JY present

Delinquent Student

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Eight
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!

.
.
.


"Aku tak tau kau akan datang kemari. Kukira kau sibuk, huh?" Daniel tersenyum miring melihat sosok yang ia kirimkan pesan beberapa menit lalu sudah muncul dan duduk di seberangnya. Dan catat, untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya, seorang Ong Sungwoo rela membolos pelajaran demi menemui Daniel, berandal Hanlim, di kantin. Masa bodoh dengan Jihoon yang akan menceramahinya nanti. Ketua Organisasi Siswa itu pasti akan membunuh Sungwoo begitu mengetahui kalau kakak kelasnya itu membolos pelajaran. Beruntungnya, kantin benar–benar sepi sekarang ini sehingga tak ada murid lain yang melihat mereka berdua.

Oh benar, masih jam pelajaran.

Sungwoo terdiam, tak berniat membalas ucapan Daniel satu patah katapun. Daniel sadar itu. Toh, dia juga tak menuntut pemuda Ong itu membalas ucapannya. Yang terpenting, pemuda itu datang. Karena kalau tidak, ia benar–benar akan melewatkan segalanya.

"Jadi, apa yang mau kau ketahui?"

"Semuanya."

Daniel tak bisa tak tersenyum lebar mendengar jawaban singkat dan dingin Sungwoo. Apa teman satu kelasnya itu sedang berusaha bersikap dingin? Dengan berandalan sekolahnya? Dengan Daniel? Untung saja Sungwoo sama sekali tidak masuk dalam daftar siswa yang perlu ia tindas. Kalau tidak, mungkin ia akan melayangkan pukulannya pada wajah mungil itu.

"Yeah, hanya pertemanan biasa awalnya. Tidak biasa juga, mengingat kami memang sudah begitu pada awalnya.. Ya kau tau 'kan, pasti selalu ada berandalan di setiap sekolah."

"Begitu?"

Daniel tertawa melihat alis Sungwoo yang terangkat heran. "Suka menghajar orang, babe."

Sungwoo bisa merasakan tubuhnya tercenung di kursinya. "Teruskan."

"Yah begitulah. Kami sering menindas. Jinyoung dan Euiwoong adalah personil tambahan baru yang semakin menambah keuntungan bagi kami."

"Jinyoung? Euiwoong?"

"Tahun pertama. Ah, ada Woojin juga, tahun kedua."

"Kalian hanya berempat?"

"Menurutmu?"

Sungwoo terperangah. Mereka hanya berempat! Oh astaga, Sungwoo kira para penindas membentuk suatu kelompok besar. Dan ternyata? Mereka hanya berempat. Astaga, kemana saja Sungwoo selama ini? Kenapa ia tak pernah tau?

"Sangbin bukan anggotamu? Tapi dia kelihatan.. badboy."

"Bukan, dia bukan. Catatan, kami tak suka berpenampilan urakan di luar. Yah, kecuali memang dirasa sedang di saat yang tepat. Kami ingin menimbulkan kesan baik diluar. Bukankah itu bagus?"

"For real? O–oh wow. Berapa banyak murid yang sudah kau tindas, Kang?"

"Entahlah, kami tak mencatat hal tak berguna seperti itu. Apalagi Euiwoong, dia yang paling banyak menghajar siswa lain. Padahal aku sudah melarangnya berlebihan. Tapi kurasa, 65 persen dari satu sekolah mungkin?"

"A–apa? Sebanyak itu?"

Daniel mengendikkan bahunya. "Sisanya sudah kena rumor yang disebarkan korban kami."

"Kenapa aku tidak pernah dengar?! Haknyeon juga! Jihoon?"

"Jihoonmu itu sudah tau. Beberapa hari lalu. Dan kenapa kalian tak pernah tau? Karena kami melarang mereka memberitahu kepada kalian. Kalian suka sekali mengadu. Kalian para siswa teladan, kalian pasti akan langsung melaporkan kami."

"Dan mereka tak mengatakannya? Korban kalian?"

"Tentu saja. Kami ada di tiap angkatan right? Mata kami ada dimana–mana. Mereka takkan berani menyebarkannya hingga telinga kalian."

Sungwoo memundurkan tubuhnya perlahan. Helaan nafas meluncur dari celah bibirnya. Kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Sial. Ia tak pernah merasa sebodoh ini selama hidupnya. Bagaimana bisa ia tak tau menahu apapun soal ini? Bahkan Joo Haknyeon sekalipun tak mengerti! Ia tak menyangka fans Haknyeon akan 'mengkhianati' Haknyeon juga.

"Kalian gila."

Daniel memajukan tubuhnya. Senyuman tupai khas miliknya terulas di bibirnya. "Tidak juga. Pengecualian untuk Euiwoong."

Keduanya terdiam sejenak. Sungwoo masih terlarut dalam fakta yang memusingkan ini, sedangkan Daniel kembali menikmati lemon tea miliknya yang ia abaikan sejak Sungwoo datang.

"Kenapa kau menceritakannya padaku? Bagaimana jika aku mengadu?"

"Karena aku tau kau takkan mengatakannya," Daniel mendongak, menatap tepat pada iris Sungwoo. "Dan Tuan Bae takkan mengindahkan aduanmu. Jinyoung itu anaknya kalau kau belum tau."

Sungwoo terperangah kembali.

"Okay, kurasa kau belum tau," Daniel tertawa pelan melihat reaksi Sungwoo. Ah, beruang satu itu sangat manis saat terkejut. Ingatkan Daniel untuk tak mencubit pipi pemuda Ong itu karena gemas.

"Kenapa kau bersikap baik padaku? Dan.. menciumku?"

