JY present

DIFFERENT

.

Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.

.
Chapter Five
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.

.
.
.


Jisoo berjalan keluar kelasnya sendirian. Tadinya, Jeonghan dan Seungcheol bersama dengan dirinya beberapa saat. Tepat sebelum Seungcheol mulai tersenggal dengan wajah semerah kepiting rebus. Setelahnya, Jeonghan meringis pada Jisoo dan meminta maaf pada yeoja bersurai cokelat madu itu dan pergi bersama Seungcheol entah kemana, membawa serta tas punggung miliknya.

Jisoo sempat mengira yeoja cantik itu hendak membolos. Tapi melihat tas Seungcheol yang dibiarkan tergeletak di mejanya, Jisoo mengurungkan spekulasi konyolnya.

Jisoo menutup pintu kelasnya pelan. Baru saja ia hendak melangkah, sebuah suara menginterupsinya. Memanggil Jisoo dengan sebutan 'noona rambut cokelat madu'. Jisoo menoleh, mendapati sosok namja yang jauh lebih tinggi darinya terengah mendekatinya.

"Per− permisi, apa kau− Jeonghan noona− ahk sial!" Setelah mengucapkan beberapa patah kata yang Jisoo bahkan tak mengerti apa yang namja itu coba sampaikan padanya, ia pergi meninggalkan Jisoo yang dipenuhi tanda tanya begitu saja.

"Hey, apa yang mau kau tanyakan?!" Jisoo berteriak, berusaha memanggil namja tinggi yang justru semakin menjauhkan punggungnya. Tak mempedulikan Jisoo yang terus mencoba memanggilnya.

.
XxxX
.

"Kemana Jeonghan noona," sosok tinggi itu masih terus berlari, menyusuri setiap sudut sekolah mencari Jeonghan –dan Seungcheol. Beberapa kali ia menabrak murid lain, sembari mengucapkan minta maaf sekilas, ia melanjutkan kembali pencariannya.

Pikirannya terlempar mundur, mengingat sosok yang ia temui didepan kelas noona dan hyungnya. Seorang gadis dengan surai cokelat madu setengah pinggangnya, gadis dengan mata rubah yang terus memanggilnya untuk berhenti dan menjelaskan apa yang hendak ia tanyakan.

"Sial, terlalu kuat..," namja tinggi itu mengacak rambutnya frustasi, berusaha fokus dengan tujuan awalnya.

.
XxxX
.

Woozi meringis, merasakan nyeri yang mendera punggungnya karena bertabrakan langsung dengan dinding luar gedung sekolahnya. Semula ia hanya ingin kembali ke kelasnya setelah merasa cukup di taman belakang sekolah, tapi yang ia dapati setelahnya, Nahyun menarik surainya paksa dan membenturkan tubuhnya ke dinding.

"Jangan kira aku tak melihatnya!"

.
SLAP
.

Woozi mengerjap, pipi pucatnya terasa panas, bahkan bekas telapak tangan kemerahan tercetak disana. Nafasnya tersenggal, dadanya naik turun secepat degup jantungnya.

"Apa maksudmu?" Woozi mendesis, menahan keterkejutan dan amarahnya yang memuncak.

"Kau menanyakan apa maksudku?" Nahyun tertawa, singkat sebelum ia menarik surai Woozi keras, membuat sang pemilik tubuh mengaduh keras. "Tanyakan pada dirimu sendiri, jalang!"

Nahyun mendorong tubuh Woozi kuat, membiarkan gadis mungil itu tersungkur di tanah. Nahyun menggerakkan tangannya, meminta sesuatu dari Hana. Woozi melirik, detik berikutnya, netra Woozi membulat terkejut. Ia berusaha bangkit berdiri, namun lengannya sudah dicekal Xiujuan terlebih dahulu.

"Apa kau membeli jaket baru? Aku baru melihatnya, tampaknya mahal huh?"

"Jangan sentuh jaket ini!"

"Kan? Ini pasti barang mahal," Nahyun melangkah mendekat, disambut dengan Woozi yang menendang udara kosong dihadapannya, menghalau Nahyun untuk tak mendekatinya. Hana memukul perut Woozi, tak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Woozi mengerang dan meluruhkan seluruh pertahanannya.

Dalam beberapa gerakan, gunting yang bertengger manis di jemari Nahyun merobek jaket yang dikenakan Woozi, membelahnya menjadi beberapa sayatan. Tubuh Woozi melemas, isakan kecil lolos dari celah bibirnya.

"Nah," Nahyun tersenyum puas melihat hasil karyanya, jaket biru gelap yang melekat pada tubuh Woozi sudah tak berbentuk lagi. "Begini lebih cocok denganmu."

