JY present
Delinquent Student: Season 2
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Four
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]
.
[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]
.
TRIPLE UPDATE TONIGHT!
.
.
.
(())(())
Ruang kehormatan itu sepi. Tak ada suara keluar dari celah bibir dua insan disana. Yang lebih muda memilih untuk menunduk dalam diam, menunggu pria setengah abad di hadapannya membuka suara. Sudah sekitar sepuluh menit ia disini, dipanggil karena surat pengunduran dirinya sebagai ketua Dewan Murid yang mendadak. Namun, pria di hadapannya hanya menyuruhnya untuk duduk. Setelahnya, ia justru menikmati teh hangatnya seraya melirik sang surai coklat sesekali.
Helaan nafas terdengar dari yang lebih tua. Perlahan, tangannya meletakkan cangkir yang sedari tadi menempel di bibirnya pada meja pembatas antara dirinya dengan –calon– mantan ketua Dewan Murid.
"Tapi, kenapa kau harus mengundurkan diri, Jihoon–ssi?"
Jihoon, sang surai coklat, mulai mendongak. Perlahan menemukan fokusnya pada wajah penuh gurat ketegasan sosok di hadapannya. Jihoon menelan salivanya berat.
"Saya– saya bukan lagi ketua Dewan Murid yang baik."
Punggung pria setengah abad itu menegak. "Kenapa begitu?"
"Saya–"
'Saya sudah berpacaran dengan berandalan sekolah yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya dalam menegakkan peraturan sekolah.'
"–Saya tak bisa melanjutkannya lagi."
Dahi pria bersurai sehitam jelaga di depannya mengernyit dalam. "Apa– ini ada hubungannya denganmu dan Jinyoung?"
Jihoon segera menggeleng cepat. "Tidak, tidak ada tuan Bae. Saya–"
"Benarkah?" kepala sekolah Hanlim itu tertawa ringan. Astaga, bahkan tawanya saja terdengar sangat berwibawa. Jihoon menusap tengkuknya canggung tanpa sadar.
"Be–nar."
"Tapi kudengar, kalian berpacaran."
Manik Jihoon membola secara pasti. Hey, sejak kapan gosip yang beradar di kalangan murid bisa sampai di telinga kepala sekolah? Apa kepala sekolahnya itu memang memantau Jinyoung setiap harinya, sehingga gosip itu bisa sampai di telinga tuan Bae?
Pria di hadapan Jihoon tersenyum kala menyadari manik yang lebih muda puluhan tahun dibawahnya itu bergerak gelisah.
"Terima kasih, Jihoon."
"E–eh? Untuk apa, tuan?" Jihoon memberanikan diri untuk mengangkat dagunya, menjatuhkan pandangannya pada wajah berumur tuan Bae.
"Karena telah mengembalikan Jinyoung."
Mengembalikan Jinyoung?
"Mengembalikan.. apa maksud anda, tuan?"
Senyum tipis terulas di bibir tuan Bae. "Aku mengetahui kalian berpacaran karena Jinyoung mengatakan langsung kepadaku."
EH?
Jinyoung? Mengatakan langsung?
Jihoon menurunkan rahang bawahnya tanpa sadar. Faktanya, ia terkejut dengan penuturan tuan Bae yang nampak santai saja. Bisa Jihoon rasakan lututnya semakin gemetaran di balik celana seragamnya.
"Terima kasih.. Berkat kau, Jinyoung berbicara denganku lagi setelah beberapa tahun ini. Sejak kematian ibunya, ia jadi menutup diri dengan lingkungan. Terima kasih sudah mengembalikan Jinyoung seperti semula."
Jihoon berdeham pelan. "Ma–maaf tuan, bukankah ini.. terlalu privasi untuk dibicarakan dengan saya?"
"Apa? Ah tidak," tawa tuan Bae lolos, kekehan langsung menyembur setelah Jihoon menyelesaikan kalimatnya. Telapak tuan Bae bergerak di depan wajahnya, mengipas beberapa kali. "Tidak, itu tidak benar. Aku tidak merasa ini akan menjadi privasi. Karena kau sudah mengembalikan senyum Jinyoung."
Jihoon menarik sudut bibirnya kaku.
"Ah. Apa kau tetap memutuskan untuk berhenti menjadi ketua Dewan Murid? Tapi kinerjamu sangatlah baik."
