Settingan alurnya sengaja saya bikin maju mundur. Semoga tidak terlalu membingungkan.


Kembali

3 tahun digembleng habis habisan oleh kakeknya di Kyouto, akhirnya Umi kembali ke Tokyo. 3 tahun bukan waktu yang sebentar. Memikirkan apakah nanti Honoka dan Kotori akan menerima dirinya yang sekarang saja cukup membuat Umi galau, Bagaimana tidak, dirinya dulu saat tamat SD dengan yang sekarang yang baru masuk SMA sangat berbeda. Apa yang akan mereka berdua lakukan jika sadar kalau dimasa lalu mereka membuat sebuah kesalahpahaman yang mungkin masih berlanjut sampai saat ini.

Pagi ini, lewat telepon rumah keluarga Sonoda, kedua teman masa kecilnya mengatakan akan menjemput Umi didepan rumahnya. Awalnya Umi ragu untuk melangkah, namun bagaimanapun juga dia harus menghadapi realita. Dia tidak akan bisa sembunyi kali ini, lagian dia sangat merindukan kedua temannya itu.

"Umi! Kotori dan Honoka sudah menunggu didepan rumah"

"Baiklah, aku segera keluar"

"Gugup?" tebak ibunya.

"Tentu saja, bagaimana kalau mereka tidak... "

"Ssttt" ibunya menutup mulut anaknya dengan jari telunjuknya "jangan berprasangka buruk, mereka pasti menerima"

"Okay" ucap Umi pelan.

Dengan ragu Umi melangkah keluar rumahnya, berharap hari ini berjalan dengan baik, dia bisa berteman tanpa harus di bully lagi seperti waktu SD dulu. Jikalau harus menemui bully lagi, ajaran kakeknya sudah lebih dari cukup untuk membuat semua pembully bertekuk lutut dihadapannya. Kalau dia ingat lagi, salah satu alasan dia dibawa kakeknya ke Kyouto gara gara bullying yang dia terima sewaktu masih kecil. Dan sekarang Umi sudah cukup percaya diri dalam hal pertahanan diri.

Kembali ke masa sekarang, walau masih ragu namun Umi tetap melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang rumahnya.

"Maaf membuat kalian menunggumu" sapanya pelan.

"UMICHAAA.. nnnn" keduanya hendak memeluk Umi karena sudah begitu merindukan teman kecil mereka yang mereka kenal sebagai sosok yang cantik, disiplin namun pemalu. Tapi karna sesuatu terasa aneh sehingga mereka berhenti bahkan membatalkan niatan untuk menjatuhkan diri mereka pada sosok asing didepan mereka.

"Kacamata?" pekik Honoka

"Rambut pendek?" timpal Kotori.

Lalu berbarengan mereka berteriak "celana panjang? Siapa kamu?"

Umi sudah menyangka hal ini akan terjadi, bahwa kesalahpahaman Honoka dan Kotori tentang dirinya akan berlanjut sampai saat sekarang. Umi hanya memberikan senyuman seadanya yang penuh kemakluman sebagai tanda bahwa kesalahpahaman yang masih berlanjut ini bukan sepenuhnya kesalahan teman temannya, melainkan juga kesalahannya yang tidak pernah memberikan penjelasan atas kebenaran tentang dirinya.

"Aku Sonoda Umi" jawab Umi agak ragu.

"Mana mungkin, Umi chan yang kami kenal adalah gadis cantik yang pemalu" protes Honoka selagi Kotori mengangguk membenarkan.

"Ahaha" Umi tertawa canggung "Maaf mengecewakan harapan kalian, tapi Sonoda Umi adalah seorang laki laki" Umi mencoba menjelaskan.

"Lalu dimana Umichan yang perempuan?" Tanya Kotori.

"Itu aku, dan aku laki laki"

Keduanya tampak bingung.

"Apa kamu saudara kembarnya Umichan" tanya Honoka dengan polosnya.

Seketika Umi menepuk jidatnya "Ya ampun, aku Sonoda Umi, aku laki laki. Aku tak tau kalau sulit bagi kalian untuk menerima kenyataan, dan aku juga tak bisa menyalahkan kalian atas kesalahpahaman karna aku juga tak pernah konfirmasi kebenarannya pada kalian" Umi menghela nafas, "dan sekarang, karna aku pikir sudah sulit bagiku untuk terus menjadi seperti perempuan seperti yang kalian pikirkan tentangku, maka aku pikir ini saat yang tepat untuk mengatakannya. Aku sonoda umi, laki laki, 15 tahun, senang bertemu kembali dengan kalian berdua"

"Dia berbicara seperti Umi chan" selidik Honoka.

"Warna mata dan rambutnya juga seperti Umi chan, hanya saja dia laki laki" sahut Kotori.

Sekarang giliran Umi yang tercengang, apakah kedua temannya benar benar tidak mengerti dengan ucapannya atau hanya ingin lari dari kenyataan? Umi tak tau pasti.

"Hah, jika gender membuat kalian tidak nyaman untuk tetap menjadi temanku, aku bisa paham" dengan begitu Umi berlalu meninggalkan mereka, mencoba ikhlas jika memang kedua temannya itu tak lagi mau menjalin hubungan keakraban dengannya.

