JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Nine
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.

[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]

.
.
.


Jihoon terdiam. Irisnya masih saja memperhatikan cairan kecoklatan –teh– miliknya yang ia diamkan sejak beberapa menit lalu. Tuas di dalam otaknya masih sibuk memutar apa yang sebenarnya tengah terjadi hari ini. Samar ia melupakan keberadaan pemuda lain yang duduk di seberang kanannya. Toh, pemuda itu tak membuka suara sama sekali. Tak ada niatan di dirinya untuk menyadarkan Jihoon dari lamunannya.

Barulah ketika Jihoon mengerjap setelah merasakan matanya memanas, sebab ia lupa berkedip sejak tadi, Jihoon menyadari bahwa ia tak sendiri.

"Maaf, kau harus terdampar di rumahku."

Suara berat di sisi kanannya menyahut. "Tak masalah. Ini juga karena hujan yang turun mendadak."

Senyum masam Jihoon terulas mendengar kata hujan yang turun mendadak. Bolehkah Jihoon merasa percaya diri bahwa alam pun merasakan hal yang sama dengan yang ia alami saat ini? Seketika khayalan bahwa ia adalah satu satu bagian dari alam memenuhi otaknya.

"Kau belum meminum tehmu."

Jihoon mengerjap sejenak. "Oh, kau benar," tawa Jihoon mengalun di sela kegiatannya menyeruput teh dalam cangkir miliknya.

Keduanya terdiam setelahnya. Sosok dengan surai hitam di sisi kanan Jihoon tak lagi membuka suara. Mungkin ia menyadari bahwa sebaiknya ia menunggu Jihoon untuk membuka suara. Sang surai hitam tak mau repot–repot bertanya pada Jihoon. Ia ingin mendengarkannya dari Jihoon tanpa ada paksaan apapun.

Jihoon menaikkan dagunya yang ternyata turun sejak tadi.

"Guanlin–ah."

"Hm?" Guanlin melirik pada Jihoon melalui ekor matanya. Memastikan bahwa Jihoon memang memanggil namanya.

"Apa kau.. pernah melihat senyuman yang seharusnya menjadi milikmu, justru terbagi dengan orang lain?"

Guanlin menarik sebuah senyuman di bibirnya. Punggungnya bergerak menyandar pada sandaran kursi di teras rumah Jihoon. "Pernah, aku pernah melihatnya," balas pemuda Taiwan itu setengah berbisik.

"Apakah... kau menjadi seorang yang egois jika kau meyakini hal itu?"

Alis Guanlin tertaut. Egoiskah jika ia menginginkan senyuman yang seharusnya menjadi miliknya tidak terbagi dengan siapapun? Apakah merasa yakin dengan apa yang seharusnya bisa kau miliki dapat disebut egois?

Guanlin menggeleng setelah terdiam cukup lama. "Tidak, itu tidaklah egois."

"Lalu, apa? Itu bukan posesif. Tidak ada rasa sesak yang menyakitkan kalau itu adalah rasa posesif."

"Itu artinya–," Guanlin merasakan kalimatnya tercekat di ujung tenggorokannya, seakan tak mengizinkan dirinya sendiri untuk melontarkan patah kata selanjutnya. Guanlin menarik nafasnya yang terasa berat. "Itu artinya, kau mencintai. Bukan egois, maupun posesif. Tidak keduanya."

Jihoon menoleh pada sang lawan bicara. "Apa rasanya selalu menyesakkan?"

Apakah rasanya selalu menyesakkan? Ya! Guanlin ingin mengatakan 'YA!' secara lantang pada pemuda Park di seberang kirinya. Meneriakan satu patah kata menyesakkan itu pada siapa saja kalau perlu. Guanlin ingin mengangguk sekuat mungkin untuk menjawab pertanyaan polos itu.

Keputusannya, Guanlin menahan dirinya sendiri.

"Ya. Rasanya kau menjadi orang bodoh yang mengetahui bahwa yang kau lakukan adalah suatu hal yang bodoh."

Jihoon menyandarkan punggung sempitnya perlahan. Maniknya berpindah, memperhatikan genangan air yang tercipta di halaman rumahnya sendiri. "Bukankah ini serakah?"

Serakah? Pantaskah itu disebut serakah?

Guanlin menggeleng cepat. "Tidak, itu bukanlah serakah. Bagiku, itu tidak bisa disebut serakah."

