JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Fourteen
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.

[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]

.
.
.


Ia menatap wajah pemuda di depannya dengan raut sedih. Melihat bagaimana luka di sudut bibir pemuda berwajah serupa di depannya, juga lebam disana sini, membuat tubuhnya seakan turut merasakan rasa sakit pemuda itu. Jemarinya akan berjengit setiap ia menyentuh bagian terluar dari luka atau lebam itu. Tergores sedikit saja rasanya sudah sangat menyakitkan, apalagi terluka seperti itu?

Seonho menghela nafas. Tangannya bergerak merogoh saku celananya sendiri. Beberapa detik setelahnya, benda tipis menyembul keluar di sela jarinya. Seonho merobek pembungkus plester luka bergambar karakter ayam.

"Kenapa bisa begini hyung?"

"Tidak tau."

Seonho menghela nafasnya sekali lagi.

.

.

Tadinya, ia baru kembali dari kantin, selepas menyelesaikan makan siang menyenangkannya. Tak ingin membuang energi percuma, atau lebih tepatnya takut akan kelaparan kembali, Seonho memilih melintasi lorong ruang seni rupa. Meski sepi dan amat sangat jarang dilewati, itulah satu satunya jalan tercepat menuju kelasnya. Dengan keberanian sebesar rasa laparnya, Seonho melintasi lorong itu.

Ia sering mendengar dari Justin, sahabatnya, bahwa di lorong tersebut sering terdengar rintihan kesakitan dan sejenisnya. Maka, secepat kilat ia berjalan, mengabaikan kanan kirinya yang kosong.

Memang sepi. Seonho sampai bisa mendengar suara nafasnya sendiri yang mematul di dinding lorong. Begitu pula suara sepatunya di lantai tiap ia melangkah. Bagusnya, Seonho mulai mendengar suara– bukan, rintihan samar dari dalam ruang seni, sementara jarak ujung lorong masih terbilang cukup jauh dari posisinya.

Seonho sadar, hidup bukan seperti film yang sering ia lihat, dimana kau penasaran dengan suara itu dan mendatangi sumber suara. Kau tidak mungkin melakukan itu dengan jantung melompat di keadaan seperti ini bukan? Seonho masih menyayangi kedai tteokbokki depan sekolah, ia belum mau tewas di usia semuda ini.

Seonho terus mengabaikan rintihan itu dan tetap fokus dengan jalannya. Sesekali ia tersandung saat sepatunya belum terangkat sempurna dari langkahnya. Jelas, ia melangkah cepat dan sembarangan seperti itu, tak heran sesekali ia terpelatuk.

Seonho terus melangkah. Bibirnya sendiri mulai bersenandung, menyanyikan nada secara asal untuk menghibur dirinya sendiri. Ia terus terfokus pada ujung lorong.

Dan fokusnya hilang begitu saja saat ia mendengar suara berat ketika ia melewati pintu masuk ruang seni di sisi kanannya.

"Seonho?"

Seonho menoleh horror sembari mengambil langkah menjauh. Tak menyadari bahwa perbuatannya itu–

BRUGH

–bisa membuatnya terjatuh.

Seonho mengaduh, melupakan sejenak mengenai suara yang baru saja memanggil namanya. Kepalanya berputar, mendadak ia pusing, merasakan rasa sakit yang menyapa kedua pantatnya. Rasa perih dan panas menjalar disana.

Ketika maniknya melihat sepasang sepatu berdiri di depannya, menapak di lantai, Seonho tertegun. Ragu–ragu pemuda Yoo itu mengangkat kepalanya, merambatkan fokusnya naik hingga wajah pemilik sepatu dihadapannya.

Seonho memekik.

"Guanlin hyung! Kenapa– wajahmu kenapa?! Baju– baju–," jemari Seonho menunjuk bercak darah di baju pemuda di depannya, Guanlin, dengan gemetaran. Pupilnya membesar lebar dipenuhi rasa keterkejutan.

Guanlin tak menjawab. Ia justru membungkukkan tubuhnya, merendahkan posisinya agar Seonho tak mendongak terlalu tinggi. Tangannya terulur, memberikan tawaran pada Seonho yang masih membatu.

"Kau tak apa? Aku mengagetkanmu."