"Saya.. tetap ingin berhenti."
Tuan Bae kembali menyandarkan punggung tuanya. "Baiklah, aku akan memberikan jabatan ini pada murid kelas tiga saja. Tapi kau tidak keluar dari Dewan Murid, bukan?"
Jihoon menggeleng ragu.
"Baiklah. Kau akan turun jabatan. Sebagai gantinya, kau akan menjadi sekertaris Dewan Murid."
"E~h? Tapi– tapi kenapa?" kelopak Jihoon mengerjap dalam keterkejutannya.
"Karena kau akan menolak menjadi wakil ketua bukan? Jadi, aku memberikan jabatan sekertaris padamu."
Harusnya ia sadar, Jinyoung dan tuan Bae memang memiliki sifat yang keras kepala dan pemaksa. Apa ini ciri khas keturunan Bae?
Jihoon tertawa sumbang menanggapinya.
(())(())
.
.
.
Seonho mendorong naik kacamata bulatnya yang sudah merosot sejak beberapa saat lalu. Sementara itu maniknya masih terfokus pada deret punggung buku di depannya. Mencari salah satu judul buku yang ia incar sejak beberapa menit lalu. Pelajaran sejarah menyebalkan. Beruntung buku sejarah cukup tebal, sehingga bisa menjadi bantalan baginya saat tidur di tengah pelajaran Yoon ssaem itu.
"Dimana– aduh!" Seonho meringis merasakan pusing mendera kepala mungilnya. Tubuhnya limbung ke belakang beberapa langkah. Ia mendongak, menatap objek lain yang sedang berdiri di depannya dengan tatapan tajam. Seonho menelan salivanya, merasa terintimidasi tatapan mengerikan itu.
"Ma–maaf, saya tak melihat–"
"Apa gunanya kacamatamu?"
Seonho mengigit giginya sendiri. Rahangnya mengeras mendengar nada ketus keluar dari sang objek setinggi tiang di depannya. Seonho mendongak tanpa ragu.
"Mataku 'kan sedang melihat buku, mana sempat aku memperhatikan jalan? Harusnya kau itu yang menyingkir!"
Alis pemuda di depannya bergerak naik. Meskipun tatapan matanya masih tetap datar memperhatikan Seonho. "Itu caramu berbicara dengan kakak kelas? Karena setauku, tidak ada teman seangkatanku yang seperti dirimu."
Seonho mencibir. Bibirnya bergerak menggumam tak jelas. "Kakak kelas atau bukan, sama saja."
Sayang, gumamannya tetap sampai di telinga pemuda di depannya.
Sang kakak kelas semakin mengernyitkan dahinya melihat tingkah Seonho.
"Kau tak mau meminta maaf?"
"Untuk apa?" sambar Seonho cepat.
Tawa sarkastik meluncur di celah bibir yang lebih tua. "Ini memang kesalahanmu, anak kecil. Aku sedang berdiri diam sejak tadi disini–"
"Ini jalan, kenapa kau berdiam di sini? Ini salahmu, kau menghalangi jalan."
Pemuda di depannya mengacak surainya kalut. Helaan nafas kesal meluncur dari bibirnya. Menghantarkan rasa kesalnya pada Seonho yang terus membantah.
"Aku sedang membaca judul buku–"
"Kenapa kau baca? Kau bisa langsung–"
"Aku bukan orang Korea bodoh! Aku sedang membacanya pelan–pelan! Ah sial, aku jadi mengumpat."
Seonho terdiam sejenak. Ia masih terkejut mendengar intonasi naik yang di keluarkan sang lawan bicara. Menyadari bahwa ini adalah kesalahannya, Seonho mulai menggaruk pundaknya yang tak gatal.
"K–kau tidak perlu mengatai orang bodoh 'kan?"
Lagi, pemuda di depannya menghela nafasnya kesal. "Dengar ya. Aku sudah berbicara baik denganmu sejak tadi. Siapa yang membantah? Aku? Atau itu kau.. Yoo Seonho–ssi?" ucap sang pemuda sembari melirik name tag Seonho.
Seonho membatu dalam posisinya.
Sungguh, baru kali ini Seonho bertemu dengan manusia sedingin dan semenyebalkan dan se–jerk pemuda bersurai hitam di depannya. Seonho sendiri baru menyadari bahwa wajahnya dan wajah pemuda di depannya terlihat mirip. Ada banyak fitur yang serupa antara wajah keduanya.
