JY present

DIFFERENT

.

Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.

.
Chapter Eight
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.

.
.
.


"Won, kau pucat," Wonwoo menoleh, memperhatikan Jihoon yang menatapnya kasihan. Ia tersenyum masam, melambaikan tangannya di depan wajah Jihoon, mengucapkan kata 'tak apa' dengan bisikan.

Wonwoo mulai berpikir, apa kondisinya akhir–akhir ini ada hubungannya dengan ucapan Mingyu padanya minggu lalu. Tapi Wonwoo tidak menjauh, ia hanya menghindari Mingyu, itu saja. Wonwoo mulai berpikir soal kata 'menghindari' yang Mingyu ucapkan.

Apa maksud Mingyu, Wonwoo tak boleh menghindari Mingyu? Ia harus selalu berada di dekat Mingyu? Tapi kenapa? Bagaimana jika Wonwoo tak mau? Apa ia akan pusing dan pucat layaknya mayat berjalan selamanya?

.
KRIIIINGG
.

"Jihoon–ah, kajja," tanpa sempat Woozi bertanya, Wonwoo sudah menariknya terlebih dahulu tepat setelah bel istirahat selesai berbunyi. Wonwoo melesat, menyusuri koridor dengan Jihoon yang kepayahan mengikuti langkahnya.

Disitu kau!

.
Deg.
.

Wonwoo segera menghentikan langkahnya, menoleh dan mengajak Woozi berbicara. Woozi tersenggal, kernyitan di dahinya semakin dalam saat Wonwoo mengatakan berbagai macam hal yang tak saling berkaitan.

"Sial, kenapa dia harus menoleh," Wonwoo bergumam kesal pada dirinya sendiri, yang untung saja tak di dengar oleh Woozi. Ia memang berniat berjalan di dekat Mingyu, namun sebelum ia melangkah lebih dekat, Mingyu justru menoleh. Tatapan mereka bertubrukan, dan jantung Wonwoo langsung berpacu.

"Wonwoo noona," Wonwoo tersentak saat sebuah telapak tangan menepuk bahunya, tak kencang namun berhasil membuat Wonwoo terkejut. Dan suara itu.. sial! Wonwoo menarik lengan Woozi kembali, dan tanpa membuang waktu, ia segera menyeret Woozi menjauh dari Mingyu yang berdiri dengan senyum miringnya.

"Mingyu–ya, itu–"

"Ya hyung, biarkan saja. Aku akan melihat sejauh mana ia akan terus berlari," Mingyu tersenyum, mengabaikan Hoshi yang menatapnya jengah.

"Terserah kau saja, Kim."

.
XxxX
.

Minghao melongok di tengah kerumunan manusia di kantin, mencari sosok Seungkwan dan Vernon yang tenggelam disana. Seungkwan menyuruhnya untuk menjaga kursi mereka, mau tak mau Minghao di tinggal sendiri oleh pasangan itu.

Minghao terkekeh, mengingat saat Seungkwan mengatakan padanya bahwa Vernon adalah namjachingunya. Bayangkan saja, seorang Boo Seungkwan yang super berisik berpacaran– ani, bertunangan dengan Vernon yang selalu berbicara secukupnya. Bukankah itu suatu kejadian yang.. lucu? Minghao selalu bertanya dalam kepalanya, bagaimana bisa hal itu terjadi.

"Hei," Minghao tersentak, lamunannya terpecah saat seorang namja duduk dihadapannya. Keduanya terdiam. Minghao masih terkejut dengan kehadiran namja itu.

"Junhui–"

"Oppa. Aku satu tingkat diatasmu, Minghao–ah," Jun terkekeh, mengabaikan Minghao yang mengerucutkan bibirnya sebal padanya. Jun menoleh kesana–kemari, tatapannya memperhatikan seluruh wajah disana.

"Jun hyung?" Vernon meletakkan nampannya disebelah Jun, terkejut dengan kehadiran tamu tak diundang itu. Jun tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi pucatnya.

