JY present
Delinquent Student: Season 2
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Five
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]
.
[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]
.
TRIPLE UPDATE TONIGHT!
.
.
.
[One week later]
Namanya Lee Daehwi. Pemuda dengan surai coklat yang langsung menjadi idola di kelas barunya karena 'kecantikannya'. Baik tubuhnya –yang sejujurnya terlalu kurus, namun entah kenapa tampak cocok dengannya– yang indah atau wajahnya yang menyegarkan ataupun senyumnya yang mampu mercerahkan siapapun, Lee Daehwi sangat cocok menjadi idola bagi siapapun.
Kepindahannya ke Korea sendiri karena sang appa dipindahtugaskan untuk kembali ke Korea Selatan. Daehwi sebenarnya menolak ide bersekolah. Ia lebih memilih untuk home schooling saja, terlebih, ia belum menyesuaikan diri di negara ini. Ia masih terbawa suasana Amerika. Kalau saja bukan karena sepupu idiotnya yang terus menjejalkan kedua orang tuanya kelebihan bersekolah di Hanlim, sudah di pastikan ia akan menghabiskan waktunya untuk homeschooling. Beruntung ia memiliki salah satu teman seperjuangan yang juga bersekolah di Hanlim. Di kelas yang sama pula! Terberkatilah Jeon Somi dan segala tingkah abstraknya itu.
Namanya Lee Daehwi. Pemuda yang kini menempati kursi nomor dua dari belakang di sisi kiri, bersebelahan langsung dengan jendela besar kelas. Pemuda yang setiap hari selalu mencuri kesempatan untuk melirik lapangan dimana terdapat segerombol murid yang tengah bermain sepak bola setiap harinya pada istirahat kedua. Dengan manik semanis madunya, ia terkadang memfokuskan dirinya pada pemuda yang selalu menjadi striker dadakan.
Namanya Lee Daehwi. Pemuda yang akhir–akhir ini selalu mencoba berangkat pagi demi menilik lokernya yang berada dekat dengan pintu masuk kelas di belakang. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Sudah beberapa hari ini, terhitung sejak tiga hari ia masuk ke Hanlim, yang berarti juga sudah berlangsung rutin selama empat hari, lokernya selalu diisi dengan banana milk dan roti. Terkadang juga minuman isotonik dan kimbap, jika itu adalah hari dimana pelajaran olahraga di kelasnya berlangsung. Kenapa semua itu bisa ada disana? Salahkan pintu lokernya yang tak bisa terkunci rapat –engsel tua menyebalkan.
Tidak ada catatan apapun ditinggalkan disana. Dan Daehwi 1001% yakin ini bukanlah pekerjaan teman sekelasnya. Mengingat mereka bisa menyerahkan langsung pada Daehwi daripada harus repot–repot meletakkannya di loker Daehwi.
Dan poin terpenting, Daehwi adalah siswa pertama yang tiba di kelasnya.
Manik Daehwi melirik pada roti sandwichnya yang tinggal separuh. Pun di sebelahnya berdiri sekotak susu pisang yang juga tinggal setengah. Nafas panjang terhela disana. Sejujurnya, Daehwi sangat berterima kasih pada siapapun yang memberikannya sarapan sehingga ia bisa mengirit uang jajannya. Tapi tetap saja, ini terasa salah. Ayolah, kenapa Daehwi tak boleh mengetahui malaikatnya?
Fokusnya bergulir lagi, kembali pada lapangan besar di tengah sekolah yang nampak jelas dari kelasnya. Maniknya tak diam, keduanya sibuk mengikuti gerak gerik seorang pemuda di lapangan sana.
Siapa dia?
Daehwi juga tak tau.
Jadi... kenapa Daehwi sering memperhatikannya?
Entahlah, yang satu itu pun Daehwi juga tak tau. Ia hanya senang saja, memperhatikan bagaimana pemuda di bawah sana tertawa atau berlarian mengejar bola. Ah, mungkin ini karena Daehwi tak memiliki objek lain untuk di tatap?
Bohong.
Ada banyak hal menarik yang ada di sekitarnya, kalau boleh jujur.
Seperti memperhatikan awan yang bergerak diatas sana, atau juga memperhatikan puluhan murid lain yang pasti melintas di lapangan sekolah.
Sekali lagi, Daehwi tetap tak bisa mengalihkan fokusnya.
Apa.. dia menyukai pemuda dengan surai yang cukup mencolok itu? Benarkah? Tapi.. rasanya berbeda. Debaran jantungnya bukanlah debaran yang menyesakkan seperti saat kau menyukai seseorang. Ini bukanlah debaran yang menerbangkan puluhan kupu–kupu dalam rongga dadamu.
Ini berbeda.
Helaan nafas Daehwi meluncur lagi. Punggungnya perlahan ia sandarkan pada sandaran kursinya. Kedua kakinya yang sejak tadi terdiam, kini mulai bergerak menendang udara kosong di bawah mejanya. Tanpa ia sadari, ada pemuda lain tengah berjalan ke arahnya.
