JY present

Delinquent Student

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Twelve
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!

.
.
.


LAST CHAPTER


"Kenapa kau belum memberitahukannya pada Jihoon?"

"Lalu apa? Membuatnya terkena serangan jantung mendadak? Terima kasih atas usulanmu, Kang."

"Harusnya kau memberitahunya," Daniel memajukan bibirnya, menampilkan aegyo menggelikan miliknya. Sungwoo, lawan bicara Daniel, menyentil dahi pemuda Kang itu keras. Cukup, ia tak tahan dengan aegyo mengerikan itu. Daniel dan aegyo adalah hal yang tak bisa digabungkan bersama. Karena sungguh, itu sangat menggelikan. Tidak cocok. Tidak tidak tidak.

"Menggelikan. Lagipula, kenapa terburu–buru, Jihoon saja masih memandang kalian takut begitu."

"Lebih cepat lebih baik 'kan?"

Sungwoo memutar bola matanya diiringi helaan nafas panjang. "Menurutmu saja, Kang."

"Aku se–"

"Okay cukup, jangan aegyo."

Daniel berdecak dalam posisinya. "Okay, no aegyo."

"Ah, kau tau? Tadi aku memanggil Dongbin."

"Oh, aku lihat. Kenapa hm?"

"Dia gemetaran, kasihan. Kau membuatnya ketakutan. Padahal aku hanya ingin bertanya saja padanya."

Daniel mendongak, memperhatikan wajah Sungwoo dari bawah. "Kenapa aku? Aku tidak disana, right?"

"Kurasa satu sekolah sudah tau."

"Oh? Baguslah."

"Bagus apanya hah?" telapak Sungwoo berpindah, menyarangkan tamparan cukup keras di pipi Daniel. Alisnya tertaut, menunjukkan rasa kesalnya pada Daniel. Sang surai pink terkekeh melihat bagaimana Sungwoo menekuk wajahnya. Ia tau, Sungwoo bermaksud untuk menunjukkan raut marahnya, tapi sayang, bagi Daniel pemuda Ong itu tengah beraegyo padanya.

"Kau tak suka?"

"Bukan begitu, hanya saja.. kabarnya menyebar terlalu cepat."

"Sudahlah, kau harus terbiasa dengan bisikan mereka."

"Terserah, Kang."

"Ey, aku serius. Kau akan sering dibicarakan mulai sekarang."

"Ya, aku tau."

Sungwoo tau, dengan jelas.

Tak apa, toh ia sudah tau resikonya akan seperti ini.

Telapak Sungwoo bergerak kembali, merapikan helai rambut Daniel yang terhembus angin. Beruntung rooftop tengah sepi, sehingga tak ada yang melihat keduanya. Sungwoo belum siap mendengar kalimat: 'oh wow, apa kalian percaya? Aku dengar, ada yang melihat Daniel tengah tiduran di paha Sungwoo di rooftop. Dan tebak? Katanya, Sungwoo mengelus surai Daniel! Oh oh! Sesekali ia mengelus pipi Daniel juga.' yang mungkin akan dilontarkan murid lain jika mereka melihat Sungwoo dan Daniel di rooftop saat ini.

Tidak, dia belum siap jadi bahan pembicaraan sepeti itu.

Dia bukannya takut. Untuk apa takut?

Dia hanya.. malu?

"Kukira kau akan pergi juga."

"Tidak," Sungwoo menunduk, memberikan kecupan kilatnya pada dahi Daniel. "Aku masih disini, see?"


.

.


"Haknyeon hyung?"

"Hm?" Haknyeon menoleh, menatap langsung pada Euiwoong yang duduk disebelahnya. Untungnya Siyeon mau bertukar tempat duduknya, sehingga ia kini menempati kursi tepat disebelah Euiwoong. Tak gratis tentunya. Ia harus rela membelikan Siyeon banyak camilan untuk menyogok gadis itu agar menyerahkan kursinya pada Haknyeon.

"Ah tidak, hanya memanggil saja."

"Ey, ada apa?"

"Tidak, sungguh tidak ada– Ah, Ryu ssaem melirik kemari."

"Sejak kapan Joo Haknyeon duduk di sebelah Lee Euiwoong?"

