya melihat Daniel mengangkat kedua alisnya terkejut.
Tangan Daniel kembali menyentuh permukaan rahang Sungwoo. Kali ini, si surai hitam berusaha menahan refleks –menyebalkan– nya. Meski akhirnya ia tetap terkejut dan memundurkan wajahnya saat Daniel menempelkan bibirnya pada bibir Sungwoo. Perlahan Daniel mendorong tubuh Sungwoo hingga membentur tembok. Kini pergerakan Sungwoo tertahan. Daniel tak bisa menyembunyikan seringai di sela lumatannya. Barulah Daniel memutuskan tautan keduanya setelah menyadari bahwa wajah Sungwoo mulai memerah. Daniel memajukan tubuhnya mendekat pada telinga Sungwoo.
"Bagaimana jika beruang pink yang kau kenal ini adalah seorang berandalan, Sungwoo?"
"Kau.. bercanda?"
Daniel memundurkan wajahnya. Lagi, senyum manis ia berikan pada Sungwoo yang mengerjap dengan nafas tertahan.
"Apa aku tampak sedang bercanda?"
.
.
"Okay. Jadi, kenapa kau dipukuli kemarin?"
"Hah?" Euiwoong menoleh pada Haknyeon yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelahnya. Euiwoong meletakkan pensilnya. Fokusnya kini bukan lagi pada papan tulis yang menggantung di depan. Ah, padahal ia sedang mencatat catatan penting yang ditinggalkan Kim ssaem.
"Apa kemarin sakit?" Euiwoong menahan nafasnya saat Haknyeon mengulurkan tangannya. Jemarinya mengusap lembut pipi Euiwoong. Iris coklatnya terfokus pada lebam di sekitar tulang pipi Euiwoong. Euiwoong bisa melihat bagaimana namja di depannya meringis seakan ikut merasakan lebam di pipi Euiwoong.
"A–ah, kemarin? Ah tidak, sungguh itu tidak– AW!" Euiwoong memekik kala Haknyeon menekan lebamnya lembut. Untung belum ada guru di kelas mereka. Kalau tidak, Euiwoong pasti sudah kena lirikan tajam dari ssaemnya.
"Apa kau sudah mengobatinya?"
"Nanti 'kan bisa sembuh sendiri, hyung."
Haknyeon menjitak pelan kening Euiwoong. "Kau ini. Jangan sakiti dirimu sendiri seperti itu. Kau harus mengobatinya setelah ini, paham? Lebamnya bisa membengkak kalau kau tak mengobatinya segera."
"Ah, hyung seperti ahjumma saja. Iya aku paham," Euiwoong memajukan bibirnya dengan pipi menggembung. Oh, tolong ingatkan Haknyeon untuk bernafas secara wajar kalau tak ingin terkena sesak mendadak.
"Oh, tunggu," jemari Haknyeon kembali terulur, kali ini ia menahan lembut rahang tegas Euiwoong. Di tolehkan kepala yang lebih muda perlahan. "Ujung bibirmu juga terluka. Apa kau tidak melaporkan saja mereka?"
"E~h? Untuk apa dilaporkan?"
'Nanti justru aku yang terkena, hyung.'
"Mereka sudah melakukan kekerasan padamu, Lee. Aku bisa membantumu–"
"Ah tidak! Tidak usah, serius hyung. Aku tidak apa kok, sungguh."
Haknyeon menghela nafasnya. Membujuk Euiwoong yang keras kepala ternyata lebih rumit dari yang ia kira. "Baiklah kalau itu maumu. Jangan merengek kalau mereka memukulimu lagi huh?"
"Oh? A~h, tidak! Aku akan menangis di pelukan hyung saja, seperti ini," Euiwoong bergerak cepat menubrukkan kepalanya pada dada bidang Haknyeon. Seduan pura–pura terdengar dari yang lebih muda. Ah, harusnya Euiwoong lihat bagaimana wajah Haknyeon yang bersemu karena tingkahnya saat ini.
.
.
.
–TBC–
a/n: Ppyong, diri ini back again! Sekali lagi terima kasih yang udah dukung JY dan FF ini yaa:""
.
.
Btw, OngNiel holding hand pas apaaa:"" (To: kidokii)
Oh iya, kemarin juga ada yang minta tambah kapel. Besok besok ya di FF yang akan datang:"
Di sini sudah full, bingung mau nyelipin kapel lain dimana.
Padahal JY juga suka Byeongari kapel sama MinHyunbin kapel.
Ah sudahlah:""
.
DANNN DANIEL RANK DANCENYA DIBAWAH HUWEEE:""
Ga tegaaa, jahat jahat jahat:"
Semoga ranknya dia ga keluar dari 11 besar pliseu:""
.
Oh iya, di chap selanjutnya, nanti JY jelasin kok sebenernya mereka kenapa.
Kenapa yang berandalan.. ah sudahlah, saya tida mau spoiler ehe.
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
