JY present
Delinquent Student: Season 2
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Twelve
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]
.
[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]
.
Rating pada chapter ini akan saya naikkan ke Mature karena adanya adegan yang tidak seharusnya ada di rating Teen.
.
.
.
"Jin... yeong?"
Kelopak Jihoon terbelalak. Memperhatikan bagaimana objek di hadapannya tampak sangat kacau. Lihat saja tetes darah yang membasahi kemeja putih seragamnya, membentuk pola abstrak di beberapa bagian. Atau juga lebam yang menghias di wajahnya serta luka di sudut bibirnya. Intinya, fisik pemuda dengan surai hitam di rooftop itu sangatlah mengenaskan.
Jihoon berlari. Mengabaikan seluruh rasa sakit yang mengurungnya. Meninggalkan segala egoisnya akan dirinya sendiri. Tungkainya tetap melangkah lebar mendekat pada Jinyeong dengan serampangan. Tidak peduli dengan kepalanya yang berputar ataupun dadanya yang terasak sesak, ia tetap mendekat pada Jinyeong.
Masa bodoh dengan rasa sakit yang ia pendam kemarin.
Jihoon langsung bersimpuh, menyamakan tubuhnya dengan Jinyeong yang terduduk di rooftop. Tubuhnya bergetar dari ujung hingga ujung. Peluh pun mulai membasahi dahi sempitnya.
"Ya Tuhan– Ya Tuhan, astaga Jinyeong– Jinyeong, kau– Apa yang terjadi?! Kenapa kau– Ya Tuhan..."
Disitulah seorang Park Jihoon menangis.
Air mata dari pemuda Park itu mengalir turun begitu saja membasahi pipinya. Telapaknya bergetar menyentuh pipi Jinyeong. Menyelami lebam dan luka yang ada disana. Bahkan jarinya berjengit seolah merasakan rasa sakit saat lebam itu disentuh. Ringisan masam turut menghiasi wajahnya setiap pandangannya jatuh pada warna merah, biru, dan ungu di wajah Jinyeong.
Jihoon sesenggukan. Kalimat yang keluar dari bibirnya semakin samar, tenggelam dalam tangisnya sendiri. Hanya dengungan yang keluar dari sana. Tubuhnya lemas. Bahunya turut meluruh, seakan tulang di tubuhnya dilepaskan satu persatu. Tangannya yang semula berada di pipi Jinyeong perlahan turun ke dada bidang sang surai hitam.
Ia hancur. Melihat bagaimana parahnya keadaan Jinyeong, justru memukul jiwa dan raganya secara telak. Parunya semakin dihimpit bongkahan besar yang menyakitkan.
Jihoon marah. Sangat marah. Pukulan –yang tentunya tidak seberapa– ia layangkan pada dada Jinyeong. Dengan kepala yang tertunduk, ia memukul pemuda di depannya berulang.
Jinyeong diam. Tangannya tidak bergerak untuk meraih Jihoon dalam rengkuhannya. Tubuhnya terlalu kaku untuk diajak berkerja sama saat ini. Dan seketika ia merasa sangat brengsek, membiarkan Jihoon menangis di depannya tanpa berniat menenangkannya.
Oh, bukankah ia memang brengsek?
"Bodoh– hiks, kau bodoh. Kau– hiks, aku benci hiks denganmu."
Telinga Jinyeong berdengung mendengar bagaimana Jihoon terisak. Bagaimana harusnya amarah terselip disana, justru digantikan dengan nada khawatir. Sangat bodoh. Jinyeong ingin berteriak pada Jihoon, membentak namja lebih tua itu, menjeritkan kebodohan di diri Jihoon.
Jinyeong kalut.
Ia marah atas dirinya sendiri.
Ia tak ingat sejak kapan ia menahan pergelangan tangan Jihoon dengan erat hingga pemuda di depannya meringis. Ia tak ingat kapan ia mendaratkan bibirnya di bibir Jihoon dan melumatnya –tanpa perasaan. Lumatan itu kasar, penuh penekanan, –dan menyakitkan. Ia tak ingat sejak kapan Jihoon meronta untuk dilepaskan. Ia tak ingat kapan ia menggigit bibir Jihoon hingga berdarah.
Ia tak mau mengingatnya.
Jinyeong tau, bahwa Jihoon terisak kencang. Jinyeong tau bahwa Jihoon bergetar dalam tangisnya, karena rasa sedih dan takut di saat yang bersamaan. Jinyeong tau, Jihoon melemah dalam cengkramannya.
Jinyeong tau, ia sudah menyakiti Jihoon.
Ia mendorong tubuh Jihoon, membiarkan yang lebih tua terbaring di bawah kungkungannya dengan segala bentuk pemberontakan. Andai Jinyeong membuka kelopaknya, ia tentu bisa melihat pupil mata Jihoon yang bergetar.
Jihoon takut atas Jinyeong.
Dan apakah Jinyeong mencoba untuk peduli?
