JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Six
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Double update! Don't forget to check the next chap!]
.
.
.
"Hey?"
"O–oh hai, Woojin. Ada apa?"
"Kau dimana?"
"Um, rooftop."
"Rooftop? Untuk apa kesana?"
"Aku dengar Sungwoo hyung ada disini. Aku mencarinya, tapi dia sudah pergi. Kenapa?"
"Jangan kemana–mana, aku akan kesana."
"Eh? K–kau serius?"
"Aku sudah di koridor lantai 2 kalau kau mau tau."
"Ah, dari kelas?"
"Tentu saja. Aku matikan okay?"
"Oh i–iya, bye."
PIIP
Woojin mengacak surainya pelan. Bisa ia rasakan bisikan samar dari siswa siswi yang ia lalui. Ah, Woojin tau apa yang mereka bicarakan.
Si penindas.
Berandalan.
Woojin menyeringai kecil pada beberapa siswa dan siswi yang tampak sangat jelas menjaga jarak dengannya. Woojin merasa beruntung meski wajahnya tak sekecil Jinyoung atau semengerikan Daniel, tapi seringainya tentu lebih 'nyata' ketimbang dua kawannya itu. Woojin nyaris tertawa saat ia mengingat Euiwoong yang belum ia sebutkan sebagai kandidat untuk disejajarkan dengannya. Adik kelasnya itu bahkan terlalu imut dan manis untuk jadi seorang berandalan. Awalnya ia dan Daniel berpikir seperti itu, sebelum keduanya melihat Euiwoong menikmati di tindas oleh orang lain dan kemudian membalaskan dendamnya lebih parah. Okay, mungkin Woojin tidak searogan Euiwoong saat berkelahi, tapi tetap saja, ia sudah berhasil membuat lawannya gugup lebih dulu karena melihat tatapan tajamnya dan seringai andalan yang ia tunjukkan saat ini pada siswa siswi yang ia temui.
.
.
"Oh, Woojin?" Hyungseob segera berdiri dari duduknya ketika melihat Woojin sudah berjalan mendekat ke arahnya. Astaga, namja Park itu cepat sekali. Hyungseob rasanya baru menutup panggilan Woojin beberapa detik lalu, dan kini, yang di tunggunya telah datang.
Bohong kalau Hyungseob tidak gugup. Bahkan saat nama 'Woojin Park' tertera di layar ponselnya, Hyungseob tak bisa untuk tak memekik terkejut. Untung saja ia sendirian di rooftop. Ia juga sempat melompat kesana kemari sebelum akhirnya mengatur nafas dan mengangkat panggilang dari Woojin.
Jangan heran kenapa Hyungseob bisa memiliki nomor ponsel Woojin. Pria Park itu sendiri yang memberikan nomornya pada Hyungseob. Mau tak mau, Hyungseob memberikan nomor ponselnya juga. Meski dalam hati ia tak pernah mengharapkan pria yang ia kagumi itu memberikan pesan padanya.
Nyatanya tidak. Woojin mulai mengontaknya terus sejak saat itu.
Dan tanpa sadar, hubungan keduanya mulai mengerat.
Yah, menurut Hyungseob saja.
"Hey," Woojin mengacak poni Hyungseob pelan. Sebuah senyuman melengkung di bibirnya. Senyuman yang sukses 1000% menyesakkan nafas Hyungseob. Hyungseob balas tersenyum pada Woojin, bonus dengan kedua pipinya yang sedikit merona.
"Uh.. hey juga."
"Oh tunggu," Woojin membungkuk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hyungseob. Tatapan keduanya bertemu tepat di iris masing–masing. "Kau kenapa?"
Hyungseob menunduk dalam. Sial, Woojin itu peramal atau bagaimana sih? Kenapa ia bisa tau kalau Hyungseob sedang tidak baik? Okay, semalam Hyungseob tidur terlambat hanya karena sibuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya dan Woojin, namja yang selalu ia kagumi sejak awal ia masuk ke Hanlim. Dan akhirnya ia menemukan jawabannya pada pukul 2 dini hari. Mereka berdua tidak ada hubungan apapun. Sama sekali tidak ada. Namun sampai saat ini, ia belum menemukan jawaban atas sikap Woojin padanya.