Haknyeon menoleh, memperhatikan Ryu ssaem yang menatap keduanya tajam. Haknyeon tersenyum lebar, menampilkan deret gigi putihnya pada sang guru.

"Siyeon bilang, ia tak nyaman duduk di belakang. Ia tak jelas melihat papan tulis."

Haknyeon akan minta maaf pada Siyeon nanti. Biarlah gadis itu melotot kesal padanya dengan kedua jari tengah yang terangkat. Untung Ryu ssaem tak memergoki tingkah gadis kelahiran 2000 itu.

"Lain kali, diskusikan dulu, paham Joo Haknyeon?"

"Ah, baik ssaem."

Dan saat guru itu berbalik, kembali menuliskan entah apa itu di papan tulis, Haknyeon menoleh menatap Euiwoong lagi. Aduh, namja satu itu.. kenapa bisa semanis ini? Jantung Haknyeon selalu saja berdetak kencang saat melihat Euiwoong. Terserah Euiwoong itu berandalan atau apapun itu. Karena menurutnya, Euiwoong tetaplah Euiwoong, pemuda yang selalu imut dan manis dimatanya.

"Ah sial, jantungku. Ah.."

Euiwoong menoleh kecil, raut cemas terlukis di wajah mungil itu. "Hyung, kau sakit?"

"Apa? Oh tidak, aku baik–baik saja."

"Serius? Wajahmu memerah hyung."

Ah, ini karena kau, Lee Euiwoong.

"Wajahku memerah?"

"Eum!"

"Coba mendekat, aku mau melihatnya di matamu," Haknyeon menggerakkan jarinya, mengisyaratkan pada Euiwoong untuk mendekat. Iris Euiwoong bergerak sejenak, memperhatikan apakah Ryu ssaem tengah menoleh kemari.

"Sudah?"

"Tunggu sebentar," Haknyeon melirik sekitarnya cepat. Memastikan keadaan. Okay, mereka aman.

CUP

"Sudah."

"E–eh?" wajah Euiwoong seketika memerah. Rona malu menjalar di wajahnya cepat. Tangannya refleks menyentuh bibirnya yang baru saja menjadi sasaran kecupan kilat Haknyeon.

Ah, untung saja mereka duduk di belakang.


.

.


"Eh? Woojinie?"

"Hyungseobie?"

Keduanya sontak memundurkan tubuh mereka, terkejut dengan pertemuan tak terduga ini. Awalnya, Hyungseob hanya ingin pergi ke toilet saja, panggilan alam. Siapa sangka ia akan bertemu Woojin di toilet? Namja itu tengah membasuh tangannya ketika Hyungseob melangkah masuk.

"Wow, bagaimana bisa eh?"

"Kau mengikutiku 'kan?"

Woojin tertawa pelan. "Mana mungkin. Lebih baik aku menemuimu langsung dari pada mengikutimu seperti penguntit."

"Oh, okay, aku mantan penguntit. Aku terluka dengan kata–katamu."

"Apa? Tidak, bukan itu maksudku babe," Woojin mendekati Hyungseob dengan raut bersalah. Ia tidak bermaksud menyinggung soal Hyungseob yang menguntitnya, sungguh. Ia justru senang di ikuti oleh Hyungseob kemana pun. Karena dengan itu, ia jadi bisa memantau keadaan Hyungseob.

"Aku tak percaya."

"Err, aku serius. Aku tak masalah soal itu. Sungguh," jemari Woojin terangkat, membentuk huruf V di dekat wajahnya.

"Hm."

"Ey, jangan marah begitu."

"Aku tak marah."

Woojin meringis melihat wajah masam Hyungseob. "Jangan bohong."

"Sudah pergi sana. Aku tak marah!"

Bohong.

Hyungseob menghentakkan kakinya, berjalan menjauh dari Woojin. Okay, lupakan saja Woojin sejenak. Tujuan awalnya kemari untuk ke toilet 'kan? Baru saja ia hendak melangkah masuk ke dalam salah satu bilik toilet, tangannya sudah ditahan oleh sosok dibelakangnya. Tangannya ditarik cukup keras hingga refleks tubuhnya terputar ke belakang, kembali menghadap Woojin.

