Karakter cowok : Umi, Elyas, Tsubasa

Karakter cewek : Kotori, Honoka, Arisha


Kencan dibalas kencan


"Hey, jemput Arisha jam 10 pagi, hari minggu ini"

"Okay"

"Jemput dirumahku"

"Seriously? Kenapa nggak ketemuan di stasiun kereta saja"

"Dengar Umi-kun, aku tak mau adikku di goda laki laki tak bertanggungjawab saat menunggumu disana, jadi aku akan lebih senang jika kamu mau menjemputnya dengan aman disini, dirumahku"

Umi mengingat percakapannya semalam dengan Eli, dan sekarang disinilah dia, didepan pintu rumah keluarga Ayase. Umi mulai mendengar suara langkah kaki, dan sesaat kemudian pintu terbuka dengan memperlihatkan sesosok gadis pirang yang mengenakan dress biru muda selutut, dia menatap Umi dengan senyuman yang canggung.

"Maaf menunggu, Umi-kun"

"Nggak apa apa. Kita pergi sekarang?"

"Tentu"

Di perjalanan, mereka lebih banyak diam. Sesekali Arisha menanyakan hal – hal kecil tentang keseharian Umi, dan Umi hanya menjawab seadanya. Bukan karna dia tidak menyukai kebersamaan mereka, hanya saja Umi tak bisa untuk bercerita panjang lebar dengan orang lain. Ada kalanya Umi juga menanyakan sesuatu pada Arisha, dan Arisha dengan senang hati bercerita padanya, namun setelah itu Umi tak dapat memberikan feed back, hingga akhirnya mereka kembali diam.

"Kemana tujuan pertama kita?" Tanya Umi saat mereka telah sampai disebuah mall.

"Bioskop, Umi-kun, Tunggu disini sebentar, aku akan membeli tiketnya" Arisha beranjak pergi meninggalkan Umi di depan gedung bioskop.

"Akan lebih baik kalau kita…pergi bersama" dua kata terakhir terdengar berbisik dari mulut Umi karna saat dia hendak mengatakan sesuatu pada Arisha, dia sudah terlanjur pergi.

Akhirnya Umi hanya bisa menyandar disebuah tiang tidak jauh dari tempat Arisha meninggalkannya. Dia tidak sadar bahwa beberapa pasang mata, khususnya gadis muda, menatapnya kagum pada dirinya. Beberapa ingin berkenalan, tapi tak sanggup untuk menghampirinya karna Umi memilki aura pangeran kesepian yang sangat kuat, aura yang hanya bisa dilihat dari kejauhan, aura yang akan memakan mereka jika mereka mendekat. Beberapa dari mereka tak segan untuk memotretnya dari jauh.

Beberapa menit berlalu yang hanya dijalani Umi dengan bermenung, sebuah suara mengagetkannya.

"Umi-kun, ngapain kamu disini sendirian?" seoarang gadis berambut orange dengan seorang pria yang Umi belum pernah lihat sebelumnya memandanginya.

"Ho..Honoka?" Umi seketika kaget, diketemukan sendirian di depan bioskop bukanlah hal yang pernah dia banyangkan.

Gadis itu mendekati Umi dan melepas genggaman tangannya dari laki laki yang bersamanya, jelas sekali laki laki itu tidak suka, karna sekarang dia mempelototi Umi dengan tatapan kekesalan. Honoka yang tak menyadari perubahan pada temannya malah mencubiti pipi Umi dengan gemasnya.

"Wow, kamu benar benar Umi-kun. Kalau disekolah culun banget, sekarang pergi ke bioskop bisa berpenampilan sangat keren begini"

Umi mencoba melepaskan tangan Honoka dari pipinya "Honoka, tolong lepaskan, malu diliatin orang lain" protesnya. Dalam kesibukannya untuk melepaskan diri dari Honoka, tidak sengaja Umi melihat teman laki laki Honoka, bulu kuduknya merinding karna sekarang laki laki itu memberinya tatapan seorang pembunuh. Umi mencoba memberikan isyarat pada Honoka perihal temannya. Honoka yang sadar akhirnya melepaskan tangannya dari pipi Umi, namun setelah itu dia malah merangkul tangan Umi yang membuat aura hitam dari teman Honoka makin menghitam.

