JY present

Delinquent Student

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Seven
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!

.
.
.


Hyungseob terjaga dari tidurnya dengan piyama yang nyaris basah total. Nafasnya memburu cepat. Beberapa kali ia mengerjap, membiasakan diri yang mendadak terbangun dari tidurnya. Dengan langkah yang goyah, Hyungseob keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar eomma appanya.

"E–eomma?"

Sosok dibalik selimut tampak menggeliat pelan. Tangannya bergerak menuju lampu meja disebelahnya dan menyalakannya. Nyonya Ahn mengerjap beberapa saat, membiasakan pandangannya.

"Hyungseob–ah? Ini jam 3 pagi, apa– Hyungseob? Kenapa kau gemetaran?" Nyonya Ahn mengguncang sosok lain dibalik selimut di sebelahnya cepat. Sosok itu sontak membuka mata dan duduk. Bibirnya menggumamkan gerutuan tak jelas.

"A–aku.. apa yang terjadi? Kenapa–"

"Apa maksudmu sayang? Kau sakit? Kau ingin tak masuk sekolah?"

"Aku.. kecelakaan?"

"EH?! Kapan– Tunggu, apa?"

Tuan Ahn yang semula hanya mendengarkan percakapan antara Hyungseob dan istrinya, kini melotot tak percaya. Bibirnya terkatup rapat, tak lagi mengeluarkan gumaman marah. Keheningan sempat merambat sejenak disana. Baik Nyonya Ahn dan Tuan Ahn yang menunggu Hyungseob berbicara kembali, maupun Hyungseob yang sibuk mengatur nafasnya untuk kesekian kalinya.

"Rasanya sakit, sangat sakit eomma."

"Apa? Apa yang sakit Hyungseob–ah?"

"Koma? Mobil? 7 tahun? Dan... Park Woojin?"

Hening.

"I–ingatanmu.. sudah kembali sayang?"


.

.


Jihoon menyandarkan kepalanya berat. Hari ini, Hyungseob tak masuk sekolah. Ia sudah bertanya pada Nyonya Ahn mengenai keadaan Hyungseob, tapi wanita itu hanya tersenyum dan mengatakan Hyungseob akan masuk besok, tanpa menjelaskan hal yang lebih rinci pada Jihoon yang sudah khawatir setengah mati. Jadilah ia duduk sendirian kini. Dan lagi, ia terpaksa tak ikut pelajaran olahraga hari ini karena sebenarnya ia sendiri sedang tak enak badan. Bonus, ia juga meninggalkan seragam olahraganya di rumah. Lengkap sudah Jihoon hari ini. Kabar baiknya, gurunya percaya bahwa Jihoon tengah tak enak badan dan mengizinkan Jihoon tak mengikuti kelasnya.

Jihoon membuka ponselnya. Mengecek apakah Hyungseob mengirim pesan padanya. Nyatanya tidak. Ponselnya tetap sepi seperti biasa. Tak ada pesan apapun dari teman–temannya, baik di grup ataupun pesan pribadi. Jihoon mengangkat alisnya heran. Apa mereka semua tengah sibuk?

"Park Jihoon."

Tunggu, Jihoon kenal suara ini.

Suara berat menyebalkan ini...

Jihoon mendongak, menemukan seorang namja tinggi tengah berdiri di depannya entah sejak kapan. Bibir Jihoon terkatup. Irisnya tepat menatap wajah tampan –coret di hadapannya. Itu Bae Jinyoung. Apa yang adik kelasnya lakukan disini?

"Apa yang–"

"Aku peringatkan sekali lagi, jangan kembali ke koridor belakang."

Jihoon mendengus meremehkan. "Kenapa aku harus menurutimu, Bae? Aku ketua Organisasi Siswanya."

"Seekor anjing tak pernah membantah perkataan pemiliknya."

"Kau bukan pemilikku, dan aku bukan anjing kerajaan. Aku menteri kerajaan."

Jinyoung menggebrak meja Jihoon cukup keras. Di dekatkannya wajahnya dengan wajah Jihoon. Refleks, yang lebih tua memundurkan wajahnya cepat. Jihoon yakin, hari ini adalah hari tersial sepanjang sejarah hidupnya karena damn, Jinyoung tersenyum miring di depan wajahnya. Serius, ia bisa gila detik ini juga. Tanpa sadar, pria Park itu menahan nafasnya.

