JY present

DIFFERENT

.

Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.

.
Chapter Eleven
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.

.
.
.


Wonwoo mengerjap, memperhatikan sekitarnya. Ruang kesehatan. Wonwoo mendesah melihat sinar jingga yang menembus jendela. Sudah petang, dan dia baru sadar. Wonwoo menatap telapak tangannya yang terasa aneh. Sebuah telapak tangan lain melingkupi telapak tangannya.

Wonwoo memutar tubuhnya, menghadap samping. Netranya memperhatikan sosok yang tengah tertidur dengan kepala yang disandarkan di pinggir kasurnya, jangan lupakan tangannya yang masih menggenggam tangan Wonwoo erat.

"Mingyu.. ssi," Mingyu terhenyak dari tidurnya, dengan wajah khas orang yang baru bangun tidur, ia menatap Wonwoo. Senyumnya merekah, Wonwoo sampai salah tingkah karenanya.

"Maaf, aku ketiduran," Mingyu melepaskan genggamannya, telapaknya beralih mengusap wajahnya yang masih digelayuti kantuk.

"Aniya, tak apa Mingyu–ssi."

"Ssi? Astaga, jangan seformal itu noona–ya. Panggil Gyu atau Mingyu–ah atau sayang juga boleh," Wonwoo menyentil dahi Mingyu kesal, menciptakan erangan kesakitan dari bibir yang lebih muda.

"Kau belum bangun dari tidurmu ya?"

Mingyu terkekeh, menampilkan gigi tarinya yang mencuat. Nampak mencolok namun manis, semakin menyempurnakan penampilan Mingyu. Wonwoo memutuskan, ia suka gigi taring namja itu.

"Ah sudah sore. Mau ku antar pulang, Wonu noona?"

"Wonu?"

"Wonwoo terlalu panjang, aku lebih suka menyebutnya Wonu. Lebih lucu, sepertimu," Wonwoo kembali menyentil dahi Mingyu, lebih keras dari yang sebelumnya. Mencetak bercak kemerahan di dahi sang namja.

"Noona–ya," Wonwoo menaikan alisnya, bertanya pada Mingyu yang masih menggantungkan kalimatnya. "Mau kuantar pulang?"

"Tidak, terima kasih."

Mingyu mencebik sebal, tak menyangka Wonwoo akan menolak diantar olehnya pulang. Gumaman kesal Mingyu berhasil menerbitkan senyum jahil di wajah Wonwoo.

.
XxxX
.

"Jisoo noona?"

"Seokmin?"

"Sedang apa?" Keduanya menyahut bersamaan, kemudian tertawa. Seokmin berjalan mendekat pada Jisoo, disambut dengan senyum teduh sang yeoja.

"Jadi kau juga ke perpustakaan kota? Saat malam begini?"

"Yah, kebiasaan. Aku suka melihat deretan buku di perpustakaan kota, sangat banyak," Seokmin menggerakan kepalanya, mengajak Jisoo berjalan bersama. Jisoo mengangguk lucu, tungkainya ia sejajarkan pada Seokmin yang mulai melangkah.

"Kau belum ganti seragam, Seokmin–ah."

"Ey noona," Seokmin mencolek pipi Jisoo kilat, menggoda yang lebih tua. Jisoo mengerucutkan bibirnya, bentuk protes atas tindakan Seokmin barusan. "Kau sendiri belum ganti segarammu," tambah Seokmin.

Jisoo memukul lengan Seokmin keras, menimbulkan bunyi 'plak' yang terdengar jelas. Seokmin mengaduh, dengan wajah semenyedihkan mungkin ia menatap Jisoo. Sang yeoja menatap Seokmin horror.

Seokmin menatap Jisoo dengan wajah memelas, meski pada kenyataannya wajahnya nampak menggelikan. Lengannya bergelayut di pundak Jisoo, sementara dirinya sibuk beraegyo dengan stylenya sendiri.

Jisoo mengepalkan tangannya, menunjukan tinjunya yang siap melayang kapan saja ke wajah Seokmin. Seokmin tertawa, mengabaikan Jisoo yang semakin berdecak kesal.

"Sudah, pulang sana! Keluargamu akan mengkhawatirkanmu."

"Keluarga? Hyungku, noonaku, dan dongsaengku? Ah, mereka bisa kuurus," Seokmin tersenyum riang, diabaikannya Jisoo yang memutar bola matanya jengah.

"Baiklah, kalau begitu aku yang pulang. Night Se–"

"Yeoja tidak poleh pulang malam 'kan? Sendirian, maksudku," Jisoo melepas cengkraman Seokmin yang menahan lengannya, memintanya untuk tidak beranjak. Jisoo mendecih menanggapi namja hidung bangir dihadapannya.

"So? I'm sorry Sir, to the point please?"

"Ayolah, kau tidak tau? Artinya, aku akan mengantarmu pulang," tubuh Jisoo membeku, merasakan jemari Seokmin yang menyapu kulitnya pelan. Membenarkan anak rambutnya yang berantakan.

Wajah Jisoo memerah, pasti, terlihat dari raut Seokmin yang nyasir melted bak jelly cair karena sikap malu–malu Jisoo. Jisoo berdeham, memecahkan situasi canggung yang melingkupi dirinya.

"Ce– cepat jalan! Katanya mau, ehm, mengantar huh?" Jisoo beranjak dari tempatnya, langkahnya ia ambil selebar yang ia bisa. Seokmin menarik kurvanya miring, mencetak sebuah senyuman lembut disana.