Tunggu, sejak kapan Jinyeong mencoba peduli? Bukannya ia mulai menghilangkan eksistensi Jihoon secara perlahan dari kepalanya ...dan hatinya? Bukannya ia sadar bahwa murid pindahan baru di kelasnya lah yang menggantikan Jihoon sedikit demi sedikit?
Jinyeong sadar, namun ia menolak untuk sadar.
Ia sudah menghentikan kerja otaknya yang waras ketika tangannya melepaskan seluruh kancing seragam Jihoon dengan paksa. Ia biarkan begitu saja manik–manik itu berceceran ke sembarang arah. Bibirnya turun pada leher jenjang Jihoon, memberikan sebuah gigitan keras disana hingga Jihoon menjerit. Sudut matanya bisa menangkap darah yang turun perlahan dari tempat dimana Jinyeong memberikan gigitan di leher yang lebih tua. Tangannya sendiri entah sejak kapan sudah turun ke bagian selatan tubuh yang lebih tua, meremas organ tubuh yang ada disana cukup kuat hingga mengundang erangan tertahan dari sang pemilik tubuh. Jinyeong tak peduli lagi dengan sudut di hatinya yang menjerit marah pada dirinya sendiri. Jinyeong tak mau mendengar apapun. Jinyeong tak mau membuka selubung hitam yang mulai mencekik dirinya tubuhnya dan jiwanya.
Jinyeong marah.
Ia marah atas segala hal.
Ia marah atas dirinya sendiri.
Ia marah pada manusia bersurai hitam yang tiba–tiba menghajarnya saat istirahat pertama, dan bersikap seakan ia mengetahui Jihoon sepenuhnya.
Ia marah–
– atas ketidakmampuannya melindungi Jihoon.
Barulah Jinyeong melihat cahaya ketika sesuatu menghantam kepalanya dengan keras, membuat tubuhnya tersungkur ke samping, menjauh dari Jihoon beberapa meter. Ia bisa melihat cahaya yang menyesakkan ketika merasakan hantaman bertubi menghujani wajahnya.
"Menjauh darinya, brengsek!"
Ia bisa melihat wajah Guanlin yang merah padam di atasnya.
Barulah ia paham, bahwa cahaya itu datang selaras dengan pukulan Guanlin di wajah dan tubuhnya. Cahaya itu, cahaya yang membantu Jinyeong melepaskan selubung hitam di pikiran dan hatinya.
Gendang telinganya tak menangkap apapun selain suara isakan Jihoon di dekatnya. Telinganya sudah tuli untuk mendengar suara kepalan tangan Guanlin yang menghantam seluruh bagian di wajahnya. Ia tak lagi mendengar bunyi menyakitkan dari tulang yang saling menghantam.
Tapi ia tidaklah tuli untuk mendengar suara tubuh Guanlin yang terlempar dari atasnya di detik setelahnya. Ia tidak terlampau dungu untuk menyadari bahwa sudah tak ada yang mengurung dirinya di atasnya.
Pun ia tak cukup tuli untuk mendengar suara tercekat Jihoon memanggil nama 'Seongwoo hyung' dengan lemah dan bergetar di tiap tarikan nafas.
Ia tidak buta untuk melihat tubuh tegap Daniel berdiri di dekatnya dan tubuh Guanlin yang terbaring beberapa langkah di sisi kiri Jinyeong. Ia bisa melihat Seongwoo yang memeluk Jihoon dengan erat, menyampirkan jaket besar miliknya pada tubuh mungil Jihoon, menutupi tubuh Jihoon yang terekspos.
Jinyeong tidak buta, karena ia bisa melihat wajah Daniel yang mengeras. Maniknya bisa menangkap rahang Daniel yang bergemelutuk dan kepalan bergetar kakak kelasnya itu.
Jinyeong hanya buta untuk menyadari bahwa ini adalah kesalahannya.
Karena di detik sebelumnya, bayangan pemuda dengan surai coklat dan tubuh kurusnya yang manis sempat terlintas di pikirannya.
Dan Guanlin tidak sebodoh itu untuk menyadari seberkas pancaran lain melintas di manik Jinyeong ketika ia mencoba melirik sang lawan.
Guanlin marah.
Ia tak peduli bagaimana Daniel menghajarnya. Ia tak peduli apakah ia akan sekarat dalam pukulan Daniel setelah ini. Ia tak peduli dengan jeritan tersendat Jihoon disana. Ia tak peduli dengan seluruh kewarasan yang mencoba menahan dirinya.
Ia hanya peduli dengan Jihoon.
Terima kasih pada dirinya yang memiliki tekad sekuat baja, hingga ia bisa mencoba melawan rasa sakit di sekujur tubuhnya untuk kembali menerjang Jinyeong. Pukulan demi pukulan terus ia berikan pada Jinyeong, mengabaikan Daniel yang mulai lepas kendali di belakang sana. Bahkan ketika kakak kelasnya itu menarik kerahnya, memberikan pukulan lain di wajahnya, dan melemparkannya seolah ia adalah objek mati, ia tetap tak peduli.
