JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter One
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.
.
.


.

.

.

SEASON 2
Stat: STARTED

.

.

.


Pagi yang cerah. Musim gugur tahun ini terasa sangat berbeda –selain karena angin musim dingin yang sangat sejuk sudah berhembus sejak pagi–, terutama di Hanlim. Sejak pagi, semuanya terasa sangat berbeda. Mungkin karena seorang pemuda dengan surai honey brown tengah berjalan di koridor sepagi ini. Setiap murid yang melihatnya di koridor jelas tak tahan untuk tak berbisik membicarakan pemuda itu.

Pemuda bersurai honey brown itu mendecak pelan. Apa salah dirinya berngkat sepagi ini? Memangnya tidak boleh, seorang Kang Daniel, murid kelas 3 yang kini menjabat menjadi seorang wakil ketua Dewan Murid sejak Park Jihoon mengundurkan diri menjadi ketua, untuk berangkat sepagi ini? Well, jam 7 adalah rekor terpaginya untuk berangkat sekolah tau? Dan itu adalah hari ini.

Daniel melirik ke bawah, mengecek pakaiannya. Tidak ada yang salah. Ia rapi dan lengkap. Dari ujung hingga ujung, ia sudah sempurna. Itu berarti, bukan soal penampilannya yang dinilai. Daniel mulai menajamkan pendengarannya, mencuri dengar salah satu bisikan dari dua murid yang ada di sisi kirinya.

"Kini dia menjabat sebagai wakil ketua Dewan Murid. Dia pasti sangat berkuasa sekarang."

"Em, benar. Aku jadi semakin muak."

"Dia mengerikan. Dia dan seluruh temannya."

"Dia masuk sebagai wakil ketua pasti karena 'bermain kotor'."

Okay, sudah cukup Daniel mendengar. Ia tidak bodoh. Ia sudah bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Seringai Daniel muncul di wajahnya. Perlahan namun pasti, langkahnya berhenti. Ingin sekali Daniel berbalik dan menatap dua murid di sisi kirinya tajam, atau bahkan kalau bisa memberikan satu ancaman pada keduanya dengan sebuah pukulan melayang pada pipi salah satu atau bahkan keduanya. Tapi, mengingat ia sudah memiliki jabatan di sekolah, ia terang tak bisa melakukannya.

Daniel menoleh, menatap dua murid yang kini mematung dari ekor matanya. Seringainya semakin lebar, seringai yang jelas diberikan sebagai sebuah peringatan pada keduanya.

"Kalian tak masuk ke dalam kelas? Sebentar lagi bel akan berbunyi."

Detik berikutnya, keduanya langsung berlari cepat meninggalkan tempat semula mereka berdiri. Meninggalkan Daniel yang mendengus, merasa konyol dengan tingkah dua murid yang ternyata adalah adik kelasnya itu.

"Nasib baik aku bisa bersabar."

"Daniel hyung?"

Daniel menoleh mendengar sebuah suara memanggil namanya. Pandangannya segera terfokus pada seorang pemuda dengan surai merahnya tengah berjalan mendekat ke arahnya. Daniel tertawa ringan.

"Kenapa tertawa?"

"Rambutmu bagus, kau tampak lebih tampan eh?"

"Itu pujian atau hinaan?"

Sekali lagi, Daniel tertawa. "Itu pujian, sungguh. Astaga Woojin, apa aku terlahir untuk menghina terus sampai kau tak bisa membedakan pujian dan hinaanku?"

Woojin, si pemuda bersurai merah, memutar bola matanya. "Ya ya, terserah wakil ketua Dewan Murid."

"Jangan sebut gelar itu, please. Aku baru saja di gosipkan karena gelar bangsawan itu."

Woojin menoleh pada Daniel. Kedua alisnya tertaut, menunjukkan ke–tidak pahamannya mengenai ucapan Daniel. "Di gosipkan? Oleh?"

"Angkatanmu kurasa, dua orang."

"Yang mana?"

Daniel menggaruk tengkuknya. "Sudahlah Park, kita sudah tidak menghajar orang lagi."