"Lee."
Daehwi melonjak kaget. Refleks, ia menoleh cepat. Di sisi kanannya, ia bisa menemukan pemuda tinggi dengan surai hitam tengah menatapnya. Daehwi menaikkan alisnya, bertanya apa maksud sang surai hitam memanggil namanya.
"Tidak ke kantin?"
Daehwi menggeleng. Dagunya bergerak menunjuk sandwichnya yang tergelar di atas meja. "Aku masih punya itu."
"Oh, ya sudah," dan punggung lebar itu pergi menjauh dari meja Daehwi, terus bergerak hingga keluar dari kelas. Pasti ke kantin.
Jemari Daehwi tertaut erat. Kepalanya menunduk perlahan, memperhatikan kedua kakinya yang sudah berhenti bergerak. Tak ada apapun disana. Karena sejujurnya pikiran Daehwi pun tidak sedang disana.
Daehwi menggigit bibir bawahnya. Bentuk pelampiasan akan rasa bingung yang melanda dirinya. Belum juga ia menemukan jawaban atas apa yang terjadi pada dirinya, sahabatnya, Jeon Somi, sudah mengambil tempat duduk di hadapannya dan menatap Daehwi dalam.
Daehwi mendongak, menemukan manik coklat terang gadis itu yang mengarah pada dirinya.
"Okay, kurasa aku harus membicarakan beberapa hal denganmu, Lee."
"Jangan tanyakan soal tugas matematika, Jeon. Aku belum mengerjakannya."
Somi menggeleng cepat. "Bukan, ini bukan soal itu sama sekali."
"Lalu?"
Sudut bibir gadis keturunan itu tertarik kesamping. Memberikan sebuah senyuman yang tak tampak seperti sebuah senyuman bagi Daehwi. "Kurasa kau sudah tau aku akan menanyakan apa padamu, Daehwi–ya."
Persimpangan terbentuk di dahi sempit Daehwi. "Apa itu?"
"Ayolah, dude," Somi menghela nafasnya sejenak. "Ini.. soal Bae Jinyoung."
Oh.
Jinyoung ya?
"Memang kenapa Bae Jinyoung?"
"Kulihat, dia dekat denganmu."
"Oh, dia dua kali mengantarkan aku pulang. Sering mengajakku ke kantin juga atau menggangguku. Huh. Tapi, apa itu bisa disebut dekat? Aku rasa tidak."
Bibir Somi maju beberapa senti. "Untuk ukuran seperti Bae Jinyoung, itu sudah termasuk sangat dekat. Dan kau harus tau, Lee, dia itu sudah punya kekasih."
Daehwi memajukkan punggungnya. "Kenapa kau mengatakan seperti itu? Aku tak berniat merebut siapapun disini. Please, aku bisa dipenggal appa dan eomma kalau tidak bersekolah dengan baik dan memilih untuk menjalin kisah picisan seperti sepupu idiotku itu."
"Oh," Somi melirik pintu kelas sejenak. Tak ada apapun disana, tapi Somi tetap ingin melihatnya untuk beberapa detik. Ia ingin mengalihkan fokusnya sejenak dari Daehwi. "Tapi kulihat, ada yang berbeda Lee."
Berbeda?
Apa? Apakah debaran yang meningkat secara statis saat ia tengah berada di dekat Jinyoung bisa disebut berbeda? Debaran itu.. debaran yang dipenuhi rasa euforia itu.. Daehwi tak bisa melepaskan debaran itu saat pemuda Bae tengah berada di dekatnya. Ini bukanlah debaran hangat seperti saat ia melihat pemuda bersurai mencolok di lapangan sana.
Apakah Daehwi menyukai Jinyoung?
"Tidak, tidak ada yang aneh ataupun berbeda disini," bisik Daehwi. Somi hanya diam, tak menjawab ucapan Daehwi lagi.
Tapi gadis itu bisa mendengar, ada nada ragu terselip di kalimat sang sahabat.
.
.
.
"Hyung, kalian semua harus tau ini!"
Seluruh pasang mata di meja kantin itu teralih pada seorang pemuda dengan kacamata bulatnya. Yoo Seonho tampak sedikit menggebu hari ini. Lihat saja, tatapan penuh semangat –yang sepertinya tercampur rasa emosi disana– mengitari setiap wajah disana satu persatu.
"Ada apa, sepupuku sayang?" itu suara Jihoon yang duduk tepat di seberang Seonho.
Seonho menggebrak meja tanpa sadar. Untungnya, tak terlalu keras. Mungkin hanya beberapa meja di sekitar mereka yang mendengarnya.
"Aku bertemu kakak kelas yang saaaaaangat menyebalkan. Sangat! Tapi, kenapa aku baru melihat wajahnya ya?" tubuh Seonho maju, menunjukkan rasa antusiasnya pada empat orang lainnya disana.
