JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Special Chapter
of
Haknyeon Joo and Euiwoong Lee
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
.
.
.
Haknyeon melirik pada sosok manis berbalut jeans gelap dan kemeja hitam kebesaran di sebelahnya yang masih terfokus dengan layar raksasa bioskop. Sesekali tangan sosok di sebelahnya bergerak, mencari popcorn yang ia peluk erat. Ah.. kenapa bisa ada namja semanis Euiwoong di dunia ini. Dan Haknyeon merasa telah menjadi seorang pemuda paling beruntung di dunia karena ia berhasil meraih Euiwoong dalam genggamannya. Haknyeon menarik sudut bibirnya ke samping, melukiskan senyuman aneh disana. Sementara ia tenggelam dalam fantasinya, ia tak menyadari bahwa Euiwoong sudah menoleh padanya.
"Hyung?"
Haknyeon tersentak, tersadarkan oleh bisikan Euiwoong yang sebenarnya tak sekeras itu.
Euiwoong berkedip sejenak. "Kenapa melihatku terus? Ada yang salah?"
"Tidak, tidak ada. Kau manis seperti biasa."
Haknyeon memang tak bisa melihat jelas, tapi ia tau, Euiwoong tengah merona sekarang. Aduh, manisnya. Telapak Haknyeon bergerak, mengelus bagian belakang kepala Euiwoong lembut.
"Fokus pada filmnya hyung. Kita disini untuk menonton 'kan."
Apanya?
Selama ada Euiwoong di dekatnya, mana bisa Haknyeon fokus.
Haknyeon tersenyum. "Aku sedang menonton."
"Kau melirikku terus dari tadi."
"Aku menontonmu."
Euiwoong menghela nafasnya. Ini dia. Haknyeon dan segala kata–kata manisnya. Kalau boleh jujur, Euiwoong merasa sebal saat Haknyeon sedang dalam mode cassanova seperti ini. Mendengar seluruh gombalan Haknyeon sukses membuatnya mual. Herannya, pipinya tetap saja bersemu. Sial.
"Filmnya di depan, bukan di wajahku."
"Wajahmu lebih indah dari film itu."
Benar 'kan?
Gombalan Haknyeon memang terbukti membuat mual.
Euiwoong berdecak. Tangan kirinya bergerak mencubit lengan yang lebih tua. Tidak keras tentu saja. Ia tak mau membuat keributan dengan pekikan Haknyeon di dalam teater bioskop.
"Kau membuatku mual, hyung."
"Tapi pipimu memerah tuh?"
Sial.
Mau tak mau Euiwoong menundukkan kepalanya dalam.
Haknyeon tertawa pelan. "Berhenti menjadi manis dulu, baru aku berhenti mengatakan hal hal seperti itu lagi."
"Maaf ya hyung," Euiwoong memajukan bibirnya beberapa senti dengan pipi menggembung. "Aku memang terlahir seperti ini. Dan aku tidak semanis itu tau? Sepertinya kau harus kuajak saat aku menghajar orang, biar kau lihat betapa manisnya aku saat itu."
"Kau sudah menghajar otakku dan membuat syarafku kecanduan."
Ih, menggelikan.
Kalau saja mereka tidak di keramaian seperti ini, atau Haknyeon adalah orang lain, Euiwoong pasti sudah menghajarnya sampai– yah kalian tentu tau, hingga parah. Atau mencekiknya mungkin? Terdengar bagus. Kabar baiknya adalah Haknyeon tak pernah masuk dalam list orang yang harus ia hajar meski pemuda Jeju itu sering membuatnya muak. Euiwoong mana bisa menghajar orang yang ia cint– eh.
"Mau ku lempar sepatu ya?"
"Lempar hatimu saja bagaimana?"
Euiwoong boleh muntah saja?
Sebenarnya, bibi Joo mengidam apa ketika hamil Haknyeon sampai sampai anaknya memiliki segudang ucapan menggelikan itu?
"Hyung~," Euiwoong menautkan alisnya kesal. Wajahnya memang marah, tapi Haknyeon tau, Euiwoong tengah beraegyo. Aduh, jantung Haknyeon mana bisa menahan serangan aegyo Euiwoong.
"Okay okay, aku berhenti," Haknyeon menghela nafas. Sudah, ia pasti kalah kalau Euiwoong mengeluarkan aegyonya. Fokus Haknyeon berpindah, kembali pada layar besar bioskop yang tengah menampilkan adegan balap mobil.
Balap mobil?
Tentu saja, ini adalah film pilihan Euiwoong.