Seonho menepis tangan Guanlin. "Ya! Hyung harusnya mengkhawatirkan diri hyung sendiri! Astaga, kenapa hyung bisa–"

Ucapan Seonho terputus. Bibirnya tak bergerak ketika jari telunjuk Guanlin menempel disana, meminta pemuda Yoo itu untuk diam. Seonho menurut, tak lagi ia melanjutkan kalimatnya.

Guanlin mengulas sebuah senyum. "Hanya– yah, tidak penting."

Seonho terpana.

Saat itu juga, ia merasa bahwa dunianya terenggut karena kurva yang melengkung indah itu. Seonho ingin menjerit. Bahkan, senyuman itu terasa jauh lebih manis dari permen kapas manapun yang pernah ia cicipi. Senyuman itu.. senyuman itu hangat di wajah dingin Guanlin. Bertentangan namun terasa sangat pas disana.

Seonho mengerjap beberapa kali saat menyadari telapak tangan Guanlin terayun di depannya, membuyarkan segala lamunan yang berkecamuk di pikirannya.

"Hey, kau okay?"

Seonho berdeham canggung. Ragu, ia menerima uluran tangan Guanlin dan berdiri. Fokusnya berlarian, tak mau menatap manik hitam Guanlin.

"Uh– ya, aku baik."

Guanlin melebarkan senyumnya. "Kukira kau kenapa," ucapnya santai seraya mengacak pelan poni Seonho.

Lutut Seonho lemas, sangat sangat lemas. Ia hampir kehilangan keseimbangannya disana, melupakan fakta bahwa ia tengah berpijak di lantai. Ayolah, siapa yang tidak akan sesak nafas saat poninya diacak oleh seseorang seperti malaikat di depannya ini.

Seonho berdeham canggung. "Hyung– darahmu.. itu darahmu? Apa itu sakit?"

Tawa semerdu grand piano di rumahnya menyapa gendang telinga Seonho. Ia terpana. Ia kagum akan tawa kecil yang sangat indah itu, seindah senyuman sebelumnya. Keduanya memacu kerja jantungnya dengan baik.

"Yah, lumayan berdenyut rasanya."

"Duduklah hyung, aku akan mengobatimu."

Alis pemuda Taiwan itu terangkat. "Mengobati?"

Seonho mengangguk. Dengan tak sabaran, ia mendorong bahu Guanlin, memaksa yang lebih tua untuk duduk di lantai lorong. Guanlin menurut, tidak ia membantah paksaan Seonho yang sebenarnya nyaris membuatnya tersandung kakinya sendiri.

Tangan Seonho merogoh saku celananya sendiri, mencari benda yang selalu bersarang di sakunya. Eommanya selalu mengingatkan dan menyuruhnya membawa benda itu, mengingat Seonho adalah manusia yang sangat ceroboh.

Guanlin melirik beberapa lembaran tipis yang tersemat di sela jari mungil Seonho.

Itu plester luka.

Guanlin nyaris meloloskan tawa melihat desain plester luka itu. Warnanya kuning dengan karakter anak ayam sebagai desainnya, seketika ia teringat dengan anak TK ketika melihat plester itu. Pun ketika Seonho memasangkan plester plester itu di beberapa bagian wajah Guanlin dengan wajah seriusnya, sudut bibir Guanlin terangkat.

Seonho mengerjap menyadari binar jenaka di manik Guanlin. Sejenak ia menghentikan kegiatan memasang plester di tulang pipi kiri Guanlin.

"Sakit ya? Maaf hyung, aku tidak bermaksud mene–"

"Tidak tidak, tidak sakit."

"Lalu? Kenapa hyung menatap seperti itu?"

Kali ini Guanlin tak bisa menyembunyikan senyumannya. Melihat wajah polos dengan ekspresi khawatir sang adik kelas berhasil membuat satu sisi di dirinya –menghangat? Terlalu hiperbola memang, tapi entah kenapa, ia merasa... nyaman saat ini.

"Kau lucu."

Kelopak Seonho mengedip lambat. "Lucu? Tapi aku 'kan tidak sedang menceritakan cerita lucu hyung. Apa di wajahku ada sesuatu?"