"Oppa?!" Seungkwan mengintip dari balik bahu Vernon, sama terkejutnya dengan namja bule itu. Jun mendecak, matanya bergerak, menyuruh Seungkwan dan Vernon untuk duduk. Keduanya menurut, mereka segera mengambil tempat duduk yang ada.

"Tak ada tempat duduk lagi, dan kebetulan aku melihat Minghao. Jadi, aku duduk," Jun mengaduk sup miliknya, memasang wajah untuk dikasihani. Vernon tertawa, tangannya menepuk pundak Jun berulang.

"Jangan lihat Hao–ah, mereka sinting kalau bertemu," Seungkwan memutar bola matanya jengah, yeoja itu lebih memilih untuk menunduk daripada harus memperhatikan dua namja yang sibuk bercengkrama dihadapannya. Minghao menurut, ia lebih memilih sibuk dengan makanan di nampan miliknya.

"Minghao–ah, apa kau sudah sehat?" Minghao mendongak, menatap Jun yang mengalihkan pembicaraannya dengan Vernon dan balas menatapnya. Minghao tersenyum.

"Sudah, terima kasih."

"Syukurlah," Jun menarik nafas, senyuman lega terbit di kurva bibirnya. Seungkwan menginjak kaki Vernon pelan, meminta atensi dari sang tunangan. Seungkwan menggerakkan bibirnya, mengucapkan rentetan kalimat tanpa suara.

"Junhui oppa sudah gila, kita harus selamatkan Minghao," Vernon tertawa setelah membaca pergerakan bibir Seungkwan, tak sadar bahwa Jun kini menatapnya.

"Kenapa?"

"Ah tidak, aku melihat kejadian lucu dibelakang Seungkwan. Tak apa, kita biarkan saja," Seungkwan mengerucutkan bibirnya sebal, tak menyangka Vernon justru tertarik dengan cerita Jun dan Minghao.

"Aku pasti gila," desah Seungkwan pelan.

.
XxxX
.

Setelah berpisah dari Wonwoo yang sekarang tengah bersembunyi di perpustakaan dengan wajah ketakutan, Woozi memilih duduk bersantai tempat favoritnya, taman belakang sekolah. Sudah seminggu Nahyun tak masuk sekolah, berarti, sudah seminggu pula Woozi 'bebas' untuk bergerak. Meski Xiujuan dan Hana tetap berperang dingin dengannya.

Woozi menarik nafasnya, menikmati semilir angin yang menerpa epidermisnya. Perlahan, ia merasakan sepasang tangan melingkupi pipi tembamnya. Tangan yang tak kalah menyejukan dengan angin musim semi. Woozi mengerjap, tatapannya tertuju pada seseorang yang tengah duduk bersila dihadapannya dengan senyum lebar.

"Kenapa kau disini?"

"Kau lucu," Hoshi, sosok itu, terkekeh. Jemarinya berpindah, sibuk menekan pipi Woozi yang kemerahan. Woozi menghela nafas berat. "Pipimu lucu, sama sepertimu," Woozi memutar bola matanya jengah karena sikap Hoshi.

Dan seminggu pula ia terus menempel.

Woozi heran, kenapa ia bisa tak marah dengan namja hamster dihadapannya itu. Biasanya, jika ada yang mendekatinya dalam radius 1 meter, Woozi sudah memasang tatapan tajam pada orang itu. Namun tidak pada Hoshi, yang sejak awal pertemuannya dengan Woozi sudah langsung mendekat dengan radius kurang dari 1 meter.

"Sialan," Woozi menggumam tanpa sadar, tak menyadari dengan seyum miring yang tercetak di bibir Hoshi. Namja itu berdeham, menghilangkan senyumnya yang seakan tak bisa berhenti. Woozi mengembalikan atensinya pada Hoshi, ekspresi datar terpasang diwajahnya.

"Ah, aku dengar akhir pekan ini, tepatnya nanti malam, akan ada pesta kembang api di taman dekat Sungai Han, bagaimana kalau kita pergi?" Woozi menunjuk dirinya, bertanya pada Hoshi apa benar namja itu mengajak dirinya. Hoshi tertawa kemudian mengangguk, jemarinya mengacak surai Woozi gemas. "Aku berbicara denganmu, sayang."

