JY present
DIFFERENT
.
Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.
.
Chapter Three
.
.
Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.
.
.
.
Wonwoo mengerjap heran. Suatu keanehan melihat ruang kesehatan sepi, biasanya Song eonni ada di meja kerjanya, tapi tidak dengan hari ini. Wonwoo melangkah pelan, menuju salah satu bilik ruang kesehatan yang tertutup.
Oke Wonwoo tau ia salah, kenapa ia harus ke bilik tertutup itu daripada ke bilik lainnya yang terbuka? Jelas sekali di dalam bilik tertutup itu ada seseorang. Jantung Wonwoo berdegup, semakin dekat dengan bilik itu, semakin kencang pula detak jantungnya. Dan lagi–lagi, dunianya seakan dihempaskan kesana kemari, menyebabkan kedua tungkainya melemah bak jelly.
Wonwoo sempat berhenti, mempertanyakan dirinya sendiri yang terlalu bertekad untuk membuka tirai bilik itu. Jemarinya bergerak ragu, antara mau maju untuk membuka tirai itu atau mundur.
Sialan, aku telalu penasaran.
.
SREEGG
.
Wonwoo mengerjap, memperhatikan sosok yang tengah menatapnya juga, seakan menunggu Wonwoo untuk membuka tirai bilik itu.
"Kau disini?"
Setelahnya, kesadaran Wonwoo menghilang. Dunia terangnya digantikan dengan kegelapan yang merambat cepat, diikuti suara tersentak sosok dihadapan Wonwoo.
.
XxxX
.
Ruang kelas 1–C sepi, jelas, para murid tengah mengikuti pelajaran olahraga di lapangan. Minghao meringkuk di bangkunya, menenggelamkan wajahnya yang memerah di lengannya. Seragamnya kusut, wajahnya 'hancur', rambutnya.. bahkan lebih parah dari wajahnya saat ini.
Minghao menghela nafasnya, yang terkadang membuat beberapa isakan kecil lolos diantara kedua bibir cherrynya yang kini nampak pucat. Minghao menghapus jejak air matanya, diraihnya ponsel canggihnya yang tersemat dibalik sakunya, memperhatikan pantulan bayangannya di layar gelap ponselnya.
Sangat buruk, batinnya.
Minghao berdiri, kedua tungkainya ia paksakan berjalan meski tertatih, menuju toilet sekolah. Ia harus membereskan dirinya dahulu, sebelum orang lain melihat betapa kacaunya ia dan melayangkan tatapan simpati padanya.
Minghao tak suka, Minghao benci tatapan seperti itu.
Langkahnya semakin berat, padahal ia hanya perlu berbelok di tikungan koridor sepi itu dan masuk ke dalam toilet. Minghao tertawa hambar, menertawakan betapa konyolnya dirinya saat ini. Kenapa juga ia harus menahan dirinya? Kenapa ia harus membiarkan orang–orang membully dirinya? Karena–
.
BRUK
.
Minghao terhuyung kebelakang, terjatuh, dan membentur lantai. Kepalanya semakin berputar, pusing dan membuatnya sedikit mual. Sosok yang menabrak Minghao berjongkok, dan entah mengucapkan apa. Minghao tak bisa mendengarnya, kepalanya terlalu sakit untuk sekedar menangkap pergerakan bibir sosok –yang ternyata namja− dihadapannya.
Minghao melambaikan tangannya, mengisyaratkan dirinya baik–baik saja. Meski kenyataannya tidak. Namja dihadapannya mengulurkan tangannya, berniat membantu Minghao. Gadis itu menurut, kalau tidak, ia tak akan bisa bangkit dari lantai hingga ada yang mau menolongnya.
Sialnya, Minghao terlampau lemah untuk sekedar menggerakkan kakinya dan berdiri. Gadis itu meremat jemari namja dihadapannya lemah, berusaha meraup genggaman hangat namja itu dan bangkit. Sayang, tubuh Minghao tak ingin merespon perintah pemiliknya.
Minghao tak mengerti, kenapa namja dihadapannya kini justru merengkuh bahunya dan membantunya berdiri. Apa dia tak kenal Minghao? Si gadis yang selalu di bully? Kenapa namja itu repot–repot membantu dirinya?
Minghao tersenyum samar, membungkuk mengucapkan terima kasih, dan berlalu. Tapi, yang Minghao sadari setelahnya, ia hanya melihat kegelapan yang semakin besar, dan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya, menahan tubuh lemah Minghao yang nyaris merosot ke lantai.
.
XxxX
.
"Jadi, kau selalu membaca alkitab?"
"Setiap saat, saat aku sedang tidak melakukan apapun."