"Tidak tidak," Guanlin menggeleng cepat. "Kau lucu. Sifatmu itu, aku menyukainya."

Eh?

Tunggu, apa?

Bibir Guanlin mengatup. Tunggu, sejak kapan mulutnya tak bekerja selaras lagi dengan otaknya? Sungguh, ia tak bermaksud berbicara seperti itu. Ia hanya ingin memuji, bukannya berbicara no sense begitu. Tapi sekali lagi, Guanlin hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri.

Guanlin melirik adik kelasnya ragu. Diperhatikannya ekspresi Seonho dalam, menganalisa apa yang ada di pikiran–

"Tapi hyung, banyak yang bilang aku seperti anak kecil. Baru kali ini ada yang bilang aku lucu, baru hyung."

–Seonho. Okay, sepertinya Guanlin tak perlu secemas itu.

Sekali lagi, Guanlin mengacak surai Seonho, membiarkan sang adik kelas mencebik karena rambutnya yang berantakan.

"Apa kau tidak masuk kelas? Ini sudah bel."

Seonho melirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Benar, sudah bel. Kalau ia pergi, bagaimana dengan Guanlin? Apa guru akan memarahi kakak kelasnya itu jika mereka bertemu Guanlin? Pelan, Seonho menggeleng.

"Nanti hyung bagaimana? Kalau guru melihat, hyung bisa dimarahi."

Detik itu, Guanlin merasakan sebuah detak yang berbeda di jantungnya. Rasanya menyesakkan, namun di satu sisi, memberikan sengatan aneh pada dirinya. Guanlin sudah cukup besar untuk mengerti sengatan apa yang mengejutkan syaraf tubuhnya barusan.

"Seonho."

"Ya, Guanlin hyung?"

"Kau.. sepupunya Jihoon?"

"Oh, hyung tau?"

Seringai samar menghias bibir tebal Guanlin. "Kalian berdua. Kalian berdua– ck, dasar."

"Eh? Kenapa hyung? Apa aku menekan lukamu terlalu keras tadi?" telapak mungil Seonho mendekat pada pipi Guanlin. Telapaknya menyentuh pipi yang lebih tua ragu, tampak takut jika menekan lebam lebam itu terlalu keras. "Apa kau kesakitan?"

Guanlin tetawa hambar dalam pikirannya.

"Kalian berdua– hah, sudahlah."

.

mengacaukan otak dan jantungku, sialan.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


[Read me!]

.

Long time no see? Miss me? /slap.

.

Saya disini ingin menyampaikan rasa khawatir saya masalah FF yang di report yang marak akhir-akhir ini. Saya sendiri sedih karena dunia fujo mendadak ribut karena orang lain di luar sana menyampaikan hal-hal dengan cara agak buruk dan kasar mengenai ketidaksukaan mereka dengan fanfiction para fujo. Terlebih dengan cast underage yang pakai rating M. Padahal, kalau pair straight, ga menjamin banyak yang suka karena biasnya di pair dengan artis lain:)

.

Jujur, saya frustasi. Saya nangis -okay lebay, tapi beneran- karena bingung sendiri, harus gimana saya dan anak-anak saya (FF saya) ke depannya. Terlebih FF saya yang di wattpad ratingnya M dan kontennya agak berat menurut saya. Saya takut kena 'teguran', karena saya mau menjaga nama pena saya agar tidak terkenal karena kontroversi. Saya terlanjur sayang sama nama pena dan username lucu saya .g

.

Dan tentu saja imbasnya ke mood saya.
Dan sepertinya, karena kasus ini, saya sedikit 'panic' dan well... semi-writer block maybe?
Apalagi melihat teman teman author lain yang mengunpub ff mereka, saya jadi.. takut.
Wanna cry sekali dd;_;
Tolong maafkan saya yang terlambat apdet ya? Saya akan berusaha memulihkan mood saya secepat mungkin dan menulis kembali!

.

[Sorry oot and ooc]

Lo nyuruh fujo kembali ke 'jalan yang benar'? Sendirinya kalo liat roti sobek oppa oppa juga jejeritan kan? Serah ya serah, yang penting saya cinta OngNiel sepenuh hati HAHAHAHAHAHAHAHA.

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]