JY present
Delinquent Student
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! HakWoong!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Haknyeon, J! Euiwoong, L!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
.
.
.
.
.
.
SPECIAL SPIN–OFF
.
.
LAST CHAPTER
.
.
.
"Hey."
Keheningan yang semula menjalar di antara beberapa insan terpecah kala salah satu diantara mereka, pemuda dengan surai pink manis, membuka suara setelah berdiam lama dalam lamunannya. Semua pasang mata langsung mengarah padanya.
"Ada apa, Niel hyung?"
Daniel, sang surai pink, menoleh menatap tiap pasang mata yang menatapnya dengan seringai. Euiwoong, sang penanya, mengerutkan alisnya keheranan. Apa yang terjadi selama Daniel melamun hingga ia justru menyeringai sekarang ini? Apa hyungnya itu baru saja berimajinasi yang 'tidak–tidak'?
"Aku punya kegiatan menyenangkan, untuk kita semua."
"Apa kita akan ke club? Aku dan Jinyoung hyung masih terlalu muda tau."
Daniel tertawa cukup keras mendengar kalimat protes Euiwoong yang notabenenya adalah adik kelasnya. "Tidak, bukan. Ini jauh lebih menyenangkan dari itu."
"Kita.. tidak akan menyewa jalang 'kan?"
Helaan nafas Daniel berhembus panjang mendengar jawaban pemuda yang duduk di sebelahnya. "Ayolah Woojin, kantungi dulu hormon–hormonmu itu."
Woojin mendesis dalam duduknya.
"Aku akan menolak kalau itu soal merokok. Aku masih sayang dengan organ tubuhku, hyung."
"Kalau bilang sayang dengan organmu tapi kau membiarkan orang lain memukulmu terlebih dahulu, kau sedang bercanda ya Euiwoong?"
"Memang ada apa hyung?" pemuda yang duduk di lantai, bersandar pada pilar di belakangnya, akhirnya membuka suara setelah memilih diam dan memperhatikan.
Daniel menarik seringainya semakin lebar. "Ayo buat permainan."
Kini, semua pasang mata disana menatapnya dalam dengan alis terangkat. Tatapan kebingungan jelas terlukis disana. Terutama Euiwoong. Karena setaunya, permainan adalah seperti menghajar orang hingga mereka nyaris pingsan atau berdarah–darah. Tapi sepertinya bukan itu maksud dari kalimat Daniel.
"Permainan?"
"Permainan apa?"
"Kalian tau anjing kerajaan, right?"
"Oh, maksudmu Park Jihoon hyung?"
"Ya, Jihoon."
"Ada apa memangnya? Apa dia mengganggu?"
Daniel tertawa pelan. "Tidak. Maksudku, kalian tau dia dan teman–temannya 'kan?"
Tiga kepala manusia mengangguk menjawab pertanyaan Daniel.
"Ayo bertaruh."
Euiwoong segera menegakkan tubuhnya mendengar kata bertaruh. Begitu pula dengan Woojin yang langsung menghentikan kegiatan memantulkan bola basketnya. Hanya pemuda dengan topi hitamnya, Bae Jinyoung, yang menaikkan alisnya santai, tampak tak tertarik dengan kata taruhan yang Daniel ucapkan.
"Taruhan apa?"
"Siapa yang mendapatkan salah satu diantara mereka terlebih dahulu, akan menerima keuntungan. Kita pikirkan nanti soal keuntungan itu," Daniel menarik nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dan aku tak mau mendengar kata 'jatuh cinta' disini."
"Kenapa?"
"Tentu saja kau akan kalah jika kau jatuh cinta."
Woojin mendecih. Tubuhnya ia sandarkan malas pada sandaran sofa. Meski begitunya, nyatanya ujung bibirnya terangkat samar, membentuk senyum terlalu tipis yang tak tampak jika tak diperhatikan dengan seksama.
"Lalu bagaimana dengan pembagiannya?"
Daniel tersenyum lebar untuk kesekian kalinya. "Kita akan berikan yang spesial untuk tuan muda Bae kita."
"Oh, astaga," Jinyoung bergerak, menjauhkan punggungnya dari sandarannya. "Jangan bilang– Park Jihoon?" desis pemuda itu tajam.
"Tentu saja!"
"Kalau begitu aku tidak ikut."
"Ayolah, Bae. Kita semua pas, empat pasangan."