"Aku adalah pemilikmu, karena aku adalah anggota kerajaan. Aku pangerannya, Park."

"Kau–"

"Jangan sampai aku melihatmu di koridor belakang lagi, atau aku benar–benar menyeretmu pergi dari sana."

Jihoon balik menggebrak mejanya. Tak sekeras gebrakan Jinyoung, tapi sukses membuat dirinya sendiri terlonjak karena perbuatannya. Ditatapnya Jinyoung tajam. Rahangnya mengeras melihat Jinyoung yang nampak santai dengan gertakan balik Jihoon.

"Lalu, kau kira aku akan menurutimu begitu saja, pangeran Bae?"

Seringai Jinyoung semakin lebar di bibirnya. "Tidak. Tapi aku sudah siap menyeretmu pergi dari sana karena aku tau sikap keras kepalamu."

"Kenapa? Kenapa aku harus menurutimu?"

Jinyoung menegakkan punggungnya kembali. Telapaknya mengacak surainya sendiri. Sial, mau menggoda Jihoon atau bagaimana? Jihoon menarik nafasnya tersendat. Sial, jantungnya tak bisa diajak berkerja sama saat ini.

"Melindungimu dari pemberontak kerajaan kebanggaanmu itu, mungkin?"

Dan setelah tubuh tinggi itu berbalik dan meninggalkannya sendirian lagi di kelasnya, Jihoon tak bisa mengatupkan bibirnya kembali. Atau juga menghilangkan semburat memerah di sepanjang wajahnya hingga kedua daun telinganya. Jihoon terlalu.. terkejut saat ini.


.

.


Kau tak masuk sekolah hari ini?–

Read, 11.43AM.

.

Hyungseob menelungkupkan kembali wajahnya di bantal setelah membaca pesan dari sosok yang ia hindari kemunculannya hari ini. Bahkan hingga kini, nafasnya masih memburu pelan.

"Ah aku pasti sudah gila."

.

Kenapa kau tak membalas pesanku?–

Read, 11.43AM.

.

"Berhenti mengirimiku pesan! Berhenti hiks..," Hyungseob terisak dibalik bantalnya. Air mata yang sudah ia tahan sedari tadi akhirnya turun juga. Gemuruh lain merambat di balik dadanya, menimbulkan rasa sesak yang menyengat.

"Maafkan aku hiks, maaf."


.

.


Woojin menatap ponselnya kembali. Pesan terakhir yang ia kirimkan pada Hyungseob berakhir sama. Hanya dibaca. Iris Woojin menyipit tak senang. Beberapa siswa atau siswi yang melewatinya buru–buru mempercepat langkahnya begitu melihat aura mengerikan menguar dari Woojin. Tolong ingatkan dia kalau ia sedang berada di kantin saat ini.

"What the..."

Jangan kira Woojin tak mencoba menelepon Hyungseob. Sudah, 5 kali banyaknya ia mencoba. Dan semua panggilannya itu di putus begitu saja oleh pria bermarga Ahn itu. Kini ia justru merasa ia lah yang mengejar Hyungseob, bukan seperti biasanya.

Woojin mengacak surainya kesal. Tak peduli lagi dengan murid lain yang semakin menjaga jarak dengan tempatnya duduk, ia tetap menghela nafasnya kasar.

"Lihat saja kau, Ahn," Woojin mengatupkan giginya kuat hingga bergemelutuk sebentar. Ah, moodnya sedang turun drastis sekarang. Baguslah murid lain menjaga jarak dengan mejanya saat ini. Kalau tidak, mungkin ia sudah menghajar salah satu di dekatnya tanpa peduli lagi bahwa ia sedang di kantin. Dan untungnya, tak ada Euiwoong di dekatnya kini. Sebab, mungkin ia akan 'mengajak' adik kelasnya itu bertarung dan berakhir dengan Woojin yang terbaring dengan lebam di wajah atau badannya.

Atau sebaiknya begitu saja?

Woojin membuka ponselnya lagi. Jemarinya bergerak mengetik nama Euiwoong. Sebuah panggilan telepon ia tujukan pada Euiwoong.