"Kenapa?"

"Kau itu memiliki untuk ada, bukan memiliki untuk mengalah."

Jihoon membatu.

Tuas dalam otaknya kembali berputar, mengulang kejadian beberapa saat lalu, atau tepatnya seminggu yang lalu. Rooftop, novel picisan, dan... Jinyeong. Ia mengingat kalimat itu. Kalimat yang sama yang kekasih Baenya ucapkan padanya. Persis, tanpa memiliki perbedaan apapun.

Oh, benar, kecuali satu hal.

Sekarang, yang mengucapkan berbeda.

Jihoon menunduk dalam. Membiarkan kembali pandangannya memburam. Masa bodoh dengan tehnya yang terkena tetesan bening yang turun dari matanya. Ia tak bisa menahan rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya sejak dari rumah Jinyeong tadi.

Ia tak bisa menahan rasa sesak melihat bagaimana senyuman Jinyeong bukan lagi hanya untuk dirinya.

Guanlin menghela nafasnya menyadari bahu pemuda Park di dekatnya kembali bergetar. Guanlin tak beranjak. Ia tak mendekat pada pemuda itu dan menariknya kembali ke dalam rengkuhannya. Guanlin memilih untuk diam kali ini.

Jihoon menarik nafasnya yang tersendat. Bibirnya yang bergetar mulai bergerak, hendak mengucapkan beberapa kata pada lawan bicaranya.

"Maaf, kau justru melihat hal seperti ini."

"Tak masalah," Guanlin menyambar cepat. "Kau bisa mengatakan apapun yang mengganggumu padaku. Kau bisa menangis. Kau bisa.. yah, kau bisa. Aku tak masalah."

Ya, Guanlin tak pernah mempermasalahkan Jihoon yang menangis. Ia tak masalah membiarkan hatinya turut sesak setiap air mata Jihoon menetes.

Toh, ia sudah sering melihat senyuman Jihoon yang terbagi pada orang lain selama sepekan ini.

Salahkah Guanlin menjerit dalam dirinya sendiri, meminta pada siapapun untuk berhenti mendekati Jihoon, agar hanya ia yang memiliki senyuman kelinci temannya itu? Guanlin merasa bodoh, sudah terjatuh dalam pesona Jihoon hanya dalam waktu satu minggu.

Tapi, berdosakah jika ia mensyukuri hal itu?

Guanlin tak peduli tak peduli dengan hubungan yang terikat antara Jihoon dan Jinyeong atau siapalah itu. Guanlin tak peduli dengan kekacauan yang Jinyeong berikan pada Jihoon. Guanlin tak peduli dengan fakta bahwa ia hanyalah seorang murid pindahan satu minggu yang lalu, yang berhasil sedekat ini dengan Jihoon.

Guanlin hanya peduli dengan Jihoon.

Apapun itu, hanya Jihoonlah titik rotasinya.

Apa ini bisa disebut egois dan serakah?

Tapi, Guanlin hanya ingin merebut yang ia yakini sebagai miliknya. Salahkah ia jika dirinya meminta hal itu pada Jihoon?

Guanlin berdecih.

Tak perlu menjadi jenius untuk mendengar suara hatimu yang paling dalam. Tak perlu menjadi seorang master untuk menyadari bahwa hatimu sendiri mengatakan ini adalah salah. Tak perlu kompas untuk mengetahui kau sudah mulai berjalan di arah yang tak seharusnya kau lalui.

Tapi, Guanlin sudah buta.

Ia sudah terlalu buta untuk peduli.

Ia tak mau menyingkirkan rasa egois yang menutupi mata dan hatinya. Ia tak mau menyadarkan dirinya dari euforia yang membuatnya terlena. Ia mampu, tapi tak ia tak mau. Ia memilih untuk memenjarakan dirinya sendiri daripada terbebas dari rasa sesak.

"Kau pasti hebat, bisa menahan dirimu sendiri dari rasa sesak itu."

Guanlin tersenyum masam mendengar pujian Jihoon.

Hebatkah ia dalam kebodohan yang ia ciptakan sendiri? Hebatkah ia membiarkan dirinya terjatuh lebih dalam pada pesona seorang Park Jihoon yang sudah terikat dengan orang lain?

"Tidak. Aku sangat bodoh."

Jihoon melirik Guanlin dari ekor matanya. Bisa ia lihat sebuah senyum masam di pemuda Taiwan itu.