"Memangnya kenapa harus mereka, hyung?" Euiwoong mendongak. Kelopak matanya beberapa kali mengerjap lucu. Ah, uke seribu satu kepribadian itu.
Perlahan, Daniel menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa. Tawa kecil lolos dari celah bibirnya. "Bukannya ini menyenangkan? Siswa berandal dengan siswa teladan. Ini akan jadi taruhan yang menarik."
"Kurasa beruang pink ini mulai terkontaminasi novel picisan."
"Ya, aku setuju dengan Woojin hyung."
"Sialan kalian."
"Lalu bagaimana pasangannya?"
"Sesuai tingkatan saja."
"Hah?"
Daniel menghela nafasnya dalam. Sabarlah Daniel, Euiwoong memang terkadang agak terlambat berpikir seperti itu. Sabarlah.
"Sungwoo ada di kelas tiga, maka dia denganku. Lalu kelas dua dengan Woojin, dan kelas satu dengan kalian berdua. Tapi, spesial untuk tuan muda Bae, ia akan mendapatkan Jihoon. Itu berarti, kau dengan murid kelas satu Euiwoong–ah."
"A~h! Okay, aku paham hyung!"
"Jadi– kapan kita mulai?"
"Well.. Now?"
.
.
Woojin menyeringai ketika kakinya melangkah keluar dari perpustakaan dengan bibir basah dan nafas yang masih berantakan, meninggalkan seorang pemuda lain yang baru saja ia pojokkan dan lumat bibirnya, Ahn Hyungseob.
Kepalanya masih saja dipenuhi dengan rekaman kejadian yang baru saja ia lakukan pada teman seangkatannya itu, mulai dari kemunculannya yang sengaja di hadapan Hyungseob, fans fanatiknya, sampai ketika ia mengecup bagian–bagian wajah pemuda Ahn itu dan meninggalkannya dalam keadaan shocknya. Kalau diingat lagi, Woojin masih bisa merasakan rasa manis dari mulut Hyungseob kala ia melumat bibir mereka itu. Rasanya.. yah, manis. Manis yang berbeda.
Manis yang– selalu membuatnya ketagihan.
Woojin mengacak surainya. Ah sial, sampai kapan ia harus bersembunyi dan menunggu seperti ini? Ada saatnya ia rindu dengan tunangannya itu. Tunangan? Yap, tunangannya, Hyungseob yang baru saja ia lumat bibirnya di perpustakaan tadi. Oh astaga, mana mau Woojin melumat bibir sembarangan orang, catat itu.
Ada saatnya dimana ia ingin memeluk tubuh Hyungseob. Mendekap tubuh kurus itu kuat dan takkan melepaskannya. Ada saatnya dimana ia ingin mengecup pemuda itu, memberikan rasa aman padanya. Ada saatnya dimana ia membutuhkan Hyungseob disisinya. Ada saatnya dimana.. ia benar–benar kehilangan harapan akan Hyungseob.
Andai saja ia tidak pergi ke Amerika untuk mengunjungi Lee Daehwi, sepupunya, saat itu. Pasti ia bisa menyelamatkan Hyungseob dari kecelakaan yang menghapus sebagian ingatan Hyungseob. Tak apa jika ia berganti posisi dengan nyonya Ahn yang mengalami patah tulang karena menyelamatkan Hyungseob, asalkan Hyungseob selamat, ia tak masalah. Tapi ia tak berdaya. Ia tak bisa berbuat apapun saat ia mengunjungi Hyungseob yang masih terbaring koma, atau saat Hyungseob sudah sadar dan kehilangan ingatannya. Woojin sadar, ia tak bisa memundurkan waktu.
Woojin ingin egois. Sekali saja, sekali saja ada kesempatan baginya untuk memutar ulang waktu. Sekali saja ia tak ingin mengalah dengan takdir yang terlukis untuknya maupun Hyungseob. Ia tentu takkan merasa kehilangan akan sosok Hyungseob selama sepuluh tahun ini. Padahal nyatanya, mereka sering sekali bertemu, entah itu Woojin yang memunculkan dirinya atau ia yang mengawasi Hyungseob dari jauh.
"Hah, taruhan bodoh," pemuda Park itu mendongak, menatap langit dari koridor sekolah. "Bahkan sebelum taruhan ini dimulai, aku sudah memenangkannya terlebih dahulu, dan kalah terlebih dahulu."