Seonho mengerjap ketika menyadari telapak sang kakak kelas terayun di depan wajahnya.
"Kau melamun karena menyadari kesalahanmu atau karena kau tak bisa mencerna ucapanku?"
Seonho menarik sudut bibirnya yang bergetar karena amarah.
"Maaf sunbaenim," sahut Seonho setengah hati. Kepalanya menunduk, maniknya mulai meletakkan fokusnya pada lantai, bukan lagi pada wajah tampan –eh, maksud Seonho, wajah menyebalkan kakak kelasnya. Seonho merasa ia akan di cincang hidup–hidup oleh pemuda di depannya kalau ia menatap wajahnya sekali lagi.
Senyum masam terlukis di bibir yang lebih tua. "Menyingkir, aku–"
"Eh, tapi–"
"–mau lewat. Kau menghalangi jalanku, bocah."
"O–oh," Seonho menyingkir dari posisinya, memberikan jarak antara pundaknya dengan salah satu sisi rak perpustakaan agar sang kakak kelas bisa lewat. Bisa Seonho dengar decihan pelan di bibir yang lebih tua sebelum pemuda itu pergi berlalu dari hadapan Seonho.
Seonho menghela nafasnya. Bibirnya kini maju beberapa senti. Pipinya pun turut menggembung, bentuk protesnya dengan sikap sang kakak kelas yang sudah menghilang di belokan rak.
"Aku rasanya baru melihat wajahnya.. Aish, tapi seharusnya ia tak seketus itu!" gumam Seonho seraya mengacak surainya gemas. Tampaknya, hari ini tidak berjalan sesuai ekspektasinya eh?
.
.
.
Sewoon itu murid baik. Dalam segala hal, ia memang baik. Ia murid yang taat peraturan, ia murid yang selalu bersabar, ia murid dengan kepribadian paling tenang yang pernah ada di Hanlim –mungkin–. Sewoon tidak pernah mengumpat atau mengutuk siapapun secara refleks maupun tidak.
Tapi siang ini? Hah, ia sudah mengutuk berpuluh kali dalam hati.
Sementara tangannya sibuk bergerak ke kanan dan kiri, menggerakkan sapu di tangannya, maniknya sesekali melirik pemuda lain yang tengah duduk di salah satu kursi yang ada di perpustakaan. Pemuda itu nampak santai menunggu Sewoon menyelesaikan pekerjaannya, tanpa menyesali bahwa jam pulang sudah sejak tadi. Sewoon tak melihat pemuda itu melirik jam tangan –benda favorit sepanjang masa– yang melingkar di pergelangan tangan kiri pemuda itu.
Sewoon buru–buru menunduk dan terfokus dengan debu di bawahnya kala pandangan keduanya bertemu. Mungkin, si surai hitam merasa bahwa ia diperhatikan sejak tadi. Tangan Sewoon bergerak kaku, kelihatan jelas ia canggung.
"Sedikit lagi kau selesai."
Ayolah, Sewoon juga tau itu.
Sewoon menarik sudut bibirnya, bermaksud mengulum senyum, yang sialnya justru menjadi sebuah ringisan. "I..ya sunbaenim."
Dahi pemuda itu berkerut. "Sudah ku katakan, panggil hyung saja."
"Baik... hyung."
Sudah, percakapan itu berhenti disitu. Entah karena Sewoon yang terlalu canggung untuk memulai percakapan basa basi, atau karena si surai hitam tak berniat untuk membuka suara kembali dan memilih untuk memperhatikan saja bagaimana Sewoon menyelesaikan pekerjaannya.
"Jaehwan–ah."
Dua kepala di sana menoleh, langsung terfokus pada pemuda bersurai honey brown yang berjalan santai mendekat pada surai hitam dengan beberapa lembar kertas di tangannya.
"Proposal event."
"Oh, kenapa tak kau letakkan di meja?"
Sosok itu justru tertawa. "Kau harus mengurus ini. Jika aku letakkan di meja, kau takkan membacanya hingga besok." Manik pemuda itu bergerak, berpindah pada Sewoon yang langsung menunduk karena ketahuan menguping. "Dan kau pasti takkan membacanya hingga besok.. karena kau sedang berkencan eh?"
