JY present
Delinquent Student: Season 2
.
Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Thirteen
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]
.
[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]
.
.
.
Sewoon terdiam. Tidak berani barang sedikitpun dia membuka suara. Menarik nafas saja rasanya sesak bukan main, apalagi menegur pemuda berwajah murung di sampingnya? Sewoon tau, ia tidak akan dimarahi, mengingat pemuda di sampingnya jarang marah pada siapapun. Tapi kalau di tatap tajam? Sewoon tidak bisa menjaminnya.
Yah, Sewoon bisa mengerti alasan dibalik mendungnya wajah pemuda di sampingnya. Kalau Sewoon adalah dia, Sewoon pun pasti akan berwajah sama. Atau bahkan lebih mendung?
Hey, memikirkan masalah di sekolah itu sulit tau.
Mengerjakan tugas yang menumpuk saja terkadang membuat Sewoon ingin muntah. Dan ini? Perkelahian di rooftop? Beruntungnya, kabar ini tidak tersebar di kalangan murid lain. Hebat sekali pemuda di sampingnya menutupi kejadian yang di rooftop.
Sewoon tak menolak ketika pemuda itu menemuinya sebelum ia masuk ke dalam kelas –bel selesainya istirahat kedua sudah berbunyi, dan menariknya pergi. Mana sempat ia memikirkan apapun. Yang terlintas di kepalanya hanyalah hitam dan putih.
Untuk pertama kalinya, Sewoon merasakan otak jeniusnya menjadi sepolos kertas.
Ia tak bertanya ketika pemuda itu menyuruhnya naik ke atas motornya, dan membawa pergi keduanya keluar dari sekolah. Melewati penjaga begitu saja dengan bantuan jabatannya. Sewoon sibuk mencengkram seragam sang pemuda karena laju kendaraannya yang membelah kepadatan bukan main mengerikannya. Sewoon sudah pusing di balik punggung lebar itu.
Dan Sewoon tetap tidak membuka suara untuk sekedar menanyakan kenapa ia dibawa pergi ke taman kecil di pinggiran Seoul –ia sendiri tak sadar kenapa dan bagaimana mereka bisa pergi sejauh ini–. Tindakan terberaninya sejauh ini adalah melirik pemuda di sampingnya yang terus mengerang dan mengacak surainya sampai berantakan.
Bahkan ketika pemuda itu mulai bersuara, menceritakan apa yang sedang terjadi, membiarkan segalanya tercurah pada Sewoon, Sewoon hanya mengangguk dan ternganga di tempatnya. Tidak bisa ia membayangkan ceceran darah yang dijelaskan pemuda di sampingnya, atau sulitnya mengontrol emosi sang kawan beruangnya di ruang Dewan Murid. Imajinernya tidak bekerja dengan baik untuk membayangkan segala kengerian itu.
Pemuda itu berdeham, menarik kembali atensi Sewoon yang sempat terbuyar. Yang lebih muda mendongak, menemukan wajah masam di sampingnya.
"Aku... mengajakmu membolos."
"Oh– itu.. tidak masalah," Sewoon mengibaskan tangannya cepat. "Tidak apa hyung, santai saja."
Decihan kecil lolos dari sang lawan bicara. "Maaf membuatmu mendengar masalah ini. Aku– aku tidak tau. Aku hanya– aku tidak paham, apa yang terjadi, atau kenapa hal itu bisa terjadi. Aku merasa– ini adalah masalah sekolah yang tak bisa aku selesaikan."
"Aku tidak masalah, Jaehwan hyung. Dan yah.. tidak selamanya manusia harus mengerti dan menyelesaikan masalah yang ada."
Jaehwan meletakkan pandangannya pada manik Sewoon. "Kenapa begitu?"
"Uh, ya.. karena manusia memiliki kelemahan," Sewoon mencoba menyelipkan sebuah senyuman. "Kau memang ketua Dewan Murid, tapi bukan berarti kau harus menanggung semuanya hyung. Ada tanggung jawab yang tidak seharusnya kau pegang. Ada pula masalah yang tidak seharusnya kau pahami. Kau tidak bisa mengesampingkan batasan– maksudku, uh, maaf aku tidak bermaksud menceramahimu."
Jaehwan tertawa. "Tidak, lanjutkan saja, Sewoon–ah."
Sewoon berdeham canggung, bingung untuk melanjutkan kalimatnya yang sudah ia potong begitu saja. Irisnya sempat melirik sejenak rumput liar di dekat sepatunya, berharap objek itu bisa membantunya daripada hanya bergoyang karena hempasan angin saja.
