JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Special Chapter
of
Jinyoung Bae and Jihoon Park
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
.
.
.
LAST SPECIAL CHAPTER
Keduanya terdiam penuh kecanggungan. Salah satunya menunduk dan sesekali berdeham tak nyaman, sementara satunya hanya diam –oh, benar, pria itu memang jarang bicara. Jihoon melirik jalanan yang sudah basah karena hujan, berusaha menghilangkan kecanggungan dengan mengalihkan fokusnya.
Dan, ia gagal.
Tetap saja ia merasa canggung.
Telapak Jihoon bergerak, mengucap lengannya yang kedinginan. Hujan sialan. Harusnya ia bisa bermain ke Lotte World sekarang. Dan apa yang terjadi? Ia terpaksa terjebak di depan toko kelontong yang sudah tutup dengan baju yang cukup basah. Nasib baik mereka bisa menemukan tempat berteduh, kalau tidak, mungkin mereka akan basah kuyup sekarang.
"Kau kedinginan?"
Jihoon mendongak pada sumber suara, menemukan bagaimana Jinyoung menatapnya dengan datar. Cih, kencan dengan manusia tanpa ekspresi agak merepotkan rupanya.
"Ti– tidak juga."
"Bibirmu pucat," refleks Jihoon memundurkan kepalanya saat Jinyoung mengulurkan jarinya, bermaksud untuk mengusap bibir yang kini tak secerah biasanya. Jihoon terbelalak. Astaga, refleks menyebalkan ini. Lihat saja, karena tindakan bodohnya itu, Jinyoung jadi menatapnya dalam.
"Maaf, aku tak–"
"Tak apa, aku tau kau canggung."
Oh, sangat.
Jihoon sangat canggung.
Jihoon kembali melirik Jinyoung yang mulai melepaskan jaketnya. Setelahnya, rasa berat langsung menyapa dua pundaknya. Jaket hitam itu berpindah, membalut tubuh mungil Jihoon dengan pas. Memang kebesaran, namun terasa nyaman ketika Jihoon memakainya.
"Jaketmu.. bisa basah."
Jinyoung melirik sejenak. "Tak masalah."
"Ta–tapi–"
"Aku tak mau melihatmu sakit."
Oh, okay.
Tapi jantung Jihoon rasanya sudah mulai sakit. Degup organ itu tengah berpacu kuat seiring nafasnya yang memburu. Pipi Jihoon merona, Jinyoung bisa lihat itu. Sebuah senyum tipis terulas di bibir yang lebih muda.
"Sudah mulai hangat?"
"E– eh? Ah, tidak juga..."
"Tapi pipimu memerah."
Ah.
Menyebalkan.
Jihoon tertunduk dengan wajah yang semakin memerah. Badannya memang tengah kedinginan, tapi hatinya justru menghangat. Jinyoung menyebalkan. Kenapa harus ada manusia seperti Jinyoung di dunia ini? Untung saja Jinyoung hanya ada satu di dunia. Dan hanya untuk Jihoon. Jihoon tak bisa membayangkan jika orang lain yang menjadi kekasih Jinyoung. Apa mereka bisa tahan dengan seluruh sikap menyebalkan Jinyoung?
"Ini– ya, ini sudah hangat."
"Bohong."
"Aku tidak– astaga!"
Tubuh Jihoon oleng. Bisa tidak Jinyoung memberi peringatan terlebih dahulu kalau ingin mendekap Jihoon? Nyaris saja ia jatuh terjembab karena ulah Jinyoung yang secara tiba–tiba menariknya dan merengkuhnya.
"Sudah hangat?"
Hangat. Jihoon suka. Rasanya tubuhnya pas sekali dalam dekapan pemuda Bae itu. Jihoon berdeham. Kepalanya bergerak naik turun perlahan, malu untuk menjawab pertanyaan Jinyoung.
"Motormu.. kehujanan," telunjuk Jihoon bergerak, menunjuk pada kendaraan bermotor dengan cat hitam legam dan bertubuh besar yang terparkir mengenaskan di hadapan mereka. Jinyoung meletakkan kepalanya perlahan di pundak Jihoon.
"Tak masalah."
"Kau harus mencucinya nanti."
"Hm, aku akan mencucinya."
Pembicaraan itu berakhir disitu. Dan yah, canggung lagi. Jihoon sesekali bergerak tak nyaman dalam dekapan Jinyoung yang justru semakin mengerat. Astaga, Jihoon tak berniat kabur, kenapa juga ia harus di dekap seerat itu? Lee Jihoon, sepupunya, bahkan tak pernah mendekap Jihoon seerat ini ketika mereka sedang berebut makanan.
Jinyoung melirik Jihoon yang nampak tak nyaman. Di perhatikannya bagaimana pemuda Park itu terus melirik kesana kemari, mencari objek yang bisa mengalihkan rasa canggungnya.
"Kenapa?"
"A– apa?"
"Kenapa kau merasa canggung denganku?"
Astaga.
Haruskah Jihoon menjelaskannya sekarang? Ia belum bersiap untuk pidato.
"Eh.. Aku belum mengenalmu dengan baik."
