JY present
DIFFERENT
.
Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.
.
Chapter Nine
.
.
Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.
.
.
.
"Hey, Cheol–ah," Seungcheol berdeham, menjawab panggilan yang ditujukan padanya seadanya. Jeonghan, sang pemanggil, mendecak sebal. Dengan sengaja ia menggerakan pahanya yang menjadi bantalan Seungcheol, menyebabkan kepala namja bersurai hitam itu terhentak–hentak.
"Apa sayang?" Seungcheol membuka matanya, tatapannya langsung tertubruk dengan iris cokelat Jeonghan. Seungcheol tersenyum lebar, senyum yang tampak sangat menggoda dan menyebalkan disaat yang bersamaan.
"Kepalaku pening, rasanya.. menyakitkan."
"Eh? Kau sudah makan kan tadi pagi? Roti panggang?" Jeonghan mengangguk, lalu menggeleng. Menciptakan kerutan di dahi Seungcheol.
"Aku– aku.. Ini sudah seminggu, Cheol."
Seungcheol masih memasang wajah idiot, belum paham dengan apa yang Jeonghan sampaikan padanya. Jeonghan menghela nafasnya, berusaha tabah menghadapi namjachingunya yang selalu telat berpikir.
"Kau itu memang idiot atau bagaimana sih? Sudah seminggu Cheol! Jadwal, ingat?" Seungcheol menepuk dahinya setelahnya, baru mengerti dengan apa yang Jeonghan maksudkan.
"Mian."
"Memang bodoh ternyata," Jeonghan mendengus kesal, mengabaikan Seungcheol yang terus memanggilnya dengan intonasi dan wajah imut –menjijikannya– yang dibuat–buat.
"Tapi ini rooftop Jeonghan–ah, bisakah kau bersabar?"
"Ku– kurasa tidak Cheol, please help me.." nafas Jeonghan mulai tersendat, wajahnya kini memerah secara perlahan. Seungcheol meringis melihat kondisi tunangannya.
"Baiklah, cepat sebelum ada yang melihat."
Jeonghan membuka tiga kancing baju teratasnya, memaparkan sebuah bentuk artistik berwarna hitam yang tercetak dibawah collar bone kirinya. Bukan tato, namun sesuatu yang lebih 'hidup' dan menempel indah di kulitnya, persis seperti gambar yang di print.
Seungcheol menggigit bibirnya keras, merobek gundukan kenyal itu hingga berdarah. Seungcheol mendekatkan wajahnya, setelahnya bibirnya menempel pada tanda Jeonghan, melumat dan menggigitnya pelan.
Jeonghan mendesis, jemarinya meremat pundak Seungcheol erat, menyalurkan gelenyar 'lain' yang merambat di tubuhnya. Seungcheol mengecup tanda itu sebagai akhir dari kegiatannya. Ia menjauhkan wajahnya sejauh 5 cm, irisnya masih menatap lekat bagaimana tanda Jeonghan meraup darah Seungcheol yang menempel disana.
"Sudah," baik Seungcheol dan Jeonghan, keduanya menarik nafas mereka yang tersenggal. Jemari Seungcheol bergerak, mengaitkan kembali kancing baju Jeonghan. "Apa masih sering terasa sakit?"
Jeonghan mengangguk lemah, senyum tipis menghias di bibirnya. "Tak terlalu, tapi yah.. terkadang bisa membuat kepalaku terasa mau pecah."
"Saranghae..," Seungcheol merengkuh tubuh Jeonghan, menyalurkan kehangatan yang ia miliki. Jeonghan tersenyum, jemarinya merambat di punggung Seungcheol, membalas rengkuhan tunangannya.
"Nado Cheol, nado."
.
XxxX
.
Jemari Seungkwan menyusuri deretan punggung buku di salah satu rak perpustakaan, mencari buku yang ia perlukan. Sial, Minghao–nya sudah menghilang entah kemana sejak 5 menit lalu entah kemana, kembali ke kelas mungkin.
"Hahh, aku menyerah," Seungkwan menghentak kakinya pelan, kesal karena tak juga menemukan buku yang ia cari. Harusnya ia menemukannya, ia tak salah menyambangi rak. Tapi nasib berkata lain, pencarian Seungkwan berujung sia–sia.