Jihoon mengusap dagunya. Omong–omong soal menyebalkan dan baru dilihat, ia jadi teringat pemuda tiang di kelasnya yang baru masuk satu minggu yang lalu.
"Apa dia tinggi?"
"Iya, dia tinggi!"
"Rambutnya hitam?"
"Eum!"
"Wajahnya menyebalkan? Bicaranya ketus? Sok dingin? Punya kantung mata hitam di kelopak bawah matanya? Bukan dari Korea 'kan?"
Jari Seonho langsung menunjuk wajah Jihoon. "Itu dia! Wah, hyung, apa dia sekelas denganmu? Murid baru?"
"Oh, si murid baru itu ya? Pangeran sekolah baru?" kali ini objek di ujung meja yang ternyata tengah menggenggam tangan pemuda di seberangnya menyahut. Hyungseob, si pemuda, turut melebarkan kelopaknya antusias. Tanpa ia sadari, pemuda bersurai merah di depannya mendecih melihat reaksi Hyungseob.
Jihoon mengangguk. "Em, namanya Lai Guanlin. Pantas saja aku merasa pernah melihatnya, ternyata sepupuku sendiri yang mirip dengannya."
"A~h, ya, aku juga merasa mirip dengannya! Tapi, dia itu benar–benar menyebalkan hyung!"
"Memangnya ada apa?"
"Jadi, aku sedang di perpustakaan. Lalu aishh, ya begitu. Dan dia justru marah, okay memang aku yang salah, tapi ah terserah! Menyebalkan!"
Sudut bibir Jihoon tertarik kaku. Begitu pula dua manusia di meja itu. Jangan tanya pada mereka apa yang baru saja Seonho bicarakan. Hyungseob saja tidak paham, Jihoon pun begitu, apalagi Woojin?
Ketiganya tertawa terpaksa.
Sudahlah, untuk Seonho, mereka akan menyenangkan hatinya saja.
.
.
.
[Maybe you want to know]
Ada dua insan disana. Di hadapan meja yang sama dalam posisi saling berhadapan. Keduanya saling menatap, menyelami manik masing–masing. Dua pemuda itu diam. Hanya ada raut serius di wajah keduanya. Di depan mereka, tepatnya di atas meja, beberapa butir benda kecil tersusun. Semuanya berbeda, baik warna maupun coraknya. Benda yang juga disebut juga jellybean itu sudah ada disana sejak beberapa menit lalu.
Salah satunya, pemuda dengan surai hitam, menarik sudut bibirnya. Melukiskan sebuah senyum meremehkan disana.
"Tidak boleh menipu ataupun menyembunyikan."
"Deal."
"Apapun yang terjadi, harus di katakan."
"Deal."
Sang surai hitam tersenyum lebar. "Jadi.. kita mulai?"
Pemuda bersurai honey brown di depannya mengangguk. Keduanya segera mengambil permen jeli yang sudah mereka pikir matang–matang sejak tadi. Dalam satu anggukan, keduanya memasukkan butiran tersebut ke dalam mulut.
Rahang keduanya bergerak, mengunyah permen itu lamat. Tatapan keduanya tetap datar, saling mengintimidasi dan memojokkan.
"Menyerah saja, Kang."
Pemuda surai honey brown menggeleng mantap. Seringai terpatri di wajahnya. "Bukannya kau yang payah disini?"
Tawa kecil surai hitam lolos. Tak perlu di jelaskan, sang surai honey brown jelas mengerti bahwa itu adalah salah satu bentuk mencemooh. Sang surai hitam memajukan tubuhnya antusias.
"Satu."
Keduanya masih terdiam.
"Dua."
Sang surai hitam menarik punggung lebarnya ke belakang.
"Tiga."
BRAK
"AH HOLY SHIT! Dari sekian rasa, kenapa harus yang kaus kaki! Ah goddammit! What the fuck was going on?!"
Tawa surai hitam meledak. Tak tahan lagi ia memperhatikan pemuda di depannya nyaris muntah –melihat dari ekspresi wajahnya– karena pilihannya pribadi. Bahkan sang surai honey brown itu nyaris saja terlempar dari kursinya sendiri. Seongwoo, sang surai hitam, menyodorkan botol minumnya pada sang korban jellybean. Dalam sekejap, air mineral di botolnya sudah tandas tak bersisa.
Daniel terbatuk. Bahunya bergerak abstrak, jijik karena rasa kaus kaki mengerikan itu masih membekas dalam mulutnya. Sementara sang kekasih masih saja sibuk tertawa dan mengusap air mata di ujung ekor matanya.
"Enough! This is the last time, Ong. 'Cause, for the God sake, I won't risk my life again. Ah sialan, rasanya masih membekas!"
Senyum kemenangan Seongwoo merekah.
"Akhirnya aku bisa mengalahkanmu, eh?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
–TBC–
