JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Ten
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
.
.
.
"Hyungseob!"
"Hah?"
BUAGH
Hyungseob mengerang hebat ketika telapak Jihoon menepuk, bukan, menubruk punggungnya keras. Bekas memerah pasti akan tercetak disana. Jihoon meringis bersalah melihat wajah Hyungseob yang seketika memerah menahan perih. Apa dia terlalu keras?
"Sakit bodoh!"
"Kau itu yang bodoh! Kau kemana kemarin? Kenapa kau tak masuk? Kenapa kau tak membalas pesanku? Kenapa kau tak muncul di grup? Kenapa–"
"Okay okay cukup, kau membuatku pusing."
"Kau juga membuatku pusing!" Jihoon menyentil dahi Hyungseob, tak sekeras itu namun cukup membuat Hyungseob mengerang untuk yang kedua kalinya di pagi ini. Astaga, ia baru saja duduk manis di kursinya dan Jihoon sudah menyiksanya berulang. Harusnya ia tak usah masuk saja hari ini.
"Kemarin aku hanya sedang tak enak badan saja. Em.. banyak pikiran."
Jihoon berdecak. "Kau itu sejak kapan punya banyak pikiran sih?"
"Yak, kau itu.. Aku juga punya otak okay?"
"Ya ya ya, otak 2G kesayanganmu itu."
"Kau mau kulempar dari rooftop ya?"
.
.
Woojin tak bisa tak tersenyum lebar hari ini. Cukup mengerikan mengingat senyum seorang Park Woojin tidak pernah normal. Bahkan, senyumnya kali ini sebelas dua belas dengan seringai –mengerikan– andalannya. Masa bodoh. Ia sedang senang, buat apa ia memusingkan siswa siswi lain yang berbisik seraya meliriknya takut–takut. Ini semua hanya karena sebuah pesan singkat yang ia terima di ponselnya. Pagi sekali, Hyungseob mengirimkan pesan padanya. Cukup singkat, tapi mampu membuat suasana hati Woojin membaik. Setidaknya ia tak semengerikan kemarin. Anjing tetangga saja sampai tak berani menyalak padanya.
.
–Rooftop, istirahat. Jangan terlambat–
Read, 5.24AM
.
Oh, tentu Woojin takkan terlambat untuk yang satu itu.
.
.
"Euiwoong, kurasa kita perlu bicara."
"Haknyeon hyung? Ada apa?"
"Bisakah kita pergi keluar sebentar?"
"Eh? Oh okay," Euiwoong yang semula tengah mempersiapkan alat tulisnya, kini mengurungkannya. Segera ia berdiri mengikuti Haknyeon yang sudah berjalan lebih dulu keluar kelas. Euiwoong melirik cemas. Apa yang ingin Haknyeon bicarakan dengannya? Ia tak mengatakan apapun yang salah bukan? Kenapa wajah Haknyeon semasam itu?
"Err hyung, kita bisa membolos kalau begini," Euiwoong melirik pada Haknyeon yang tetap berjalan di sebelahnya. Tak ada balasan keluar dari bibir yang lebih tua. Euiwoong menunduk perlahan, tak berani mengucapkan apapun setelahnya. Kakinya tetap ia langkahkan mengikuti Haknyeon. Bahkan ketika mereka berjalan dan masuk ke ruang tak terpakai di lantai 2, Euiwoong tak berani bertanya.
"Lee Euiwoong."
"Ya hyung?"
"Kenapa kau melakukannya?"
Euiwoong mendongak, memberanikan diri menatap wajah Haknyeon yang tampak tak bersahabat.
"Me–melakukan apa hyung?"
"Kau bertanya kau melakukan apa?" Haknyeon merapatkan tubuhnya pada Euiwoong yang juga melangkah mundur seiring langkah yang diambil Haknyeon. Bahkan ketika punggung Euiwoong sudah menabrak dinding, pemuda Lee itu tetap mencoba mencari jalan lain untuk menghindar.
"Menurutmu, apa yang sudah kau lakukan selama ini?"
"A–aku tak paham maksudmu hyung."
Haknyeon berdecih pelan. "Jangan bercanda."
"Tidak, sungguh aku tak mengerti hyu–"
"Apa kau sangat menikmati menindas murid lain? Apa kau menikmati menjadi seorang berandalan? Apa kau sangat suka melukai orang lain? Apa kau menyukainya, Lee?"
Euiwoong membatu dalam posisinya. Netranya membola terkejut, sementara tubuh mungilnya mulai bergetar pelan. Haknyeon meletakkan telapaknya di dinding, tepat di sebelah kedua bahu Euiwoong guna menahan pergerakan namja itu. Toh Euiwoong memang tak bisa menghindar, ia masih dalam mode shocknya saat ini.
"S–Siapa yang–"
"Kau tak perlu tau siapa, kau hanya perlu menjawabku."