Jihoon tidak bodoh untuk menyadari arti senyuman itu. Jihoon tidak dungu untuk menyadari siapa objek yang ada di pikiran Guanlin sejak awal pembicaraannya di teras ini. Jihoon tidak buta untuk menyadari kenyataan di depan matanya.

Tawa sumbang mengeras dalam diri Jihoon. Tawa yang jelas mengejek dirinya sendiri dalam segala tak keberdayaannya. Sementara setitik sudut di hatinya menjerit marah pada Jihoon, sang pemilik tubuh justru memilih untuk menulikan dirinya dari hatinya sendiri.

Jihoon tau, ini salah.

Ini sangat salah, melebihi kesalah Jinyeong yang menggenggam tangan seorang pemuda lain dengan senyum yang terlukis di wajah datarnya.

"Guanlin–ah. Kurasa... kau harus pulang."

Guanlin tersenyum tipis. "Aku tau kau akan mengusriku," pemuda Taiwan itu menegakkan tubuhnya, segera bangkit dari kursi. Tak lupa ia meletakkan cangkirnya di meja yang membatasi kursinya dengan kursi Jihoon. Meski bergitu, senyuman tipis justru menghias wajahnya.

"Maafkan aku," bisik Jihoon.

"Tidak, kau tidak salah, Jihoon," Guanlin mendekat, mencoba memberanikan dirinya untuk mengusap surai coklat Jihoon. Jihoon tak menolak, ia hanya memejamkan matanya rapat. Dibiarkan saja olehnya telapak hangat Guanlin mengusap surainya.

"Maaf, Guanlin."

"Aku sudah bilang, kau tidak salah."

Jihoon mendongak, menemukan pandangannya dengan Guanlin dalam satu titik yang sama. Senyum tersemat di bibirnya, senyuman dimana ada seberkas rasa perih disana. Guanlin bisa melihat itu.

"Maaf, tapi– ini salah. Aku tidak bisa."

Guanlin terkekeh ringan. "Kau sangat mencintainya hm?"

"Sangat. Aku sangat mencintainya."


.

.

.


Daehwi tertegun melihat seorang pemuda berdiri tak jauh di depannya. Maniknya memperhatikan bagaimana kedua tangan pemuda itu bersedekap di depan dadanya. Daehwi meletakkan gelasnya di meja ruang makan, menghentikan sejenak kegiatan minumnya yang baru beberapa detik lalu berlangsung.

Alis Daehwi tertaut cukup dalam melihat pemuda bersurai mencolok itu ada di rumahnya. Padahal, rasanya ia tak melihat sepatu milik orang lain di depan.

"Sejak kapan kau kemari?"

Bahu lawan bicaranya bergerak naik turun. "Satu jam lalu?"

"Kenapa kemari?" Daehwi menarik salah satu kursi disana. Ia memilih mendudukkan dirinya sementara ia berbicara dengan pemuda di depan sana.

Lawan bicaranya menghela nafas. Tangannya yang bersedekap turun perlahan. Kakinya melangkah mendekat pada Daehwi yang tak bisa menghilangkan persimpangan di dahi sempitnya pada pemuda itu.

Daehwi mendongak, menemukan pemilik wajah cukup tampan –okay, sebenarnya memang tampan– yang sudah berdiri di sisi kiri tubuhnya. Kelopaknya mengerjap polos.

"Kau pulang terlambat hari ini."

"Aku menjenguk temanku tadi. Aku pergi dengan Seonho, sungguh!"

Pemuda di sebelahnya mengangguk samar. "Siapa?"

"Hah?"

"Temanmu, yang sakit. Siapa? Aku tidak tau kau dekat dengan orang lain selain si anak ayam."

Daehwi mendecih dalam duduknya. "Bae Jinyeong. Kau kenapa sih?"

Pemuda di sebelahnya menarik salah satu kursi, tanpa melepaskan sedikitpun maniknya dari wajah Daehwi. Bahkan saat ia duduk disana, iris tajam itu tetap menatap Daehwi dalam.

"Kau.. benar dekat dengan Jinyeong?"

Daehwi tersedak salivanya sendiri. Irisnya mendelik, membalas tatapan tajam lawan bicaranya. "Please, aku tidak dekat. Bagiku dekat dalam hubungan kami itu normal okay. Dan, hey... dari siapa kau dengar itu?"