Woozi marah, sangat marah. Ia segera menerkam Nahyun, ditariknya surai gadis angkuh itu hingga beberapa helai tersemat di genggamannya. Kaki kecilnya menendang Xiujuan, telak mengenai perut yeoja itu. Keributan terjadi disana, Hana yang berusaha menyelamatkan Nahyun justru terkena cakaran dari Woozi, menciptakan sayatan kecil memanjang di sepanjang lengannya.

"Hentikan jalang ini!"

.
BUAGH
.

Tubuh Woozi kembali tersungkur ke tanah, pukulan telak yang diberikan Hana di pipinya sukses membuat seluruh syaraf dikepalanya terhempas kesana–kemari. Nahyun melayangkan kepalan tangannya membabi buta pada Woozi, beberapa kali tinjunya itu berhasil titik lemah tubuh Woozi, membuat gadis mungil itu mengerang.

Setelah dirasa cukup, Nahyun berdiri, membenahkan dandanannya yang berubah menjadi mengerikan karena ulah Woozi.

"Jauhi murid baru itu atau aku akan berbuat lebih padamu!" Nahyun menendang tubuh Woozi, dan bersama kedua temannya –yang sama mengenaskannya dengan dirinya saat ini−, mereka pergi meninggalkan Woozi yang berderai air mata.

.
XxxX
.

Hoshi melirik jam kecil yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah 15 menit ia meninggalkan Woozi, namun gadis berpipi chubby itu belum juga kembali. Padahal, bel pergantian pelajaran akan berbunyi sebentar lagi.

Hoshi mengernyit, merasakan debaran aneh yang memenuhi rongga dadanya. Ia pernah merasakan debaran itu, saat Junhui menabrak pohon dengan sepeda misalnya, mengakibatnya beberapa tulang bocah China itu retak.

"Sial," Hoshi bangkit dari bangkunya, segera meninggalkan kelasnya dan berlari ke taman belakang sekolah, dimana ia meninggalkan Woozi terakhir kali.

"Apa ini efeknya? Berarti− shit!" Hoshi mempercepat laju larinya, tak peduli dengan beberapa murid yang ditubruk olehnya. Tujuannya hanya satu, mencari Woozinya.

.
XxxX
.

"Jihoon–ah?" Woozi menolehkan kepalanya, terkejut melihat Hoshi yang berdiri beberapa langkah darinya dengan nafas tersenggal. Hoshi terpaku ditempatnya, terkejut juga melihat penampilan Woozi saat ini.

Tangis Woozi pecah, rentetan kalimat maaf mengalir dari bibirnya. Hoshi perlahan melangkah, mendekati tubuh Woozi yang meringkuk di tanah, berbalut jaket miliknya yang telah koyak. Namja itu berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Woozi.

"Bagaimana.. bisa?" Suara Hoshi tercekat, persis seperti decitan suara tikus yang kehabisan oksigen untuk bernafas.

"A–akan kuganti ja–jaketmu, ma.. hiks.. afkan aku."

"Masa bodoh dengan jaketnya!" Woozi tersentak, terkejut dengan bentakan Hoshi. "Kau– bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?" Jemari Hoshi bergetar, meraih pipi Woozi dan menghapus jejak air matanya.

Perlahan jemarinya turun, meraih dagu Woozi dan memperhatikan wajah mungil dengan beberapa lebam disana. Sudut bibir Woozi yang sobek, lecet karena pukulan yang diberikan Hana pun tak luput dari perhatiannya. Hoshi menelan salivanya, perlahan ia merengkuh tubuh bergetar Woozi, membiarkan dada bidangnya menjadi tempat tumpahnya tangis Woozi.

Keduanya terdiam. Hoshi masih enggan membuka suaranya, sementara Woozi sibuk menenangkan dirinya dan isakannya. Woozi bisa merasakan usapan ringan di punggungnya yang masih berdenyut, beberapa kali usapan itu berpindah ke surainya yang tergerai.

"Mereka memintaku menjauhimu," kali ini, kepala Hoshi yang terasa berputar, menciptakan rasa pusing yang menggigit otaknya. Rengkuhan Hoshi mengerat, ia menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Woozi, mengirimkan kehangatan menenangkan pada tubuh itu.

"Jangan," Hoshi menggumam serak, seperti bisikan lirih namun terdengar jelas di telinga Woozi. "Kita buat mereka yang menjauhi kita."

Woozi menahan nafasnya, tak mengerti harus melakukan apa dan bersikap apa. Perlahan, ia mengangkat tangannya, dan menepuk punggung Hoshi yang terasa pas untuk melindungi dirinya. Ia tak ingin membuka suara, membiarkan deru nafas mereka saja yang saling bersahutan.
.
.
.
–TBC–


a/n: Chapter ini pendek banget emang, maafkan:" Besok ku update deh chapter 6, janji hehe.
Btw itu bang Oci asal nyosor aja dah ck, baru kenalan weh bang. Inget /slap.