.
.
Daniel tak bisa menyembunyikan sudut bibirnya yang bergerak naik. Beberapa kali Yoon ssaem memergoki muridnya itu menyeringai atau melirik dinding di sebelahnya dengan tatapan– aneh. Dan Daniel sadar itu.
Apa ia peduli?
Tidak.
Masa bodoh, toh guru –pelawak– itu takkan menegurnya.
Tidak ada yang berani menegur Kang Daniel selama ini, yah selain anggota keluarganya dan.. Ong Sungwoo.
Ia jadi ingat saat dimana ia duduk bersebelahan dengan pemuda Ong itu beberapa bulan lalu. Awalnya, Daniel tengah menikmati tidur siangnya saat Ryu ssaem tengah menjelaskan apa itu notasi balok dan bla bla bla sebagainya. Daniel tak peduli apakah gurunya itu sadar ia tengah menjemput mimpi di tengah pelajaran. Selama ia bisa tidur nyenyak, maka ia takkan berulah. Baru sekitar tiga puluh menit Daniel memejamkan mata, nyaris saja petualangannya di dunia mimpinya dimulai, mendadak guncangan pelan menyergap tubuhnya. Daniel bangun, wajahnya tertekuk kesal, siap 'menyalak' pada pelaku yang baru saja membangunkannya.
Dan yang ia lihat adalah seorang pemuda berwajah mungil –sangat, tengah meletakkan tangannya di bahu Daniel dan menatap Daniel dalam. Daniel terpana, detik itu juga. Pemuda bersurai hitam yang ia ketahui bernama Ong Sungwoo itu berucap pelan namun penuh penekanan padanya, mengingatkan pada Daniel bahwa ia tak boleh tertidur selama pelajaran.
Daniel menarik sudut bibirnya. Bahkan ketika ia melihat Kim Jonghyun melirik mereka –atau Sungwoo– dengan tatapan tak percaya saat itu, Daniel tak bisa menahan bentangan senyuman di bibirnya.
Daniel mengerjap, menyadarkan diri dari lamunannya yang berlarut–larut. Iris matanya melirik pada Sungwoo yang nampak asyik menuliskan entah apa itu di bukunya. Memperhatikan bagaimana pemuda Ong itu sesekali menatap papan tulis dengan raut manisnya.
"Sial, aku akan kalah."
.
.
Euiwoong melirik berulang pada sosok yang kini tengah duduk di barisan depannya. Memperhatikan bagaimana pemuda bernama Joo Haknyeon itu fokus dengan papan tulis dan materi yang tengah dijelaskan di depan. Sesekali ia akan menunduk dan mencatat poin penting di.. buku tulisnya Euiwoong rasa.
"Taruhan menyebalkan," bibirnya bergerak maju beberapa senti, dahinya kini mengerut tak nyaman.
Serius, Euiwoong tak mengerti apa yang terjadi dengan Daniel hyungnya hingga beruang pink itu mengusulkan ide dengan tema khas novel picisan ini. Kenapa harus dengan Haknyeon? Pemuda itu terlalu 'serius' bagi Euiwoong. Lebih baik ia mengencani Donghyun hyung saja –meski akhirnya mungkin ia akan disemprot habis–habisan oleh Youngmin, kekasih Donghyun hyungnya.
Tak masalah, selama bukan Haknyeon.
Dan sialnya, takdir justru mengatakan hal lain.
Euiwoong mulai menerka, apa ia sedang di permainkan dengan takdirnya sendiri. Atau mungkin akan ada plot twist dimana berakhir dengan status baru sebagai kekasih Haknyeon? Ew, tidak mau. Sudah ia katakan, lebih baik dengan Donghyun, atau dengan Jinyoung pun tak masalah –itupun selama Jinyoung mau.
Euiwoong mencoret buku tulisnya sembarang, menggambar pola abstrak disana sementara pikirannya sibuk melayang kesana kemari, memikirkan cara terbaik untuk mendekati Haknyeon. Iya Euiwoong paham, ia sudah menjadi teman sekelas yang buruk karena tak pernah bertegur sapa dengan Joo Haknyeon, si murid populer yang terlalu 'sempurna' di mata Euiwoong, kecuali saat mereka mengerjakan tugas kelompok.
Yap, itu saja.