"Aku.. a–aku–"
"Kenapa, Lee? Kenapa kau melakukannya?" tangan Haknyeon berpindah. Kini jemarinya menyentuh kancing baju Euiwoong dan melepaskannya satu persatu. Hingga kancing terakhir terlepas dari tautannya, Haknyeon tak bisa menahan ringisannya melihat tubuh Euiwoong. Lebam ada dimana–mana, luka yang belum mengering sempurna juga tersebar di beberapa titik.
"Apa... ini sakit?"
"T–tidak hyu– AH SHIT!" tubuh Euiwoong refleks membungkuk ketika Haknyeon menekan lebamnya cukup keras. Haknyeon menarik tangannya menjauh, merasa bersalah telah menekan lebam di tubuh Euiwoong sekeras itu.
"Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri? Kenapa?"
"Hyung– aduh.. Hyung harusnya tak menekan sekeras itu. Ini sakit," Euiwoong mendongak, memperhatikan kembali wajah Haknyeon dengan pandangan memburam. Genangan air mata sudah menghias di pelupuknya. Perlahan ia menegakkan tubuhnya kembali ketika dirasa rasa sakit yang diciptakan Haknyeon berangsur berkurang.
"Kenapa kau tak menghajar mereka saja langsung hah! Kenapa kau membiarkan mereka menyakiti dirimu terlebih dahulu!"
"Aku menyukainya! Puas? Aku tak bisa seperti Jinyoung hyung atau Daniel hyung yang akan langsung menghajar orang lain!"
GREPP
Nafas Euiwoong tersendat di tenggorokannya kala Haknyeon menariknya dalam rengkuhan namja itu. Bibirnya terbuka perlahan, respon tubuhnya atas keterkejutan yang ia alami. Euiwoong bisa merasakan sapuan nafas Haknyeon di tengkuknya. Sensasi hangat merambat di tubuhnya.
"Kalau begitu, berhentilah. Aku mohon," Euiwoong semakin membatu dalam rengkuhan Haknyeon, terlebih, kini pemuda Joo itu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Euiwoong.
"T–tapi aku–"
"Aku tak melarangmu menjadi seorang berandalan. Itu terserah padamu. Aku hanya melarangmu untuk berhenti menyakiti atau menambahkan luka baru pada tubuhmu sendiri."
Wajah Euiwoong memerah. Ronanya merambat hingga kedua telinganya. Sialnya, setelah mengatakan hal itu, Haknyeon justru semakin mengeratkan rengkuhannya. Tak peduli akan menipisnya pasokan oksigen di sekitar kedunya.
"K–kenapa?"
"Karena aku peduli denganmu. "
"Kau.. peduli?"
"Aku tak ingin melihat tubuh kekasihku terluka lebih parah dari ini."
"E– eh?"
.
.
"Hyungseob?"
"W–woojin, kau sudah disini?"
"Kau kemana saja kemarin? Kenapa–"
GREPP
Tubuh Woojin terhuyung kebelakang ketika Hyungseob menubruknya keras. Lengan mungil pemuda Ahn itu langsung melingkar erat di pinggang Woojin. Refleks, Woojin mengangkat kedua tangannya terkejut. Kaki kanannya kini ia pasrahkan sebagai penyangga tubuhnya dan Hyungseob.
"Hyungseob? Kau kenapa?"
"Aku akan menagih janjimu."
"Janji?" Woojin menunduk kebawah, memperhatikan bagaimana Hyungseob menatapnya dalam rengkuhannya di tubuh Woojin. Ah, Woojin jadi rindu iris mungil itu. Hidung itu. Bibir itu. Wajah itu. Semuanya, Woojin rindu segala hal tentang Hyungseob.
"Ya, kau sudah berjanji."
Woojin mengernyit dalam. "Janji apa, Hyungseob–ah?"
"Apa akhir pekan kau senggang?"
"Hah?"
"Kurasa Everland tidak buruk juga."
"Ever– Tunggu, apa?"
Hyungseob terkekeh melihat ekspresi terperangah Woojin. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini mulai menggenang di pelupuknya. Hyungseob berjinjit, menyentuhkan bibirnya sekilas pada bibir Woojin. Pemuda Park itu jelas semakin membatu karena tindakan Hyungseob barusan.
"Maaf, seharusnya aku ingat sejak dulu. Right, Woojinie?"
Woojin mengatupkan bibirnya rapat. Tubuhnya mendadak kaku. Perasaan meledak mengisi rongga dadanya, menghantarkan suatu gelenyar aneh yang menjalar hingga tiap jengkal tubuhnya. Iris Woojin memperhatikan iris Hyungseob dalam, mencari jawaban yang menurutnya sangat tidak mungkin adanya.
"Kau– Tapi, bagaimana– Kenapa–"
Hyungseob mendecih pelan. "Kau tidak suka aku ingat kembali atau bagaimana sih?"