"Em.. Woojin–ah?"
"Ya? Ada apa?"
"Kenapa kau bersikap baik padaku?"
Keduanya terdiam cukup lama. Hyungseob sudah melirik Woojin berulang kali, menilai bagaimana reaksi namja itu. Hebatnya, Woojin terkejut. Hyungseob awalnya tak percaya, menurutnya itu sedikit.. tidak mungkin. Nyatanya, Woojin memang terkejut atas pertanyaan yang ia lontarkan.
"Bagaimana kalau aku memberikanmu tebakan?"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Kalau kau bisa menjawab pertanyaanmu sendiri mengenai sikapku padamu, aku akan mengajakmu kencan kemana pun. Deal?"
"Tunggu tunggu. Mengajakku berkencan? Menjawab pertanyaanku sendiri?"
Woojin mengangguk dengan senyum lembut. "Ya, karena kau tau jawabannya dengan sangat jelas."
"Apa..?"
"Ah, sepertinya sebentar lagi bel masuk. Kembalilah, Jihoon akan menceramahimu nanti," Woojin melirik arloji yang menggantung di tangan kanannya. Sebentar lagi bel pergantian jam dan Hyungseob masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ah, Woojin jadi merasa bersalah sudah menjawab pertanyaan Hyungseob dengan pertanyaan lain. Tapi tak apa, Woojin memang ingin Hyungseob menjawabnya sendiri. Dan sampai saat itu tiba, Woojin hanya akan terus bersikap baik dan perhatian pada Hyungseob. Bukan begitu?
.
.
Haknyeon melirik Euiwoong untuk yang kesekian kalinya siang ini. Awalnya ia hanya tak sengaja melirik namja yang satu tahun lebih muda darinya itu. Dan ketika Euiwoong meringis dengan mulut penuh makanan yang belum ia kunyah sepenuhnya, Haknyeon tak bisa berhenti meliriknya.
Haknyeon kembali menduduki bangku Siyeon yang tepat di sebelah bangku Euiwoong. Sebuah tatapan kasihan dan kesal bercampur di kedua matanya. Euiwoong yang masih memejamkan matanya di sela ringisannya belum menyadari akan kehadiran Haknyeon di sebelahnya.
"Euiwoong–ah."
"Astaga!" Euiwoong membuka kedua netranya cepat begitu mendengar namanya dipanggil. Namja surai hitam itu menoleh pada Haknyeon. Telapak kanannya masih menempel di depan dadanya, berusaha menetralkan efek terkejutnya.
"Kau kesakitan."
"T– tidak..," Euiwoong menunduk lambat melihat Haknyeon menaikkan alisnya, menuntut penjelasan sesungguhnya dari bibir Euiwoong. "..terlalu kok. Aku masih bisa mengunyah hyung."
Haknyeon menghela nafasnya berat. Euiwoong keras kepala, dan ia sadar akan itu. "Sudahlah, aku akan laporkan mereka. Kau–"
"Aniya! Aku sudah bilang tidak apa. Sungguh."
Haknyeon menaikkan alisnya melihat Euiwoong yang menatapnya tajam. "Kau itu kenapa? Kau tak perlu takut, aku tak akan membawa namamu."
"Hyung, dengar ya," Euiwoong memutar tubuhnya menghadap Haknyeon. Pandangannya ia arahkan tepat pada manik Haknyeon. "Aku sudah bilang tidak, maka tidak. Kumohon?"
"Apa yang–"
"Sudahlah hyung," Euiwoong menutup kotak bekal miliknya pelan. Setelahnya, ia berdiri dengan senyuman manis di bibirnya. "Tenang saja hyung, aku tidak apa kok. Okay? Jangan khawatirkan aku."