"Um.. Menurutku, untuk hal ini, hyung membantu dari luar saja. Err, hyung tidak perlu menuntut penjelasan, tunggu saja sampai ada yang menjelaskan. Dari situ, baru hyung bergerak. Masalah itu.. pasti menyangkut privasi yang cukup dalam."
Senyuman terulas di bibir Jaehwan.
Ini dia, Jung Sewoon yang ia kenal. Pemuda yang pernah mengisi hari kosongnya selama tiga tahun, yang ia putuskan begitu saja dengan alasan ujian masuk SMA. Dan jangan lupa tambahan 'ingin fokus bersekolah' dan 'akan sulit bertemu'.
Alasan konyol.
Silahkan membenci dirinya. Ia sendiri tak melarang hatinya mengumpat atas kebodohannya.
Jaehwan menertawai fisik dan jiwanya sendiri selama berbulan–bulan dalam rasa kalutnya. Ia mengatakan ingin fokus, namun, ia justru tak bisa fokus. Oh ya, kau tak akan bisa fokus karena rasa bersalah yang terus mengisi hatimu. Persetan dengan fokus. Persetan dengan isi otaknya yang tampaknya sedikit –sangat– rusak kala itu.
Bayangan akan Sewoon terus saja menghantui isi kepalanya setelah ia putus dengan sang adik kelas. Dan setiap ia teringat akan Sewoon –melihat orang lain bernafas pun ia bisa teringat akan Sewoon–, teman–teman di sekitarnya harus menahan dirinya agar tak menjedukkan kepalanya ke tembok hingga berdarah.
Faktanya, ia pernah melakukannya. Iya, ia membenturkan dahinya ke tembok sampai lebam. Hanya karena ia membuka tasnya dan menemukan payung merah pemberian Sewoon di dasar tasnya. Jaehwan ingat, ia langsung dilarikan ke ruang kesehatan setelahnya. Kejadian itu sempat membuat satu kelasnya panik.
Dan sekali lagi, ia hanya bisa menertawakan segala kekonyolannya.
Ini dia Sewoon yang ia rindukan.
Jaehwan memejamkan matanya. Sengaja ia menyandarkan kepalanya pada bahu Sewoon cepat, hingga pemuda itu tak sempat mengelak. Lupakan sejenak soal tubuh Sewoon yang langsung menegang, atau soal nafasnya yang tertahan di ujung parunya.
"H–hyung."
"Kumohon," bisik Jaehwan rendah. "Kumohon, biarkan begini. Kali ini saja, Sewoonie. Kali ini– maafkan aku yang bersikap kelewatan."
Sewoon menunduk dalam. Detak jantungnya yang berhamburan tak lagi pedulikan. Kepalanya yang terasa diguncang tak lagi ia gubris. Ia tak akan bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ia menjadi seperti ini, untuk saat ini.
Ia akan mentolerir lengan kirinya yang bergerak dan membiarkan telapaknya mengusap kepala Jaehwan di pundak kanannya.
Sewoon tau, Jaehwan pun tersentak mengetahui bahwa Sewoon tengah mengelus surai hitamnya. Sewoon bisa melihat dari sudut matanya, bahwa sang kakak kelas terbelalak lebar.
Tapi Sewoon tak peduli.
Sewoon tetap menggerakkan telapaknya selembut mungkin disana. Agak payah, memang, karena tangannya tampak sangat kaku untuk bergerak naik turun. Ia tetap mecoba, ia ingin meyakinkan Jaehwan atas tindakan nekatnya.
Dan ketika Jaehwan mulai memejamkan kembali matanya, menikmati hangatnya telapak Sewoon, pemuda yang lebih muda itu menarik sudut bibirnya ke samping. Hatinya menghangat, seakan dilingkupi oleh sesuatu –oh benar, itu: rindu. Rindu sudah melingkupi hatinya. Rasanya sesak, namun menyenangkan. Sewoon akan mencatat sensasi ini baik–baik di otaknya dan hatinya.
"Aku– sudah menyakitimu."
Usapannya berubah menjadi tepukan ringan. "Tidak, kau tidak hyung."
"Aku merasa menjadi manusia yang menyedihkan. Mencampakkanmu begitu saja, kemudian berharap kau kembali. Bukankah itu lucu? Aku seperti orang gila yang menunggu di tengah ruang waktu. Aku meninggalkan seluruh tanggung jawabku hanya untuk menunggu, tanpa mau mencoba untuk mengejar. Aku– pesimis."
Mata Sewoon memanas. Sebuah genangan bening terbentuk disana. Mendengar bagaimana suara rendah Jaehwan menyapa gendangnya sangatlah menyakitkan baginya. Hingga beberapa detik lalu, belum pernah ia mendengar suara tegas Jaehwan menghilang, digantikan dengan nada penuh sendu seperti tadi.