"Enyah kau, Kang Daniel."
Daniel tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Tangannya menepuk pundak Jaehwan berulang. "Hey, jahat sekali dengan wakilmu ini. Baiklah, aku pulang. Aku juga punya kencan dengan Seongwoo di apartementku."
"No one asking you, Kang."
Daniel tak menggubris ucapan Jaehwan. Dirinya justru meletakkan fokusnya lagi pada Sewoon. "Kau pasti Jung Sewoon, right?"
Sewoon mendongak terpatah. Kepalanya mengangguk berulang. "O–oh iya, saya Sewoon."
"Senang berkenalan denganmu. Maaf kalau ketua ini merepotkan–"
"Kang Daniel!"
"–dan sedikit tempramen. Aku harap kau sudah maklum. Baik baik, aku pergi Kim sayang. Tolong bawakan rangkuman pelajaran Jung ssaem yang dibagikan di kelasmu kemarin, okay? Ia bilang pada kelasku untuk memintanya ke kelasmu."
Tangan Jaehwan bergerak mengibas di depan wajahnya. "Iya sana, kau bisa memberitahuku nanti. Kau punya ponsel 'kan?"
"Ck, kau benar–benar tidak mau kencanmu di ganggu ya?"
Manik Jaehwan langsung melirik tajam pemuda beruang di sebelahnya. Daniel tertawa. Sewoon jadi heran, apa kakak kelasnya itu memang ditakdirkan untuk sering tertawa sepanjang hidupnya.
Setelah mengucapkan perpisahan, punggung lebar itu berbalik dan pergi, meninggalkan Sewoon dan Jaehwan berdua kembali. Keduanya diam. Entah karena canggung atau apa.
Jaehwan berdeham, meminta atensi Sewoon sejenak. Pemuda yang lebih muda menoleh, menatap wajah yang sejak tadi ia hindari untuk di tatap.
"Jangan dengarkan dia. Dia– memang seperti itu."
Ringisan terulas di bibir Sewoon. "Ya.. aku sudah liat itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
–TBC–
[Useless opinion, again. Please, forgive me]
.
Sebelumnya, saya minta maaf jika mungkin confess saya kemarin terkesan salty untuk beberapa person. Saya maklum, it's okay, everyone have their opinion. Saya tidak memaksa siapapun untuk memiliki opini yang sama seperti opini useless saya. Saya sangat mengerti bahwa apa yang anda tangkap dari ucapan saya berbeda dari maksud yang saya coba utarakan, saya juga meminta maaf kalau bahasa saya terkesan salty atau sejenisnya.
Saya ingin menekankan, saya tidak bermaksud untuk salty atau memojokkan atau papaun itu. Nope. Saya sama sekali tidak memiliki maksud apapun dibalik confess saya. Kita memiliki rasa sedih yang sama.
Maksud dari ucapan saya sendiri adalah untuk mencheer up diri kita semua. Setiap trainee yang tidak debut di Wanna-One pasti memiliki flower pathnya sendiri yang jauh lebih indah daripada debut di Wanna-One. Kita tidak bisa memaksa keinginan kita pada bias kita untuk debut di Wanna-One, karena kita sendiri tidak pernah tau dengan cara sebagai soloist atau lainnya kah bias kita akan bersinar.
Saya berkata demikian karena saya lihat di real life, ada yang mengatakan bahwa jika berkata seperti ini pastilah biasnya masuk dalam Wanna-One. Saya sakit hati, siapapun itu, saya kecewa. Apa bias saya hanya satu dua orang saja? Haha, nope. Bias saya di PD 101 S2 ada banyak. Okay, mari sebut salah satu yang menurut saya sangat jarang di biaskan, yakni Sangbin. Apa Sangbin debut? No. Bahkan untuk masuk Top35 saja tidak. Tapi saya tetap mencoba tersenyum untuk dia, karena saya yakin dia memiliki jalan yang lebih indah daripada debut di PD 101 S2. And heyy, sekarang dia sepertinya jadi artis mukbang, melihat dia sering sekali upload instagram saat makan eh?
Sekali lagi, maaf kalau bahasa saya terkesan salty sebelumnya. Maksud saya sendiri adalah untuk mencheer up, bukan memojokkan atau sejenisnya. Terima kasih untuk yang sudah memberikan opini di review!
[Happy reading for the next chap!]
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
