JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Special Chapter
of
Woojin Park and Hyungseob Ahn
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Rating T++ mengingat ini kapel JinSeob]
.
.
.
Woojin bergerak pelan, menyamankan posisinya yang tengah tiduran di paha Hyungseob. Jangan tanya kenapa Woojin bisa di rumah Hyungseob kini. Salahkan kedua orang tua Hyungseob yang dengan santainya meninggalkan anaknya keluar kota dan mengatakan bahwa Woojin akan menemaninya beberapa hari ini.
Iya, Woojin menginap dirumahnya.
Tidur di kamarnya bahkan.
Di satu ranjang yang sama pula.
Baru satu malam mereka lewati dan Hyungseob sudah menyerah tidur di sebelah pemuda gingsul itu. Mana bisa tidurnya nyenyak sepenuhnya kalau sesekali Woojin memeluknya erat atau bahkan mengecupi seluruh wajahnya dan lehernya. Tolong tahan Hyungseob untuk tak menendang tunangannya itu. Bagi Hyungseob, Woojin adalah sekantung hormon yang hidup dan berjalan. Dan kelebihan hormonnya itu adalah hal yang melemahkan Hyungseob setiap saat.
Seperti saat ini.
Mereka memang tengah menonton tv. Pada awalnya begitu. Sebelum Woojin sesekali mengecupi perut Hyungseob dari balik kausnya, mereka memang sedang menonton tv dengan fokus kok.
"Woojinie, aku sedang ingin nonton tv!"
Woojin mendongak. "Lalu? Kau tinggal menontonnya."
"Mana bisa aku fokus kalau kau begitu hah?" jari Hyungseob bergerak menuju perut Woojin dan mencubitnya keras. Harus keras, kalau tidak, cubitan Hyungseob akan terhalang abs pemuda Park itu.
Woojin mengerang. Segera ia bangkit dari pangkuan Hyungseob dan menunduk dengan lengan yang melingkari perutnya, menahan sengatan rasa sakit yang Hyungseob berikan padanya. Hyungseob tersenyum penuh kemenangan. Fokusnya segera ia alihkan kembali pada acara tv kesukaannya yang tengah terputar.
"Itu sakit, kau tau?"
"Lalu kenapa? Jangan ganggu aku ma– Oh! Woojinie Woojinie!" Hyungseob menepuk dahinya pelan, baru teringat akan sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Woojin. Woojin menoleh dengan tatapan tajamnya.
"Apa?"
"Kata Jihoon, di sekolah kita ada berandalan. Memangnya ada?"
Duh.
Lalu yang di sebelah Hyungseob saat ini siapa memangnya?
"Ada, salah satu anggotanya sedang duduk di sebelahmu saat ini."
Hening.
"EH?!" Hyungseob terbelalak. Mulutnya terbuka tertutup, persis seperti ikan yang sedang makan. Tangannya menunjuk gelagapan pada Woojin yang tersenyum miring dengan gingsul yang menghias disana.
"Tak usah terkejut begitu."
"HEEE?!"
"Aduh, Hyungseobie."
"HEEEE–"
Pekikan Hyungseob tertahan dibalik lumatannya dan Woojin. Lumatan Woojin tepatnya. Pemuda Park itu yang 'menyerang' Hyungseob lebih dulu. Hyungseob masih terbelalak, bahkan saat Woojin menahan tengkuknya dan memperdalam lumatan keduanya, Hyungseob tetap terbelalak.
Wajah Hyungseob sudah memerah, tapi Woojin belum menunjukkan tanda akan mengakhiri tautan keduanya. Lengannya mulai merambat masuk ke dalam kaus tipis Hyungseob, memberikan belaian pelan pada punggung pemuda Ahn itu. Hyungseob tak bisa menahan rintihannya akibat perbuatan Woojin. Bahkan ia sudah tak ingat sejak kapan posisi mereka jadi seperti ini, dimana Hyungseob terbaring di bawah kungkungan Woojin. Jarak tubuh keduanya bahkan hanya tinggal sejengkal saja. Untungnya Woojin ingat untuk tak menindih Hyungseob. Bisa–bisa tunangan kurusnya itu jadi pipih nanti.
Woojin mengakhiri lumatannya dengan gigitan pada bibir bawah Hyungseob. Ia menjauhkan wajahnya perlahan, menikmati melihat Hyungseob yang masih terpejam dengan nafas tersenggal dan bibir yang merah bengkak. Ah, manisnya Hyungseob saat ini.
"Sia– ahh Woojin!" Hyungseob baru saja membuka matanya dan berniat memukul Woojin sekeras mungkin. Sayang, ia gagal. Woojin sudah kembali menurunkan kecupannya pada leher Hyungseob. Sesekali lidah pemuda itu bergerak menjelajah disana. Jangan tanya bagaimana wajah Hyungseob saat ini. Merah pangkat tiga.