"Apa–"

Hyungseob terbelalak saat merasakan lumatan dalam bibir Woojin yang langsung menyapa bibirnya. Kedua matanya terpejam rapat. Ia tak mau membuka matanya, ia tak siap menatap balik iris Woojin yang menatapnya tajam.

Oh, tentu saja. Woojin dan kelebihan hormonnya.

Lumatan Woojin semakin di perparah dengan lidahnya yang entah sejak kapan sudah bergerak masuk menjelajahi mulut Hyungseob. Hyungseob merintih. Ia ingin memohon pada Woojin untuk melepaskannya dan membiarkannya mengambil nafas. Tapi ia tak bisa, tubuhnya kaku bahkan untuk sekedar menggerakkan bibir saja.

Lengan Woojin merengkuh tubuh Hyungseob, menipiskan jarak antara keduanya. Tak peduli dengan wajah Hyungseob yang sudah memerah, ia tetap tak memutuskan tautan keduanya. Lengan kanannya bergerak turun menuju pinggang Hyungseob dan meremasnya pelan. Mengabaikan fakta bahwa nafas Hyungseob sudah tersenggal. Barulah ketika pukulan pemuda Ahn di dadanya melemah, Woojin melepaskan lumatan keduanya.

"Mau kutemani di dalam bilik?"

"Jangan– hahh bercanda!"

"Aku bisa membolos–"

"Woojin Park!"


.

.


"Lotte World, deal?"

"Hah? Tu–tunggu, apa?"

"Aku mengajakmu jalan–jalan."

"Apa? A–aku sibuk belajar!"

"Di akhir pekan? Pfft, jangan bercanda."

Eh, apa kebohongan Jihoon semudah itu ditebak?

Jihoon menunduk dengan wajah memerah hingga kedua telinganya. Diabaikannya Jinyoung yang tertawa pelan di sebelahnya. Jihoon tak sanggup mengangkat wajahnya saat ini. Ia malu. Malu atas segalanya. Atas kebohongan menggelikannya, atas tawaran Jinyoung, atas.. wajahnya yang memerah.

"A–aku–"

"Aku tak menerima penolakan."

"T–tapi.. kenapa?"

"Kenapa?" Jinyoung menautkan alisnya kebingungan. "Apa salah aku mengajakmu kencan?"

Kencan?

Kencan?

Kencan?

Nyawa Jihoon sudah melayang separuh saat ini. Dan ketika Jinyoung mendekatkan wajahnya, memberikan lumatan di bibirnya yang belum pernah berciuman dengan siapapun, nyawa Jihoon sudah pergi meninggalkan tubuhnya. Jihoon kosong, bukan secara harfiah tentunya. Wajahnya kini persis seperti Hyungseob yang baru saja kehabisan snack kesukaannya di toko kelontong. Hampa, kosong, penuh keterkejutan, dan.. kaku. Bahkan ia tak bisa menggerakkan jarinya sedikit pun. Tubuhnya itu seakan menyuruhnya untuk tetap diam dan menikmati lumatan Jinyoung.

Eh, apa?

Okay, Jihoon mulai gila sepertinya.

Jinyoung melepaskan lumatannya di bibir Jihoon saat menyadari nafas yang lebih tua tersendat. Diperhatikannya wajah Jihoon yang merah padam. Jihoon hanya bisa berkedip berulang, otaknya masih sibuk memproses apa yang baru saja terjadi.

Ia.. dicium Bae Jinyoung?

"Hey, berkediplah. Jangan menatap kosong seperti itu," Jinyoung melambaikan tangannya di depan wajah Jihoon. Ia terkekeh melihat Jihoon yang akhirnya bisa menggerakkan lehernya untuk mendongak memperhatikan Jinyoung.

"K–kau.. me–me.. me–"

"Menciummu?"

Jihoon mengangguk kaku.

"Apa itu salah juga?"

Kepala Jihoon bergerak, menggeleng perlahan.

"Lalu?" Jinyoung mengacak surai Jihoon gemas. Senyumannya tak pernah luntur sedari tadi. Ini pasti hari bersejarah, mengingat Jinyoung tak pernah tersenyum selama ini. Bukankah bagus, seorang Bae Jinyoung bisa tersenyum juga pada akhirnya?