"Menghajar, tidak. Memberikan ancaman atau peringatan, ya. Kau tau mereka bisa bertindak lebih dari sekedar membicarakan kita bukan?" koreksi Woojin di akhir kalimat Daniel. Keduanya kembali melangkah sembari tertawa sarkas. Tentu saja keduanya berjalan ke arah yang sama, mengingat kelas 2 dan kelas 3 ada di lantai 2.

Daniel melirik Woojin sekilas. "Kenapa berangkat lebih pagi? Biasanya kau berangkat mendekati bel masuk pukul 07.15."

"Aku mengantarkan sepupuku. Mulai hari ini dia bersekolah disini."

"Apa dia cantik?"

"Perlukah aku merekam ini dan memberikannya pada Seongwoo hyung?"

"Sialan."


.

.

.


"Ah bagaimana ini...," nampak seorang pemuda dengan tas gitar yang tergendong di punggungnya, menggantikan tas ransel berisi buku pelajaran yang seharusnya bertengger disana. Kini, tas ranselnya justru ada di tangannya. Sudah jelas ia lebih mementingkan gitarnya daripada buku pelajarannya.

Langkahnya mengendap menyusuri koridor dalam diam. Bel sudah berbunyi lima menit lalu. Beruntung ia bisa masuk, meski harus menyelinap dengan susah payah dan nyaris saja ketahuan petugas Komite Kedisiplinan yang sedang berpatroli di area samping sekolah. Padahal ia sempat mengira tas gitarnya akan kelihatan menyembul di balik semak.

Nyatanya, ia berhasil lolos.

Tinggal berbelok di ujung koridor, dan disitulah kelasnya. Beruntung tangga menuju kelasnya lengang. Biasanya, ada guru yang berjaga disana. Mungkin ini memang hari keberuntungannya. Setelah melongok dan memastikan semuanya aman, ia mulai mengendap kembali.

Sedikit lagi, please.

"Jung Sewoon, murid kelas 2–3."

Sudah ia duga.

Sewoon menoleh kikuk, menemukan seorang pemuda lain dengan surai hitam dan tangan bersedekap di depan dadanya. Irisnya menatap Sewoon tajam, memperhatikan pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kakinya.

"Jam 07.20."

Manik Sewoon bergerak gelisah, mencari apa saja yang bisa ia tatap selain kakak kelas dihadapannya. Ia tak berani menatap balik manik hitam tajam yang menatapnya terus menerus.

"Maaf, sunbaenim."

"Istirahat nanti, datang ke ruang Dewan Murid."

"B–baik."

Sewoon baru bisa bernafas lega setelah pemuda bersurai hitam dihadapannya pergi melewatinya, dan masuk ke dalam kelasnya sendiri. Kini Sewoon mengerti kenapa segalanya terasa mudah pagi ini. Siapa sangka ia akan bertemu dengan ketua Dewan Murid secara langsung eh?

"Ah, tamat sudah kau Jung Sewoon," bisik pemuda Jung itu pada dirinya sendiri seraya mengacak surainya pelan.


.

.

.


"Sejujurnya, aku masih belum mengerti."

"Soal?" jawab pemuda lain yang menjadi lawan bicara sebuah objek –manusia– yang terbaring di pahanya. Jemarinya bergerak halus merapikan surai hitam yang berantakan terhembus angin di rooftop. Pemuda lain yang tengah menyandarkan kepalanya mendongak, menatap manik coklat di atasnya. Tampaknya kedua insan itu tak mendengar bel masuk yang sudah berbunyi sejak lima menit lalu.

"Kenapa kau mengundurkan diri sebagai ketua Dewan Murid? Ini.. sudah dua bulan sejak kau mengundurkan diri."

Yang ditanya hanya terkekeh pelan. "Memangnya tidak boleh? Kepalaku sakit–"

"Apa ada hubungannya denganku?"

Tulang menyembul di balik kulit leher sang lawan bicara bergerak naik turun pelan. Tak perlu dijelaskan, sang surai hitam pun tau, bahwa jawabannya adalah iya. Tubuh dalam pangkuan itu bergerak kesamping, menyingkir dari posisi nyamannya.

"Kau tak perlu berbuat sejauh itu."

