JY present
DIFFERENT
.
Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.
.
Chapter Two
.
.
Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.
.
.
.
Hoshi hanya tersenyum kaku ketika menyadari dirinya dikerumuni oleh yeoja kelasnya. Beberapa dari mereka tersenyum malu padanya, tak jarang ada yang tanpa malu langsung menanyakan nomor telepon Hoshi.
Sialan kau Junhui. Hoshi menggeram sebal pada kawannya yang entah sejak kapan sudah kabur dari sana, meninggalkan Hoshi yang hanya bisa pasrah. Dan kini, seorang yeoja bername tag Kim Nahyun duduk didepannya dengan senyum satu juta watt yang ia miliki.
"Kim Nahyun," Hoshi membalas jabat tangan Nahyun kaku. Berusaha ramah, ia tersenyum pada gadis itu.
"Kau mau jajan? Ayo ke kantin–"
"Ah kurasa tidak, aku ingin tidur saja. Maaf," Hoshi tertawa hambar menanggapi tawaran Nahyun. Gadis dihadapannya ikut tertawa, setelah mengucapkan 'baiklah kalau begitu', gerombolan gadis itu pergi meninggalkan meja Hoshi.
Hoshi meletakkan kepalanya pada meja, kemudian menatap kosong meja disebelahnya. Hingga istirahat, gadis berambut hitam kelam bernama Jeon Wonwoo itu belum kembali ke mejanya. Dan kemana perginya penghuni bangku sebelah Wonwoo? Apa orang itu–
.
BRUGH
.
Hoshi mengerjap terkejut saat seorang yeoja sipit yang basah kuyup duduk di bangku yang baru saja ia pikirkan penghuninya. Namja itu menegakkan tubuhnya, menatap lamat–lamat.. siapa tadi? Lee Jihoon?
"Kau basah kuyup, Jihoon–ssi," gadis diseberangnya terkejut, segera ia menolehkan kepalanya dan menatap Hoshi dengan tatapan heran.
"Terima kasih," Hoshi mengernyitkan dahinya bingung. Terima kasih? Untuk apa? Ia merubah posisi duduknya, tepat mengarahkan dirinya pada gadis yang masih berkutat dengan ikat rambutnya itu.
"Kwon Soonyoung, panggil Soonyoung atau Hoshi saja," Gadis dihadapannya menatap Hoshi sekilas, sebelum akhirnya kembali membenarkan rambutnya yang kusut.
"Lee Jihoon, lebih baik panggil Woozi."
"Padahal nama Jihoon lucu," Woozi melotot sebal pada Hoshi yang menampilkan senyum jahilnya. Gadis itu menarik nafasnya, menahan amarahnya, dan kembali menyisir rambutnya yang semakin kusut.
"Kemarilah, aku bantu."
"Tidak, terima kasih," Hoshi tertawa pelan, tak menyangka dirinya akan diacuhkan pada seorang yeoja pada akhirnya. Namja itu berdiri, berjalan kebelakang tubuh Woozi dan menahan gerakan menyisir gadis dihadapannya.
"Kemarikan," Woozi mencebik sebal, namja dibelakangnya ini benar–benar memaksakan kehendaknya. Mau tak mau, ia menyerahkan sisir mungilnya pada Hoshi yang tersenyum miring.
"Kenapa kau basah? Kau seperti habis disiram saja."
Detik berikutnya, Hoshi baru menyadari bahwa tubuh mungil dihadapannya menegang mendengar perkataannya. Hoshi pun menghentikan kegiatannya sejenak.
Tunggu, tidak mungkin kan? Batin Hoshi.
.
(())(())
Seorang gadis berkucir kuda melangkah cepat, menyusuri koridor sekolah yang sepi. Ia merutuk sebal, kegiatannya di perpustakaan –membaca buku− harus terhenti karena bel pergantian pelajaran yang berbunyi nyaring.
"Aku bahkan belum menyelesaikan bab ti–"
.
BRUK
.
Tubuh gadis itu terpental kebelakang saat bertubrukan keras dengan seorang siswi lain, Kim Nahyun.
"Yak!" Nahyun membentak gadis itu, tanpa ada pergerakan untuk membantu atau sejenisnya. Xiujuan dan Hana yang berjalan dibelakang Nahyun mengerjap terkejut akan 'kecelakaan kecil' yang menimpa kawannya.
