JY present
DIFFERENT
.
Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.
.
Chapter One
.
.
Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.
.
.
.
Pagi yang cerah di awal musim semi tahun ini. Aroma bunga yang bermekaran dan sejuknya embun pagi yang menyapa kulit tentu semakin meningkatkan mood seseorang. Para siswa siswi sekolah sudah memulai pagi mereka, bahkan ada beberapa yang telah tiba disekolah lebih cepat dari murid lainnya, seperti beberapa siswi Pledis Highschool yang berdiri ditepian gudang belakang sekolah saat ini.
"Jadi, kau tak membawa uangnya?" Seorang siswi bername tag Im Yeonjin berbicara santai pada siswi kurus lainnya yang meringkuk pada tembok gudang, gemetaran menahan rasa takutnya.
"Apa ucapanku kemarin kurang jelas di telingamu?" Yang ditanya menggelengkan kepalanya pelan, menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yeonjin padanya. Yeonjin tertawa sarkas, detik berikutnya, jemari yeoja bergigi kelinci itu telah tersemat dibalik rambut lawan bicaranya.
"Jadi kenapa kau tak membawa uangnya hah?!" Gadis kurus itu meringis, menahan sengatan menyakitkan yang ada di kulit kepalanya. Beberapa kali kepala gadis itu diguncangkan layaknya mainan oleh Yeonjin, tanpa ada perlawanan apapun dari dirinya.
"Cih, aku semakin tak mempercayai desas desus itu," Yeonjin mendekatkan wajahnya pada lawan bicaranya, memperhatikan manik kecokelatan yang menghias netra itu. "Konyol sekali, mana mungkin kau memiliki kemampuan beladiri kan?" lanjutnya.
.
KRIIIINGG
.
"Eum, bel?" Yeonjin menatap sekitarnya, memperhatikan beberapa siswi lain yang ada didekatnya. "Tebak, siapa yang akan marah melihat muridnya terlambat masuk kelas?"
"Kim seonsaengnim!" Gadis dengan name tag Hitomi Rin menyahut seraya menepukkan kedua telapak tangannya berulang kali, layaknya anak kecil yang baru saja diberi permen.
Yeonjin menarik sudut bibirnya, tersenyum lebar, dan kembali menatap lawan bicaranya yang masih bergetar samar.
"Le–lepaskan," gadis itu memberontak, berusaha melepaskan jambakan Yeonjin di helai rambutnya. Sayang, rintihan protesnya seakan tak berarti bagi Yeonjin yang kembali tertawa sarkas.
"Astaga, lihatlah bagaimana jalang ini merintih~," Yeonjin menghempaskan jambakannya, membuat tubuh lawan bicaranya limbung dan tersungkur.
"Ayo, kita tinggalkan dia," Yeonjin berbalik, hendak melangkahkan kakinya menjauh sebelum ia mengingat sesuatu dalam kepalanya.
"Lain kali, jangan lupa uangku, Xu Minghao," setelahnya, Yeonjin dan kawan–kawannya berjalan menajuh dari Minghao yang masih tak bergeming.
.
XxxX
.
Kelas 2–A ramai, suara teriakan dan tawa muridnya memenuhi lorong Pledis Highschool yang sepi. Jam pelajaran kosong. Beberapa siswa berlarian kesana kemari, beberapa lainnya menggoda siswi kelas, dan lainnya asyik berbincang dan tertidur.
"Hei, lihat itu," salah seorang siswi menunjuk, mengalihkan semua pandangan teman–temannya pada sosok yeoja bersurai hitam kelam yang menyendiri di kursi pojok dengan earphone menggantung di kedua telinganya.
"Ia benar–benar seperti orang bisu," lanjut gadis itu, Kim Nahyun. Serempak dua siswi lain yang ada didekatnya mengangguk, menyetujui perkataan Nahyun.
"Aku bahkan jijik harus sekelas dengannya," Nahyun menolehkan kepalanya kesamping, menatap Jang Hana yang duduk disebelahnya. Gadis itu terkekeh mendengar penuturan kawannya itu.
"Aku baru tau ada manusia yang hidupnya semenyedihkan dia," kali ini gadis diseberang Nahyun, Wang Xiujuan, menyahut. Ia mengendikkan bahunya diikuti helaan nafas panjang.
"Ah!" Hana menepuk tangannya pelan, mengingat sesuatu yang mengganjal hatinya. "Apa benar eommanya wanita penghibur? Berganti–ganti pasangan?" Hana menatap teman–temannya bergantian, meminta jawaban akan pertanyaannya.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku yakin itu," Hana mengerjap tak percaya, tatapan gadis itu kembali ia arahkan pada sosok gadis bersurai hitam kelam yang masih setia duduk di pojok kelas.
"Jeon Wonwoo.. Menjijikkan."
.
XxxX
.
Seorang gadis melangkah riang memasuki lapangan Pledis Highschool, meninggalkan teman–temannya dibelakang. Detik berikutnya ia berhenti, netranya memperhatikan sekitarnya dengan tatapan kagum.
"Kita akan pindah kesini? Ini benar–benar sekolah baru kita? Daebak!" Gadis itu menatap temannya yang masih berjalan dibelakangnya. Senyum bahagia tak lepas dari wajah bulat gadis itu.
"Hei Boo Seungkwan, jangan berteriak! Semua orang melihat kemari karena kau!" Seungkwan, gadis berpipi bulat penuh itu tetap tersenyum, tak mengindahkan larangan eonninya yang mencebik sebal.
"Kami tak ingin sekolah, sungguh. Ini melelahkan," seorang namja menyahut, memprotes sebal akan ide Seungkwan yang ingin bersekolah di sekolah yang normal.