"Kenapa menyerah?" Sebuah buku mendarat di pucuk kepala Seungkwan, memberikan tepukan pelan disana. Seungkwan berbalik, menatap kesal namja yang kini tengah tertawa melihat wajah kesal sang tunangan.
"Ini, bukunya."
"Sialan, aku sudah mencarinya dari tadi tau!" Seungkwan menyambar buku dalam genggaman Vernon, dan mendaratkannya kembali di pundak Vernon berulang. Namja bule itu mengaduh, tapi Seungkwan tak peduli, ia tetap melanjutkan kegiatannya.
"Hey babe, sudah cukup," Vernon mencekal tangan Seungkwan, menghentikan pukulan Seungkwan di pundaknya. Vernon tersenyum, wajahnya mendekat pada wajah Seungkwan yang membeku.
Dan yang Seungkwan rasakan setelahnya, bibir milik Vernon telah mendarat dengan manis di bibirnya, memberikan lumatan kecil disana. Tak menuntut, tak juga mengandung nafsu, dan hanya beberapa detik. Setelahnya, Vernon kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Seungkwan yang memerah.
"Ke– kenapa tiba–tiba?"
"Hanya kangen," Vernon mengendikan bahunya acuh, tak mengetahui bahwa perkataannya sukses membuat wajah Seungkwan semakin memerah.
"I– ini di perpustakaan bodoh!" Dan lagi, buku dalam genggaman Seungkwan kembali menghantam pundak Vernon.
.
XxxX
.
"Ahk berat! Harusnya aku tak meninggalkan Seungkwan tadi, huft..."
"Mau kubantu, cantik?"
Minghao menoleh saat sebuah suara menginterupsi dirinya yang asyik mengeluh, pandangannya mendapati sosok pemuda berhidung bangir tengah berdiri di belakangnya beberapa langkah dan tersenyum miring, menggoda.
Sialnya, pemuda itu berhasil. Terbukti, semburat merah tercipta di pipi Minghao, menjalar hingga kedua telinga yeoja kurus itu.
"Tidak usah, aku bisa–"
"Ey, sudahlah. Wanita tidak baik mengangkat benda berat," bahkan Minghao belum selesai berbicara, sang namja langsung merebut halus buku dalam pelukan Minghao. Yang lebih muda mengerucutkan bibirnya sebal.
"Aku bisa sendi– yak! Jangan tinggalkan aku, aish!" Minghao menghentak kakinya sebal, beranjak dari tempatnya terpaku dan mensejajarkan langkahnya dengan sang namja.
"Panggil oppa dulu, sayang."
Minghao melotot, tak menyangka dirinya justru akan digombali seperti itu. Jemarinya bergerak menuju perut rata sang namja, menghadiahkan cubitan keras disana.
"Dalam mimpimu, Junhui–ssi."
"Aigoo, jangan kasar dengan suamimu sendiri say– Hey! Okay, stop it babe, it's hurt!" Jun menggeliatkan tubuhnya aneh, menahan bekas cubitan Minghao yang terasa berkedut menyakitkan di punggungnya.
"Kembalikan bukuku!" Minghao berjinjit, berusaha meraih buku yang Jun angkat diatas kepalanya.
"Sudah, jalan saja. Biar aku bawakan."
Minghao mendesis sebal, sembari menghentak kakinya, ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju kelas 1–C. Jun mengikuti dari belakang, asyik bersiul seolah mengejek Minghao.
"Hey, Hao–ya," Minghao hanya berdeham, menanggapi Jun asal. "Kau dari mana?"
"Hah?" Minghao menoleh sejenak, menatap Jun dengan tatapan apa–maksudmu–sih.
"China, bagian mana?"
"Ah~," Minghao mengangguk lucu, baru paham dengan apa yang Jun maksud. "Anshan, waeyo?"
"Tidak, hanya bertanya. Aku dari Shenzen," Minghao menghentikan langkahnya, diikuti dengan Jun yang menatap gadis kurus dihadapannya bingung. Minghao menarik buku dalam genggaman Jun cepat.
"Apa peduliku?" Desis Minghao sebelum ia berjalan masuk ke dalam kelasnya. Jun tertawa, tak peduli meski ia sudah berdiri sendiri di koridor Pledis Highschool.
"Hahh, tak semudah yang kukira," Jun mengedikan bahunya, melanjutkan lagi langkahnya menuju kelasnya sendiri.
.
XxxX
.
