JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Eight
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.

[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]
[Ada perubahan nama, Jinyoung = Jinyeong]

.

TRIPLE UPDATE TONIGHT!

.
.
.


Guanlin hanya diam. Ia tak bertanya apapun melihat Jihoon keluar dari rumah Jinyeong dalam waktu kurang dari satu menit. Ia pun tak bertanya ketika Jihoon memintanya mengantarkan dirinya pulang dengan suara yang sedikit serak. Guanlin tak bertanya pasal jemari Jihoon yang mencengkram seragamnya cukup erat di perjalanan pulang. Guanlin tak bertanya apapun ketika ia sampai di depan rumah Jihoon namun pemuda di belakangnya tak turun dari motornya.

Guanlin baru membuka suara ketika Jihoon mengucap terima kasih dengan suara rendahnya dan fokus yang berlarian kesana kemari. Tak lagi manik coklat Jihoon menatap Guanlin yang turun dari motornya.

Tanpa sadar, pemuda Taiwan itu mencengkram pergelangan tangan Jihoon cukup keras. Menahan Jihoon yang hendak masuk ke dalam rumahnya. Tubuhnya berdiri tegak dan cukup dekat dengan Jihoon yang tak mengambil satu langkah untuk mundur seperti biasanya.

"Ada apa?"

Jihoon mendongak. Guanlin bisa melihat sebuah persimpangan tercipta di dahi Jihoon. Kepala dengan surai coklat di depannya bergerak ke samping.

"Apa maksudmu? Tidak ada apapun."

Dengusan meluncur dari Guanlin. "Kau bukanlah seorang pembohong ulung seperti noonaku." Guanlin membungkukkan punggungnya, menyamakan maniknya dengan manik coklat Jihoon. Ditatapnya dalam dua iris itu. "Ada apa, Jihoon?"

Dan sekali lagi, Guanlin tidak bertanya mengenai air mata yang mengalir turun membasahi pipi Jihoon, menciptakan aliran sungai kecil disana. Yang Guanlin lakukan adalah melingkarkan kedua lengannya pada Jihoon, menarik tubuh yang jauh lebih kecil darinya ke dalam rengkuhannya. Membiarkan pemuda Park itu menggumam tak jelas di sela tangisannya. Membiarkan pundak Jihoon yang sesekali bergerak naik turun seiring nafasnya yang terputus.

Guanlin tak perlu bertanya.

Guanlin tau, Jihoon tidak dalam keadaan yang baik.


.

.

.


[Few hours later]

.

Sewoon mendesah. Memperhatikan bagaimana hujan membasahi lapangan sekolah dalam diam. Hari ini, Sewoon membolos untuk pertama kalinya. Ia menyembunyikan diri di ruang kesehatan dan tidur disana, melupakan sejenak Han ssaem yang mungkin akan memenggalnya besok. Ia hanya ingin menenangkan diri, melupakan sejenak bayang–bayang pemuda dengan surai hitam bergelombang yang sejak seminggu yang lalu mengisi otak jeniusnya.

Dan bagusnya, Sewoon berhasil tidur.

Kabar baiknya lagi, ia terlambat pulang.

Nyaris saja ia terkunci di ruang kesehatan kalau saja penjaga Kim tak membangunkannya dan memberitahu bahwa bel pulang sudah berdering sejak dua jam yang lalu.

Disinilah Sewoon sekarang, terkurung di sekolah karena hujan turun dengan manisnya. Bagus sekali ia mempercayai ramalan cuaca di TV tadi pagi, dan dengan santai mengeluarkan payung yang selalu ia bawa agar isi tasnya tak terlalu berat.

Sewoon menunduk. Pipinya menggembung. Ia sudah mengabari eommanya bahwa ia akan pulang terlambat. Beruntung sang eomma maklum dengan kecerobohan Sewoon hari ini. Bonusnya, sang eomma tidak menanyakan kenapa ia bisa terlambat pulang. Ia bisa di cincang kalau saja eommanya tau ia membolos.

"Hahh, kenapa harus hujan," Sewoon berjongkok. Ujung jemarinya bergerak memainkan genangan yang tercipta di dekat kakinya.