"Bae Jinyoung."

"Hm?" sang surai hitam, Jinyoung, menjawab tanpa menoleh pada lawan bicaranya. Hanya gumaman yang ia keluarkan, tapi itu cukup untuk menjawab panggilan pemuda di sebelahnya 'kan?

"Aku memang ingin keluar."

"Tidak, kau keluar untuk menjaga diri kita. Kau keluar untuk kita berdua, Park Jihoon."

"Tapi aku memang muak–," ucapan Jihoon terputus. Kalimatnya tenggelam dalam pekikan tertahannya kala Jinyoung tanpa peringatan apapun menubrukkan bibirnya pada bibir Jihoon. Bibir Jinyoung bergerak, memberikan lumatan pelan pada Jihoon. Sementara itu, tangannya sudah berpindah pada tengkuk yang lebih tua, menekan pelan disana untuk memperdalam ciuman keduanya.

"N–nnh!" Jihoon mengepalkan tangannya, memberikan pukulan ringan di pundak Jinyoung. Jinyoung tak mungkin lupa kalau Jihoon juga butuh bernafas, bukan? Perlahan Jinyoung menjauhkan wajahnya dari Jihoon sejauh beberapa senti. Maniknya mengurung iris Jihoon untuk terus menatapnya. Sebuah senyum –sangat– tipis tertoreh di wajah Jinyoung.

"Terima kasih."

"Untuk?"

"Segalanya," Jinyoung mengecup pipi Jihoon yang semakin memerah. Mengabaikan fakta bahwa satu patah kalimatnya itu berhasil membuat yang lebih tua sesak nafas.

Jihoon menunduk dalam. "Tak masalah."

"Tapi kau juga perlu menjadi egois, Jihoon. Ada saatnya kau tak mengalah untukku. Ada saatnya kau harus menunjukkan sisimu yang lain. Tak selamanya mengalah itu baik untukmu, maupun untukku. Kau harus egois dan serakah, sekali saja."

Jihoon mendongak, menatap manik Jinyoung yang memberikan pancaran lembut padanya.

"Apa ada masalah?"

"Aku? Tidak," Jinyoung tertawa ringan disela jawabannya. "Aku... hanya mengingatkanmu, bahwa suau hari kau perlu menjadi Jihoon yang memiliki untuk ada, bukan memiliki untuk mengalah."

Dahi Jihoon mengernyit dalam mendengar penuturan sang kekasih.

"Kau habis memakan novel picisan ya?"

"Woojin hyung bilang, menjadi posesif itu baik."

"Okay, kau memang habis memakan novel picisan. Muntahkan sekarang. Atau.. perlu kubantu, Bae Jinyoung–ssi?"

"Kau tau bukan kalau aku itu alergi dengan yang namanya buku?"

Jihoon menaikkan alisnya tak percaya. Senyuman miring dan sarkastik memenuhi bibirnya. Sebuah dengusan meluncur keluar. "Alergi apanya. Kau sendiri mengoleksi majalah–majalah laknat bertumpuk di kamarmu."

"Hey, itu memang untuk pelajaran– Aduh, jangan memukuliku!"

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


a/n: CIEEE udah update nich hehehehehe.
Ternyata kapelnya dateng dateng langsung bejibun ya.
Haduh maapkan, gatau mau nulis yang mana karena suka semuanya.
Tapi disini, beberapa cuma jadi selingan kok
JY mau fokus sama para kapel baru.
Dan pastinya fokus sama uri JinHoon.
Untuk yang haus OngNiel dan Jinseob harap bersabar ya, mengingat kemunculan mereka akan mulai dikurangi di season 2. Bagi bagi atuh sama kapel lain.
Mereka bakal tetep muncul kok, tenang aja! (karena faktanya dd suka dua kapel ini;_;)

.

Terima kasih yang udah ngasih review dan dukungan ke JY!
Semoga semua kapel bisa ke notis ya disini wkwk.
Dan untuk konflik, gausah takut semua.
Konfliknya greget kok, banget malah.
Dannnnn, konflik bahkan udah muncul sejak next chapt setelah ini (ciee spoiler).
Harap sabar menanti juseyooo!

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]