Hyungseob meremat pundak Woojin, dengan sisa tenaganya ia mendorong tubuh diatasnya untuk menjauh. Cukup berhasil, ia jadi bisa menghentikan kegiatan Woojin.
"Kau itu! Menyingkir sana!"
Woojin tertawa pelan. "Kenapa aku harus menyingkir?"
"Aku– aku kesulitan bernafas tau!"
"Aku berikan nafas buatan, bagaimana?"
BUAGH
"Aduh, kenapa memukul kepalaku?"
"Kau dan kelebihan hormonmu itu– Ah, terserah! Pergi sana!" Hyungseob beringsut dari bawah kungkungan Woojin, melarikan diri selagi pemuda Park itu merutuki rasa sakit yang baru saja mendera kepalanya. Kurus begitu, pukulan Hyungseob lumayan juga. Kalau di badan saja, Woojin tidak masalah. Tapi kepala? Aduh.
"Iya ini aku pergi, cih."
"Kulaporkan eomma lama–lama, mau hah?!"
Woojin menghela nafasnya tenang. "Mau tau apa yang eomma sampaikan padaku?"
Hyungseob menoleh, menatap Woojin dari jarak aman. Siapa tau Woojin 'menyerangnya' lagi 'kan? Memang, siapa yang bisa mengontrol luapan hormon Woojin? Tidak ada.
"Apa?"
"Woojin, bermain aman saja okay? Kalian masih harus sekolah."
Wajah Hyungseob memerah kembali. Tatapan kesal dan tak terbaca ia layangkan pada Woojin yang baru saja menirukan suara eommanya dengan payah. Semburat malu kelihatan jelas dari pendaran netranya. "YAK! Mana mungkin eomma bilang begitu hah!"
Woojin mengangkat bahunya dengan wajah tak bersalah. "Terserah saja kalau kau tak percaya. Aku hanya menyampaikan."
"Cih, berandalan apanya? Kau cuma sekantung hormon berjalan, tau?"
"Toh kau senang dengan kelebihan hormon ini. Bukankah itu bagus? Itu artinya aku sehat, bukan?"
Hyungseob melempar bantal sofa ke arah wajah Woojin keras. "Sehat apanya, dasar melantur!"
"Ya sudah kalau tak percaya. Aku ini sehat, dan aku tak seberandalan itu okay?"
"Bohong," Hyungseob memalingkan wajahnya. Bibirnya maju beberapa senti. "Kalau sampai korbanmu bilang kau sering memukul mereka, aku akan menolak bertemu dengamu."
"Hey, mana bisa!"
"Bisa saja."
"Kau mau kucium lagi ya?"
Hyungseob mengacungkan jari tengahnya pada Woojin. Mengabaikan fakta bahwa dia adalah seorang murid teladan di sekolah. Ya sudah, ini 'kan di rumahnya sendiri. Dan dihadapannya adalah tunangannya. Tidak apa sesekali berbuat menyimpang.
Padahal, mengacungkan jari tengah tak bisa di sebut menyimpang juga.
"Okay okay, aku jaga jarak."
Hening.
"Woojinie?"
"Hm?"
"Jadi– jadi..," Hyungseob menunduk. Woojin tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi melihat bagaimana cuping telinga Hyungseob yang memerah, dapat ia pastikan bahwa Hyungseob sedang merona.
"Jadi?"
"J–jadi, kau punya co –ehem coklat ba –uhuk.. tangan di perutmu itu karena kau.. berandalan?"
"Tidak juga," Woojin bersandar di sofa tenang, senyum miring terhias di wajahnya. Tangannya bergerak turun, meraih ujung kausnya dan mengangkatnya cukup tinggi. "Maksudmu ini 'kan?"
"YAK! Tutup bajumu, Park Woojin!"
.
.
.
–END–
a/n: Jadi gini..
Dd kangen Jinyoung micheotji sama eunki nih mendadak
Aduh gamon:" Dongsoo Namhyung juga:""
Ah tau ah, sedih dd:"
.
CIE TINGGAL KAPEL JINHOON NIH
Hehe, JinHoon di akhir yaakk. Habis JinHoon masih ada satu chapt spesial lagi kok, tenang aja.
.
Oh, btw, JY lagi ngerjain FF lain nih.
Dan castnya P101 S2 again yeaa!
Tapi bukan cerita anak sekolahan lagi.
Ya gitu dehh, gatau nih mau dilanjut atau nggak.
Kalau ide ngalir sih ya berarti lanjut ehe
.
BTW, GWS URI PARK WOOJINIE
Ngeliat Daniel sakit aja JY udah sedih.. tambah ini bias nomor 2 sakit juga.
Disitu saya merasa ingin menangis:)
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