Tangan lawan bicaranya mengibas di depan wajah. "Tidak penting. Hanya saja, sebaiknya kau menjaga jarak. Okay, aku bukannya tak percaya denganmu. Whatever, aku tidak mengekang sosialisasimu di Korea. Tapi kau perlu ingat, ini bukan Amerika, ada batasan tertentu disini."

"Okay, kau itu kenapa sih? Habis di pukul di kepala oleh masa depanmu ya?"

Senyum remeh terulas di bibir pemuda bersurai mencolok. "Aku hanya memperingatkan saja. Kau tau bukan aku berada di tengah? Aku tak bisa bergerak ke kiri ataupun ke kanan. Aku hanya bisa mengingatkan dan menjelaskan batasan disini."

"Seriously, kau membuatku takut sekarang. Kau tidak gegar otak 'kan?"

"Please, berhenti mengejekku!"

Daehwi mengangkat kedua tangannya. Tanda menyerah. "Okay okay, aku mendengarkanmu sekarang dude."

"Aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Aku merasa ini tidak akan berjalan dengan baik jika terus berlanjut, Lee. Ini Bae Jinyeong, dan kau yang berhasil masuk ke dalam lingkaran hidup Jinyeong dalam waktu kurang dari satu bulan– ah tidak, kurang dari dua minggu bahkan, adalah sesuatu yang takkan lepas dari perhatian siapapun."

Daehwi mendesah. "Aku tau."

"Kurasa Jihoon belum tau ini. Cepat atau lambat, ia akan mengetahuinya. Aku tak bisa menjamin kapan waktu itu tiba. Dan sebaiknya, kau memang harus memulai membentuk batasan disini."

Daehwi memajukan tubuhnya ragu. Fokusnya berlarian sejenak, tidak yakin dengan kalimat yang hendak ia ucapkan. Gumaman tak jelas sempat berdengung di dalam mulut mungilnya.

"Em... aku mau bertanya padamu."

Pundak lawan bicaranya mengendik. "Tanyakan saja, apapun."

"Apa saat kau berbicara dengan orang lain dan merasakan detak jantungmu meningkat, uh ya kau tau, rasanya membuatmu pusing disatu sisi.. Apakah itu bisa disebut menyukai?"

Senyum tipis terulas di bibir surai mencolok. "Tidak juga."

"Kenapa?" balas Daehwi cepat. Tak bisa ia sembunyikan nada penasaran yang terselip di suaranya.

"Kau masih harus merabanya. Kau masih harus mencari apakah itu debaran untuk menyukai, ataukah debaran yang lain."

"Debaran yang lain?"

"Debaran yang hatimu coba berikan pada otakmu, debaran untuk menyadarkan akan sebuah kesalahan yang baru saja dimulai."

Daehwi mendesis pelan.

"Sejak kapan sepupuku yang manis, Park Woojin, berhenti menjadi idiot seperti ini? Kau dan jenius adalah kata yang tak bisa disatukan, asal kau tau."

Woojin tertawa, membiarkan surai merahnya ikut berguncang pelan.

"Sejak aku bisa mengurung Hyungseob di bawahku?"

"Secara harfiah? Wow dude, apa aku perlu menjelaskan soal batasan yang tadi kau sampaikan padaku? Aku rasa kau tidak cukup idiot untuk mengingatnya."

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


a/n: Hehehehe, malem ini tida bom update ya.
Udah balik ke normal aja:v

.

APAKAH INI GUANHOON? BAEHWI?
HEHEHEHEHE
Itu, cast dibawah judul, iya yang itu, itu KEPUTUSAN YANG TIDA BISA DIGANGGU GUGAT.
#kapaltidakkaram #sayasayangkalian #tolongjanganbunuhsaya
Ampuni dd yang menistakan cast disini. Dd ga ada maksud kok.
Dd sayang semuanya, uhuk.

.

APA JINYOUNG SUKA DAEHWI?
Sekali lagi, mari tanyakan pada perut Seonho yang kelaparan.
DAEHWI SEPUPU UJIN?
Ehehehe, iya nih. Ayo coba flashback di season 1 ada apa /slap

.

Ah iya, dd baru hari ini masuk grup L*NE
HHAAAYYY KALIAN, baca ini yaa? Makasih banyak ya, dd sayang banget:"
Seneng kalau bisa ngobrol sama reader:""

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]