"Ahahaha, maaf. Oh,ya. Tsubasa-kun ini Umi-kun, dan Umi-kun ini Tsubasa-kun" si rambut Orange salah mengerti isyarat dari Umi.

Laki laki yang disebut Honoka sebagai Tsubasa tadi mencoba menarik Honoka dari Umi, masih dengan wajah beringas.

"Hey, ayo jabat tangan, kenalan" sambung Honoka yang masih belum mengerti dengan situasi.

Umi lebih dulu menjulurkan tangannya, dan disambut dengan cengkraman yang cukup kuat dari Tsubasa.

"Honoka, siapa dia" Laki laki itu masih belum mau menunjukkan wajah ramahnya pada Umi.

"Umi-kun. Bukankah aku pernah menceritakannya padamu"

"Aku pikir Umi-kun yang kamu ceritakan itu berkacamata dan culun. Tapi ini?"

"Aku juga baru lihat dia berpenampilan seperti ini. Hey Umi-kun, jika kamu kesekolah seperti ini, cewek seisi sekolah bakal mengidolakan kamu"

Umi hanya bisa tersenyum dengan hati tak enak. Diidolakan cewek seiisi sekolah adalah hal yang paling ingin dihindarinya. Itu membuatnya trauma.

Honoka mulai menginterogasi Umi, namun Umi hanya tersenyum pasrah sambil sesekali melihat perubahan wajah dari teman laki lakinya. Tak lama berselang, Arisha datang. Umi tak tau apakah itu sebuah keberuntungan atau malah bencana lainnya. Karna setelah Arisha memanggil Umi, Honoka mulai mempertanyakan hubungan mereka.

"Dia bukan pacarku, okay" Tegas Umi.

Sedikit kecewa di hati Arisha, namun itu adalah kenyataan yang harus diterimanya.

"Kamu sendiri, apa hubunganmu dengan Tsubasa"

"Dia gebetanku"

Umi tercengang, karna Honoka dengan mudah mengakui seseorang sebagai gebetan tanpa merasa malu.

"Aku pikir kita pacaran" Protes Tsubasa.

"Aku belum mengatakan 'iya' padamu" jawab Honoka enteng.

"Jadi setelah melihat temanmu menjadi lebih tampan kamu mengatakan kalau hubungan kita belum sampai kesana?"

"Apa maksudmu?"

Sudah jelas dia cemburu. Batin Arisha dan Umi.

"Tsubasa-kun. Apa kamu cemburu?"

"Tentu saja"

"Hey, aku rasa kami akan masuk duluan karna film yang ingin ditonton Arisha akan segera dimulai" Pamit Umi ingin cepat segera pergi dari perdebatan sepasang anak remaja.

Tak banyak yang bisa Umi rekam dalam otaknya setelah menonton film komedi romantic pilihan Arisha. Otaknya langsung blank saat melihat adegan adegan yang dianggpanya memalukan. Sepanjang tontonan, Umi lebih banyak menutup matanya dari pada menikmati tontonannya seperti Arisha. Arisha yang sadar dengan kelakuan Umi hanya bisa tertawa didalam hati sambil mengagumi betapa menggemaskannya Umi saat itu.

"Umi-kun, ayo makan siang"

"Hm.." Umi mengangguk.

Mereka memesan makanan yang sama. Duduk damai di meja di dekat jendela restaurant, sampai akhirnya ketenangan tadi terusik oleh sepasang remaja yang sempat cekcok di depan bioskop tadi.

"Umi-kun. Kita ketemu lagi"

Kali ini Umi tak segan untuk mengeluarkan sikap aslinya pada Honoka "Honoka, kamu ngikutin kami? Itu bukan prilaku yang baik"

"Hey hey, kami nggak ngikutin kalian, ini benar benar kebetulan. Aku juga nggak mau ketemu sama kamu lagi" Tsubasa lebih dulu membalas perkataan Umi.