"Bu–bukan, hanya saja–"
"Ssh," Hyungseob menempelkan telunjuknya di bibir Woojin. Menyuruh namja gingsul itu untuk berhenti berbicara dengan kalimat terpenggal. Woojin mengatupkan bibirnya. Meski ia masih menatap Hyungseob tak percaya juga lutut yang mulai bergetar pelan, ia terdiam.
"Everland, titik. Setelahnya, terserah. Kita bisa ke café biasa kita mungkin? Apa café itu masih buka ya?"
"Masih, masih buka."
"Eyy, kenapa kau menangis. Jangan menangis," Hyungseob menyeka air mata yang mengalir di pipi Woojin. Padahal, ia sendiri juga tengah menangis. Air matanya sudah mengalir sejak tadi. Tenggorokannya terasa sangat sesak untuk mengucapkan sepatah kata pun. Tapi ia tak ingin berhenti, ia ingin berbicara dengan Woojinnya, tunangannya sejak kecil. Hyungseob merasa sangat bodoh karena baru mengingat kepingan memori tentang yang satu ini. Ia menyesal, sangat menyesal. Berapa lama ia sudah membiarkan Woojin, takdirnya, berjalan sendirian? 10 tahun lamanya?
Woojin perlahan menurunkan lengannya, menyamankan dua anggota tubuhnya itu pada punggung sempit Hyungseob. Wajahnya ia tenggelamkan di ceruk leher Hyungseob. Menghirup aroma yang selama ini ia rindukan. Masih sama, percampuran antara kayu manis, vanila, dan sedikit sentuhan lemon.
"Hey hey, sejak kapan Woojinie jadi cengeng seperti ini?" Hyungseob menelan salivanya susah payah. Dadanya terasa sesak. Tak bisa ia jelaskan bagaimana. Yang jelas, ia merasa sesak dan berdentam–dentam. Suaranya kini tercekat. Terdengar persis seperti tikus mungil yang kehilangan pasokan oksigennya.
"Jangan menangis, Woojin–ah," Hyungseob mengelus punggung bergetar Woojin berulang. Menenangkan pemilik punggung yang masih menangis dalam diam itu. Bahkan tak ada nafas tersenggal dari namja itu. Bisa Hyungseob rasakan sesuatu yang basah dan hangat menyapa kulit lehernya.
Air mata Woojin.
"Please, berhenti."
"Aku.. rindu padamu. Aku– aku tak bisa menjelaskannya. Aku– menyesal."
"Menyesal atas?"
"Kenapa aku harus pergi ke Amerika hari itu. Harusnya aku menundanya, harusnya aku ada di sebelahmu. Harusnya– aku menemanimu bermain sepeda saat itu."
Ey, ini bukan salahmu. Ini salah pengendara mobil yang mabuk itu, kenapa ia mena– em, menabrakku."
"T–tapi aku–"
"Maafkan aku, ya? Kau berjuang sendirian selama ini, padahal aku ada di dekatmu dan bodohnya aku menyukaimu. Cerita yang selalu berakhir sama eh?"
Woojin mengeratkan rengkuhannya pada Hyungseob. Ah, tubuh itu sudah tak sekurus dulu. Rasanya, ia hanya memeluk tulang dibalut kulit saja dulu. Sudah berapa lama ia tak memeluk tubuh ini? 10 tahun?
"Tidak. Kau juga berjuang, babe."
"Ey, aku berjuang apa?"
"Berjuang untuk terus menyakinkanku bahwa hari ini akan tiba?"
Hyungseob memutar bola matanya jengah. Senyuman manis terulas di bibirnya. "Oh ya, Park Woojin dan mulut manisnya."
"Mulutku memang manis, kalau kau lupa."
Hyungseob menepuk punggung Woojin pelan. "Jangan coba–coba."
"Mulutmu juga manis. Lidahmu manis. Kulitmu manis. Tubuh–"
"Okay cukup Tuan Park. Kita masih di sekolah kalau kau lupa."
"Apa itu artinya kau mengundangku ke rumahmu?"
"Park Woojin!"
.
.
.
–TBC–
a/n: This is it, chapter 90% isinya JinSeob. Maaf ya HakWoong, kalian jadi remah disini:""
Dd cinta HakWoong kok, ga beda bedain kok:"
.
Dan ada yang tanya nih, apa Jinyoung seme tsundere?
Ya, gimana ya. Baca dulu aja chap selanjutnya, nanti tau kok ehe.
Oh iya, sebenernya awalnya tuh mereka.. ah tida jadi, nanti spoiler /dibakar massa/
Sebenernya, FF ini udah mendekati akhir, sedih tida sih:"" iya JY yang nulis aja sedih tau tau udah mau selesai.
Tapi tenang, ga gantung kok. Nanti ada bonusnya ehe.
Cukup sekian spoilernya. Biar reader sekalian menyiapkan hati dengan tamatnya FF ini:""
Ah ikut sedih nih ah:"
.
[FYI, JY MALES BELAJAR PADAHAL ULANGAN TINGGAL MENGHITUNG HARI.]
[DD KUDU GIMANA INI ASTAGA:"""]
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
