JY present

DIFFERENT

.

Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.

.
Chapter Six
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.

.
.
.


Setelah namja bernama Junhui meninggalkan dirinya, Minghao beranjak pergi dari ruang kesehatan. Ia tak mungkin melewatkan seluruh pelajaran hari ini bukan? Dan dengan langkah tertatih, Minghao berjalan menuju kelasnya.

Baru saja Minghao hendak membuka pintu geser kelas 1–C, seseorang telah membukanya dari dalam. Minghao terlonjak, begitu pula dengan yeoja dihadapannya. Minghao mengernyit, dibalas dengan kernyitan dan wajah terkejut sang yeoja.

"Ah, kau pasti Xu Minghao," gadis dihadapannya tersenyum, tangannya terulur, mengajak Minghao berjabat tangan. Minghao mengangguk, dengan senyum senyum semampunya, ia menjabat tangan sang yeoja.

"Aku Boo Seungkwan, murid pindahan. Aku duduk disebelahmu. Kau tadi tidak ikut olahraga ya? Kau kemana? Ah tadi Lee seonsaengnim yang menyuruhku duduk disebelahmu," Minghao mengerjap lucu, bingung harus berbicara apa. Apakah ia harus menjawab pertanyaan Seungkwan terlebih dahulu atau bagaimana?

"Aku.. di ruang kesehatan," Seungkwan mengangguk.

"Kalau begitu, ayo masuk! Sudah bel, untung saja seonsaengnim belum datang," Seungkwan menarik tangan Minghao, menyeret gadis itu ke arah bangku mereka. Seungkwan duduk terlebih dahulu, disusul Minghao yang duduk dengan senyum kaku.

"Ah, Minghao–ah," Minghao menoleh, menatap Seungkwan yang menggigit bibir bawahnya. "Apa kau tadi.. bertemu seseorang? Di ruang kesehatan mungkin?"

"Ah.. Tadi ada yang menolongku, namanya Wen Junhui. Ada apa?" Seungkwan tertawa hambar, ia mengibaskan tangannya di depan wajah bulatnya, berulang kali mengucapkan 'tak apa, lupakan saja'.

"Oh kenalkan," Seungkwan memutar tubuhnya kebelakang, menunjukan pada Minghao murid lain yang belum pernah Minghao lihat. "Ini Chwe Hansol, panggilannya Vernon. Dan sebelahnya adalah− tunggu, harusnya ada Lee Seokmin disitu. Dan," Seungkwan kembali memutar tubuhnya, menghadap depan. "Didepan kita harusnya ada Kim Mingyu."

"Tunggu, kalian berempat pindah bersama?" Minghao terbelalak tak percaya.

"Tepatnya, delapan orang yang pindah bersama kesini," Seungkwan menatap jendela besar di sisi kirinya, menerawang jauh kedalam pikirannya. Minghao yang semula tertawa berganti membuka mulutnya lebar, terkejut.

"De– delapan?!" Seungkwan menoleh, menatap Minghao kembali. Gadis itu tertawa melihat Minghao yang terkejut, jemarinya mengacungkan angka delapan. Seungkwan mengangguk, meyakinkan Minghao.

"Heol!"

"Dua dikelas dua dan dua dikelas tiga."

"Ah, berarti kau kenal Junhui? Aku belum pernah melihatnya di lingkungan sekolah kita," senyum lebar Seungkwan berangsur luntur, digantikan dengan senyum teduh miliknya.

"Ya, dia kenalanku. Vernon, Mingyu, dan Seokmin juga kenal. Kami semua saling mengenal," Seungkwan melirik Vernon yang diam–diam menguping pembicaraan dua gadis di depannya itu. Bibir tipis Vernon bergerak, mengucapkan kata 'cukup' tanpa suara pada Seungkwan.

"Tapi," pandangan Seungkwan kembali pada Minghao yang membuka suara, mengabaikan Vernon yang menatap horror pada dua gadis dihadapannya saat ini. "Kenapa kau duduk disini?"

"Apa kau tak nyaman denganku? Aku bisa bertukar jika kau−"

"Aniya. Maksudku, apa.. tak ada yang memberitahu sesuatu padamu?" Suara Minghao tercekat diujung kalimatnya, tenggorokannya tertahan oleh nafasnya sendiri. Seungkwan mengerjap, kemudian menggeleng.

"Tidak ada. Apa kursi ini berhantu?" Seungkwan memperagakan pose hantu, tawa Minghao lolos dari celah bibirnya. Vernon yang duduk dibelakang pun mati–matian menahan tawanya, hingga wajahnya merah padam.

"Aigoo, Hansol–ie.. Kalau ingin tertawa, silahkan tertawa," goda Seungkwan. Lagi, gadis itu menirukan pose hantu ditambah ekspresi wajah yang sangat konyol. Minghao mengusap ekor matanya, menghapus air matanya yang menggenang karena tertawa.

Yah, setidaknya ia bisa merasakan rasanya memiliki teman untuk saat ini.