"Tsubasa-kun, tenang. Duduk dulu"

"Hey, siapa yang mengijinkan kalian duduk disini" Protes Umi. Namun protesnya tak dihiraukan sama sekali.

"Umi-kun, tidak apa apa" Arisha sebenarnya sedikit kecewa karna moment nya bersama Umi kembali terganggu oleh dua sejoli di hadapan mereka, namun dia tak bisa egois karna itu bukan sifatnya.

Umi akhirnya pasrah harus berbagi meja.

"Umi-kun, sekarang aku mengerti kenapa kamu berpenampilan luar biasa begini selagi disekolah kamu culun banget"

"Apa maksudmu Honoka?"

Arisha menatap penuh kebingungan "Umi-kun culun?"

"Jadi calon pacarmu nggak tau. Ngaak salah lagi, pasti kamu make over buat bisa mendapatkan Arisha chan,kan"

Umi terbatuk mendengar pernyataan Honoka. Muka Arisha memerah karna malu di anggap sebagai calon pacar, sedangkan Tsubasa benar benar tak peduli dengan percakapan mereka.

"Jangan asal bicara, kami berdua hanya berteman" protes Umi.

Arisha mengangguk pelan mengiyakan pernyataan Umi.

Makan siang mereka berakhir tidak nyaman bagi Umi dan Arisha karna Honoka selalu menganggap mereka sebagai calon pasangan.

"Umi-kun, terimakasih telah menemaniku dan mengantarku kembali kerumah" setelah menemani Arisha seharian, akhirnya Umi mengantar Arisha sampai dirumahnya.

"Bukan masalah"

Umi hendak berbalik saat Arisha kembali memanggilnya. Umi berpaling padanya dan saat itu tubuhnya membeku saat menerima kecupan di pipinya dari Arisha.

"Arigatou" Arisha cepat cepat menutup pintunya agar Umi tak tau betapa malunya dirinya, betapa mukanya memerah karna perbuatan nekat yang dilakukannya.

"Bagaimana kencanmu?" Sapa Elyas saat melihat adiknya yang cengengesan di depan pintu rumahnya.

"Onii-chan, kamu tak harus bilang itu kencan" Arisha yang malu langsung berlari kekamarnya.

xxx

Honoka berlari di korodor sekolah, bukan karena dia terlambat. Tapi dia ingin segera bertemu dengan teman berkacamatanya untuk memastikan suatu hal.

"UMI-KUN" teriaknya di depan pintu kelas.

Yang diteriaki tak kaget lagi.

Honoka mendekat kepada Umi yang saat itu bersama Kotori "Kenapa kamu jadi culun lagi?"

Mendengar pertanyaan Honoka, Umi bergegas bangun dan menutup mulut Honoka dengan tepalal tangannya. Dalam hati ia mengutuk karna lupa memperingatkan Honoka untuk merahasiakan pertemuan mereka kemaren. "Honoka diamlah, aku nggak mau kamu menyebarkan sesuatu tentang kejadian kemaren" bisik Umi penuh dengan emosi.

Honoka kemudian mengangguk karna merasa terancam oleh aura gelap Umi.

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Tidak ada apa apa" Umi duluan menjawab.

Honoka hanya merungut.

"Oh ya, Umi-kun. Kemaren pagi aku melihatmu di jalan" Kotori tersenyum sambil mendekati Umi. Saat dirinya berdiri beberapa centimeter dari Umi, Kotori melepas kacamata temannya "Yappari, Umi-kun memang tampan"

Umi panic mencoba meraih kacamatanya yang ambil Kotori "Kotori, tolong kembalikan"

"Dari awal aku selalu penasaran, kenapa kamu memakai kacamata lensa biasa kesekolah" selidik Kotori.

Umi yang hanya fokus pada Kotori dan kacamatanya mulai mengambil kesempatan untuk mengacak acak rambut Umi.

"Honoka, apa yang kamu lakukan?"

