JY present

DIFFERENT

.

Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.

.
Chapter Seven
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.

.
.
.


"Bodoh!"

"Hyung, itu ceroboh sekali."

"Ya aku tau!" Seokmin melempar kantung hologram yang diberikan Jeonghan padanya, membiarkan isinya menetes keluar. Seungkwan memungut kantung itu, tak ingin melihat isinya keluar lebih banyak. Tangannya terulur pada Seokmin, menyerahkan kembali sarapan milik sang oppa.

Kini, rooftop Pledis Highschool tengah ramai, dipenuhi delapan siswa siswi yang saling memasang wajah tegang. Beberapa diantara mereka memilih diam, terkadang juga beberapa turut memberikan suara mereka di tengah pembicaraan mereka.

"Kini, Jisoo adalah yang paling rawan."

"Apa Jeonghan eonni tau? Jisoo eonni–," Seungkwan menggantungkan kalimatnya, merasa tak nyaman untuk memberikan lanjutannya pada seluruh orang yang ada disana. "Aku hanya mendengar sekilas, tapi.. Jisoo eonni di gosipkan melakukan this and that."

"Lalu? Apa maksudmu?" Mingyu yang semula memilih diam, akhirnya membuka suaranya juga. Kini, semua pandangan tertuju pada Seungkwan yang tengah memilin ujung roknya.

"Yah.. Tidak ada yang tau kalau kejadian tadi di foto oleh seseorang atau tidak kan? Kalau memang ada dan foto itu menyebar, baik Jisoo eonni dan kita sama–sama dirugikan. Terlebih, gosip itu pasti menyebar cepat. Siapa yang tak tertarik dengan headline berita tentang Jisoo eonni si ja− ehm, ya kalian tau maksudku kan?"

Semua terdiam di tempat, menyadari apa yang dikatakan Seungkwan memang benar. Seokmin semakin tertunduk di tempatnya, sedangkan Seungcheol sibuk menghela nafas panjang. Jeonghan mengusap wajahnya, tak tau lagi apa yang harus ia lakukan.

"Padahal Jisoo bukan yeoja seperti itu," Jeonghan memejamkan matanya, jemarinya sibuk memijit pelipisnya yang berdenyut menyakitkan.

"Kenapa Seokmin hyung melakukannya pada Jisoo noona?" Pertanyaan yang dilontarkan Vernon menohok titik kesadaran Seokmin. Namja itu tertawa beberapa detik.

"Kalian boleh mengatakan aku gila, tapi baunya sangat kuat. Tubuhku.. Aku terbakar."

"Tapi kau bahkan belum melakukan Signum[1] padanya."

"Tunggu, jadi kalian sudah melakukan Signum?" Jeonghan mengangkat wajahnya, ekspresi terkejut tercetak jelas disana saat Mingyu menyebutkan kata Signum.

"Bahkan kurasa sudah ada yang melakukan Recessus[2]," Jun melirik Hoshi yang berada di pinggir rooftop, menatap kebawah dan memilih diam. Jeonghan menarik pundak Hoshi, memutar tubuh namja itu menghadap padanya, dan menatapnya marah.

"Ini baru hari pertama sekolah kita!"

"Lalu apa?! Aku harus membiarkannya mati dipukuli dan ditendang oleh murid lain karena mereka tak suka dia dekat denganku?" Hoshi melepaskan cengkraman Jeonghan yang melemah di lengan seragamnya. "Jangan suruh aku mengingatkan kalian siapa yang juga melakukan Recessus saat baru beberapa jam bertemu."

Keheningan canggung menjalar disana, tak ada satupun yang berniat membuka suaranya saat ini. Jeonghan melangkah mundur, menjauh dari Hoshi yang kembali menatap lapangan olahraga dibawah.

"Kembali ke kelas masing–masing, sekarang. Fokus dengan pelajaran kalian terlebih dahulu, perhatikan jika ada perilaku aneh dari murid lain," suara berat Seungcheol memecahkan keheningan di rooftop. Semuanya mengangguk, menunjukan tanda patuh dengan kalimat yang Seungcheol ucapkan. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan rooftop, menyisakan Jeonghan dan Seungcheol yang masih terdiam di tempat.

"Maafkan aku."

"Lain kali, aku pastikan tubuhmu tergantung di pintu rumah, Cheol."

.
XxxX
.

Jeonghan menatap tubuh Jisoo yang masih terbaring lemah, padahal bel pulang sudah berdering sejak beberapa menit lalu. Jeonghan menggigit bibir bawahnya, berpikir jawaban apa yang harus ia lontarkan pada Jisoo yang pasti akan bertanya pada dirinya.

