JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Eleven
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
.
.
.
"Kau itu kenapa sih?!"
"Apa?"
"Terserah!" Jihoon menghentakkan kakinya menjauh dari Jinyoung yang menatapnya datar. Ah lupakan, Jinyoung dan ekspresi datarnya itu sudah satu kesatuan bukan? Mana mungkin Jinyoung punya eksprsi lain.
Jinyoung memutar bola matanya jengah. Harusnya ia yang marah. Jihoon dengan santainya berjalan lagi ke koridor belakang. Jinyoung nyaris tertawa melihat bagaimana kakak kelasnya itu mengendap sehening dan setenenang mungkin di balik tumpukan kardus bekas berisi banyak hal. Bahkan Jinyoung tak mengagetkan Jihoon. Ia hanya berdiri di belakang yang lebih tua tanpa melakukan apapun. Ia tak bisa mengerti kenapa Jihoon bisa terlompat dari berdirinya saat ia berbalik dan menemukan Jinyoung tengah berdiri di belakangnya. Dan yah begitulah, pemuda Park itu membentak kesal dan pergi dengan degup jantung –entah terkejut atau hal lain– yang sedikit berlebihan.
Harusnya Jihoon menoleh sekarang, pura–pura mengacungkan jari tengahnya pada Jinyoung. Karena sungguh, kau takkan pernah melihat lagi seorang Bae Jinyoung tengah menarik sudut bibirnya kesamping, menyunggingkan senyum tipis yang menghias wajahnya.
"Bodoh."
.
.
Jihoon melirik satu persatu sahabatnya yang sedari tadi tak berhenti memancarkan raut.. entahlah, yang jelas bagi Jihoon ekspresi mereka adalah ekspresi teraneh yang pernah ia lihat. Bahkan Hyungseob sesekali terkekeh sendiri seraya mengaduk makanan di hadapannya yang tak ia suapkan ke dalam multunya sedari tadi. Gawat, bisa–bisa petugas kantin memarahi mereka karena tak menghabiskan makanan. Lihat saja bibi Jung yang sudah melirik mereka tajam.
"Kalian kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
"Yak!" Jihoon menggebrak meja kantin tempat mereka makan. Ah bukan, Jihoon sendirian yang makan sedari tadi. "Wajah menyebalkan itu.. Kalian kenapa? Menang lotere? Hah?!"
"Kami baik–baik saja. Kau itu yang kenapa? Sedang ada masalah?" Sungwoo menyedot lemon tea miliknya yang sedari tadi ia anggurkan. Irisnya menatap tepat pada wajah tak bersahabat Jihoon.
"Kau baru bertanya? Astaga, aku sudah tertimpa masalah sejak kemarin kemarin. Kalian itu kemana saja?!"
Haknyeon melirik Jihoon tajam. "Sungwoo hyung, apa namja juga PMS?"
PLAK
"Katakan sekali lagi, Joo. Cepat ayo," Jihoon tersenyum miring. Telapak tangannya tergantung di udara, bersiap mendarat kembali ke kepala Haknyeon.
"Entahlah, mungkin hanya Jihoon."
"Sungwoo hyung!"
"Okay okay, ada apa huh?" Sungwoo tertawa di ujung kalimatnya, seakan hal lucu baru saja terjadi. Tidak, dia tidak menertawakan Haknyeon yang baru saja jadi korban kekerasan Jihoon, sungguh.
Jihoon menarik nafasnya. Irisnya bergerak ragu. Apa sebaiknya ia katakan saja pada sahabatnya ini? Dilirknya Hyungseob yang kini juga menatapnya penuh rasa penasaran. Lihat saja netranya yang membola itu. Jihoon berdeham, menyiapkan dirinya untuk menyampaikan masalah yang ia pendam sejak beberapa saat lalu.
"Uh... janji kalian takkan membocorkannya?"
"Oh Jihoon, kita sudah berteman sejak lama kalau kau lupa."
Jihoon berdeham tak nyaman lagi.
"Em.. jadi, sekolah kita.. di sekolah kita ada berandalan. Satu dari angkatan Sungwoo hyung, satu dari angkatanku dan Hyungseob, dan dua dari angkatan Haknyeon."
Hening.
"Oh, lalu?"
Jihoon terperangah. Benar–benar terperangah. Yang baru saja bilang 'oh, lalu' bukan Sungwoo hyungnya 'kan? Netranya terbelalak lebar. Ekspresi terkejut langsung memenuhi wajahnya. Tidak tidak, pasti ada yang salah disini. Haknyeon pun tak menunjukkan raut terkejut dengan informasi yang disampaikan Jihoon. Okay, mungkin hanya Hyungseob yang normal disini, dilihat dari ekspresi tak percaya yang terlukis di wajahnya.
"Apa.. apa– Di sekolah kita ada berandalan hyung! Astaga, kenapa kalian tak terkejut hah? Hyungseob, kau terkejut 'kan? Kau tak tau 'kan?"
Hyungseob menggeleng polos. "Tidak, aku tidak tau."