Baru kali ini ia melihat sisi rapuh seorang Kim Jaehwan.
Sewoon mengerjap, tak membiarkan air mata menetes dari maniknya. Jaehwan tak boleh menyadari nafasnya yang tersendat beberapa saat.
"Tidak, kau tidak salah hyung."
Jaehwan mengernyit dalam pejamannya. "Berhenti mengatakan tidak, Jung."
"Tapi kau memang tidak salah," putus Sewoon. "Kau tidak salah sama sekali. Kau benar, kau benar karena kau sedang mencari kebenarannya."
Bahu Jaehwan meluruh.
Sejauh apa dulu ia menyakiti Sewoon? Meninggalkannya begitu saja dengan anggapan ia akan melakukan semuanya dengan baik, yang ternyata berbuah nihil? Ia justru kacau. Ia rusak karena keputusannya sendiri.
Sudah sejauh apa ia membiarkan Sewoon menenangkan dirinya sendiri?
Detik berlalu cepat. Sewoon tak bisa melakukan apapun ketika Jaehwan menariknya dalam sebuah pelukan hangat. Ia tak berani menunduk. Ia tak mau melihat Jaehwan yang tengah membenamkan kepalanya di dada Sewoon. Sedangkan dua tangannya menggantung di udara, terkaku di atas pundak Jaehwan.
Nafas Jaehwan memburu. Jantungnya terasa berlubang kala menarik Sewoon tanpa permisi, membuat sang adik kelas membatu di posisinya.
Jaehwan tidak menangis. Tidak, ia bukanlah pria semelankolis itu, meski ia menyadari kesalahan yang ia tanggung sangatlah membebani. Jaehwan hanya... hampa. Ia tak bisa merasakan apapun selain rasa nyeri yang menusuk seluruh tubuhnya, hingga menyentuh titik di jiwanya.
"Hyung– kenapa.. kau–"
"Maafkan aku. Maafkan aku, Sewoon. Maafkan aku."
Seluruh indra Sewoon mencelos, mendengar bagaimana suara Jaehwan bergetar di tiap kata yang terucap. Rasanya sesak. Menyakitkan, seakan ia merasakan sakit yang dialami pula oleh Jaehwan. Namun di satu sisi, ia merasa terlepas. Rasanya, sesuatu yang menghimpit di rongga dadanya sejak dulu terangkat begitu saja.
Tidak, Sewoon tidak marah ketika Jaehwan memutuskannya begitu saja di depan lokernya dulu. Ia tidak kecewa melihat punggung itu berbalik meninggalkannya yang tersandar di loker dan menangis. Tidak, Sewoon tidak marah.
Ia tak bisa marah dengan sosok di depannya ini.
Lengannya terayun, berpindah untuk menarik Jaehwan ke dalam dekapan eratnya. Tubuhnya merileks, melepaskan begitu saja canggung yang membelenggunya sejak tadi. Sementara itu, sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyuman sehangat mentari yang tak Jaehwan sadari.
"Tidak apa hyung, tidak apa. Aku disini. Aku– memaafkanmu."
Barulah, untuk pertama kalinya, seorang Kim Jaehwan membiarkan air matanya turun melintas di pipinya setelah Sewoon menyelesaikan kalimatnya, diikuti dengan lengan Sewoon yang semakin mengerat melingkari pundaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
–TBC–
a/n: HAYYY, MYANE APDETNYA MALEM GINI
BIASA, NOTEBOOK SAIA ERROR LAGI
INGIN CURSING DEH HHH
.
DAN APA INI HHH, KENAPA KEJU SEKALIII
NGALUSNYA HEBAT YA BAPAK:)
PONYO JUGA KEJU SEKALI:)
.
Btw:
#saiawinkdeepteam #samhwiteam #guanhoteam #WINKDEEPGAKARAM #SAMHWIGAKARAM #GUANHOGAKARAM #inicobaanya #iniujian #harapbersabar #HIDUPWINKDEEP #HIDUPSAMHWI #HIDUPGUANHO #kapaltidakkaram #kapaltidakakankaram
Agak ketar ketir dd nulis FF ini, takut menghasut untuk suka GuanHoon (bukan berarti dd ga suka GuanHoon ship/per) karena FF ini untuk WINKDEEP SAMHWI GUANHO;_; Mana panwink akhir-akhir ini momentnya banyak sangat hh:"
.
WANNA-ONE DI 1st LOOK KENAPA VANGSAT SEKALI
Ah lelah hayati. Udah bunuh hayati di rawa-rawa aja mz:)
Yang namanya Kang Daniel, Park Woojin, Ong Seongwoo, jangan sampai lepas:)
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
