JY present

DIFFERENT

.

Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.

.
Chapter Ten
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.

.
.
.


Wonwoo menyerah. Tubuhnya sudah tak sanggup lagi untuk bertahan hingga pulang sekolah. Dan disinilah Wonwoo sekarang, di ruang kesehatan, di bilik yang sama dengan bilik yang ia gunakan minggu lalu.

Wonwoo mengintip saat ia mendengar suara ruang kesehatan dibuka. Irisnya terbelalak saat sosok yang ia hindari seminggu ini masuk kedalam ruang kesehatan, dengan sebuah kantung plastik bertengger di tangan kanannya.

"Hey."

Wonwoo mendesah jengah, tak berniat membalas sapaan sosok yang kini telah berdiri disebelah kasurnya, menatapnya intens hingga ia merasa risih. Wonwoo sebenarnya ingin berteriak, meminta sosok itu untuk menjauh. Tapi ia terlalu malas, dan terlalu lemas.

"Lemas ya?" Kini Wonwoo mengintip, penasaran dari mana sosok itu tau keadaan tubuh Wonwoo saat ini. Apa Woozi memberitahunya? Ah, tidak, itu mustahil. Woozi saja tak mengetahui keadaan Wonwoo saat ini.

"Sudah kubilang, jangan menghindariku."

"Lalu apa? Aku harus menempel denganmu terus? Sampai ke kamr mandi sekali pun?" Wonwoo membuka netranya kesal, tak suka diganggu dari acara istirahatnya. Sosok dihadapan Wonwoo tertawa.

"Bukan menghindar yang itu, sayang," Wonwoo mengangkat alisnya, menuntut penjelas lebih lanjut. "Kau tak boleh menolak keberadaanku."

Wonwoo mengernyit. Benar juga, selama ini ia selalu tak pernah menganggap Mingyu, sosok dihadapannya, ada. Ia selalu berusaha menghindar dan tak pernah mau menuliskan memori tentang Mingyu dikepalanya.

"Bukan hanya dirimu, aku juga noona."

"Lemas? Tapi aku kelihatan lebih parah, jauh," Mingyu mengusap surai Wonwoo, bibirnya melengkungkan senyum manis.

"Karena kau Signumku."

"Signum?"

Pertanyaan Wonwoo hanya dibalas senyum oleh Mingyu. Bahkan saat Wonwoo menggoyangkan lengan Mingyu, namja itu justru sibuk merogoh isi kantung plastik yang ia bawa.

"Minumlah, aku perhatikan kau jarang mengisi perutmu noona," Wonwoo mengucap terima kasih, tangannya meraih susu yang Mingyu berikan padanya. Dalam diam, ia meminum susu tersebut.

"Jangan menolak keberadaanku lagi, arra?" Mingyu mengusap surai Wonwoo pelan, dibalas dengan dehaman Wonwoo.

Yang Wonwoo rasakan setelahnya, otaknya yang terasa diombang–ambingkan. Tanpa sadar Wonwoo mencengkram lengan Mingyu, berharap tindakannya itu dapat mengurangi rasa pening yang mendera kepalanya. Meski pada kenyataannya apa yang ia lakukan terlihat konyol.

Mingyu merengkuh tubuh Wonwoo, menyalurkan kehangatan yang ia miliki. Jemarinya bergerak mengusap surai Wonwoo, berulang naik dan turun.

"Kau tak berbohong 'kan? Kau.. menerima keberadaanku?" Mingyu mensejajarkan wajahnya pada wajah Wonwoo, menatap lekat iris gadis emonya. Wonwoo mengangguk, bibirnya bergerak, menggumamkan kata–kata 'iya aku menerima keberadaanmu, diam bodoh' samar.

Mingyu tersenyum. Wajahnya berpindah ke atas kepala Wonwoo, memberikan kecupan bibirnya pada puncak kepala gadis dalam rengkuhannya. Wonwoo semakin mengeratkan cengkramannya, melihat kegelapan yang perlahan mendekat kearahnya.

Cengkraman Wonwoo melemah. Tubuhnya terkulai dalam rengkuhan Mingyu, pingsan. Mingyu menghela nafasnya, perlahan ia bergerak memposisikan tubuh Wonwoo tidur kembali di kasur.