.
XxxX
.

Yeoja bersurai sepinggang itu menghela nafas lega. Cukup sulit ia mencari tempat sepi di sekolah, hingga akhirnya ia menemukan tempat idaman itu. Rooftop sekolah. Ia membantu namja yang tengah melingkarkan lengannya pada pundaknya untuk duduk.

"Sudah kukatakan untuk sarapan sebelum berangkat sekolah, dan kau membantah. Lihat akibat dari perbuatanmu sendiri," Jeonghan, yeoja itu, membuka tas punggungnya. Telapak tangannya tenggelam di dalamnya, meraih sesuatu di dalam sana, dan mengeluarkannya. Sebuah kantung kecil berlapis plastik hologram.

Seungcheol, sang namja, bersusah payah menggerakkan tangannya, meraih kantung kecil yang diberikan Jeonghan. Tanpa suara, ia membuka kantung itu dan meminum isinya.

"Bagaimana jika yang lain membangkang sepertimu huh? Merepotkan!" Seungcheol menghentikan tegukannya, kalimat yang dilontarkan Jeonghan berhasil menyentil memori di kepalanya. Tunggu, kalau tidak salah..

"Seok– min."

"Ada apa dengan kuda itu?! Jangan bil– oh sial!" Jeonghan berdiri, kemudian berlari meninggalkan tunangannya yang masih terkulai lemah. Seungcheol tertawa hambar, menertawakan ide konyol yang ia lakukan bersama Seokmin tadi pagi.

Mereka memutuskan untuk tidak sarapan.

Yah, ia hanya bisa berharap Jeonghan segera menemukan Seokmin. Kalau tidak, kehidupan sekolah normalnya akan langsung berakhir.

.
XxxX
.

Jisoo melangkah menuju perpustakaan, mencari bahan referensi untuk tugas yang diberikan Choi seonsaengnim padanya. Saat telapak tangannya hendak mendorong pintu perpustakaan, sebuah suara erangan terdengar di telinganya.

"Permisi?" Jisoo melongok, mencari arah sumber suara. Erangan terdengar lagi, kali ini lebih kecil dari sebelumnya. Jisoo tau dari mana arah suara erangan itu, halaman kecil yang telah lama terbengkalai di samping perpustakaan.

Jisoo tak takut hantu, malah, ia tak percaya dengan adanya hantu. Ia mengambil langkah dengan berani, tanpa ada celah untuk rasa ragu disana. Pandangannya menyapu seluruh sisi halaman itu, dan dibalik pohon Sakura besar yang telah lama ada disana, seseorang tengah duduk. Jisoo bisa melihat punggung orang itu.

"Permisi," Jisoo menepuk pundak orang itu, menyadarkannya dari erangan yang terus terdengar dari bibirnya. Sosok itu menoleh, menatap Jisoo dengan pandangannya yang berkabut. "Hey, kau yang tadi mau bertanya kan?" lanjut Jisoo dengan nada keheranan.

"Sial, terlalu kuat," Jisoo semakin kebingungan saat namja dihadapannya mendorong pundaknya menjauh. Jisoo tak bergeming dari tempatnya. Lagi, namja itu mendorong Jisoo untuk menjauh dari dirinya.

"Are you okay? Kau butuh bantuan? Aku akan menolongmu berjalan ke ruang kesehatan," Jisoo merengkuh pundak namja itu, berusaha membangkitkan dirinya dari posisi duduknya.

Yang Jisoo tak mengerti, mendadak namja itu memutar tubuhnya, mendorong Jisoo hingga ia terhimpit di batang pohon Sakura. Sang namja bergerak mendekat pada Jisoo, menipiskan jarak antara keduanya. Semakin lama, wajah dihadapannya bergerak menuju ceruk lehernya. Jisoo memejamkan matanya, lututnya seketika melemas dan gemetar.

"Lee Seokmin!" Suara teriakan memutuskan aktifitas keduanya. Jisoo menoleh, netranya membulat terkejut melihat Jeonghan yang berlari kearahnya –atau kearah namja dihadapannya.

"Jisoo?!" Jeonghan menarik tubuh namja itu menjauh dari Jisoo. Sontak, tubuh Jisoo merosot ke tanah. Tatapannya hampa, kilat matanya menyiratkan sebuah keterkejutan. Jeonghan berdeham sejenak, mencairkan suasana disana.

"Kau baik–baik saja?" Jisoo mengangguk lemah, tatapannya masih kosong. "Maafkan Seokmin, ne. Tolong lupakan saja, dia.. sedang tak waras."

Jisoo tertawa kaku, tatapannya ia alihkan pada Jeonghan. "Sedang tak waras?" Jisoo terkekeh, dan yang terjadi setelahnya, dunianya menjadi gelap total.
.
.
.
–TBC–


a/n: Maafkan dedek telat update, kepala lagi pusing banget ini huwee:""
Maaf juga updatenya pendek banget, maafffff:""