"Kau bisa kebasahan kalau seperti itu."

Sewoon menoleh, mencari sumber suara diselingi tawa yang menyapa pendengarannya. Di dekatnya, beberapa langkah cukup jauh dengannya, berdiri seorang pemuda lain yang tengah berjalan mendekat padanya. Sewoon segera berdiri dengan gugup.

"Jadi..," pemuda itu melirik jam tangan yang setia melingkari pergelangannya. "Kenapa kau pulang selarut ini?"

Sewoon tersenyum kaku. "Aku... ketiduran di ruang kesehatan. Hyung."

"Kau tadi membolos?" kelopak sang lawan bicara menyipit, tampak terganggu dengan fakta yang ia temukan.

Bagus sudah.

Sewoon menggigit pipi dalamnya pelan. "Uh.. ya, aku membolos."

"Kenapa?"

'Aku lelah memikirkanmu seminggu ini!'

"Aku.. tak enak badan, hyung."

Telapak pemuda di depannya bergerak cepat, berpindah pada kening Sewoon. Alis yang lebih tua tertaut semakin dalam menyadari bahwa dahi sang adik kelas tak sehangat perkiraannya.

"Aneh, kau tak panas. Tapi kurasa, kau memang sakit. Wajahmu memerah."

Sewoon membatu. Tolong, ia adalah anak baik. Sewoon tak ingin mengutuk dirinya sendiri ataupun pemuda di depannya. Tidak, Sewoon itu jarang mengutuk.

"Ah.. benarkah?" balas Sewoon dengan suara yang tercekat di ujung kalimatnya.

Pemuda di depannya mengangguk. "Tapi, apa kau tak mau pulang?"

Maunya begitu. Kalau saja Sewoon tak meninggalkan payungnya di meja belajarnya, sudah pasti ia sudah pulang dengan selamat dan menonton acara TV kesukaannya dengan camilan di pahanya sekarang.

Sewoon menggeleng ragu. "Aku.. meninggalkan payungku."

Detik berikutnya, sebuah jitakan ringan mendarat di puncak kepala Sewoon. Pemuda itu sempat mengaduh, antara terkejut dan juga merasakan sakit yang tiba–tiba mendera satu sisi di kepalanya. Ia mendongak, memperhatikan wajah di depannya dalam.

"Kau itu, kenapa akhir–akhir ini begitu ceroboh? Minggu lalu terlambat, dan sekarang meninggalkan payungmu?" pemuda di depannya melepaskan satu tali tas punggungnya yang melingkar melalui bahunya. Di putarnya tas itu hingga ke depan tubuhnya. Sewoon mengerjap memperhatikan sang kakak kelas yang mengeluarkan benda berwarna merah dari dalam tasnya.

Itu payung lipat bergambar karakter Ponyo.

Tunggu, dimana Sewoon pernah melihat payung itu?

"Pakailah."

Sewoon menggeleng cepat. "Tidak perlu, sungguh–"

"Acara TV kesukaanmu sudah mulai sejak tadi, Sewoon–ah."

Kepala Sewoon menunduk dalam. Diliriknya sekali lagi payung yang cukup kekanakan milik pemuda di depannya. Sejak kapan sosok tegas itu punya payung seperti itu? Dan, apa tadi? Acara kesukaannya? Ah, bolehkah Sewoon berharap ini hanyalah fantasi liarnya belaka?

"Sudahlah, pakai saja," sahut yang lebih tua.

"Lalu, bagaimana dengan hyung?"

Tawa meluncur dari bibir sang lawan bicara. "Aku masih di sekolah, ada urusan."

Sewoon mendongak, memperhatikan sosok di depannya dengan kedua manik besarnya. Ia nampak polos dan menggemaskan di saat yang bersamaan. "Benarkah?"

"Benar," telapak sang lawan bicara yang terbebas bergerak mengacak surai coklat Sewoon. "Pakai saja, tidak apa. Ini sudah nyaris larut, tidak baik pulang terlalu larut."

Pipi Sewoon memanas. Dengan ragu, tangannya menggapai payung berkarakter yang ditawarkan padanya. Sewoon menunduk dalam setelahnya.