"Aku harus bagaimana ini, sial," telapak Euiwoong bergerak mengacak surainya sendiri. Serius, ini adalah permainan terbodoh yang pernah ia ikuti selama hidupnya hingga detik ini. Kalau bukan karena Daniel menatapnya dalam dan tersenyum lebar, memberikan kode bahwa ia harus menurut atau 'mati', jelas Euiwoong takkan mengikuti taruhan ini.
Dan bagaimana jika Euiwoong gagal?
Di taruhan bodoh ini, yang menjadi penjamin adalah identitas mereka. Yang berarti, identitasnya sebagai berandal sekolah akan terkuak. Omong–omong, apa orang tua Euiwoong akan di undang ke sekolah nantinya?
Aduh, apa saja asal orang tuanya tidak di undang ke sekolah.
Kalau orang tuanya mengetahui ia menjadil berandalan –lagi– di sekolah, uang jajannya benar–benar akan di potong habis. Apa yang bisa ia lakukan jika ia tak memiliki uang sama sekali? Tidur di kelas? Tidak, terima kasih. Euiwoong masih sayang dengan perutnya.
"Ah terserah! Aku tak tau!" pekik Euiwoong, melupakan fakta bahwa ia sedang berada di dalam kelas, di tengah pelajaran yang sedang berlangsung. Sontak seluruh pasang mata memandangi dirinya, termasuk 'target'nya, Haknyeon.
"Euiwoong–ssi? Apa kau kesulitan? Di bagian mana?"
Ah, sial.
Untung Kim ssaem yang tengah mengajar.
Euiwoong meringis bersalah di kursinya. "Maaf ssaem, lanjutkan saja tidak apa."
.
.
Jinyoung dalam mood terparahnya. Setelah memojokkan Jihoon, 'pasangannya', di dalam toilet dan mengancamnya dengan nada seketus mungkin, ia langsung pergi meninggalkan kakak kelasnya itu dan berdiam di rooftop seorang diri. Menenangkan diri.
Dari sekian ratus manusia di sekolahnya, kenapa harus Jihoon?
Jinyoung benci gelar 'tuan muda' yang tersandang di bahunya.
Merepotkan saja.
Jinyoung membanting topi hitam kesayangannya kesal, entah karena apa. Ia hanya marah, itu saja. Jangan tanyakan alasannya, ia sendiri benar–benar tak mengerti. Sepertinya mood swing bisa mendera siapa saja eh?
"Taruhan brengsek."
Hening.
"Ah sial, aku harus bagaimana. Sial sial sial."
Hening.
"ARGH! Sudahlah, aku tak peduli!"
.
.
"Hyung hyung, kalian semua harus dengar! Tadi aku berhasil membuat Haknyeon hyung khawatir. Yah agak berantakan sebenarnya, karena aku sedang mencari angin tadi. Dan voila, ia menemukanku saat sedang dipukuli. Bukankah ini bagus? Aku sudah ada kemajuan!"
Daniel mendengus keras.
"Ayolah, aku sudah berhasil membuat wajah Sungwoo memerah karena aku menggodanya tadi."
Tawa kecil lolos dari celah bibir Woojin setelah Daniel menyelesaikan kalimatnya. "Aku sudah mencium Hyungseob di perpustakaan. Kalian jelas kalah."
"Brengsek."
"Cih, Woojin hyung bermain terlalu cepat."
"Aku sudah santai saja, tau? Tapi– yak, Jinyoung, bagaimana denganmu?"
Seluruh pasang mata langsung berpindah untuk fokus pada pemuda bersurai hitam yang bersandar di sofa dengan ponsel yang sesekali bergerak miring ke kanan maupun kiri. Eh, tuan muda Bae tengah bermain game rupanya.
Jinyoung mendecih menanggapi pertanyaan yang ditujukan untuknya. "Jangan tanya. Aku takkan menang."
"Oh, apa kau sudah jatuh cinta dengan Jihoon? Secepat ini?"
"Bukan itu maksudku, ah sial! Bisa tidak kalian berhenti menyeringai seperti itu? Maksudku disini adalah, takkan ada perkembangan. Aku kalah."
"Oh, kukira kau–"
"Jangan harap, Daniel hyung. Itu takkan terjadi denganku."
"Ayolah, Jihoon cukup manis–"
"Park Woojin hyung! Jangan memperparah!"
.
.
BRUSHH
"A–apa?"