"Istirahatlah, aku disini," Mingyu mengakhiri kalimatnya dengan kecupan lembut di dahi Wonwoo.

.
XxxX
.

Minghao asyik berkutat dengan buku tulisnya, mencatat apa yang Nam seonsaengnim terangkan di depan. Beberapa kali ia menggigit ujung pulpennya dengan raut kebingungan, beberapa menit setelahnya, rautnya berubah menjadi serius dengan pulpen yang menari lincah diatas kertas.

Ia terlalu asyik dengan catatannya, tanpa sadar bahwa seseorang menatapnya tajam. Ia tersenyum miring memperhatikan Minghao, yang bahkan tak peka jika ia tengah ditatap.

"Jalang mungil yang berhasil mendapatkan tangkapan besar, huh?" Jemarinya bergerak, menelusuri lekuk wajah Minghao dari jauh.

Dan ia tak menyadari pula, bahwa sepasang mata juga tengah menaruh atensinya pada dirinya yang masih asyik menatap Minghao.

.
XxxX
.

BRUGH

Minghao mengerang, merasakan ngilu yang menjalar di pundaknya yang bertubrukan langsung dengan dinding gudang sekolahnya. Tubuhnya merosot, tak sanggup menahan rasa sakit yang menderanya tiba–tiba.

"Jadi, kau sibuk menggoda kesana kemari ya sekarang? Kau lupa uangku?"

SLAP

"Brengsek!" Rasa panas menjalari pipi Minghao, merambat hingga kedua netranya. Minghao diam, tak berniat membalas ucapan gadis dihadapannya. Yeonjin, sang gadis, menggeram kesal.

"Kau perlu diajari sopan santun, jalang," Yeonjin menyambar gunting dalam genggaman Rin, mengacungkan benda tajam itu langsung di depan wajah Minghao. Minghao tersentak, segera ia memundurkan wajahnya, menjaga jarak dengan ujung benda tersebut.

Sayang, Yeonjin lebih cepat darinya. Tangan yeoja itu sudah mencengkram surai Minghao kuat, menarik kepalanya mendekat pada Yeonjin. Minghao memberontak, pita suaranya sibuk menjerit kuat, melawan Yeonjin. Tangannya mencengkram lengan Yeonjin, berusaha menghentikan aksi gila gadis itu.

"Diamlah, jalang!" Tangan Yeonjin terayun, bersiap mendaratkan ujung guntingnya pada tubuh Minghao. Sebelum sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya kuat. Yeonjin memekik, guntingnya terlepas dari genggamannya, berdenting saat benda tajam itu jatuh.

Minghao mengerjap saat sebuah lengan melingkari tubuhnya. Seungkwan. Tangis Minghao pecah, isakannya terus mengalir dari celah bibirnya. Seungkwan menepuk punggung kawannya berulang, menenangkan Minghao.

"Ulangi lagi, maka kepalamu yang tergantung di gerbang sekolah cantik," tubuh Yeonjin merosot, terintimidasi dengan tatapan tajam sang pencekal. Bibirnya bergetar, ingin mengucapkan sesuatu namun tak berhasil.

Tepukan ringan mendarat di puncak kepalanya. "Pergilah sebelum aku yang membantumu pergi," Yeonjin mengatupkan bibirnya erat. Rin menarik lengan Yeonjin, menyeret gadis itu untuk segera pergi sebelum nyawa keduanya dalam bahaya.

Minghao menatap sosok yang kini berjongkok dihadapannya, mengusap lelehan air mata yang mengalir di pipinya. Bibir Minghao terasa kelu untuk sekedar mengucapkan namanya.

"Gwaenchana?"

"Junhui.. oppa."

Tubuh Minghao terkulai dalam rengkuhan Seungkwan. Sang kawan menjerit, memanggil nama Minghao berulang agar gadis itu sadar.

.
XxxX
.

Minghao terdiam, begitu pula dengan Jun yang asyik menatap kotak susu di meja nakas. Beberapa kali Minghao melirik Jun, memperhatikan namja China itu. Ia menghela nafas, merasa canggung jika harus memulai pembicaraan.

"Belum mau menjelaskan?"

"Menjelaskan.. apa?" Jun memutar bola matanya jengah, nafasnya ia hembuskan kasar. Jun berdiri dari bangkunya, mendekat ke arah Minghao yang masih terbaring.