Sekali lagi, ia hanya peduli dengan Jihoon.
"Daniel hyung! Cukup!"
Sudut mata Guanlin menangkap sosok bersurai merah menyala mendekat pada Daniel. Pemuda itu mendorong tubuh Daniel ke belakang, menjauhkannya dari Guanlin ataupun Jinyeong.
Itu pemuda yang tadi memisahkannya dan Jinyeong di istirahat pertama.
Di belakangnya, seorang pemuda lain dengan surai hitam berlari mendekat pada Jihoon dan Seongwoo yang mendekapnya. Ia langsung berlutut di dekat tubuh gemetaran Jihoon. Tangan kecilnya menggenggam telapak Jihoon kuat.
"Tidak! Menyingkir Woojin! Aku akan dengan senang hati menyadarkan dua bocah bodoh itu! Kalau perlu, hingga mereka sekarat pun aku akan menyadarkannya!"
Woojin, sang surai merah, mendorong bahu Daniel keras. Maniknya memandang tajam sang kakak kelas yang sudah hendak mengambil langkah untuk mendekat pada Guanlin ataupun Jinyeong.
"Sadarlah hyung! Kau hanya akan memperparah segalanya jika kau menghajar mereka! Sudah cukup!"
"Tidak!" Daniel menjerit frustasi. Masa bodoh dengan seluruh siswa yang bisa mendengar teriakannya dari bawah sana.
"Kang Daniel, cukup!" suara lain menginterupsi disana. Memberikan bentakan keras pada sang pemilik surai honey brown agar menghentikan tindakannya.
Daniel menendang gusar udara kosong di depannya. Pun tinjunya yang sedari tadi ia tahan, ia layangkan juga pada hampa. Tak bisa ia mengelak jika suara pemilik konstelasi bintang di pipinya sudah menyahut, memintanya untuk berhenti disana.
Daniel lemah?
Tidak, ia tidak lemah.
Tapi ia tidaklah egois untuk tak mendengar suara Seongwoo.
Daniel mengarahkan telunjuknya bergantian pada Guanlin dan Jinyeong yang masih terbaring, nampak mencoba bernegosiasi dengan kesadaran mereka sendiri.
"Jika aku melihat kalian bergerak satu inchi pun, aku tidak segan untuk membunuh kalian. Benar–benar membunuh kalian," Daniel berbalik setelahnya, kembali mendekat pada tiga manusia di belakang sana. Ia bergerak membantu Seongwoo, menggantikan posisinya yang nampak kepayahan menggendong Jihoon, dan membawa tubuh gemetar itu menjauh dari sana.
Hanya Hyungseob yang masih disana, menunggu pemuda surai merah yang berdiri beberapa langkah di depannya menyelesaikan urusannya. Jaga–jaga pula, siapa tau tunangannya itu justru lepas kendali pada Jinyeong dan Guanlin?
Park Woojin diam di tempat. Sorot tajamnya menatap dua pemuda dengan surai hitam yang tergeletak di dekat kakinya. Disana, ia menarik sudut bibirnya, memberikan senyum penuh ejekan pada dua insan yang sudah tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sendiri.
"Selamat. Apa kalian sudah puas.. hai dua bajingan kecil? Sudahkah kalian menemukan apa yang kalian cari? Apakah itu cinta Jihoon? Atau mungkin– rasa takut Jihoon?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
–TBC–
a/n: Bingung kah? Jadi gini. Ini udah istirahat kedua [beberapa chap sebelumnya udah dijelasin kalau Jinyeong mau ketemu Jihoon istirahat kedua].
Dan soal Daniel dkk yang mendadak muncul... Hehe nanti ada chap sendiri untuk menjelaskannya kok. Harap sabar juseyong;)
.
Yang mau bunuh Baejin, harap jangan dulu ya. Nanti langsung tamat ceritanya kalau Baejin dibunuh reader-nim;_;
Saya juga tau kok kalau Baejin vangsat sekali, iya saya tau.
Saya aja mau bunuh dia disini. Karakter dia maksudnya ehe.
.
Apa Muel suka Dewi? Apa kodenya kemarin itu soal perasaan Muel?
Hehe.
Mari kita tanyakan pada rumput di lapangan Hanlim /slap.
.
Btw, kemarin ada yang tanya apa dd berpengalaman soal cinta.
Hehe, absolutely not;) Kecuali mencintai oppa oppa /nangis dipojokan/
Chap kemarin aja dd nggak ngerti kenapa bisa nulis gituan.
Lagi sok puitis mungkin hm;_;
.
BTW! Anyone, miss JaeWoon?;_;
Bapak Ponyo, myane kalian jarang muncul.
Next chap khusus kalian kok mwah.
Eh... ups /muka innocent/
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