"Tidak usah, terima kasih," sang yeoja merengut sebal, menciptakan kekehan di sela bibir Hoshi. "Lebih baik kau ajak Nahyun saja."

"Hm? Nanti kau cemburu."

"Dalam mimpimu, Kwon," Woozi menyentil dahi Hoshi, cukup keras hingga membuat kepala namja itu tersentak kebelakang. Hoshi mengaduh, telapak tangannya mengusap dahinya yang memerah.

"Aku hanya ingin pergi denganmu, tidak dengan Nahyun atau siapapun itu."

Ya, Hoshi tau siapa dalang dibalik pembullyan pada Woozi minggu lalu. Malah, Woozi sendiri yang memberitahukannya pada Hoshi. Dan sejak saat itu, Nahyun tak masuk sekolah. Woozi terus bertanya apa Hoshi menghajar wanita itu dijalan, yang tentu saja dibalas dengan tawa terbahak namja sipit itu.

"Pergilah sendiri, kau bukan anak kecil!"

"Tapi aku dapat dua tiket, akan ada banyak stan makanan disana," Hoshi merogoh sakunya, meraih dua lembar tiket dari sana dan menyelipkan salah satunya di sela jemari Woozi. Hoshi tersenyum seraya menepuk kepala Woozi, setelahnya, namja sipit itu melangkah pergi meninggalkan Woozi.

"Aku 'kan sudah bilang tidak!"

.
XxxX
.

Jisoo memutar tubuhnya, tepat saat kedua matanya menangkap sosok pemuda jangkung dengan hidung bangir khas miliknya tengah berjalan ke arahnya. Oke, mungkin bukan kearahnya, namun ke arah dimana ia tengah berdiri.

Ie melangkah cepat, segera menjauh dari sana sebelum sosok itu mengenalinya.

"Jisoo noona!"

"Sialan," Jisoo mendecih, ia semakin mempercepat pergerakan kedua tungkainya saat sosok dibelakangnya tak henti–hentinya memekik, memanggil namanya.

Masa bodoh! Jisoo berlari, dan ia semakin merutuki dirinya sendiri saat indra pendengarannya mendengar derap langkah yang mengikutinya. Beberapa kali Jisoo menabrak murid lain, dan tanpa ada niatan untuk sekedar berhenti dan bertanya apa sang korban baik–baik saja, Jisoo tetap melanjutkan larinya.

Beberapa kali Jisoo berbelok, memutar, dan mengendap sebelum akhirnya lolos dari pemuda yang mengejarnya. Jisoo menyandarkan tubuhnya pada pohon Sakura besar –tempat dimana ia pingsan minggu lalu−, sibuk mengatur nafasnya yang tersenggal dan bertabrakan.

Jisoo memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya−

"Aku memanggilmu, kenapa kau malah menghindar?"

−dan gagal. Jisoo membuka matanya terkejut, melihat sosok yang ia hindari kini telah berdiri dihadapannya, dengan kedua lengan kokohnya yang berada disebelah kedua bahunya. Jisoo terkurung.

"Ku–kurasa aku tak mendengar seseorang..," pemuda dihadapannya menaikkan alisnya, menemukan kobohongan Jisoo yang sangat kentara. "..memanggilku. Um, aku ada urusan. Ja–jadi aku terburu–buru." Jisoo terkekeh kaku, usahanya mencairkan suasana berakhir gagal.

"Jika aku harus memilih dari ribuan orang yang ada dimuka bumi ini," Jisoo mengalihkan pandangannya dari kedua netra cokelat yang terus menatapnya, "aku akan memilihmu sebagai pembohong paling payah yang pernah ada."

"Menyingkirlah."

"Tidak, kau pasti kabur lagi."

"Me– menyingkir dariku menjijikan!"