"Terima kasih banyak, Jaehwan hyung."

Telapak Jaehwan menepuk pundak Sewoon lembut. Senyuman terlukis di bibir tebal miliknya. "Santai saja. Jja, pulanglah, hujannya bisa bertambah deras nanti."

Sewoon membungkuk berulang sebelum membentangkan payung lipat itu di atas kepalanya. Sebelum ia melangkah menjauh, sempat ia memutar punggungnya, menatap Jaehwan yang melambaikan tangan padanya. Sekali lagi, Sewoon membungkuk sebelum benar–benar pergi menjauh, meninggalkan Jaehwan sendirian di lobby sekolah.


.

.

.


Seongwoo menggerutu. Daniel, sang kekasih yang duduk tepat di sebelahnya, hanya tertawa pelan menanggapi Seongwoo yang terus mengumpat kesal pada layar ponselnya, atau tepatnya pada nama kontak yang terpampang di layar.

"Serius, aku benci dia lama–lama."

Daniel terkekeh. Kembali tangannya mengaduk lemon tea di depannya. "Sudahlah babe, mungkin ia harus melakukan sesuatu. Kau tau bukan, dia itu orang yang sibuk."

Seongwoo mendelik tajam pada Daniel. "Sibuk dan menyibukkan diri itu berbeda, Kang!"

Daniel menyandarkan punggung lebarnya, diikuti helaan nafas dari pemuda Kang itu. Seongwoo sendiri kembali mengumpat pada ponselnya, mengucapkan kata 'sialan' untuk yang kesekian kalinya di kedai ice cream.

"Please, jarak antara sekolah dan kedai ini itu dekat! Ayolah, setidaknya ia bisa mengabari kalau ingin terlambat. Dia bilang untuk tidak terlambat ke rapat dadakan ini, tapi dia sendiri yang terlambat. Are you fucking kidding me?"

Daniel mengacak poni Seongwoo lembut. "Mungkin ponselnya mati. Di luar juga hujan, right?"

"Dia punya payung merah kekanakan yang tak pernah absen dari tasnya itu kalau kau lupa, Daniel."

"Kekanakan tapi penuh kenangan," koreksi Daniel. "Kau lupa kalau dia selalu membanggakan payung pemberian mantannya itu?"

Seongwoo menggeleng jengah.

Mana bisa Seongwoo lupa? Rasanya, tiap hujan turun, ketua Dewan Muridnya selalu saja bercerita tentang sejarah payung berkarakternya. Seongwoo sampai hapal di luar kepala tiap kata yang dikeluarkan Jaehwan mengenai dongeng payung merahnya.

"Oh, aku rasa itu– EH? Yak, Kim Jaehwan, kenapa kau basah kuyup begitu?!"

Jaehwan, pemuda yang kini sudah berdiri di pintu masuk kedai ice cream dengan seragam yang basah kuyup secara total, tersenyum lebar. Senyuman yang Daniel dan Seongwoo yakini bisa merobek pipi ketua Dewan Murid itu sendiri.

"Mau dengar cerita terbaru soal payung merahku?"

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


a/n: Aduh bapak Jaehwan ternyata gamon kawan wkwkwkwk.
Kalau gitu mah kenapa putus pak.
Okay, itu nanti saja. Simpen pertanyaan itu buat nanti (bau bau spoiler)

.

Sampe detik ini, dd masih ga ngerti.
GA NGERTI KENAPA DANIEL SEKSI BANGET WOY, KHILAF DD KHILAFFF
Sumpah ya, Hands On Me kenapa bisa bikin anak orang khilaf astaga... Terlalu asdfghjkl;_;
Ga ngerti juga kenapa Super Hot funky banget;_; Kenapa minta diulang mulu lagunya;_;
Saya masih lemah liat Seongwoo dengan choker dan Daniel yang too sexy af.
Masih lemah saya liat Daehwi ucul banget.

.

Saya lemah sama semuanya.
Saya mau say goodbye aja liat mereka.
Ga bosen diulang mulu videonya dan lagunya.

.

Bye world, I'm so done

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]