Jeonghan mengangguk paham, membentuk huruf O besar dengan bibir tipisnya. Jisoo yang tengah berjalan disebelahnya tertawa, tak menyangka ekspresi Jeonghan akan seperti itu. Biasanya, orang yang bertemu dengannya akan menatapnya heran, aneh, dan semacamnya.
"Ah, jadi kau selalu ke perpustakaan? Kau bahkan hapal letak rak–rak buku."
"Ya, aku selalu ke perpustakaan. Mencari hiburan," Jeonghan mengangguk lagi. Untung saja ia ditemani oleh Jisoo ke perpustakaan, mencari buku paket yang diminta Jung seonsaengnim. Ternyata pekerjaannya tak seberat yang ia kira, mengingat Jisoo sangat hapal dengan denah dan seluk beluk perpustakaan.
"Apa kau.. benar tunangannya Seungcheol?" Jeonghan menoleh, menatap Jisoo yang juga tengah menatapnya. Gadis yang lebih pendek dari Jisoo itu merengut sebal. Apa Jisoo mengatakan sesuatu yang salah?
"Ya, dia tunanganku."
Bukan salah Jisoo yang terpana dengan pesona playboy seorang Choi Seungcheol, salahkan namja yang selalu menebarkan 'magnet' yang selalu membuat Jisoo tertarik. Untung saja Jisoo belum terperosok kedalam lubang yang dibuat oleh Seungcheol.
"Aku tau, kau terpesona kan?" Jisoo menggeleng cepat, menampik kenyataan yang dihamparkan Jeonghan. Yeoja bersurai panjang itu menaik turunkan alisnya, menggoda Jisoo yang semakin malu.
"Dia sangat playboy. Dia selalu seperti itu, jangan hiraukan."
"Sejak kapan kalian bertunangan?" Jeonghan menghentikan langkahnya, membuat Jisoo yang berada di depannya menoleh heran. Jeonghan tersenyum tipis, senyuman yang bagi Jisoo tampak setengah terpaksa dan setengah misterius.
"Sejak kapan ya?" Jeonghan kembali melangkah, menyamakan tungkainya dengan tungkai Jisoo. "Sejak lama, hehe," lanjut Jeonghan dengan tawa kecil yang kaku.
Dan Jisoo sadar, Jeonghan tak ingin melanjutkan lagi topik lamanya pertunangan dirinya dengan Seungcheol. Jisoo tersenyum, menanggapi Jeonghan yang kini berceloteh tentang kebencian dirinya dengan serbuk sari yang selalu membuatnya bersin.
.
XxxX
.
Woozi melirik namja disebelahnya, Hoshi, yang memejamkan matanya menikmati terpaan angin yang menyapu epidermisnya. Sebenarnya, Woozi hanya ingin menikmati waktu luangnya sendiri di taman belakang sekolahnya ini, jarang–jarang Han seonsaengnim membiarkan kelasnya kosong. Tapi entah kenapa, ia justru mengizinkan Hoshi ikut dengannya, menikmati angin musim semi yang memabukkan bersama dirinya.
"Kau tidak kedinginan?" Woozi menoleh, memperhatikan Hoshi yang masih memejamkan netranya. Tampaknya, namja satu itu sangat menyukai taman belakang sekolah barunya ini.
"Tidak," jawab Woozi singkat. "Kenapa kau mau ikut kemari?" Tanyanya pada Hoshi.
"Kenapa kau mengizinkanku ikut?"
Sial.
"Kalau begitu pergilah, aku mengusirmu sekarang," Hoshi tertawa lembut, membiarkan suara tawanya dihanyutkan oleh angin mengitari keduanya. Woozi mengernyit, tak paham kenapa Hoshi tertawa. Ia 'kan tidak sedang bercanda!
"Baiklah, aku pergi," kerutan di dahi Woozi semakin dalam. Tadi namja itu tertawa, dan sekarang namja itu mau pergi. Hoshi berdiri, tersenyum pada Woozi yang menatapnya heran, dan meninggalkan gadis itu sendiri di taman.
"Kau benar–benar mau pergi?" Hoshi menghentikan langkahnya. Tubuhnya berputar dan menghadap sosok Woozi. Hening sempat menjalar diantara kedunya, sebelum akhirnya Hoshi membuka suara.
"Kau yang mengusirku kan? Atau kau memang mau kutemani?"
Sial, sial.
"Pergi sana!" Woozi melemparkan batu kecil yang ada disana pada Hoshi. Namja itu tertawa, kemudian berlari terbirit menghindari serangan Woozi. Woozi geram, serangannya meleset dari tubuh ramping Hoshi. Biarlah, setidaknya ia berhasil mengusir namja aneh itu.
"Dia gila, pasti," gumam Woozi.
.
.
.
–TBC–