"Soal tadi. Memangnya kita perlu membicarakan hal lain?"

Tidak, mereka tak memiliki topik untuk saling berbincang. Kecuali topik yang tadi.

Minghao meneguk salivanya, sibuk memikirkan alasan logis yang akan ia paparkan pada Jun. "Ti– tidak ada yang perlu dibicarakan.. kurasa," cicit Minghao.

"Teruslah dengan keras kepalamu itu, anjing kecil. Teruslah menyembunyikan segalanya sampai membusuk," Minghao tercekat, lidahnya terasa kelu. Kata–kata pedas Jun berhasil menusuk jiwanya, menggetarkan fakta yang ia sembunyikan selama ini.

Minghao menggerakan bibirnya, ingin mengucapkan sesuatu dengan susah payah. Bibirnya bergetar. Hanya ada helaan nafas disana.

"Aku tau kau menyembunyikan sesuatu, aku dapat merasakannya saat aku merengkuh tubuhmu. Dan kau masih belum mau menjelaskannya?"

"Berhenti memaksaku!" Nafas Minghao tersenggal, dadanya naik turun seirama dengan detak jantungnya. Jun menatap Minghao geram, diraihnya dagu Minghao, mengarahkannya pada wajah Jun yang merah padam.

"Lalu apa? Kau akan seperti ini selamanya? Apa kau menikmatinya? Kau menikmati saat dirimu disiksa hah?! Kau menyukai perhatian negatif mereka terhadapmu, begitu?! Dimana kau letakkan otakmu, Xu Minghao! Sadarlah!"

Liquid bening menetes dari ekor mata Minghao, turun membasahi pipi tirusnya. Jun mendesah, diraihnya tubuh bergetar Minghao kedalam pelukannya. Isakan Minghao mengeras, nafasnya mulai putus–putus.

Jun mengeratkan rengkuhannya, membawa tubuh mungil Minghao lebih dalam di pelukannya. Bibirnya mengatup, menunggu saat yang tepat untuk berbicara.

5 menit berlalu, isak tangis Minghao mulai reda. Nafasnya pun mulai stabil kembali. Jun mengelus surai yang lebih muda, membantunya menenangkan dirinya.

"Kenapa kau tak melawan mereka? Kau bisa, kau lebih dari mampu untuk menghajar mereka Hao. Kenapa?" Jun berbisik rendah di telinga Minghao, menciptakan rasa geli bagi sang gadis. Minghao terdiam, bimbang untuk menjelaskannya pada Jun.

"Aku.. aku suka atensi mereka."

"Atensi negatif mereka? Tapi kau bahkan benci tatapan simpati orang bukan?" Jun menaikan alisnya heran. Minghao menarik nafasnya, bersiap membongkar segalanya di hadapan Jun.

"Ya, kau benar. Aku– aku merindukan perhatian. Saat kedua orang tuaku meninggal di kecelakaan lalu lintas 5 tahun lalu, saat itu juga perhatian yang kuterima terputus. Aku hampa, dan mereka bisa memberiku perhatian. Aku menerima apa yang mereka lakukan padaku, semuanya, tanpa terkecuali. Meski aku harus terluka, koma, atau tewas sekalipun. Aku senang mereka memberikanku perhatian yang aku rindukan."

Minghao tertawa sumbang, tatapannya berubah kosong, menerawang jauh kedepan. Jun mengerutkan alisnya, menahan amarahnya yang sudah hinggap di pucuk kepalanya. Telapak tangannya menepuk punggung Minghao kaku.

"Kau bisa meminta padaku, dan aku akan memberikannya padamu. Perhatian. Dengan cara yang jauh lebih baik. Berhenti bersikap putus asa, Hao."

Minghao mendongak, menatap lekat iris hitam Jun. Wajah keduanya mendekat, menghapus jarak diantara mereka. Setelahnya, keduanya terhanyut dalam ciuman dalam mereka. Saling menyalurkan rasa dan beban yang mereka miliki.
.
.
.
TBC


a/n: Eheyyy~ Terima kasih sekali lagi ya untuk semuanya yang terus mendukung JY. Lup u deh Maaf back cuma bawa 2 chap, besok besok semoga rajin update deh! Ini lagi kena terpaan inspirasi nih ungh /g.

.
GOMAWO SEMUA~