Oh tentu saja, jawaban yang menjelaskan segalanya.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Aku.. tak tau. Aku belum pernah pergi.. seperti ini, dengan siapapun."
Jinyoung menarik sudut bibirnya kesamping. "Bolehkan aku merasa senang aku yang pertama mengajakmu pergi berkencan?"
Untuk kesekian kalinya, pipi Jihoon memanas kembali.
Jinyoung terkekeh pelan. Kecupan ringan ia berikan pada pipi yang lebih tua. Dan Jihoon jelas semakin merah padam dalam dekapan Jinyoung.
"Aku tidak bisa seromantis Daniel hyung. Atau semanis Euiwoong, atau seintens Woojin hyung."
"T– tidak masalah."
"Tapi aku yang paling posesif mungkin?"
Jihoon tidak masalah, sungguh.
Mau seperti apapun sikap Jinyoung, ia tak masalah. Karena ia sudah jatuh sepenuhnya dalam lubang yang disebut sebagai perasaan mencintai. Ia memang tak berpengalaman, tapi ia tau, perasaan yang tengah ia rasakan ini adalah perasaan mencintai.
"Aku.. tak masalah."
Jinyoung menaikkan alisnya. "Benarkah?"
Anggukan pelan Jihoon berikan sebagai jawaban.
"Kalau begitu, jangan berdekatan dengan Kim Jonghyun, aku tak peduli kalian ada di satu ekstra yang sama. Jangan berteriak mendukung Donghyun saat kelas kalian ada pertandingan basket. Jangan–"
Jihoon memutar tubuhnya cepat. Jari telunjuknya ia tempelkan pada bibir Jinyoung, memberikan sinyal pada pemuda itu untuk berhenti mengeluarkan kata jangan. Jinyoung mengernyit dalam.
"Tidak akan. Apapun itu, aku tidak akan melanggarnya."
Jinyoung tersenyum lebar, selebar yang ia miliki sejauh ini. "Kalau kau melanggarnya, aku harus menghukummu."
Jihoon berkedip dalam posisinya. "Menghukum? Kau akan memukulku?"
"Oh, tenang saja. Aku akan memukulmu dengan cara yang menyenangkan."
Terima kasih pada Woojin yang sudah melebihkan limpahan hormonnya pada Jinyoung, hingga pemuda itu bisa menjadi semesum ini. Dan terima kasih pada siapapun itu karena Jihoon tetap berkedip dengan raut polosnya, tak paham dengan ucapan Jinyoung.
"Memukulku dengan cara menyenangkan?"
Tahan Jinyoung, tahan.
"Seperti apa?"
Okay, ini Jihoon yang mulai.
Jinyoung meletakkan jarinya di dagu Jihoon, meminta pada pemuda yang lebih pendek darinya itu untuk mendongak. Detik berikutnya, bibir Jinyoung sudah mendarat di bibir Jihoon. Lumatan dalam terjadi disana. Jihoon memejamkan matanya rapat. Ia tak berani mengintip sedikit pun saat ini. Karena sungguh, ia malu.
Jinyoung mulai menekan tengkuk Jihoon, memperdalam lumatannya. Dan saat Jihoon mulai merintih, memohon pada Jinyoung untuk berhenti sejenak agar ia bisa menarik nafas, pemuda Bae itu justru menyelipkan lidahnya dan mengabsen satu persatu gigi Jihoon.
Lutut Jihoon melemas bak jelly. Untung saja ada Jinyoung yang menahan tubuhnya agar tak terjatuh atau limbung. Jihoon meremat pundak Jinyoung dengan sisa tenaganya, memberikan peringatan pada Jinyoung bahwa ia mulai kehabisan stok oksigen di paru–parunya. Jinyoung menatap tajam kelopak Jihoon yang tertutup rapat. Ia baru sadar wajah pemuda di depannya itu sudah semerah tomat. Perlahan, ia melepaskan tautan bibir keduanya. Jihoon segera menarik nafas panjang saat itu juga. Tak peduli dengan bibirnya yang terasa tebal dan berdenyut, ia hanya ingin mengambil nafas dulu sekarang.
Jari Jinyoung bergerak, merapikan surai Jihoon yang mulai basah karena keringatnya. "Aku baru saja memukul bibirmu."
"A–apa–"
"Itulah yang disebut memukul dengan cara menyenangkan, salah satunya.. dengan memukul bibirmu."
"O– oh, a– aku me–"
"Aku juga mencintaimu, Park."
"–ngerti. O–oh, uh.."
.
'Aku juga mencintaimu, Bae.'
.
.
.
–END–
a/n: HOREAYYY udah ke post semua ya kapelnya.
Tenang tenang, special spin-off sedang dalam masa pengerjaan.
Tapi mungkin bakal memakan waktu agak lama, mengingat dd harus ujian:"
Mau bikin spin-off yang agak panjang nih, doakan berhasil ya!
Habis JY sukanya nulis pendek pendek heu:"
.
AND GUYS, LET'S CHECK MY NEW FF!
[[At the Intersection]]
With uri bear family!
.
Dan ya beginilah nasib belajar saya.
Terbengkalai karena tergoda update.
Yaudah, saya pasrah:)
.
See you in the next special spin-off guys!
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