Jihoon masih terdiam. Bahkan saat Jinyoung menggodanya dengan memberikan kecupan kecupan singkat di pipinya atau dahinya atau bahkan kelopak matanya, Jihoon masih belum mampu memberikan respon apapun selain berkedip atau melebarkan kelopak matanya yang sudah terbuka lebar.

"Kau tidak pingsan dengan mata terbuka 'kan?"

Jihoon menggeleng.

"I–itu.. c–ciuman– ekhem, pertamaku"

"Oh benarkah?" Jinyoung melebarkan senyumnya, menampilkan deret rapi giginya. "Baguslah kalau begitu."

"E–eh?"


.

.


"Apa kau sudah dengar? Ong Sungwoo berpacaran dengan Kang Daniel!"

"Serius? Heol, bagaimana bisa? Mereka bagaikan langit dan bumi!"

"Ini seperti drama, ketika murid teladan berpacaran dengan berandalan."

.

"Park Woojin dan Ahn Hyungseob?! Heol, daebak! Itu tidak mungkin!"

"Kudengar, mereka bahkan sudah bertunangan sejak kecil."

"What the?! Ey, jangan bercanda!"

.

"Lee Euiwoong? Berandalan itu? Yang– astaga, Lee Euiwoong yang itu 'kan?"

"Memang Lee Euiwoong yang mana lagi hah?"

"Tapi– itu mustahil! Mana mungkin ia bisa berpacaran dengan Joo Haknyeon!"

.

"Tidak, tidak mungkin. Jangan bercanda."

"Aku juga tak percaya! Mana mungkin itu terjadi!"

"Jelas! Apa kau gila? Park Jihoon sang ketua Organisasi Siswa berpacaran dengan Bae Jinyoung? Heol."

"Memang sih Bae Jinyoung itu tampan. Tapi.. itu mustahil! Ini sangat tak bisa dipercaya."

"Tapi banyak yang melihat mereka berpacaran di koridor belakang!"

"Koridor belakang? Mereka berpacaran di sarang para berandalan itu? Heol heol. Park Jihoon benar–benar.. wah, aku tak bisa berbicara apapun soal mereka."

"Benar, aku juga sangat speechless. Sangat."
.
.
.
–END


a/n: SELESAI.
Iya selesai. Nanggung banget 'kan?
IYA AMPUN HUHU:""
TENANG SAUDARA SAUDARA, TENANG.
Kabar baiknya adalah...

.

SAYA UDAH SIAPIN SPECIAL CHAP UNTUK TIAP COUPLE.
YEEEAYYYY
HARAP BERSABAR JUSEYOO
Update untuk special chap bakal lama, karena UKK sudah di depan mata.
Mana saya kebentur kegiatan sekolah, belajar jadi ga efisien cih.

.

Nggak kerasa ya ini FF udah selesai aja, perasaan baru di rilis kemarin.
Jadi sedih dd:"
Anyway, kayaknya banyak yang salah di FF SamHwi sebelah nih.
Yang mutusin Muel itu Daehwi beb, bukan Muel yang mutusin Daehwi:"
Dan itu udah oneshot aja, karena emang mau bikinnya nanggung.
Ahli ya saya kalau urusan END gantung gitu:"

.

SexYeol: Jadi, P! Itu maksudnya Park. Semuanya itu marga mereka ehe

Rfay17: Jadiii, Park Woojin itu yang manis yang gingsul yang bias saya nomor 2 setelah Daniel /slap. Woojin yang ini yang dari BNM sama Daehwi, Youngmin, Donghyun. Kalau yang maknae itu Lee Woojin sayang.

icahncan: Dih kalau saya hibahkan ke kamu, kamu enak langsung dapet 3 album ntar:" NILAI SAYA JANGAN TURUN AAAA:""

hamipark76: YASS, kamu benar dalam menebak. Si Dongbin udah tau kalau mereka udah taken. Kabarnya menyebar cepat wkwkwk.

.

SEE YOU GUYS!
XOXO,
Jinny Seo [JY]