"Nahyun–ah, gwaenchana?" Hana melongok menatap tubuh bagian depan Nahyun. Tak ada yang luka. Jelas, bukan Nahyun yang terjatuh, kenapa ia harus yang dikhawatirkan?
"Kerdil, tak punya mata huh? Dasar sampah!" Nahyun menendang buku yang berserakan dibawah kakinya ke sembarang arah. Mengabaikan pelototan tak percaya milik Woozi.
"Aku tak sengaja," Woozi berdiri, menatap Nahyun menantang. Memang benar itu bukan salahnya, itu salah Nahyun yang sibuk mengobrol dengan Xiujuan dan Hana hingga gadis yang lebih tinggi dari Woozi itu tak memperhatikan jalannya.
"Beraninya kau menatapku seperti itu jalang!"
"Menyingkir, aku harus kembali ke kelas," Woozi memungut buku–bukunya yang berserakan dan melangkah. Belum sampai tiga langkah ia menjauh dari Nahyun, lengannya sudah di cengkram oleh Xiujuan.
"Ups, kenapa buru–buru? Kemarilah Woozi–ah," Xiujuan dan Hana menarik tubuh Woozi ke toilet, dimana Nahyun telah berjalan kesana terlebih dahulu. Woozi memberontak, berusaha melepaskan cengkraman Xiujuan dan Hana pada lengannya. Nihil, usahanya berakhir sia–sia.
.
BRUSHH
.
Woozi terbatuk, air yang disiramkan oleh Nahyun padanya telak menampar wajahnya, menimbulkan bekas kemerahan pada kulit gadis itu. Tiga gadis dihadapannya tertawa, berhigh five, dan meninggalkan Woozi yang masih termenung di tempatnya.
"Ah, Woozi–ah," Nahyun menolehkan kepalanya, tepat sebelum melangkah pergi meninggalkan toilet. Woozi menaikkan wajahnya, membalas tatapan Nahyun padanya.
"Bereskan embernya, oke?" Setelahnya, ketiganya pergi meninggalkan Woozi dan segala kekacauan yang mereka perbuat.
(())(())
.
Hoshi meraih jaketnya yang ia letakkan di laci miliknya, kemudian ia sampirkan pada bahu mungil Woozi yang mulai gemetaran. Woozi menoleh, menatap Hoshi yang tersenyum padanya.
"Nanti jaketmu basah."
"Tak apa, pakai saja," Hoshi kembali melanjutkan kegiatannya, merapikan surai kecokelatan Woozi. Gadis dihadapannya mengucap terima kasih samar dan kembali menatap depan.
Woozi bersyukur, untung saja hanya ada dirinya dan namja aneh dibelakangnya dikelas mereka. Kalau tidak, mungkin desas desus akan mulai terdengar.
"Sudah selesai," Hoshi membungkuk, mensejajarkan wajahnya pada Woozi, menyebabkan gadis itu terlonjak kebelakang. Terkejut. Woozi menggumam, mengucapkan terima kasih pada Hoshi yang kini kembali duduk di kursinya.
"Santai saja," Hoshi mengacungkan jempolnya pada Woozi yang tersenyuman kaku. "Ah, bawa saja jaket itu pulang," lanjutnya, dibalas dengan anggukan samar gadis mungil dihadapannya.
.
XxxX
.
"Hidupnya benar–benar menggelikan," Jung Mirae mengaduk–aduk susu pisangnya malas, dihadapannya, Lee Jina tertawa akan ucapan Mirae.
"Hey, kau benar–benar membencinya huh?" Jina menepuk pundak sahabatnya beberapa kali, menenangkan gadis itu. Mirae memutar bola matanya malas.
"Ayolah, dia itu manusia paling membosankan dan paling mengerikan yang pernah ada!"
"Eum, kenapa memangnya?" Jina menatap iris sahabatnya, menanyakan maksud dari perkataan Mirae. Mirae menautkan kedua alisnya, heran dengan sahabatnya itu.
"Kau tak tau? Dia hanya berpura–pura suci. Kenyataannya, dia adalah seorang jalang!" Jina tersentak, kedua matanya mengerjap lucu. Ia menatap Mirae dengan tatapan tidak–mungkin–dia–seorang–jalang.