"Jeong–han?"

"Jisoo–ya," Jeonghan berdiri dari kursinya, mendekat pada Jisoo yang masih mengerjapkan matanya. Jisoo melirik Jeonghan, memberikan senyum simpul yang membuat Jeonghan semakin merasa bersalah.

"Aku tak menuntut penjelasan. Kau bisa memberitahuku saat menurutmu waktunya tepat," Jeonghan menangis, memeluk tubuh Jisoo yang masih lemah. Apa yang Jisoo ucapkan sangat menusuk hatinya, menimbulkan rasa penyesalan yang terus mengakar disana.

"Maafkan aku, Jisoo."

"Gwaenchana~ Ingat, kau berhutang penjelasan padaku okay?"

"Ya, aku tak akan melupakan hutangku padamu."

"Ah, bel pulang sudah berbunyi ya?" Jisoo melirik jam yang tergantung di dinding, sudah pukul 03.25PM. Jeonghan melepaskan pelukannya, kepalanya mengangguk lemah pada Jisoo. "Sial, aku melewatkan jam pelajaran," tawa Jisoo.

"Aku sudah mencatatkannya untukmu, lengkap," Jisoo tersenyum, telapak tangannya menepuk lengan Jeonghan pelan.

"Terima kasih, you're such a good girl Jeonghan–ah."

.
XxxX
.

"Seokmin–ah," Jeonghan menepuk pundak Seokmin, memecahkan lamunan namja itu. Seokmin menoleh, melukiskan senyum tipis di bibirnya.

"Ada apa noona?"

"Apa.. Jisoo terlalu kuat? Bahkan dengan orang–orang yang ada di sekitarmu?" Seokmin kembali menatap lurus, memperhatikan bintang dari beranda kamarnya. Beberapa detik berlalu, Jeonghan masih belum mendengar jawaban dari bibir Seokmin.

"Ya, dia.. Aku rasa hidungku bisa mati rasa jika didekatnya terus."

"Kalau begitu, Signum dia."

"Tunggu, apa?" Seokmin menatap Jeonghan kembali, raut terkejut memenuhi wajahnya. Jeonghan berbalik menatap Seokmin, menegaskan kalimatnya melalui kilatan matanya.

"Bagaimana.. jika bukan dia?"

"Bagaimana kau bisa yakin itu bukan dia? Kau yang paling santai diantara kami, namun see? Kau menyerang Jisoo tadi," Seokmin tercenung, menyadari apa yang Jeonghan katakan padanya memang benar. Seokmin tak pernah ambil pusing dengan segala hal yang berhubungan dengan kewajibannya. Namun Jisoo, berhasil mematahkan segala ketidakpedulian Seokmin.

"Kalau begitu, tolong aku noona."

"Dengan senang hati, Seokmin–ah."

.
XxxX
.

Sudah seminggu sejak kasus perdebatan kecil di rooftop terjadi, sudah seminggu pula Mingyu murung. Ia sudah bertanya nama yeoja yang ia Signum pada Hoshi dan Jun minggu lalu. Namanya Jeon Wonwoo. Dan Mingyu barulah sadar, Wonwoo mulai menghindarinya.

Contohnya saat ia berpapasan dengan Wonwoo di koridor beberapa hari lalu, Mingyu baru hendak melambaikan tangannya dan tersenyum namun Wonwoo justru berlari meninggalkannya dengan terbirit–birit, seakan tengah melihat hantu. Atau saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan karena Wonwoo dan Mingyu sama–sama hendak membuang sampah di kantin.

Kalau boleh, Mingyu lebih memilih kasihan dengan Wonwoo ketimbang sedih diabakan oleh yeoja itu. Tapi Mingyu terlalu penasaran, seberapa lama Wonwoo akan menghindarinya? Seberapa lama gadis itu sadar bahwa ia tak bisa menolak kehadiran Mingyu?

Sebuah senyuman terlukis diwajah Mingyu, tampak menyebalkan dan menjijikkan disaat yang bersamaan.

Aku akan mengikuti arusmu, Jeon.

.
[1] Signum: Tanda.

[2] Recessus: Penarikan.
.
.
.
–TBC–


a/n: IYA INI PENDEK IYAAA huhu:"""
Besok pasti update kok, janji. Mianhae huhu..

Btw kiming sama Jeongkook abis jalan bareng ya? RISE 97L YIHAAA~ /dance/