JY present

DIFFERENT

.

Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.

.
Chapter Twelve
.
.

Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.

.
.
.


"Hey, mana Seokmin dan Soonyoung?" Jeonghan duduk disebelah sang tunangan, Seungcheol, dengan dua cangkir yang bertengger ditangannya. Kepulan asap menguar, menyebarkan aroma kopi yang sangat nikmat.

Seungcheol tersenyum, tangannya menerima uluran cangkir dari Jeonghan. "Seokmin sedang ke perpustakaan kota, dan Soonyoung.. entahlah?" jawabnya.

"Kurasa Soon hyung pergi kencan."

BRUSHH

Seungcheol menyemburkan kopi dalam mulutnya mendengar penuturan salah satu adiknya, Mingyu, yang tengah melintas di hadapan Jeonghan dan Seungcheol. Jeonghan menepuk punggung kekasihnya pelan, kasihan dengan Seungcheol yang terus terbatuk karena tersedak kopinya sendiri.

"Oh ya? Lalu kenapa hyung tidak kencan juga? Tak punya pacar ya? Belum Signum yaa~," suara khas anak kecil menggema dari balik tubuh jangkung Mingyu. Ia menggeram rendah. Perlahan, ia membalikan tubuhnya, menghadap pada sosok namja kecil yang jelas lebih muda darinya.

"Lee Chan, adikku tersayang, sebaiknya kau tidur okay?" Mingyu tersenyum manis, tangannya terkepal menahan kesal pada sang saeng.

"Sudah kubilang panggil Dino!"

"Aku mau memanggilmu Chan."

"Yak, hyung!"

"Kalian! Berhentilah bertengkar atau membuat masalah!" Jeonghan melempar asal bantal sofa, kesal mendengar pertengkaran konyol Mingyu dan Dino. Keduanya menunduk, meski tatapan saling ejek masih mereka pasang untuk menyerang sesama.

"Aku lihat itu! Kembali ke kamar kalian sana!"

Tanpa membuang waktu, Mingyu dan Dino segera berlari menuju kamar mereka masing masing. Meninggalkan Seungcheol dan Jeonghan yang masih duduk di ruang tengah.

.
XxxX
.

"Apa kau tahu Jih– maksudku, Woozi?"

Ya, Seokmin tau. Gadis mungil dan sipit yang potretnya ditunjukkan pada Seokmin oleh hyungnya, Soonyoung hyung. Seokmin mengangguk. Jisoo tersenyum, memperhatikan sebuah bangunan di dekat mereka kini.

"Itu rumahnya, tepat didepan apartementku. Aku sering menemani dia saat appa dan eommanya pergi. Harusnya aku menemaninya hari ini."

"Lalu kenapa kau tak menemaninya, noona?"

"Nada bicaramu seakan menyudutkanku, tau?" Jisoo menatap Seokmin tajam. Sang namja terkekeh, telapak tangannya mengacak surai cokelat madu Jisoo pelan.

"Aku tak menyudutkanmu, noona–ya."

Jisoo memutar bola matanya kesal. "Terserah," tambahnya ketus.

"Tapi, darimana kau–," Jisoo dan Seokmin sama–sama menghentikan langkah mereka. Netra keduanya membola, menatap pintu rumah Woozi nyalang. Jisoo segera berlari, menerobos masuk pagar rumah Woozi yang tak terkunci.

Seokmin terlambat mencengkram gadis itu. Ia menyusul dibelakang, menenangkan Jisoo yang mengetuk pintu rumah Woozi kasar dan berulang.

"Jihoon–ah! Kumohon buka pintunya, Jihoon! Aku disini!" Seokmin merengkuh tubuh Jisoo, menjauhkan gadis itu dari pintu rumah Woozi yang masih bergeming. Air mata Jisoo mengalir turun, membasahi pipinya.

"Noona, kumohon jangan bertindak gegabah. Aku juga melihatnya," Jisoo mencengkram lengan Seokmin, masih histeris meneriakkan nama asli Woozi secara berulang.

.
XxxX
.

Hoshi melirik jam tangannya. Aneh, harusnya Woozi sudah ada bersamanya saat ini. Tapi gadis mungil itu tak menunjukkan batang hidungnya. Bukankah gadis itu berkata tidak suka dengan keterlambatan?

Lagi, Hoshi merasakan debar lain pada jantungnya. Debar yang sama saat ia menemukan Woozi seminggu lalu di taman belakang sekolah, dengan jaketnya yang koyak. Tapi ia tercenung. Debaran ini lain, lebih besar dan lebih menyakitkan. Nafasnya tercekat di tenggorokannya sendiri.