"Ya, hentikan ide konyol ini!" Sahut namja setinggi tiang yang berdiri dibelakang. Yoon Jeonghan, satu–satunya eonni Seungkwan melotot sebal pada wajah lesu para namja dibelakangnya.
"Kita bahkan belum sampai kelas, tapi kalian sudah semalas itu. Hentikan koor menjengkelkan itu, kita sudah sepakat bukan!"
"Aku tak sepakat!" Kembali namja tiang itu menyahut, menolak mentah–mentah perkataan Jeonghan mengenai kata sepakat. Jeonghan memutar bola matanya jengah, sudah malas untuk sekedar menyahut perkataan tiang berjalan itu.
"Berhenti bertingkah seperti anak kecil Kim."
"Sudahlah, cepat kita ke ruang kepala sekolah," seorang namja bersurai hitam membuka suaranya, menghentikan perseteruan antar teman–temannya. Jeonghan mendesis sebal pada namja setinggi tiang yang menujulurkan lidahnya, mengejek yeoja yang lebih tua dari dirinya itu.
.
XxxX
.
Kelas 2–A riuh dengan bisik–bisik antar muridnya saat Shin seonsaengnim masuk ke dalam kelas mereka, diikuti dua namja asing yang belum pernah mereka lihat wajahnya. Murid pindahan.
Siswi kelas 2–A heboh, sibuk membenarkan dandanan mereka di depan dua murid pindahan itu. Sedangkan siswa namja lain mendecih sebal, tak senang melihat kedatangan saingan baru mereka.
Wonwoo menatap datar dua namja yang tengah berdiri didepan sana. Salah satunya memiliki mata sangat sipit, bahkan saat tersenyum hanya garis saja yang terlihat diwajahnya. Namja itu tak terlalu tinggi, mungkin Wonwoo hanya setinggi telinganya saja. Sedangkan namja disebelahnya berkulit agak tan, dengan hidung mancung dan tatapan yang sangat tajam. Namja itu lebih tinggi dari namja disebelahnya beberapa senti, Wonwoo pasti hanya setinggi bibir atasnya saja.
"Annyeonghaseyo, Kwon Soonyoung imnida. Kalian bisa memanggilku Soonyoung atau Hoshi, terserah saja," namja bermata segaris itu tersenyum lebar, membentuk garis panjang dimana harusnya sepasang matanya ada disana.
"Hoshi berarti bintang bukan?" Wonwoo menoleh, memperhatikan Nahyun yang tersenyum genit. Hoshi tesenyum lagi, kali ini deretan gigi putihnya ia tunjukkan.
"Ya, Hoshi berarti bintang. Terima kasih," Nahyun tersipu senang mendapat kerlingan dari Hoshi. Wonwoo mendesis pada yeoja menyebalkan itu.
Menjijikkan, batin Wonwoo.
"Annyeong, namaku Wen Junhui. Kalian bisa memanggilku Jun, salam kenal," kali ini ekor mata Wonwoo memperhatikan Xiujuan yang menegakkan tubuhnya, mulai tertarik pada pengenalan murid baru –atau pada Jun tepatnya.
"Baik, kalian bisa duduk di meja.. Eum, sebelah Jeon Wonwoo dan Lee Jihoon –tunggu, mana Lee Jihoon, Wonwoo–ssi?" Wonwoo mengendikkan bahunya, tak mengerti kemana perginya kawan kecilnya itu. Beberapa pikiran berkecamuk di dalam kepala Wonwoo, saat teringat bahwa Jihoonnya itu tak pernah lupa waktu.
Apa mungkin.., Wonwoo menoleh, menatap Nahyun yang berbalik menatapnya dan tersenyum. Senyum yang entah memiliki artian apa.
"Terima kasih," Hoshi dan Jun membungkuk pada Shin seonsaengnim, kemudian melangkahkan kakinya menuju meja mereka. Beberapa siswi menatap Wonwoo sengit, melayangkan kebencian mereka mengetahui bahwa seorang Jeon Wonwoo lah yang harus duduk didekat dua murid baru kelas 2–A.
Wonwoo mengalihkan pandangannya, berusaha acuh dengan 'teman–temannya' itu. Lebih baik ia memperhatikan lapangan olahraga yang kini ditempati murid kelas 1–C daripada harus melayani tatapan sengit yang menghujani dirinya bukan?
Dan saat Wonwoo sibuk memperhatikan gerak gerik adik kelasnya yang tengah berolahraga, tatapannya tertumbuk pada seorang adik kelas –yang belum pernah ia lihat sebelumnya− yang menatapnya juga. Detik berikutnya, Wonwoo mengalihkan pandangannya dari sana.
Wonwoo terpekur heran, jantungnya seakan melompat hingga kepalanya, menyebabkan pemilik tubuh itu merasa dunianya tengah diaduk–aduk. Ia menyentuh kedua pipinya. Panas, batinnya. Wonwoo mengernyit heran dengan tubuhnya sendiri.
Aneh, padahal aku sudah sarapan tadi. Apa sebaiknya aku ke ruang kesehatan saja?
"Permisi seonsaengnim, saya izin ke ruang kesehatan," begitu kepala Shin seonsaengnim mengangguk, Wonwoo segera melangkahkan kakinya keluar dari kelasnya, menuju ruang kesehatan.
"Hei man," Hoshi menoleh, menatap Jun yang menatap pintu kelasnya. "Kau melihatnya?" Jun menggerakkan kepalanya kesamping, berbalik menatap Hoshi.
"Ya, aku melihatnya bung," Hoshi tersenyum miring pada Jun. "Kita lihat saja kedepannya," lanjutnya.
.
.
.
–TBC–
a/n:yaampun makk panas dingin post ff pertama kali disini. RnR juseyoo~