"Heol, dia pembohong besar rupanya," Jina terpekur di bangkunya, tatapannya menuju pada seorang gadis bersurai cokelat madu yang tengah membaca alkitabnya. Yang benar saja! Mana mungkin seorang Hong Jisoo, melakukan this and that bukan?
"Jung seonsaengnim!"
Langsung saja, murid kelas 3–B berlarian kesana kemari, mencari bangkunya masing–masing saat sosok pria paruh baya masuk ke dalam kelas. Dibelakangnya, dua murid dengan wajah baru masuk mengekori sang seonsaengnim.
"Selamat pagi anak–anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan diri kalian."
"Annyeonghaseyo," seorang gadis dengan surai sepinggangnya membungkuk, menyapa seluruh siswa siswi kelas 3–B yang terpana dengan sosoknya. "Yoon Jeonghan imnida, kalian bisa memanggilku Jeonghan," senyum yang terlukis diwajah Jeonghan sukses membuat beberapa siswa menahan nafasnya.
"Apa kau punya pacar?"
Jeonghan tertawa kecil, tak menyangka akan ada seorang siswa yang bertanya langsung seperti itu padanya. Tanpa disadari siapapun, ia melirik siswa yang berdiri disebelahnya sekilas. "Aku mempunyai tunangan," koreksi gadis itu.
Serempak seluruh siswa disana menghela nafas mereka, kecewa telah gagal bahkan sebelum mereka memulai 'perang'. Namja yang tadi bertanya pada Jeonghan langsung menenggelamkan wajahnya di meja.
"Tapi dia tidak akan tau! Selingkuh saja!" Jeonghan melotot tak percaya. Itu ide tergila yang pernah ia dengar! Ia hanya bisa tertawa kaku, menanggapi hal mengerikan yang dilontarkan seorang murid padanya.
Namja disebelah Jeonghan berdeham, mencoba menarik perhatian kelas 3−B yang terpecah karena insiden tunangan Jeonghan. "Annyeonghaeyo, Choi Seungcheol imnida. Aku lebih suka dipanggil Seungcheol."
Namja itu keren, siswi kelas 3–B serempak menyematkan gelar itu pada Seungcheol yang hanya tersenyum tipis. Seluruh siswi mulai berbisik, membicarakan hal yang entah apa itu.
"Eum, kau.. punya pacar?" Seungcheol tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Kini ia justru tampak seperti seorang playboy yang berhasil menggoda mangsanya.
"Aku punya tunangan."
"Jangan bilang kau dan Jeonghan bertunangan!" Sontak kelas 3–B ramai kembali, ribut karena tawa yang bergemuruh disana. Jeonghan menolehkan kepalanya, menatap Seungcheol dengan tatapan tajam. Yang ditatap hanya mengendikkan bahunya, detik berikutnya, lengan Seungcheol telah merengkuh bahu Jeonghan.
"Ya, dia tunanganku."
Tawa para murid berangsur reda, digantikan dengan wajah shock mereka. Jeonghan menginjak kaki Seungcheol, namun tetap saja, namja itu tak melepaskan rengkuhannya.
"Ehm. Ya baiklah, Jeonghan–ssi, kau bisa duduk disebelah.. Hong Jisoo. Dan Seungcheol–ssi, kau bisa duduk dibelakang mereka," keduanya mengangguk dan melangkah menuju tempat duduk masing–masing yang telah ditunjukkan oleh Jung seonsaengnim. Seungcheol terenyum semakin lebar saat menyadari kursinya ada di deret paing belakang, dan di pojok.
Jackpot!, batin namja bersurai hitam itu.
"Salam kenal," Jeonghan mendudukkan pantatnya di bangku barunya, tangannya terulur pada Jisoo yang menatapnya ramah. Jisoo membalas uluran itu, menjabat tangan Jeonghan yang ternyata selembut salju.
Dan sedingin salju, batin Jisoo.
"Hong Jisoo imnida, panggil Jisoo saja."
.
.
.
−TBC−
a/n: Hayoloh udah update aja.. Hehe, soalnya kedepannya jadwal update pasti berantakan, jadi update sekarang deh:") Gomawo buat yang udah RnR, ketjup basah dari JY untuk kalian mwah:*