"Kalau saja kita tidak serumit ini hm?" gumaman Seokmin terdengar tipis, bahkan angin malam pun mampu untuk menerbangkan gumaman itu kesembarang arah. Seokmin melangkah kembali, menyusul Jisoo yang sudah menatapnya sebal dibawah tiang lampu.

.
XxxX
.

Untuk kesekian kalinya, Hoshi melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih kurang 5 menit lagi dari waktu janjiannya dengan Woozi di halte bus dekat sekolahnya juga rumah Woozi. Baju rapi? Cek. Parfum wangi? Cek. Wajah segar? Cek. Tampil sesempurna mungkin? Cek. Hoshi mengusap tangannya tak sabar, senyum senang tercetak di wajahnya.

.
.
(())(())

Hoshi melirik jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya.

'Masih kurang 5 jam lagi.'

Hoshi bergerak gelisah diatas kasurnya. Tubuhnya ia gulingkan kesana kemari. Dengan ragu, ia meraih ponselnya, menatap kontak seseorang dengan wajah tegang. Kontak Woozi. Jika kalian bertanya dari mana ia mendapatkan kontak gadis mungil itu, jawabannya adalah Wonwoo.

Hoshi tentu tidak bertanya langsung pada gadis kelam itu. Ia meminta Mingyu untuk menjadi perantaranya. Dan Wonwoo memberikannya. Hoshi sendiri bingung, alasan apa yang adiknya berikan pada Wonwoo hingga gadis itu mau memberikan nomor ponsel Woozi pada Mingyu.

'Yang penting, aku berhasil mendapatkannya.'

Hoshi gelisah kembali, digigitnya bibirnya kuat. Jemarinya bergerak pelan, mencoba mengetik sesuatu tanpa menggetarkan jemarinya. Beberapa kali ia berhenti, sekedar untuk menarik nafas panjangnya.

Iris Hoshi bergerak, mengikuti deretan kalimat yang ia ketik. Merasa yakin –meski setengah hati−, Hoshi menekan tombol send, mengirimkannya pada Woozi. Setelahnya ia berguling kembali, diikuti pekikan histerisnya.

"Hentikan bodoh! Kau mengganggu tidur siangku!" Jeonghan mendobrak pintu kamar Hoshi, kesal dengan segala keributan yang diciptakan sang adik. Hoshi menatap Jeonghan, tanpa rasa bersalah, ia kembali berguling di kasurnya.

"Kubilang hentikan!"

BUGH

Sandal hangat berbulu Jeonghan melayang, menubruk telak kepala Hoshi. Hoshi mengaduh berulang, menghentikan sejenak kegiatan bergulingnya untuk melayangkan protes pada Jeonghan yang telah lebih dulu berbalik dan membanting pintu kamar Hoshi keras.

"Sialan, sakitt..."

DRRT DRRT

Hoshi melirik ponselnya horror. Logo pesan dan nama Woozi terpampang di layarnya. Balasan dari Woozi. Hoshi meraih ponselnya perlahan, berusaha tidak memekik panik kembali.

From: Jihoonie

Kita bertemu di halte dekat sekolah. Pukul 06.30PM. Aku tidak suka keterlambatan.

Hoshi menjerit girang, tubuhnya ia hempaskan di kasur. Ia tak peduli lagi pada Jeonghan yang sudah kembali ke kamarnya, dengan gunting yang tersemat di jemarinya dan Seungcheol yang berusaha menahan pergerakan sang tunangan.

(())(())
.
.

.
XxxX
.

Woozi menghela nafasnya. Silahkan katakan Woozi menjilat ludahnya sendiri, tapi ia lebih memilih pergi dengan Kwon −gila− Hoshi daripada harus sendiri di rumahnya, menonton tv yang tak menarik baginya.

Eomma dan appanya pergi, kembali ke Busan karena halmeoninya tengah sakit keras. Woozi ingin ikut, tapi kedua orang tuanya tak mengizinkannya, dengan alasan ia tak boleh membolos sekolah. Dan berakhirlah ia selama seminggu tinggal sendiri di rumahnya.

Sering ia meminta sunbae yang telah ia anggap eonninya sendiri, Jisoo, untuk menemaninya. Tapi hari ini, Jisoo berhalangan. Gadis yang lebih tua itu mengatakan ingin belajar di perpustakaan kota hingga pukul 6 sore, persiapan ujian katanya.

"Sialan," Woozi memakai sepatunya sebal. Bibirnya mengerucut lucu, decihan sebal berulang kali keluar disana.

Setelah tali sepatunya terikat, Woozi berdiri, bersiap untuk pergi. Jemarinya meraih gagang pintu rumahnya, memutarnya, dan membukanya.

"Permisi," Woozi nyaris mengumpat karena terkejut melihat sosok pria tinggi berdiri didepan pintu rumahnya. Apa pria itu mencari kedua orang tuanya?

"Appa dan eomma sedang di Busan, mereka tidak ada dirumah."

Pria itu tertawa, kerutan di sekitar matanya menunjukkan guratan usianya. Woozi mengernyit heran. Ia tidak mengucapkan sesuatu yang lucu bukan? Kenapa pria itu tertawa?

"Aku mencarimu, Woozi–ssi."

Woozi memekik. Hanya sekejap, sebelum tubuhnya menghilang dengan sang pria misterius dari posisinya semula. Meninggalkan pintu rumahnya yang tak terkunci dan jepit rambut strawberrynya yang terjatuh.
.
.
.
TBC


a/n: Jadi... Sudah siapkah kalian untuk tanjakan cerita yang bakal dimulai? *ups.
Ciee JY udah balik bawa chap baru yeay! Terima kasih untuk semuanya ya~
Luv ya, guys~