Namun baru beberapa langkah Umi berjalan, dia mendengar namanya dipanggil oleh dua gadis SMA yang menunggunya tadi. "UMICHAN... TUNGGU"

sepanjang jalan Umi dijejali pertanyaan tentang dirinya dan juga tentang kebersamaan mereka saat SD, dan dengan singkat Umi menjawabnya dengan benar. Hingga saat pertanyaan yang ingin mereka tanyakan sudah habis, suasana perjalanan sekolah menjadi hening, dua pasang mata mulai menyelidiki Umi dari kepala hingga kaki.

"Kenapa kamu pakai kacamata jadul kayak Harry Potter gitu?" tanya Kotori kemudian.

Umi punya alasannya, tapi tidak untuk ia bagi kepada dua temannya. "Aku rasa sudah jelas alasannya kenapa seseorang berkacamata"

"Tapi kenapa harus yang itu, kamu akan kelihatan lebih keren jika pake yang kotak, atau model biasa" protes Kotori.

"Aku nyaman dengan yang ini"

"Wah, sangat mengejutkan ternyata Umichan adalah laki laki. Kenapa kamu tidak kasih tau lebih awal?"

"Aku pikir kalian tidak mau lagi berteman denganku jika aku bukan perempuan" suara Umi pelan, mencoba jujur dalam perasaan malunya.

Honoka terpana, bahkan ekspresi malunya sama dengan saat Umi masih SD dulu. "Ternyata kamu memang benar benar umichan" ucap Honoka yakin.

"Bukankah sudah kukatakan tadi" emosi Umi kembali naik.

"Tapi yang sekarang lebih pemarah" tambahnya.

Kedua temannya tertawa, Umi tersenyum kemudian.

"Hi, bukankah kamu Sonoda Umi? Udah tobat ya, hahaha" seoarang laki laki berpakaian sama dengan Umi menghampiri mereka.

Umi menegang, laki laki ini adalah anak yang sama yang membuli dirinya saat SD. Umi sudah siap jika kali ini anak ini mencoba melakukannya lagi, dan Umi bisa pastikan kemenangan ada padanya.

"Terakhir aku lihat kamu masih pakai rok cewek, syukurlah sekarang kamu udah kembali pada kodratmu sebagai laki laki, haha" anak laki laki itu masih tertawa membuat Umi ingin sekali memukulnya.

"Rin kun, kamu tau kalau Umi chan laki laki?" tanya Honoka.

"Ya iyalah, semua teman teman dikelas juga tau kalau Umi itu laki laki sekalipun rambutnya panjang kayak cewek, palingan cuma kalian berdua saja yang tak tau. Terus terusan belain dia perempuan padahal dia nya laki laki, aku pikir sonoda san memang ingin jadi perempuan seperti pembelaan kalian pada dia, tapi melihat dia sekarang rasanya dia tak bisa lari dari takdirnya lagi. Btw, celana lebih cocok sama kamu daripada rok mu dulu di SD, sonoda san"

Umi geram, ingin sekali dia hajar muka tengil didepannya, hanya karna dia ingat ini hari pertama sekolah dan dia ingin memberi kesan yang baik, maka niatnya ia urungkan, sebagai langkah pencegahan emosi yang naik, Umi berjalan lebih cepat meninggalkan 3 orang lainnya.

Kotori dan Honoka mencoba mengikuti sambil berbisik di belakang Umi. "Apa kamu pikir Umi chan marah karna dulu kita anggap dia cewek?" Kotori memulai pembicaraan.

"Entahlah, kalau di lihat sekarang sepertinya dia memang marah" Honoka juga ikut ikutan memberikan jawaban dengan berbisik.

Satu hal yang mereka tak tau adalah Umi mendengar seluruh pembicaraan berbisik mereka tentang bagaimana kekhawatiran mereka jika Umi benar benar marah dan benci mereka lantaran dianggap cewek saat masih SD. pembicaraan itu membuat Umi sedikit tersenyum, sekarang dia sadar perasaan tak mau kehilangan bukan hanya milik dia saja, tapi dua temannya juga memiliki ketakutan yang sama.

"bisakah kalian berdua tidak memanggilku dengan sapaan chan lagi? Itu memalukan jika dipakai pada cowok, kan?" Umi tiba tiba berhenti agar apa yang dia katakan bisa sampai pada dua temannya.

Honoka dan Kotori yang awalnya takut saat Umi mulai bicara, akhirnya bisa lega karna apa yang dikatakan Umi bukan sebuah kekesalan atau amarah. Awalnya mereka mengangguk, kemudia serempak mengatakan "hai'"

"Arigatou" Umi berbalik pada teman temannya dan memberikan senyuman tulus dari hatinya yang membuat suasana kaku tadi menjadi lebih hangat.

"Kotori chan, senyumnya masih semanis dulu"

"..." Kotori hanya mengangguk mengiyakan.

"Mari mulai dari awal, aku Sonoda Umi, laki laki 15 tahun, aku harap kalian masih ingin berteman denganku" Umi membungkuk sedikit setelah perkenalan singkat.

Hal itu berbuah pelukan suka cita dari dua orang lainnya.

"Tentu saja kami mau"

"Kita akan berteman selamanya"


xxxbersambungxxx


Terimakasih atas dukungannya lewat kotak review. Btw, kenapa sekarang jadi kotoumi? Karna sebenarnya saya juga fans pairing ini. Kedepan saya juga pengen bikin honoumi sama umimaki. Ditunggu aja ,hehe .

O iya, chapter depan mungkin alurnya kembali maju.