Hoshi mengumpat. Segera ia berlari, membelah kerumunan manusia yang memenuhi trotoar kota Seoul. Wajar, akhir pekan, jalanan pasti ramai. Hoshi mencengkram ponselnya erat, menyalurkan rasa panik yang mendadak menderanya.

Tujuan Hoshi hanya satu, rumah Woozi. Jangan kira Hoshi tak tau dimana rumah gadis mungil itu. Beberapa kali ia membuntuti yeoja itu pulang, memastikan yeoja bermarga Lee itu selamat sampai rumahnya.

Hoshi terus mengumpat, tak peduli dengan tatapan terganggu pejalan kaki lainnya. Ia berharap, umpatannya mampu menyelamatkan Woozinya dari entah apa itu.

.
XxxX
.

"Jihoon–ah!" suara Jisoo sudah mencapai ambang batasnya. Wajahnya sudah memerah, kakinya sudah melemah. Jika tak ada Seokmin yang terus menahannya, tubuhnya pasti sudah ambruk.

Jisoo dan Seokmin menoleh saat mendengar deru nafas yang berantakan mendekat. Sosok Hoshi dengan peluh yang mengalir membasahi pelipisnya muncul di pagar rumah Woozi. Ia tersentak melihat Seokmin ada disana.

"Bawa gadis itu pergi dari sini Seokmin, sekarang!"

Jisoo terbelalak. Ia menggelengkan kepalanya, tak menyetujui usulan namja sipit yang tak ia kenali itu. "Tapi aku–"

"Lee Seokmin!"

"Baik hyung."

"Tidak!" Jisoo menjerit, "Seokmin, kau tau aku–"

"Noona, kumohon," Seokmin memapah tubuh Jisoo menjauh. Gadis kebangsaan Amerika itu mengerang, menolak tindakan Seokmin yang menjauhkannya dari rumah Woozi. Tenaga Jisoo mulai pulih kembali. Kini tangannya sudah bisa memukul punggung bidang Seokmin.

Seokmin berdiri didepan pintu utama gedung apartement Jisoo. Jisoo melepas rengkuhan Seokmin kesal. Ia hendak berlari kembali ke rumah Woozi, tapi lengannya sudah dicekal lebih dahulu oleh Seokmin.

Seokmin menangkupkan telapak tangannya pada pipi Jisoo. Matanya menatap lurus pada Jisoo, meminta atensi dari sang yeoja. Jisoo membalas tatapan Seokmin tajam.

"Dimana kamarmu noona?"

"La–lantai 3."

"Kau bisa melihat rumah Woozi noona dari kamarmu?" Jisoo mengangguk. Seokmin menghela nafasnya. Perlahan ia mendekatkan bibirnya pada bibir kenyal Jisoo, melumatnya pelan beberapa saat, lalu melepaskannya. Seokmin tersenyum lembut, telapak tangan kanannya mengusap surai Jisoo.

"Kau lihat dari kamarmu saja, okay?"

"Tidak! Kau gila huh? Jangan bilang kau dan hyungmu akan menerobos kesana!"

Sekali lagi, Seokmin mengusap surai Jisoo. Kilatan matanya berubah sayu dan teduh disaat bersamaan.

"Aku tak mungkin membiarkan hyungku sendiri."

"Dan aku juga tak akan membiarkanmu!"

"Noona, kumohon. Tak ada banyak waktu lagi," hati Jisoo seakan tertohok melihat raut abstrak Seokmin. Jisoo membuang pandangannya. Keheningan terjadi disana, beberapa detik.

"Aku yang akan membunuhmu, jangan mati," Seokmin mengecup dahi Jisoo, mengucapkan salam perpisahan secara non–verbal. Jisoo dan Seokmin berpisah, saling berlari menuju arah yang berbeda. Jisoo menyusuri tangga apartementnya, sedangkan Seokmin kembali menuju rumah Woozi.

Hoshi sudah tak ada disana. Seokmin mengusap wajahnya frustasi, hyungnya yang satu itu terlalu gegabah. Seokmin memejamkan matanya, berusaha fokus. Perlahan, kabut tipis tampak menyelimuti tubuhnya. Auranya sendiri.

Seokmin menarik nafas. Dihadapannya kini sudah berdiri di depan pintu rumah Woozi, ah tidak, pintu yang kini mejadi sebuah portal yang menghubungkan dua dunia berbeda. Aura berwarna ungu pekat memancar hebat dari sana. Seokmin mundur selangkah, merasa terancam dengan aura itu.