Daniel memundurkan tubuhnya. Jantungnya kini berdetak lebih cepat seiring tarikan nafasnya. Kenapa ia bersikap baik pada Sungwoo? Kenapa ia tak menindas Sungwoo? Lupakan sejenak fakta bahwa Sungwoo berteman dekat dengan ketua Organisasi Siswa sekolah mereka.

"Bukankah sudah jelas, Ong?"

"Apa yang jelas?"

"Harusnya kau menebaknya."

"Daniel, berhenti bermain–main," Sungwoo mendesis penuh penekanan di kursinya. Kelopaknya menyipit memperhatikan Daniel tajam. Yang ditatap kembali menarik senyumnya, kali ini, senyuman lembut yang ia tampilkan.

"Aku tak bermain–main, sungguh."

Sungwoo memutar bola matanya jengah. "Lalu apa?"

"Aku menyukaimu. Bahkan kurasa mulai masuk ke tahap mencintai."

Okay, Sungwoo seketika merasa otaknya tertukar dengan Hyungseob.

Tidak mungkin 'kan? Seorang Daniel? Apa dia baru kena prank pemuda Kang itu?

Bahu Sungwoo meluruh perlahan. Tatapan bodoh terpancar di irisnya. Rasanya, beberapa peluru baru saja menembus otaknya dan menciptakan lubang kosong disana. Otaknya kosong, sekosong pandangan polos Hyungseob.

"Aku sudah bilang, harusnya kau menebaknya. Pernyataan cintaku jadi tak romantis begini," Daniel mengacak surai Sungwoo gemas. Melihat Sungwoo terbengong seperti itu membuatnya kasihan. Seorang siswa teladan terperangah dengan wajah bodoh, bukankah itu lucu?

"Aku pasti gila."

"Apa itu kata lain dari yes? Atau I love you too?"

Sungwoo tak bisa tak melotot mendengar kalimat yang satu itu.


.

.


"Jadi, apa yang terjadi hyung?" Euiwoong menoleh, mengarahkan fokusnya yang semula ke langit biru diatasnya pada Woojin yang terbaring dengan lebam di wajahnya dan luka di sudut bibirnya. Jangan lupakan seringai mengerikan yang menghias pemuda Park itu. Euiwoong sampai bergidik melihat seringai itu.

"Hanya masalah yang membuatku sakit kepala."

"Apa ini tentang pacarmu?"

Woojin mengedus remeh. "Pacar? Aku tak punya pacar."

"E~h? Bukannya kau sedang dekat dengan teman satu angkatanmu kalau aku tak salah ingat. Siapa namanya? A.. Ahn siapa?"

"Ahn Hyungseob."

"Nah! Itu! Eh, kau tau namanya tuh."

"Aku tau, dengan jelas."

"Lalu? Masih menyangkal dia bukan pacarmu?"

"Dia memang bukan pacarku, Euiwoong saeng kesayanganku."

"Eii~ Kau pasti berbohong hyung," Euiwoong mencolek pipi Woojin dengan kekehan mengejek. Ah, adik kelasnya itu lupa sepetinya kalau baru saja ia menciptakan lebam di wajah Woojin. Tentu saja Woojin jadi meringis karenanya. Bodohnya, Euiwoong tak sadar dengan kegiatan memperparah lebam Woojin itu.

"Kau sendiri bagaimana dengan pacarmu?"

Euiwoong memajukan bibirnya kesal. "Mengalihkan pembicaraan."

"Siapa namanya? Joo siapa? Dari Jeju huh?"

"Joo Haknyeon. Dan catat ya hyung, dia bukan pacarku. Bukan. Garis bawahi itu tebal–tebal."

"Kudengar kalian pernah bermesraan di kelas?"

"Itu bukan bermesraan!" Euiwoong menendang paha Woojin pelan, menggulingkan kakak kelasnya itu kesamping beberapa langkah. Kedua alisnya tertaut, menunjukkan rasa kesalnya pada Woojin. "Dia hanya bertanya soal luka di wajahku, itu saja. Dan hey, kau dengar dari siapa hyung?"

Woojin bangkit dari posisinya. Kini ia duduk dan menghadap langsung pada Euiwoong yang mengacungkan jari tengahnya kesal.

"Kau itu ketularan bodoh siapa sih?"

"Hah?"

"Itu namanya dia perhatian denganmu, sayang."

"A–apa?" Euiwoong tak bisa menyembunyikan semburat memerah di sepanjang wajahnya. Bahkan kedua telinganya ikut memerah, padahal ia tak sedang kepanasan, mengingat mereka sedang di rooftop sekarang. "Jangan bercanda, hyung."

"Cih, dia tak percaya rupanya."

"Mana mungkin aku percaya! Kau sendiri menutupi hubunganmu dengan pacarmu itu!"

"Sudah kubilang 'kan? Dia bukan pacarku, Euiwoong–"

"Ya ya ya, terus saja berbohong–"

"–Dia tunanganku."

"H–hah?"

Ingatkan Euiwoong untuk mengerjap atau menarik nafasnya yang seketika tertahan di tenggorokannya. Karena sungguh, kalimat itu pasti membuat jantung siapa saja berhenti ketika mendengarnya.
.
.
.
TBC


a/n: YAHH udah dijelasin deh ehe..
Hayooo, gimana? Bahagia tida kalian?
Belum dijelasin sepenuhnya sih, but you've got a clue right?

.

BTW lagunya China Line [SVT] yang My I ena bangettttt
Suka banget lagunya aa:""
AND YASS, I'M A CARAT:)

.

Harap bersabar ya untuk chap full of JinHoon, updatenya ntar. Kuota dd sudah habis nih:"
Terima kasih buat dukungannya yaa, luv you guys:"
Oh iya, kenapa ya kadang susah buat di update ffnya? Jadi harus update beberapa kali?:"

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]