JY present
DIFFERENT
.
Cast: All of Seventeen Members and OC(s)
Jeongcheol! Seoksoo! Junhao! Soonhoon! Meanie! Verkwan! and little Lee Chan!
Rate: T
Length: Chaptered
Disclaimer: SVT belongs to Pledis Entertainment, the plot and OC(s) is mine.
.
Chapter Thirteen
.
.
Warning: OC bertebaran! Typo(s)! GenderSwitch! etc.
.
.
.
(())(())
Woozi menatap awas sosok pria berumur yang tengah duduk di sofa rumahnya. Merasa terus ditatap, sang pria tersenyum pada Woozi.
"Kau tau kita dimana?"
"Rumahku, tentu saja," sang pria tersenyum kembali mendegar jawaban ketus Woozi. Jemarinya meraih bantal sofa Woozi, dipeluknya bantal itu erat.
"Tapi kita di dunia yang berbeda," sang pria melirik jendela rumah Woozi, meminta gadis itu memperhatikan luar rumahnya dari balik kaca.
Gelap. Tak ada cahaya lampu jalan atau kendaraan yang biasa Woozi lihat dari jendela rumahnya. Woozi terbelalak tak percaya. Ditatapnya kembali sang pria, menuntut penjelasan untuk dirinya.
"Izinkan aku mengenalkan diriku, nona. Kau bisa memanggilku Tuan Han. Aku disini untuk menemuimu, karena ingin menyanderamu tentu saja. Mungkin juga membunuhmu nantinya, kita lihat nanti okay?"
Woozi dapat merasakan bulu kuduknya meremang mendengar ucapan Tuan Han. Membunuhnya? Astaga, mendengarnya saja sudah membuatnya meringis ketakutan.
"Sebenarnya, cukup rumit untuk menjelaskannya padamu. Tapi intinya, aku disini untuk membalas dendam. Ini cerita lama, tapi kau pasti bersedia mendengarnya kan?"
Tanpa menunggu persetujuan Woozi, Tuan Han kembali melanjutkan ucapannya.
"Dahulu, ada dua sahabat yang sudah dekat sejak lama. Mereka selalu bermain bersama, selalu mengerjakan segalanya bersama. Dan jatuh cinta untuk orang yang sama. Tapi wanita itu jatuh cinta dengan salah satunya. Merasa dikhianati oleh sahabatnya, akhirnya yang kalah pun pergi."
"Itu kau."
"Pintar!" Tuan Han tersenyum lebar. "Akhirnya mereka memiliki anak, 6 pria yang sangat lucu. Dan salah satunya adalah kekasihmu."
"Aku tak memiliki kekasih!"
"Bukannya kau mau pergi dengan kekasihmu sekarang? Pesta kembang api?"
Woozi tercenung. Ia hendak mengucapkan kata dari bibirnya, namun yang keluar hanya desisan.
"Jadi, kau menggunakanku sebagai umpan?"
"Astaga, kau jenius sekali manis!" Tuan Han bertepuk tangan layaknya anak kecil. Woozi merinding melihatnya. "Tapi, kau mau tau rahasia kecil keluarga manis itu?"
"Tidak, terima kasih tuan."
"Kau harus tau! Mereka itu.. Vampire. Mereka semua. Dan aku pun begitu."
Bahu Woozi merosot mendengarnya. Vampire? Bagaimana bisa? Bukankah itu hanya dongeng belaka? Tidak ada makhluk penghisap darah berwujud manusia atau biasa disebut vampire di dunia ini! Berarti, Hoshi seorang vampire?
"Kau ada di dimensi lain sekarang ini. Menurutmu, hal semacam ini bisa dilakukan seorang manusia?" Woozi terdiam, tak berniat membalas pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Ah, aku lupa mengatakannya. Karena kau manusia, energimu akan terkuras jika terus berada disini," Woozi memang merasakan lututnya yang melemas sejak tadi. Ia menatap geram Tuan Han yang masih memasang senyumnya.
"Jadi, mari kita lihat okay? Seberapa lama pangeran berkudamu itu akan datang menyelamatkanmu."
Beberapa menit berlalu, tubuh Woozi mulai merosot perlahan. Nafasnya pendek–pendek. Wajahnya memerah, menjalar hingga kedua telinganya. Ia menatap tajam Tuan Han yang masih duduk dengan tenang di sofanya, menikmati pemandangannya. Woozi yang semakin melemah.