Tidak, ia tak bisa pergi, hyungnya ada didalam sana. Seokmin menerobos masuk, tak peduli dengan seragamnya yang mulai tersayat. Padahal ia baru saja melangkah masuk. Seokmin terkekeh sumbang, wajah Jisoo melintas di benaknya.

"Mungkin, tadi yang terakhir. Maafkan aku, noona."

.
XxxX
.

Jisoo berjalan mengitari ruang kamarnya gelisah. Untuk kesekian kalinya, ia melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Sudah 30 menit berlalu, dan baik Seokmin, hyungnya, maupun Woozi belum menunjukkan batang hidungnya.

Jisoo tak bisa menunggu lagi. Ia bergegeas keluar dari kamarnya, tanpa sempat meraih mantel ataupun ponselnya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Jisoo mengusap liquid bening itu kasar.

"Sudah kubilang, aku yang akan membunuhmu Lee Seokmin. Kau.. kau bohong," Jisoo menggigit bibirnya, menahan isakannya yang nyaris tumpah. Tak peduli dengan jantungnya yang terasa pedih, ia terus berlari menuju rumah Woozi.

.
XxxX
.

"Wah wah, lihat siapa yang datang."

Jisoo terpaku di tempatnya. Tatapannya tertuju pada Seokmin yang menggeliat pelan di dekat sofa, seragamnya sudah dipenuhi bercak kemerahan. Bau khas besi berkarat menguar disana. Disisi lain, sosok yang ia kenal sebagai hyung dari Seokmin tampak tengah merengkuh Woozi yang telah kehilangan kesadarannya.

Jisoo menggeram rendah. Tak peduli dengan sosok pria misterius yang berdiri di tengah ruangan, ia mendekat pada Seokmin. Air matanya menetes kembali. Ditatapnya Seokmin dengan geram.

"Aku membencimu Lee Seokmin. Kau tak boleh mati sebelum aku sendiri yang membunuhmu."

"Astaga, manis sekali," Jisoo melirik pria yang kini tengah terbahak. Ibu jarinya mengusap ekor matanya yang digenangi air mata. Menganggap ucapan Jisoo sebagai humor terbaik yang pernah ia dengar.

"Tapi kau tau kan, nona? Seorang Omega sepertimu, tak akan pernah bisa bersama seorang Vampire sepetinya bukan? Kau werewolf, dia vampire. Lucu sekali."

Jisoo bisa merasakan tatapan tak percaya dari hyung Seokmin di ujung ruangan. Hancur sudah semuanya, identitas yang selama ini ia sembunyikan sudah terbongkar. Jisoo menyelipkan senyum pedih pada wajahnya.

"Inilah alasan kenapa kami membenci bangsa Vampire, wahai tuan Vampire yang terhormat."

"Tapi kau mencintai Vampire muda itu."

"Diam!" Jisoo melemparkan pisau kecil yang selalu tersemat di pahanya. Vampire berumur itu menghindar. Justru sebaliknya, ia mengelurkan pistol kecil dari balik jasnya. Tembakan melesat, sebuah peluru perak menggores bahu Jisoo.

Jisoo terengah, wajahnya memerah menahan sakit yang menjalar di bahunya. Irisnya perlahan berubah menjadi warna emas terang.

"Kau mau berubah? Dihadapan pujaan hatimu sendiri? Dihadapan kakaknya sendiri?" Jisoo bisa merasakan hatinya yang teramat perih. Ia melirik hyung Seokmin yang terus menatapnya. Jisoo tersenyum, air mata mengalir dari sudut matanya.

"Tolong, bunuh bocah brengsek ini jika aku mati," Jisoo melepaskan cengkraman Seokmin pada ujung roknya. Senyum terkembang di bibir tipisnya. "Katakan, aku sangat membencinya. Sangat."
.
.
.
TBC


a/n: Adududududududududuh ketawan deh siapa mereka
Aduhhhhh
Gomawo untuk readers semua~ JY sayang kalian mwah. JY sendiri ga ngerti kok ceritanya bisa ngelantur kek gini, tiba tiba aja muncul ide untuk meribetkan masalah:"/? Anyway, kalian tau ga arti nama JY itu apa?

.
Jadi, JY itu singkatan dari Jinny. Nama pena kok ini wkwk. Jadi mau panggil JY atau Jinny terserah ehe

.
Maafkan penyampaian konfliknya kayaknya ga greget ya? Hiks:" Besok besok masih ada masalah yang lebih greget kok:""
Don't forget to RnR, okay? Mwah

Saranghae,
Jinny Seo [JY]