Dan Haknyeon pun terdiam ketika namja yang lebih muda darinya satu tahun itu pergi keluar dari kelas mereka.
"Sial."
.
.
"Siapa?"
"Euiwoong, Lee Euiwoong."
"Err, entahlah.. Aku belum pernah–"
"Jangan bercanda!" Haknyeon menggebrak meja siswa dihadapannya keras. Nasib baik mereka sudah pulang sekolah. Ruang kelas adalah tempat tersepi di saat sekolah usai. Dan Haknyeon merasa sangat beruntung saat melihat siswa yang ia cari masih duduk di kelas, bahkan saat teman–temannya sudah meninggalkan kelas, ia masih duduk disana dengan tenang.
"Kau memukulnya kemarin brengsek. Apa harus kuingatkan lagi padamu?" Haknyeon memajukan tubuhnya, menipiskan jarak pandangnya dengan sang lawan bicara, Justin. Bisa Haknyeon lihat sosok di depannya melirik awas ke sekitarnya, tampak memperhatikan keadaan.
"Joo Haknyeon, kurasa hanya kau yang belum tau soal ini."
Haknyeon menaikkan alisnya mendengar bisikan Justin yang kelewat pelan. Terima kasih eommanya sudah mengingatkannya kemarin untuk membersihkan telinga. Kalau tidak, mungkin ia tidak dengar bisikan pria berkebangsaan China itu.
"Apa maksudmu?"
"Sudah kuduga, kau belum tau soal ini."
"Soal apa?"
"Soal Euiwoong tentu saja," Justin memundurkan tubuhnya. Kedua irisnya menatap tepat pada iris tajam Haknyeon. "Apa lagi melihatmu membelanya seperti ini."
"Berhenti bermain–main, Justin"
"Aku tidak bermain–main, Joo. Sebaiknya kau menjaga jarak dengan Euiwoong, segera."
Tunggu, apa?
Kenapa ia harus menjaga jarak dengan Euiwoong?
Haknyeon menegakkan tubuhnya kembali. Ditatapnya Justin dengan sinis. Apa karena ia terlampau kesal dengan Euiwoong sehingga ia mengatakan pada Haknyeon bahwa ia harus menjauhi Euiwoong? Atau apa? Euiwoong tidak salah, kenapa Haknyeon harus menjauhinya?
"Apa–apaan..."
"Tidak, aku serius Joo," Justin membuka kancing bajunya cepat. Awalnya Haknyeon mengernyit aneh melihat tingkah menggelikan Justin. Tapi setelahnya, ia tak bisa tak terperangah. Nampak jelas luka memerah melintang dari dada hingga pinggangnya, lebam di dekat rusuknya, dan luka sayat di perut juga menyapa pengelihatan Haknyeon. Haknyeon meringis melihatnya. Sial, ia jadi membayangkan rasa sakitnya.
"Kau lihat 'kan?"
"Apa maksudmu?"
"Menurutmu, kenapa Euiwoong tak pernah menyetujui usulanmu soal melapor ke sekolah?"
Eh?
Ah, benar. Kenapa Euiwoong– Tunggu. Tunggu, pasti ada yang salah di sini.
Haknyeon mundur selangkah dari tempatnya berdiri. Rahang bawahnya perlahan bergerak turun. Justin tersenyum masam melihat reaksi Haknyeon yang melebihi ekspektasinya.
"Kau sudah lihat hasil karya Euiwoong padaku. Apa kau terkejut?"
.
.
.
–TBC–
a/n: Iniii.. updatenya lebih cepet soalnya ngejar waktu, takut kebentrok ulangan:""
[Dan malam ini, double update ya!]
.
DAN DEMI JUNG PONYO, ONGNIEL HOLDING HAND SOOOO FKING KYUT
Omegat, kapal saya berlayar yihaa:"))
Gomawo yang udah bagi info. Dd terhibur liat gif mereka berserakan di twitter.
.
Btw kapel JinHoon disini dikit yak?
Iya JY sadar, mian:"
Besok dibanyakin kok ehe
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
