JY present

DIFFERENT

.

Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.

.
Chapter Four
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.

.
.
.


Yang Wonwoo ingat, ia pingsan tepat setelah membuka tirai bilik ruang kesehatan. Dan yang ia dapati sekarang, ia tengah berbaring disebelah seorang namja yang tengah menatapnya.

Wonwoo hendak bergerak, memberontak dan pergi. Namun, lagi–lagi tubuhnya tak mau merespon. Ia justru menatap balik iris cokelat gelap milik namja disebelahnya. Ia memperhatikan sosok itu sekilas, dan seketika ia teringat, namja disebelahnya adalah adik kelas yang menatapnya dari lapangan tadi.

"Kau.. siapa?" Suara serak Wonwoo membuat namja dihadapannya menelan salivanya, melihat dari pergerakan tulang yang menyembul dibalik leher jenjangnya.

"Kim Mingyu, salam kenal," Wonwoo mengerang tanpa sadar. Mendengar suara adik kelasnya itu sukses membuat bulu kuduknya meremang. Wonwoo menatap lekat wajah dihadapannya.

Sempurna.

"Kau baik–baik saja?"

Tidak! Wonwoo tidak baik–baik saja! Mana mungkin seorang yeoja akan baik–baik saja saat melihat namja sempurna seperti dihadapan Wonwoo saat ini, yang tengah berbaring dalam satu kasur yang sama dan menekuk lengannya, menumpukan kepalanya disana, dan menatap langsung pada iris Wonwoo.

"Ya, aku baik–baik saja."

Bohong.

"Tapi kau tidak tampak baik–baik saja," jemari Mingyu bergerak, merapikan poni milik Wonwoo yang sedikit berantakan. Wonwoo menatap tajam Mingyu yang masih tersenyum padanya. "Kau pingsan tadi," lanjut Mingyu.

Ya, Wonwoo ingat bagian itu.

Sungguh, Wonwoo ingin menggerakkan tubuhnya saat ini. Minimal ia ingin kabur dari Mingyu yang terus–menerus menatapnya, akan lebih baik jika Wonwoo bisa memberikan sebuah tamparan di pipi Mingyu.

"Mungkin kau akan sering bertemu denganku nantinya."

"Tidak, terima kasih," Mingyu terkekeh mendengar jawaban yang langsung Wonwoo utarakan padanya. Mingyu mengusap pipi Wonwoo, menciptakan sebuah semburat kemerahan disana.

"Jangan menghindariku, kau akan menyakiti dirimu sendiri," jantung Wonwoo kembali berdegup kencang, menciptakan debuman keras pada rongga dadanya. Sekali lagi, Wonwoo menatap iris Mingyu tajam, memberikan tatapan mengancam dan mengintimidasi. Sayang, yang ditatap justru tetap mempertahankan senyumnya dan mengusap pipi gadis bermarga Jeon itu berulang.

"Istirahatlah sunbae," Mingyu memberikan kecupan kilatnya pada dahi Wonwoo, yang disambut dengan netra Wonwoo yang terbelalak. Mingyu bangkit dari posisinya, berdiri, dan meninggalkan Wonwoo yang berusaha mengatur nafasnya mati–matian.

.
XxxX
.

BRUK
.

"Yak!" Yeonjin memekik, memarahi gadis bersurai cokelat terang yang baru saja menabraknya. Sang gadis justru mengernyit, tak mengerti kenapa Yeonjin berteriak padanya. Ia 'kan hanya tak sengaja menubruknya.

"Pakai matamu, bodoh!" Yeonjin melangkah maju, bersiap menarik surai gadis dihadapannya. Sayang, gadis dihadapannya merangsek maju lebih cepat dari Yeonjin, dan menarik surainya kuat.

"Hey babe,hey.." Seorang namja berlari cepat menuju keduanya, berusaha memisahkan kekonyolan yang terjadi disana. Yeonjin memaki gadis dalam rengkuhan namja itu, yang tentu saja dibalas dengan senang hati oleh sang yeoja bersurai cokelat terang.

