JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Six
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.

[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]
[Ada perubahan nama, Jinyoung = Jinyeong]

.

TRIPLE UPDATE TONIGHT!

.
.
.


Seonho kesal. Kesal bukan main dengan sepupu menyebalkannya, Park Jihoon. Hari ini, ia menginap di rumah sepupunya karena kedua orang tuanya akan pergi ke luar kota. Tapi yang terjadi, ia justru di telantarkan oleh sepupu pendeknya itu demi mencari stuff baru katanya. Mungkin sepupunya itu akan membeli boneka baru lagi untuk koleksi di kamarnya.

Seonho melirik layar ponselnya. Sudah pukul 04.36AM. Jihoon mengatakan padanya, ia akan mengabari Seonho pukul empat. Nyatanya, sampai sekarang pun sepupunya itu belum memberikan kabar padanya.

"Jihoon hyung, lihat saja kau. Pizza atau kuhancurkan kamarmu itu," desis Seonho di halte bus.

Halte bus?

Yap, Seonho ada di halte bus sejak berpuluh menit lalu. Menunggu Jihoon tanpa kepastian apapun. Ia tak tau, harus pulang atau menunggu Jihoon mengabari. Kabar baiknya, belum ada bus yang melintas sejak tadi. Seonho berjanji, ia akan menghancurkan kamar Jihoon setelah ini.

Ya, Seonho janji.

TIN TIN

Seonho melonjak. Fokusnya langsung jatuh pada sepeda motor mengkilap di depannya. Pandangan Seonho naik, perlahan dari kaki sang pengendara sampai akhirnya ke wajah pemilik motor. Seorang pemuda. Tangan jenjangnya bergerak melepas helm yang melindungi kepalanya.

Seonho membatu dalam keterkejutannya.

"Kenapa disini?"

Suara berat itu langsung keluar. Seonho mengerjap cepat, menyadarkan dirinya sendiri. Beberapa kali ia berdeham sebelum membuka suara. "Itu– menunggu bus. Sepupuku meninggalkanku."

Pemuda pengendara motor terdiam sejenak. Maniknya menatap lurus pada Seonho, entah pandangan apa yang diberikan pada si anak ayam. Jari Seonho bergerak mengetuk pahanya canggung. Di tatap intens seperti itu sukses membuat degup jantungnya meningkat.

Pemuda di atas motor menggerakkan kepalanya, menunjuk tempat di belakangnya melalui ekor matanya. "Naiklah."

Seonho menggeleng cepat. "Tidak perlu, aku–"

"Ini sudah mau hujan, aku tidak melihat bus lewat sini sejak tadi. Ada helm cadangan."

Seonho mendongak, menatap langit yang sudah menggelap. Benar, mau hujan. Awan keabuan sudah menggantung disana. Astaga, sejak kapan sudah mendung seperti ini? Tampaknya, karena terlalu asyik memarahi Jihoon dalam hati, Seonho jadi tak menyadari bahwa hujan akan turun.

Seonho melirik ragu jok motor besar di depannya.

Bagaimana ini?

"Kau tidak mau naik?"

Aduh, sudah Seonho tak tau lagi!

"I–iya sunbae."

Dan dengan segala detak jantungnya dan nafasnya yang tercecer kemana–mana, Seonho menumpang di motor sang kakak kelas. Awalnya cukup sulit, mengingat Seonho tak pernah sekalipun duduk di bangku penumpang motor sejenis ini. Biasanya, ia hanya akan memperhatikan Jihoon hyungnya pergi dengan Jinyeong yang memiliki motor sejenis ini.

Siapa sangka ia akan merasakan apa yang Jihoon rasakan hari ini?

Refleks, jarinya meremat ujung seragam sang kakak kelas yang mulai melajukan kendaraannya. Rematannya semakin keras saat ia merasa laju kendaraan itu bertambah.

"Kemana tujuanmu?"

Seonho membuka matanya ragu. "Di– di.. ah itu, persimpangan itu ke kanan. L–lalu belokan pertama belok kiri. Rumah no–nomor tiga dari kiri."