"Ew Niel hyung, jangan menyemburkan cola ke arahku!"
"Iya benar," Woojin menyandarkan punggungnya nyaman pada sandaran sofa. Maniknya menatap jenaka pada seluruh wajah terkejut disana –kecuali Euiwoong tentunya, pemuda itu sudah mendengarnya lebih dahulu dari Woojin sendiri.
"Tapi– bagaimana bisa? Kau– dan Hyungseob?"
"Iya kami sudah bertunangan. Dia pernah kecelakaan, hilang ingatan, dan yah.. dia melupakanku sebagai tunangannya."
"Wow wow bung, ini.. gila."
Woojin tertawa cukup keras mendengar nada penuh keterkejutan dari Daniel dan juga melihat wajah tak percaya Jinyoung di depannya. "Sudahlah, aku mengundurkan diri dari taruhan bodoh ini. Kurasa, Hyungseob akan mengingat semuanya sebentar lagi."
"Tapi, hyung akan kalah."
Sebuah senyuman terbit di bibir Woojin. "Aku menang. Aku menang jika aku bisa menarik kembali ingatan Hyungseob tentang hubunganku dengannya."
"Sial," Daniel mengacak surainya pelan. "Kalau begitu, aku juga mengundurkan diri. Ini sudah tak benar lagi."
"EH?! Tapi kau yang mengusulkan ini, Niel hyung!"
Daniel mendecih pelan. "Mana aku tau.. aku akhirnya akan jatuh cinta dengannya," dengan suara melemah di ujung kalimatnya, Daniel mendongak dan tersenyum lembut.
Euiwoong mengerang cukup lama mendengarnya.
"Ah, aku sudah nyaris menang. Ya sudah, aku mengundurkan diri saja," Euiwoong berguling di lantai, membenarkan posisinya yang semula terlentang di sana. Bibirnya sudah maju beberapa senti, jangan lupakan juga soal pipinya yang menggembung.
"Eh? Kenapa?"
"Haknyeon hyung– sangat baik padaku, aku tidak tahan lagi."
"Oh, kukira karena kau jatuh cinta dengannya karena ia perhatian denganmu."
"Woojin hyung!"
Setelahnya, dua pemuda berbeda usia itu berguling di lantai, bergulat hanya karena persoalan sepele. Daniel menghela nafas memperhatikan tingkah adik kelasnya itu. Maniknya yang bergerak tak sengaja bertubrukan dengan Jinyoung yang sedang setengah menunduk di sofa, tak jauh dari tubuh Daniel. Ah benar, ada Jinyoung, ia lupa.
"Jadi, kau menang tuan muda Bae."
Jinyoung menoleh, menatap Daniel. Sebuah seringai terbentang perlahan di wajahnya. Sudah berhasil kah ia? Dengan perkembangan selambat ini? Jadi, ia sang pemenang? Jinyoung nyaris meloloskan sebuah dengusan karena pernyataan –konyol– Daniel.
"Ya, aku rasa aku pemenangnya, eh?"
.
Ayolah Bae Jinyoung, kau bukan manusia yang pandai berbohong.
Terima kasih pada Daniel yang tak menyadari getaran yang terselip di tiap kalimatnya.
.
"Dan aku juga menjadi yang kalah... karena kurasa aku mulai peduli dengannya."
.
.
.
.
.
FIN
a/n: SELESAI!
Terima kasih banyak untuk reader yang selalu menunggu saya update:""
Terima kasih untuk semuanya yang sudah memberi dukungan dan lopek lopek untuk FF ini.
Sedih kita harus berpisah disini:"
Dd sendiri belum ikhlas mengakhiri FF ini, tapi apa daya:"
Jangan khawatir, saya udah siapin ide ide untuk FF baru yang bertema sekolah juga.
Dan ada tambahan pairing lain juga nantinya.
Semoga aja bisa ketulis FFnya ehe;)
Harap sabar menunggu yaa! (spoiler as always)
.
Maaf kalau ada beberapa hal yang bikin reader tida nyaman selama saya nulis FF ini:"
Dan sekali lagi, terima kasih dukungannya.
JY ga nyangka banyak yang mendukung FF ini:")
Apalagi dari segi bahasa yang pakai bahasa baku, JY kira bakal pada bosen huhu:"
.
Well, see you guys!
Please wait a moment for the next coming fanfiction!
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