"Awas saja kau, Boo Seungkwan!" Yeonjin menghentakkan kakinya, meninggalkan dua insan yang masih terpaku ditempatnya. Seungkwan, gadis bersurai cokelat terang, mencebik sebal.

"Apa yang terjadi huh?" Rengkuhan pada bahu Seungkwan perlahan terlepas, digantikan tatapan heran namja dihadapannya. Seungkwan tertawa dengan suara bergetar, dipenuhi dengan emosinya sendiri.

"Aku hanya mempertahankan diri!"

"Sudahlah Boo, kenapa harus kau hiraukan?"

"Vernon–ah~," Seungkwan merajuk, tak terima dengan perkataan Vernon yang menurutnya membela Yeonjin. Vernon, namja berparas Amerika itu, tertawa.

"Aku tak membelanya, babe. Bukankah kau yang ingin sekolah dengan normal?"

"Ya, jangan ciptakan masalah Boo," seorang namja muncul dibalik punggung Vernon, mengagetkan Seungkwan yang tengah merajuk. Seungkwan menarik sepatunya, bersiap melemparkannya pada namja itu.

"Salahkan kekasihmu yang berlari meninggalkanku sendirian."

"Seokmin hyung, kau itu yang lambat."

"Tunggu, kau menyalahkanku?" Seokmin, namja dengan kacamata bulat yang bertengger manis di hidungnya menunjuk dirinya sendiri, tak terima dengan penuturan Vernon mengenai dirinya.

"Yak, berhenti!" Seungkwan menarik cuping telinga keduanya kesal, menciptakan suara mengaduh di sepanjang koridor. "Kita kembali ke kelas," tambah Seungkwan.

"Hey babe, lepaskan.. Ini sakit," Vernon merengek, berharap kekasih bulatnya itu mau melepaskan jemarinya dari cuping telinganya.

"Tidak, tunggu sampai kita tiba di kelas baru kita. Kelas apa tadi? Ah! 1–C."

.
XxxX
.

"Eungh~," Minghao membuka matanya perlahan, membiasakan cahaya dari jendela yang berlomba–lomba memenuhi irisnya. Kepalanya masih berdenyut, membuat tubuh kurusnya tak bisa digerakkan sama sekali.

Ah, ruang kesehatan. Minghao menoleh, mendapati sosok namja yang menatap dirinya lekat.

"Pusing?" Minghao mengangguk semampunya. Namja itu berdiri, berjalan mendekati kasur Minghao. Minghao akhirnya tersadar, kenapa namja itu repot–repot membantu dirinya, adalah karena Minghao tak pernah melihat sosoknya.

Pasti murid baru.

"Aku tak bermaksud menabrakmu, tadi.. tidak sengaja," Minghao tersenyum lirih. Ia menggerakkan bibirnya, mengucap 'tak apa' tanpa suara. Namja dihadapannya masih menatapnya lekat. Penasaran, Minghao mengikuti arah pandangan namja itu.

Name tagnya.

"Kau– ekhm. Maksudku, istirahatlah. Aku akan menemanimu," kali ini, Minghao menggeleng kuat. Ia tak mau semakin merepotkan sosok dihadapannya itu. Membawa Minghao ke ruang kesehatan saja namja itu pasti kerepotan. Tunggu.. berarti dia di gendong?

"Kau menggendongku?" ucap Minghao tanpa suara. Namja dihadapannya mengangguk, diikuti senyum samar yang tertangkap netra Minghao.

"Tentu saja, aku tak mungkin menarikmu kesini kan?" Minghao memejamkan matanya kesal, tak mengira akan menerima jawaban seperti itu. Setelahnya, hening merambat disana. Baik Minghao dan penolongnya, tak ada yang mau membuka suara.

"Aku membelikanmu susu dan roti. Kau kelihatan pucat," Minghao menggigit bibirnya. Ia lapar, dan roti itu menggoda dirinya. Susah payah ia berusaha duduk, namun hasilnya, ia hanya bisa menggeliat disana.