"Jihoon!"
"Pangeran berkudamu sudah datang, nona."
"Mati saja kau, bangsat," Tuan Han terkekeh mendengar umpatan yang ditujukan sang gadis padanya, tepat sebelum kesadaran milik gadis itu terenggut.
(())(())
.
XxxX
.
"H–hyung, noona," Jeonghan dan Seungcheol yang masih asyik cuddling di sofa segera menoleh saat mendengar suara Dino yang mendekati keduanya. Dino terengah. Beberapa detik berlalu, namja kecil itu masih sibuk menata nafasnya.
"Ada apa hm? Kenapa belum tidur?"
"S–seokmin hyung.. Soonyoung hyung."
Seungcheol dan Jeonghan bangkit dari posisi mereka, wajah keduanya berubah serius. Jeonghan melangkah mendekati Dino. Ditepuknya pundak sang adik.
"Apa yang terjadi?"
"Sesuatu, yang sangat besar."
"SEMUANYA!" Seungcheol berteriak, memanggil seluruh penghuni rumah. Vernon dan Seungkwan keluar dari kamar mereka dengan wajah bingung, disusul Jun dan Mingyu yang keluar dari kamar Mingyu dengan raut kesal.
"Ada apa huh? Aku sedang asyik bermain PS dengan Ming–"
"Kita pergi, menjemput Seokmin dan Soonyoung."
Seluruh raut wajah disana menegang. Seluruh pandangan jatuh pada Dino yang memegangi kepalanya yang berdenyut. Mereka mengangguk. Dalam sekejap, rumah besar itu kosong, ditinggal oleh para pemiliknya.
.
XxxX
.
Seungcheol terpaku di tempatnya. Di belakangnya, anggota keluarganya yang lain menatap pemandangan di hadapan mereka tak percaya.
Kini, mereka melihat sesosok werewolf tengah berlutut –menahan tubuhnya– dengan nafas tersenggal. Seorang vampire yang telah tiba disana terlebih dahulu mengerjap, wajah tak bersalah terpasang disana.
"Werewolf ini menyerang! Dia menciptakan portal dimensi itu!"
Sang werewolf tersungkur, tak kuasa lagi menopang tubuhnya. Perlahan sosoknya berubah, kembali menjadi manusia. Jeonghan menutup mulutnya tak percaya, mengetahui bahwa werewolf itu adalah orang yang ia kenal. Jisoo.
"Tidak, dia yang menyerang! Werewolf itu mecoba membantu!" Tuan Han melongok, menatap tajam Dino yang di blokade oleh para saudaranya. Ia tersenyum tipis.
"Dasar berandal kecil, kau membuat segalanya tak lucu lagi."
Beruntung mereka memiliki Dino, yang selain memiliki kelincahan, kekuatan, hidup abadi, dan penghisap darah seperti para saudaranya, ia memiliki anugerah lain. Ia bisa mengetahui segala keadaan tentang para hyung dan noonanya.
"Ah, kau pasti Seungcheol!"
"Dan anda pasti Tuan Han, senang bertemu dengan anda lagi."
"Astaga, kau merawat adikmu dengan baik Cheolie~," Tuang Han terbahak, mengabaikan Jun yang ditahan Seungcheol untuk tidak melayangkan pukulannya pada wajah pria itu.
"Anda juga merawat diri anda dengan baik. Setelah membunuh, anda masih ingin yang lebih ya?" Tuan Han bungkam mendengar kalimat Seungcheol. Sempat senyum pria itu luntur dari wajahnya, hanya beberapa saat, sebelum ia tersenyum kembali.
"Kau harus menghormati yang lebih tua, Seungcheol."
"Denganmu? Kurasa cukup sebatas formalitas saja, Tuan Han."
"Astaga," senyum Tuan Han berubah, menjadi seringaian mengerikan. Diraihnya belati yang selalu ia bawa dibalik jasnya. Seungcheol menggerakkan tangannya santai menuju punggungnya, meraih belati serupa yang berada di genggaman Tuan Han.
"Kau belum berpengalaman nak."
"Kau sudah kehabisan tenagamu, tuan."
Denting saling adu belati mulai terdengar. Baik Seungcheol dan Tuan Han, sama sama saling menyerang satu sama lain. Tuan Han mendecih, membenarkan ucapan Seungcheol. Energinya sudah terkuras karena membuka portal dimensi terlalu lama.