Untuk kesekian kalinya, Jisoo menghela nafasnya pelan. Irisnya memperhatikan sosok pemuda dihadapannya yang masih memejamkan matanya sejak.. 20 menit lalu mungkin? Jisoo menunduk, genggamannya di telapak tangan sang pemuda mengerat.
"It's my fault, I'm sorry.. I beg you to open your eyes−" Jisoo mendongak, menampilkan wajahnya yang mulai basah dengan air mata. "−for me. Please?"
Jisoo terisak pelan, bibirnya ia gigit kuat untuk menahan isakan lebih keras keluar dari sana. Jisoo kini menyesal, tak percaya dengan pilihannya yang justru membuat pemuda dihadapannya, Lee Seokmin, terluka.
Harusnya Jisoo tak memilih untuk diam, harusnya Jisoo berpikir lebih jauh akan akibat yang ditimbulkan jika ia diam. And see? Seokmin pingsan. Karena dirinya. Harusnya Jisoo tau, akhir dari cerita yang ia alami selalu sama. Tak pernah sekalipun memiliki akhir yang manis.
Terkadang Jisoo berpikir, hidupnya sangat menggelikan seperti drama di televisi. Penuh liku yang sangat dilebih–lebihkan. Namun, begitulah yang Jisoo alami. Hingga detik ini.
"Persetan, dasar terkutuk! Bodoh! Sialan! Harusnya hiks aku– aku sadar, karena semuanya berakhir sama hiks. Kau bodoh, Hong Jisoo, bodoh! Hiks," Jisoo kembali menunduk, tak sanggup harus terus memperhatikan wajah pucat Seokmin.
"Aku baru tau, kau ternyata bisa memaki noona?"
Jisoo tersentak, buru–buru menarik tangannya yang masih menggenggam jemari Seokmin. Terlambat, telapak tangan mungilnya sudah bergelung nyaman dalam genggaman erat Seokmin. Jisoo merutuki dirinya, harusnya ia sadar bahwa Seokmin bisa sadar kapan saja.
"Ternyata harus memejamkan mata 10 menit itu susah ya?" Jisoo menatap ujung sepatu putihnya, malu dengan tindakannya yang tertangkap basah. Berarti.. Seokmin mendengar semuanya? Keluhannya? Isakannya? ..permohonannya? Sial.
Seokmin menoleh, senyum tipis menghias bibirnya. Menimbulkan rasa bersalah yang mengakar di hati Jisoo. Pertahanan Jisoo runtuh, isakannya lolos dari bibirnya, air matanya kembali turun membentuk sungai kecil di pipinya.
"Hey sudah jangan menangis, noona–ya," Seokmin bergerak merubah posisinya, menghadap Jisoo. Tangan kanannya terulur, menyentuh pipi Jisoo yang basah. Ibu jarinya bergerak, mengusap aliran air mata disana. "Uljima noona."
"Maafkan aku, maafkan aku hiks. Harusnya aku–" Jisoo menghentikan ucapannya saat jemari Seokmin berpindah ke dagunya, mengangkat wajahnya lembut.
"Sudah, tak apa. Ini bukan salahmu noona," Seokmin tersenyum teduh, telapak tangannya berpindah lagi, menangkup pipi Jisoo. "Kalau aku bisa duduk, aku mungkin menciummu. Tapi yah.. tubuhku masih lemas."
Jisoo mencubit lengan Seokmin, menciptakan pekikan kesakitan dari yang lebih muda. Siapa suruh bercanda saat ia tengah serius? Dasar!
"Musnah saja kau, siswa mesum!"
.
.
.
TBC
a/n: JY BACKKK~ Duh jadi amnesia cara nulis di ffn /plakk. Uwaaa miann telat update mulu, biasa lah -sok- sibuk, jadi nggak sempet update mulu. Apalagi akhir akhir ini sering kena writer's block. EHEHEHEHEHE, maafkan dd satu ini pemirsa.
.
Anyway, PRISTIN DEBUT YEY! Jung Eunwoo cantik amat astaga;-;
.
Maafkan dd satu ini yaa, nih JY balik dengan 2 chap sekaligus. Mian kalau pendek atau gimana, besok besok JY pasti usahakan -banget- untuk terus update. Dannn, terima kasih yang udah RnR JY senyum-senyum sendiri baca review cerita ini. Terharu dd;-;
.
GOMAWOO KALIAN KESAYANGAN JY UNGH MWAH MWAH~