Detik berikutnya, namja penolongnya merengkuh bahu Minghao, dan membantu gadis kurus itu duduk. Minghao merona saat hidung mungilnya mencium aroma parfum namja itu, aroma yang bagi Minghao terasa familiar dan memabukkan.

Sialnya, Minghao bahkan tak bisa sekedar menggerakkan tangannya untuk meraih roti yang diberikan padanya.

"Ah, susah ya?" Minghao mengangguk canggung, tak enak pada penolongnya yang telah membantunya dalam banyak hal. Namja itu membuka bungkus roti pemberiannya, dan mengulurkannya pada Minghao. Minghao menatap namja dihadapannya tak paham.

"Kau makanlah, biar aku yang pegang," Minghao menggeleng, namja dihadapannya terlalu baik pada dirinya! Tiba–tiba, namja itu mendekatkan wajahnya pada Minghao, menipiskan jarak keduanya. "Makan atau aku yang memberikannya langsung padamu."

Minghao tak mengerti apa yang dimaksud dari memberikan langsung, yang ia sadari, kata itu mempunyai artian yang menurutnya tak baik. Melihat dari senyum miring yang ditunjukkan namja itu padanya. Mau tak mau, Minghao membuka mulutnya dan menggigit roti itu.

"Anak pintar," namja dihadapannya menepuk pucuk kepala Minghao, mengirimkan sengatan aneh pada tubuh gadis kurus itu. "Kau mau susunya?" Minghao mengangguk pasrah.

"Dilihat–lihat, kau seperti anjing kecil ya?" Minghao tersedak disela kunyahannya, sedangkan namja itu tertawa kecil. "Kau hampir setiap saat gemetaran dengan tubuh kurus itu, tapi tak ada yang tau apa yang terjadi saat kau menyalak."

Tubuh Minghao menegang. Mendadak, dunianya terasa berputar, menciptakan rasa mual pada perutnya. Minghao tak yakin, tapi entah kenapa, kalimat itu terasa akrab di telinganya. Otak Minghao terasa berlubang, seperti membuka sesuatu yang belum bisa kita lihat isinya apa.

"Oh, kau belum tau namaku bukan? Wen Junhui, ingat itu anjing kecil," diikuti tepukan lembut pada pucuk kepalanya, namja bernama Junhui itu memberikan senyuman hangatnya pada Minghao.
.
.
.
–TBC–


a/n:Hai~~ Terima kasih untuk reviewnya, seneng dd bacanya:")

Oh iya, untuk yang tanya kenapa kapel lain belum muncul, dan kenapa dedek Chan belum muncul, jawabannya simple.
.

JY bikin cerita ini awalnya cuma ide kasar aja, jadi kalo lagi selo nggak ngapa ngapain ya ngetik cerita ini. Jadi, cerita ini alurnya ga jelas. ASLI.

Mau nangis dd ngomongnya wkwk /slap.

Iya bener.

Maaf ya:") udah dd benerin kok alurnya, biar makin jelas, ga muter disitu situ aja:")

Kedepannya para member muncul kok, kecuali Chan. Chan masih dirahasiakan hehe.

/otw bakar diri/
.

Ada juga yang bilang kependekan, maafkan juga:")

Sengaja bikin pendek pendek sih, biar chapternya banyak.

Nggak deng.

Sejujurnya, bikin pendek karena JY sendiri kadang suka males kalo baca FF chaptered yang satu chapternya panjang. Bikin mata pegel.

Kalo lagi mood sih, enjoy aja bacanya. Tapi kalo nggak, yang ada malah dd lompat lompatin kalimatnya.

Para reader gitu juga nggak? Atau emang JY yang pemales ya:")

Maafkan ya kalo kependekan, sengaja:")
.

Tolong tabah menghadapi FF ini ya. Chapternya banyak, dan konflik baru muncul di episode kesekian.

Dari episode itu, semuanya baru mulai dijelasin perlahan, semuanya mulai kelihatan.

Dan itu baru PENJELASAN dan PENGENALAN KONFLIK, belum KONFLIK.

Astaga lelah dd.

Hehe.

Maafkan author satu ini pemirsa.

.
.

XOXO,

JY.