Pemuda di depannya mengangguk. Paham dengan arah yang di paparkan Seonho.

Seonho masih terpejam di belakang. Sesekali ia mengintip, memeriksa apakah jalan yang di lalui benar. Biasanya, ia akan tiba di rumah Jihoon dalam waktu sepuluh atau lima belas menit dengan bus. Tapi sekarang, rasanya lima menit lebih sedikit sudah cukup. Kakak kelas di depannya ini bukan main cepatnya dalam mengendarai motor. Ingatkan Seonho untuk tidak gemetaran setelah ini.

"Yang atap merah itu?"

Seonho melongok ragu dari balik bahu sang kakak kelas. "I– iya yang itu."

Laju kendaran mulai melambat. Tepat di depan rumah dengan pagar hitam tinggi, rumah Jihoon, kendaran itu berhenti. Seonho turun dengan badan gemetaran. Pijakannya agak goyah saat pertama kaki kanannya menyentuh tanah.

"Te–terima kasih sunbae."

"Guanlin. Namaku Guanlin."

Iya, Seonho sudah tau itu sebenarnya.

Senyum kaku terulas di bibir Seonho. "O–oh. Terima kasih Guanlin sunbae."

Guanlin mengangguk singkat. "Cepat masuk, sudah gerimis."

Seonho membungkuk dalam sekali lagi. Setelah memastikan tak ada yang perlu ia ucapkan lagi, ia berbalik, melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah Jihoon. Sementara itu, Guanlin sudah berbalik dan pergi dengan kendaraannya.

"Ternyata.. baik juga," Seonho menyentuh pipinya, mengusap bekas tetesan rintik gerimis dan juga menenangkannya dari rasa panas yang menjalar disana.


.

.

.


(())(())

Jihoon melirik pemuda bersurai hitam di sebelahnya. Sejak tadi keduanya sampai di mall, tak ada yang mengangkat suara disana. Baik Jihoon maupun pemuda di sebelahnya sama–sama terdiam. Jihoon sendiri diam karena canggung. Kalau pemuda di sebelahnya, entahlah, Jihoon tak bisa menebaknya. Canggung juga mungkin? Atau memang tak ingin membuka suara? Jihoon jadi ingat dengan Jinyeong kalau berdekatan dengan pemuda ini.

Hah, andai Jinyeong bisa menemaninya hari ini, ia tentu takkan merepotkan temannya ini. Sayang, Jinyeong harus pulang cepat karena keluarga besarnya berkunjung. Dan beginilah nasib Jihoon, terdampar dengan pemuda surai hitam di mall demi mencari boneka.

"Cepat cari barangmu."

Jihoon mengerjap terkejut dari lamunannya. "Okay.. Tapi, terima kasih sudah mengantarkanku."

Bahu pemuda di sebelahnya bergerak naik turun. "Santai saja. Naik taksi kemari hanya akan membuang uangmu," ucapnya acuh.

"Uh, kau benar."

Setelahnya, keduanya terdiam lagi. Bahkan ketika Jihoon berjalan masuk ke dalam toko boneka langganannya, pemuda itu tetap setia mengekori Jihoon, tak ada protes meluncur dari bibirnya karena mengajak ia masuk kesana.

Jihoon sungguh merasa canggung, melebihi rasa canggungnya ketika dengan Jinyeong dulu. Ia benar–benar merasa berhutang budi dengan pemuda itu. Maniknya cepat menyusuri deretan boneka di rak. Mencari boneka yang sudah ia incar seminggu yang lalu. Boneka beruang mungil dengan warna coklat muda. Ia tak ingin membuat pemuda penolongnya menunggu dirinya lebih lama.

"Apa yang kau cari?"

Jihoon menoleh sejenak pada pemuda di belakangnya. "Uh, boneka?"

"Ya, aku tau itu," dengusan meluncur dari bibir sang lawan bicara. "Kurasa ini cocok denganmu."

Jihoon memperhatikan boneka berwarna kuning dengan bulu lembut yang menghias di tangan sang kawan. Tawa mungil Jihoon menyeruak. Menciptakan sebuah persimpangan di dahi lawan bicaranya.