Pria lanjut usia itu melirik portal dimensi yang masih terbuka. Sebuah titik cahaya terang muncul disana. Ia kembali menyeringai. Dengan energinya yang masih tersisa, ia melesat cepat meninggalkan Seungcheol yang menatapnya geram.
"Cheolie sayang, jemputanku sudah tiba. Lain kali kita akan bertemu lagi, okay?"
"Lebih baik tidak, tuan."
Tuan Han melambaikan tangannya, menyampaikan salam perpisahannya pada anak sahabatnya. Tubuhnya menghilang di balik portal dimensi, disusul dengan memudarnya titik cahaya terang pada portal itu.
Seungcheol mengusap wajahnya kasar. Beberapa memori kembali merasuki otaknya, memori yang tak pernah mau ia buka. Jeonghan merengkuh tubuh Seungcheol, menenangkan pemuda itu sementara adiknya yang lain membantu Hoshi, Woozi, dan Seokmin.
Jisoo yang berada di ambang kesadarannya tersenyum tipis. Ia belum berhasil menjemput maut. Ia tak bisa bergerak, tenanganya sudah habis untuk melawan vampire tua yang berhasil kabur dari sana.
Ingin ia tertawa, melihat para vampire berlalu lalang, melewati dirinya tanpa lirikan sekalipun. Tatapannya beralih pada Seokmin yang tengah di evakuasi oleh saudaranya. Jisoo menarik nafasnya yang terasa berat, senang melihat pergerakan naik turun yang stabil pada dada bidang namja itu.
"Hey, noona?"
Jisoo menggerakkan kepalanya kaku, memperhatikan sosok namja kecil yang menatapnya. Jisoo tersenyum pedih. Telapak namja itu menghalau surai yang menutupi wajah Jisoo.
"Terima kasih banyak," Jisoo ingin terisak, sungguh, tapi ia tak ingin terlihat menyedihkan. Lelehan air mata mengalir di sela senyumnya.
"Maafkan aku, harusnya aku menjauh bukan?" suara Jisoo bergetar. Namja kecil dihadapannya, Dino, menggeleng pelan.
"Aku rasa, menjauh bukan jalan terbaik. Kau akan merusak cerita yang telah kau ciptakan, noona."
Jisoo tersenyum, air matanya mengalir semakin deras. Tak ada isakan, namun terasa pedih dan menyesakkan. Jisoo terkekeh, tak peduli dengan tubuhnya yang masih tertelungkup di lantai.
"Kau anak pintar eum~," Jisoo menatap iris Dino dalam, menyalurkan permohonan dari pancaran matanya. "Jaga hyung menyebalkanmu itu okay?"
Dino menoleh, mengikuti arah pandangan Jisoo yang teralih dari irisnya. Seokmin, hyungnya. Dino kembali menaruh atensinya pada Jisoo yang masih tersenyum padanya. Dino tersenyum, pelan, ia menggelengkan kepalanya.
"Aku tak mau. Kau saja yang menjaga dia, noona."
"Anak pintar."
Jisoo memejamkan matanya, merasa lelah telah mencapai batas maksimal dirinya. Senyuman tipis masih terkembang di bibirnya. Dino menghela nafasnya, telapak tangannya menepuk pundak Jisoo pelan.
"Aku ada dibelakangmu noona, kuatkan dirimu."
Seungkwan yang sedari tadi memperhatikan Dino dan Jisoo menghela nafasnya. Ia sadar, bahwa hubungan dan cinta antara Jisoo dan Seokmin adalah suatu kemustahilan.
.
.
.
–TBC–
a/n: Anu, kemarin fahcarat tanya sama JY, Junhao mana. Junhao ada kok nanti, tenang ajaa~ Verkwan juga nanti banyak momentnya. Jeongcheol? Wah mereka anu... *berusaha tida spoiler* Untuk pengenalan karakter sepertinya sounds great. Tapi JY sendiri aja bingung sama karakter yang JY tulis:" /lah.
.
Oh iya, untuk fast update, JY usahakan terus ya:" Tugas tugas banyak yang numpuk soalnya huhu, belum lagi kuota yang tida bersahabat:" JY jadi bingung juga mau tulis kapel siapa lagi, karena emang dari awal FF ini nggak cuma untuk fokus ke satu kapel aja. Dan ternyata, damn, susah:"
.
Don't forget to RnR!
XOXO,
Jinny Seo [JY]