"Astaga Jihoon, yak Kim Dongbin, kemari sebentar," Sungwoo menggerakkan telapak tangannya, memanggil seorang namja berwajah imut yang baru saja hendak pergi dari kantin. Dongbin terbelalak, buru–buru ia mendekati Sungwoo. Samar, tubuhnya gemetar saat semakin dekat dengan Sungwoo yang masih tersenyum manis padanya.
"I–iya sunbaenim?"
"Ey, jangan gemetaran begitu. Aku tidak menggigit."
Tidak, tentu tidak. Yang 'menggigit' bukan kau, Sungwoo.
"M–maaf sunbaenim."
"Aku akan bertanya padamu. Apa kau tau tentang berandalan di sekolah kita?"
"T–tau sunbaenim."
Jihoon refleks menggebrak meja. "APA?! Tunggu, apa? Bagaimana bisa!"
"U–uh, itu.. itu– aku tak bisa menjelaskannya."
Sungwoo tertawa ringan. "Tak apa, jelaskan saja pada Jihoon. Kau akan baik–baik saja okay? Ceritakan saja pada ketua kita."
"E–em, ku–kurasa satu sekolah sudah tau tentang ini."
Bahu Jihoon meluruh. Satu sekolah katanya? Jihoon tak memperkirakan itu sebelumnya. Menurutnya, hanya beberapa murid saja yang tau soal ini. Tapi, apa kata Dongbin? Satu sekolah? Astaga, apa saja yang Jihoon lewatkan selama ini?!
Sungwoo melirik Jihoon yang tampak nyaris kehilangan nyawanya. "Uh, kurasa ketua kita belum tau Dongbin–ah."
"Me–mereka melarang siapa saja untuk mengatakannya pada.. k–kalian semua."
Dongbin tersentak kala Sungwoo menepuk punggungnya pelan. Dilirknya kakak kelasnya itu ragu. "Nah, kau bisa pergi sekarang. Terima kasih Dongbin!"
Barulah Jihoon mengerjap ketika Dongbin berlari menjauh dari sana, dari meja mereka. Ditatapnya Sungwoo horror. Kakak kelasnya itu justru mengulas senyum yang tak wajar. Tunggu, jadi hyungnya itu sudah tau?! Bagaimana– oh astaga, kepala Jihoon terasa berdentam sekarang.
"Oh, lihat, kurasa ada yang akan ikut duduk disini. Apa kita sebaiknya pergi Jihoon?" Jihoon menoleh kaku. Menatap dari balik bahunya pada objek yang Sungwoo maksud.
Okay, matilah Jihoon.
Mereka disini, para berandalan itu.
Astaga, apa dia harus memukul kepala Sungwoo terlebih dahulu agar ia tau bahwa merekalah berandalan itu? Dan, oh astaga, mereka dalam formasi lengkap mereka. Bisa Jihoon lihat Jinyoung berjalan di barisan paling belakang, mengekori para hyungnya dan Euiwoong.
"Apa kalian masih duduk disini?"
"Jihoon? Bagaimana? Ada yang mau duduk disini."
Jihoon tak tau! Jihoon tak bisa berpikir! Tak Sungwoo sadari kah bahwa wajah Jihoon sudah berubah pucat? Jihoon menggeleng samar, menjawab pertanyaan yang Sungwoo lontarkan padanya.
"Oh? Kurasa Jihoon tak keberatan kalian ikut duduk disini."
Apa?
Tunggu, bolehkah Jihoon menjedukkan kepalanya ke meja kantin sekarang?
"Meja lain penuh. Terima kasih memperbolehkan kami duduk disini bersama kalian," itu Daniel, kalau Jihoon tak salah nama. Kakak kelasnya yang ada di satu kelas yang sama dengan Sungwoo.
Serempak mereka mengambil tempat duduk diantara para siswa teladan kebanggaan Hanlim itu. Tanpa ada yang menyadari, Jihoon beringsut kepinggir, terus kepinggir hingga tak ada lagi tempat baginya untuk menjauhkan tubuhnya. Diliriknya Daniel yang juga membalas lirikannya dengan senyum miring. Kakak kelasnya itu mengambil tempat duduk tepat di sebelah Sungwoo.
Fokusnya beralih pada Hyungseob, yang entah sejak kapan sudah duduk berhadapan dengan Woojin 'kesayangannya'. Dan Haknyeon? Dia tampak nyaman saja ketika Euiwoong mengambil tempat duduk di sebelahnya, yang otomatis juga duduk di sebelah Jihoon. Sebagai penutup, Jihoon kini dihadapkan pada Jinyoung yang duduk di hadapannya.
"Buat apa kalian kemari?!" bisik Jihoon, mengalihkan fokus Jinyoung yang hendak menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Jinyoung mendongak, menatap wajah Jihoon yang nampak terganggu.
"Makan tentu saja."
"Kenapa harus disini hah?"
Jinyoung menghela nafasnya jengah. "Meja lain penuh."
"Usir saja mereka."
"Please, ini bukan koridor belakang."