Baik Jisoo dan sosok dihadapannya sama–sama terkejut. Jisoo mengatupkan kedua bibirnya canggung, sedangkan sosok dihadapannya menatapnya tajam.

"Kau bilang.. apa?" Nafasnya pendek–pendek, persis seperti saat ayah Jisoo menerima raportnya yang buruk dulu. Jisoo gelagapan, memikirkan alasan yang tepat untuk namja dihadapannya.

"Aku tak bilang.. apapun."

Oh bagus, kebohongan yang sangat menggelikan. Jisoo sendiri mendengar dengan jelas apa yang ia ucapkan, apa lagi sang lawan bicara?

Mati saja kau, Hong.

"Kau. Harus menjelaskannya. Sekarang."

"Kalau tidak, apa hah? Kau mau me–"

Jisoo terpekik tertahan saat bibir namja dihadapannya menubruk gundukan kenyal kemerahan −bibir− miliknya. Tanpa ampun. Berulang kali ia merasakan deretan gigi menggigit bibirnya, mengeluarkan cairan amis bernama darah disana.

Jangan kira Jisoo menikmati ciuman ini, karena kedua tangannya yang terkepal sibuk memukul dada bidang sang pemuda, menolak apa yang namja itu lakukan padanya. Meski pada akhirnya, usahanya berakhir sia–sia. Malah, yang Jisoo rasakan, bibirnya sudah membengkak karena kerakusan pemuda dihadapannya.

Setelah tiga menit berlalu, namja itu memundurkan wajahnya, menyisakan jarak 5cm antara wajah keduanya. Lutut Jisoo bergetar, tanpa sadar jemarinya meremat lengan sang namja sebagai penyangga tubuhnya.

"Itu yang akan kulakukan," bulu kuduk Jisoo meremang mendengar suara serak sosok dihadapannya. Jisoo tercekat, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari celah bibirnya.

"Tunggu," Jisoo menahan nafasnya saat sosok dihadapannya menjilat bibirnya, membersihkan saliva keduanya disana. Tubuh namja itu menegang, kedua matanya melotot pada Jisoo, melayangkan kilatan tak percaya dan terkejut.

Namja itu terbatuk, tubuhnya mendadak tersungkur diatas tanah. Jisoo memekik, kedua tangannya mengguncangkan sosok yang masih terbatuk itu. Nafasnya tersenggal, wajahnya memucat, dan Jisoo tau penyebabnya.

Dirinya.

"Lee Seokmin! Seokmin–ssi, jangan pingsan! Oh my, open your eyes please! I'm sorry, I tried to explain it to you, but– yak, Seokmin–ssi!"
.
.
.
–TBC–


a/n: Cie gantung lagi /dibakar massa/. Terima kasih banyak buat yang review, JY cinta kalian:")
Ada admin admin lain yang review juga, JY merasa terhormat uhuk. Maaf belum sempet review balik, tapi sejujurnya JY udah baca ff milik admin lain.
Maaf /bow/ Untuk selanjutnya, JY usahain untuk review, pasti. Sekali lagi maaf /bow/.

Anyway, banyak yang tebak tebak ya sebenernya mereka itu siapa. Wqwqwqwq, siapa hayo?
Mereka itu

.
Member SVT
.

Ampun:") /slap. Dan ada juga yang tanya kenapa dd Chan belum muncul. Dd Chan pasti muncul kok, tapi dia itu special–spoiler cie–, jadi keberadaannya dan kemunculannya masih perlu ditunda dulu. Bang Chan maapin ya, nanti sekalinya muncul partnya lumayan kok bang:*

Juga untuk kemunculannya Jeongcheol sama Verkwan, nanti dulu ya~ Kalau mereka dimunculin banyak–banyak, langsung keliatan inti ceritanya nanti hehe. Tapi JY janji deh, chapter chapter selanjutnya Jeongcheol sama Verkwan dibanyakin kok~ Malah JY ngerasa Junhao yang kurang banyak disini:") Dan untuk Seoksoo, hehe, nanti mereka ada moment tersendiri kok mwah –spoiler terus–.

.

.
XOXO,
JY.