"Itu adalah kesukaan sepupuku. Anak ayam."

"Oh," pemuda itu meletakkan benda dalam genggamannya kembali pada tempatnya. Kepalanya mengangguk samar.

"Se– ASTAGA! Astaga, mati aku. Aku lupa akan menemaninya pulang! Aduh, aku belum mengabarinya, pasti dia marah! Aduh, kita pulang saja ayo! Batalkan saja ini, aduh maafkan aku Seonho sayang!"

Jihoon segera menyeret kawannya untuk keluar dari toko boneka.

"Lalu bonekanya?"

"Itu tak penting! Kamarku bisa hancur kalau tidak pulang sekarang! Aduh, semoga dia belum pulang. Semoga dia kehujanan atau apalah itu, please please."

Dan hari itu, Jihoon tak jadi membeli boneka incarannya demi kembali pulang ke rumahnya sesegera mungkin. Beruntung kawannya mengendarai sepeda motornya dengan cepat, sehingga ia bisa pulang ke rumah lebih cepat dari ekspektasinya.

Nafas lega Jihoon berhembus menyadari belum ada tanda–tanda kehadiran sepupunya di rumahnya.

"Maaf aku merepotkanmu seperti ini, Guanlin–ah. Untung saja dia belum pulang. Terima kasih banyak, aku benar–benar berterima kasih padamu."

Guanlin hanya mengangguk singkat. "Tidak masalah."

"Kau pulanglah, ini sudah mau hujan."

Guanlin mendongak, menemukan awan gelap yang sudah menggantung di langit. "Kau benar, Jihoon–ah. Baiklah, aku pulang."

Tangan Guanlin terulur, mendekat pada Jihoon. Kelopak sang surai coklat mengerjap beberapa kali, mencerna apa yang akan dilakukan Guanlin padanya.

"Masuklah."

Pipi Jihoon memanas. Telapak besar Guanlin yang mengacak surai di puncak kepalanya berhenti setelah bergerak beberapa saat disana. Ditambah, pemuda di depannya menarik sudut bibirnya ke samping, melengkungkan senyuman yang belum pernah Jihoon lihat sebelumnya di wajah Guanlin.

Membungkuk terpatah, Jihoon mengucapkan terima kasih pada sang surai hitam. Tubuhnya segera berbalik, melangkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya sendiri. Tidak bisa disebut melangkah juga, melihat derapnya yang lebih cepat dari sekedar melangkah.

Guanlin memakai kembali helmnya, bersiap pergi dari sana.

"Rumah atap merah, pagar hitam. Aku catat itu."

Setelahnya, pemuda asal Taiwan itu melajukan kendaraannya, beranjak dari depan pagar rumah Jihoon. Tidak ada penyesalan di dirinya karena harus kembali melewati sekolahan, mengingat arah rumahnya dan rumah Jihoon sangat berbanding, dan sekolah adalah titik tengah dari rumah keduanya.

Manik Guanlin melirik sosok murid yang terduduk di halte bus dari kejauhan. Pemuda itu menunduk dan memperhatikan ponselnya.

"Oh, dia. Siapa namanya? Aku.. lupa."

Guanlin segera menepikan motornya, mendekat pada sang adik kelas yang tersentak karena klakson yang ia bunyikan tepat saat ia berhenti di depannya.

"Kenapa disini?"

"Itu– menunggu bus. Sepupuku meninggalkanku."

(())(())

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


a/n: HEHEHEHEHEHEHE
Updatenya banyak ya.
Maklum ya, liburan jadi ide ngalir kek keran bocor.
Dd update banyak demi menghibur hati kita semua huhuhu;_;

.

Jadi, apakah ini GuanHoon dan BaeHwi?
Mari tanyakan para perut Seonho yang bergetar. /slap
Apa ya? Siapa ya? Gimana ya?
Enaknya gimana dong ehehehehehehe /kemudian dibakar/

.

Terima kasih untuk reviewnya, saya sayang kalian semua;_;
Next? Happy reading!

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]