"Kalau begitu, pergi saja!"
"Jihoon? Kau kenapa?" Sungwoo menatap Jihoon dengan alis terangkat. Acara melanjutkan makannya terganggu ketika mendengar Jihoon berbisik keras dengan nada penuh penekanan di tiap kalimatnya. Jihoon menatap Sungwoo dalam, mengirimkan sinyal memohon pada kakak kelasnya untuk membantu dirinya.
"Kurasa Jihoon hyung hanya terkejut. Kita belum pernah makan dengan siapa–siapa 'kan?"
Terkutuklah kau Joo Haknyeon!
"Temanmu tak ada yang protes. Berhenti menatap seperti itu," kembali Jihoon menatap Jinyoung yang baru saja berbisik padanya. Tatapan kesal masih Jihoon sematkan di netranya. Ah, wajah itu kini sudah semasam lemon.
"Menyingkir dari sini!"
"Kami tidak mengotori meja kantin kebanggaanmu ini Park."
Sial!
"Jihoon, kau oke?"
Tidak, Jihoon tidak dalam keadaan baik–baik saja!
Tolong seseorang sadarkan Sungwoo bahwa Jihoon sedang menahan rasa kesalnya mati–matian.
"Oh, aku oke. Aku duluan, permisi."
"Yak Jihoon! Kau belum menghabiskan makananmu!"
Jihoon tak menoleh. Mana sudi ia menoleh. Mungkin ia harus minta maaf atas sikap kasarnya yang mengabaikan Sungwoo yang memanggilnya terus menerus. Lupakan sejenak dengan sopan santun oke? Yang terpenting, Jihoon kabur dari sana sekarang juga.
"Kalian belum memberitahunya?"
"Eh, memberitahunya apa?"
"Ah, bukan sesuatu yang penting, Hyungseob–ah."
"E~h, Hyungseob hyung, sepertinya mereka merencanakan sesuatu."
"Eum! Aku juga merasa begitu."
"Bukan sesuatu yang serius, sungguh."
.
.
Jihoon terbelalak melihat Jinyoung dengan santainya duduk disebelahnya. Kenapa adik kelasnya itu ada disini? Di rooftop juga? Jihoon sedang butuh waktu sendiri, dan adik kelasnya itu kemari? Sepertinya adik kelasnya itu memiliki motivasi untuk menggangu Jihoon.
"Menying–"
"Jihoon hyung."
Eh?
"Tunggu, a–apa? Ba–barusan–"
"Park Jihoon hyung."
Rahang Jihoon bergerak turun, terus turun hingga mulutnya terbuka lebar. Netranya tak berkedip satu kalipun. Barusan.. barusan Jinyoung bilang apa? Hyung? H.Y.U.N.G? Okay, Jihoon pasti mimpi untuk yang satu ini.
"Aku sudah berbicara formal dan kau malah terkejut."
Jelas Jihoon terkejut!
Apa–apaan ini? Salah satu cara menyogok yang baru?
"Jihoon Park."
"A–apa?"
"Kau belum tau tentang yang satu ini kurasa."
Tau apa lagi? Jihoon terlalu banyak menerima informasi rasanya, sampai–sampai ia tak bisa mencernanya satu persatu. Jihoon menaikkan alisnya perlahan, menanyakan apa maksud Jinyoung secara non–verbal.
"Tidak, tidak jadi."
"What the..? Kau mau kulaporkan hah? Tuan Bae akan lebih percaya denganku asal kau tau."
"Apa? Aku tidak sedang melakukan kekerasan denganmu."
Checkmate.
Mati sudah Jihoon.
"Terserah brengsek."
"Lihat? Kau yang mengataiku brengsek."
"Pergi saja bisa tidak?"
"Kemana?"
"Ya pergi dari sini! Kau pikir ke taman hiburan hah?" Jihoon menggerakkan tangannya, bersiap melemparkan sepatunya yang sudah ia lepas. Jinyoung menarik sudut bibirnya, memasang senyuman terlebar seorang Bae Jinyoung yang pernah Jihoon lihat.
"Kedengarannya menarik."
"Apanya? Pergi dari sini? Tentu saja, hariku akan lebih baik jika–"
"Akhir pekan kau sibuk?"
Tunggu, apa?
"Lotte World, deal?"
Hah?
Apa yang– apa ini?!
.
.
.
–TBC–
a/n: Jadi, ada yang merasa chapter ini aneh tida?
Dd sih iya.
Jujur, ini chap termager ngetik.
MYANEEE HUHU:""
Maafkan kalau chap ini kurang memuaskan atau gimana:""
.
Anyway, untuk yang haus akan SamHwi, dd udah bikin FF oneshot SamHwi nih.
Jangan lupa RnR yaaa disebelah.
.
Dan untuk reader yang menyemangati belajar JY, terima kasih banyak:"
Untuk dua reader spesial yang bilang saya tida usah belajar dan pasrah saja...
MAUNYA SIH GITU:"""
Ah tapi nanti kalau nilainya turun, album SVT dd dibumi hanguskan gimana:"
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