Haknyeon sempat menolak awalnya. Karena sepengetahuannya, pasangan yang pergi berkencan akan menonton film bergenre romantis, atau drama, atau sejenisnya. Siapa sangka Euiwoong akan memilih film 'brutal' begini? Tapi, lagi lagi Haknyeon luluh dengan aegyo Euiwoong. Mata yang membulat penuh harapan itu selalu sukses membuat Haknyeon mengalahkan egonya. Padahal, kalau bertanya dengan noona Haknyeon atau saengnya, mereka pasti akan serempak mengatakan bahwa Haknyeon adalah pria paling egois yang pernah mereka temui.
Ya sudah, mau bagaimana lagi? Selama Euiwoong menikmati apa yang mereka lakukan, Haknyeon tentu akan mengikuti saja.
"Hyung tak suka filmnya ya?" Haknyeon menoleh, memperhatikan Euiwoong yang menatapnya sendu. Haknyeon bukannya tak suka, ia hanya jarang saja menonton film dengan genre seperti ini. Jadi yah.. ia tidak terlalu terbiasa.
Kepala yang lebih tua menggeleng. "Tidak, aku suka kok." Bonus, sebuah senyum tersemat di akhir kalimatnya.
"Maaf hyu–"
"Kenapa minta maaf? Aku menikmatinya, Euiwoong–ah," alis Haknyeon tertaut tak nyaman melihat raut gloomy di wajah Euiwoong. "Serius, aku tak apa. Kau suka film ini 'kan?"
Kepala pemuda Lee itu bergerak naik turun ragu.
"Ya sudah," Haknyeon mengacak surai hitam legam Euiwoong gemas. "Kita nikmati saja filmnya, right?"
Setelahnya, keduanya terdiam. Haknyeon nampak fokus memperhatikan film sementara Euiwoong justru menunduk, tenggelam dalam pikirannya. Haknyeon menyadarinya dalam beberapa menit setelahnya. Punggungnya membungkuk perlahan sementara kepalanya menoleh, mengintip wajah Euiwoong yang tertunduk.
"Hey? Kau sakit?"
Euiwoong mendongak cepat. Irisnya mengedip beberapa kali, memproses apa yang baru saja berlangsung. Kepalanya bergerak menggeleng.
"Kau kenapa, Euiwoong–ah?"
"A–aku baik, hyung."
"Kenapa menunduk begitu?"
Euiwoong menahan nafasnya. Hatinya berteriak, menyerukan kata 'sekarang saatnya' berulang dengan keras. Dengan tangan terkepal dan nafas yang tercekat di tenggorokannya, Euiwoong mulai menggerakan bibirnya ragu.
"Akumenyayangimuhyung."
Astaga, kenapa jadi rap begitu.
Ini pasti karena Daniel hyungnya sering mengajaknya rap battle.
Euiwoong mendongak, memperhatikan Haknyeon yang melongo di kursinya. Apa ia mengucapkannya terlalu cepat ya? Tapi, mana bisa ia mengulang ucapannya lagi. Ia malu! Mau di taruh di mana wajahnya? Pangkuan Haknyeon? –eh.
Euiwoong meringis bersalah. Perlahan, pemuda Lee itu kembali menundukkan kepalanya. Fokusnya kini beralih pada sepatu putih kesayangan –eh, tunggu–
Euiwoong mendongak cepat. Irisnya melirik telapak tangan Haknyeon yang sudah bertengger di pucuk kepalanya dan mengelusnya perlahan. Euiwoong jelas tak bisa menahan semburat merah yang menjalar hingga telinganya. Dan.. astaga, tolong hentikan senyuman manis Haknyeon itu! Jantung Euiwoong seakan luruh melihatnya.
"Aku juga menyayangimu, Lee."
Ah, detak jantung sialan.
.
.
.
–END–
a/n: Lagi, saya tergoda untuk update.
Ah sudahlah, pasrah aja sama ujian.
Dd udah nyerah.
BTW, WOOJIN MA SEXY BABY OH MY LADY SAKIT YA;_;
ADUH, BEBEB KENAPA BISA SAKIT;_;
.
Ah, tadinya sih mau JinSeob dulu yang di update, soalnya chap JinSeob selesai duluan.
Tapi pengennya HakWoong aja;_;
Nanti malam, JY bakal update lagi special chap.
Inget yaa, ntar malem. Seperti biasa, sekitar jam 9 JY bakal update.
Oh iya. JY bawa kabar baik nih.
Jadiii, JY bakal bikin special spin-off! /tepuk tangan ala Jisung/
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