"Eh? Ada apa hyung?"

"Kau dimana?"

"Err, rooftop? Membolos Han ssaem. Kenapa?"

"Aku akan kesana."

"Eh? Sekarang? Ada masalah?"

"Ya, dan kau harus menghajarku."

"Oh? Masalah serius? Aku akan pemanasan dulu kalau begitu."

"Tidak usah, langsung saja Woong."

"Kau serius hyung? Lebamnya bisa hilang tiga hari kalau kau lupa."

Oh ya, Woojin ingat itu. Justru itu yang ia butuhkan. Siapa tau, masalahnya bisa tercecer keluar begitu Euiwoong menghantam wajahnya dengan pukulannya. Dan Woojin tak butuh 'pemanasan' Euiwoong. Pukulan dadakan Euiwoong justru lebih menyakitkan 3 kali lipat ketimbang setelah adik kelasnya itu 'pemanasan'.

Tentu saja Woojin tau soal itu. Sebab, ini bukan kali pertama ia meminta Euiwoong menghajarnya saat ia sedang banyak masalah. Sekitar 2 bulan lalu, Euiwoong menghajarnya karena ia sedang punya masalah dengan hal yang serupa pula.

Ahn Hyungseob.

Awalnya, Woojin tenang saja melihat namja itu bercengkrama dengan Kwon Hyunbin, kakak kelasnya, mengingat mereka ada di ekskul yang sama, ekskul musik. Tapi segera kesabarannya habis tak tersisa saat melihat Hyunbin dengan santainya mengacak surai Hyungseob, diikuti dengan senyum malu–malu namja itu. Yah, meski Woojin tau Hyungseob adalah fans fanatiknya. Dan setelah ia menemui Euiwoong, ia langsung menghadap Hyunbin dan menghajarnya hingga kakak kelasnya itu tak masuk sekolah 5 hari lamanya. Dan sejak kejadian itu, kakak kelas kelebihan kalsium itu memutuskan untuk keluar dari ekskul musik dan beralih ke ekskul basket.

"Tidak apa. Aku tak masalah."

"Oh, baiklah. Aku tunggu disini. Ah, tapi Daniel hyung takkan marah 'kan?"

Woojin tersenyum di balik ponselnya. Daniel ya?

"Tak usah pedulikan dia, seperti beruang pink itu tak pernah meminta hal yang sama padamu saja."

Ah, kalau soal itu, Woojin tak sengaja tau. Salahkan Daniel yang tampak aneh saat menyeret Euiwoong dan pergi menjauh dari koridor belakang. Bukan salah Woojin 'kan kalau ia penasaran dan mengikuti kedua temannya itu? Woojin tak bisa berhenti tersenyum mengingat Daniel yang tampak mengenaskan dan terlihat sangat membutuhkan pukulan Euiwoong di tubuhnya.

"Okay. Kau berhutang ice cream dan penjelasan denganku hyung."

PIIP

Woojin memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ah, seketika ia rindu dengan pukulan kuat Euiwoong. Baguslah kalau rasa rindunya bertepatan dengan yang ia butuhkan saat ini. Woojin segera bangkit dari mejanya dan berjalan cepat meninggalkan kantin. Senyum masam mengerikan terlukis di wajahnya.

"Ah sial."

Sial, ini semua karena Ahn Hyungseob –manis– itu.
.
.
.
TBC


a/n: CIE UDAH PADA NEBAK NEBAK AJHA
Hayoloh ada apa nich:" Gimana nich:" Apakah JinSeob ditakdirkan untuk bersatu atau gimana yach:" .g
Hehe, mari kita tunggu next chap untuk lebih jelas ya ada apa sama JinSeob.
Karena, di next chapt isinya penjelasan untuk beberapa hal (cie spoiler)

.

DANNN, karena JinHoon moment jarang disini.
JY udah siapin satu chapter full of JinHoon yeay!
Mari kita layarkan kapal kita uww/?
Maafkan pair utama malah alurnya yang paling ketinggalan. Emang sengaja sih mereka yang paling lama ehe.

.

BTW SVT KAMBEKKK!
Demn, lagunya enak banget:"
Judulnya "Don't Wanna Cry" but I wanna cry:""