"Haha, bahkan dengan rambut acak acakan begitu ketampananmu nggak luntur" Honoka membalik tubuh Umi menghadap kumpulan teman teman sekelasnya. "Hey, teman teman, bagaimana menurutmu Umi-kun kami"

Semua mata mulai memperhatikan Ketiga sahabat ini. Mereka mulai berbisik, satu persatu komentar mulai bermunculan

"Tuh kan, aku bilang juga apa, dia itu ganteng tanpa kacamata"

"Kami sudah menduganya"

"Akhirnya dia membukanya"

"Akhirnya Ouji punya penantang"

"Memalukan, memalukan" bisik Umi.

Sesaat kemudian bel sekolah berbunyi pertanda jam pelajaran pertama dimulai. Umi akhirnya bisa berhenti mendengarkan komentar komentar temannya yang tadi sempat memekakkan telinganya.

"Umi-kun, maaf soal tadi pagi. Aku pikir sangat keterlaluan membuatmu malu di depan teman sekelas kita"

"…" Umi menggeleng pelan tanpa bersuara.

"Tapi Umi-kun benar benar tampan. Hey, Kotori. Siapa yang kamu pilih jadi pacarmu, Ouji atau Umi?"

"Eh, kok tiba tiba nanya begitu?"

Tiba tiba jantung Umi berdetak lebih kencang, dia ingin tau jawaban Kotori, namun juga dia tak ingin tau.

"Kamu harus jawab"

"Mungkin aku lebih suka Ouji" Kotori tersenyum dengan riangnya.

Umi merasa ada yang aneh pada dirinya saat mendengar jawaban Kotori. Umi tak tau harus menyebut apa tentang perasaannya saat ini.

"Hahaha, pilihan tepat, karna Umi sudah punya gebetan" pekik Honoka.

Kali ini malah ekspresi kotori yang sedikit berubah. Yang tadinya riang, berubah biasa "Benarkah?"

"Aku melihatnya…"

"Honoka, ingat apa yang ku katakana tadi pagi padamu" Umi memberikan tatapan pembunuhnya.

"Ops…"

"Hah, hari ini kacau. Aku akan ke kamar mandi sebentar" Umi lalu meninggalkan dua temannya.

Saat Umi membasuh mukanya di westafel, sesosok laki laki pirang menghampirinya.

"Jadi bantuan apa yang kamu inginkan dariku?"

"Hah… bukankah sudah kukatakan jangan bertingkah akrab padaku saat disekolah?"

"hey, jangan dingin gitu, apa seorang yang membuatmu kesal hari ini?"

"Ada"

"Siapa?"

"Kamu"

"Hahaha. Harusnya aku yang kesal padamu?"

Umi mengernyitkan keningnya.

"Biasanya cewek cewek disekolah ini hanya membicarakan satu cowok disekolah ini, yaitu aku" dengan bangga Eli menunjuk dirinya, "Namun hari ini ada cowok lain yang menjadi perbincangan"

Kening Umi makin mengkerut "Aku tak punya waktu untuk omong kosong"

"Hey Umi, apa akhirnya kamu memutuskan untuk menjadi idola para gadis lagi? Sama seperti saat kamu masih di SMP dulu?" kali ini Elyas menyeringai.

Sekarang Umi mengerti maksud Elyas. Satu hal yang Umi inginkan saat ini, dia tak mau mendengar Elyas lebih jauh. "Jika aku utarakan permintaanku, apa kamu akan diam?"

"Apa kamu menyuruhku diam"

"Aku lebih senang tidak melakukan pembicaraan denganmu disekolah"

"Baiklah, sebutkan keinginanmu"

"Berkencan dengan salah satu temanku"

"Apa aku tidak salah dengar?"

"TIdak, aku hanya memintamu kencan dengan Kotori. Hanya berdua tanpa ada para fansmu yang lain"

"Itu berat"

Tentu saja berat, karena selama ini Eli selalu melakukan kencan borongan.

"Kamu bilang akan melakukan permintaanku jika aku menemani adikmu"

"Bailah, laki laki sejati selalu menepati janji"

"Waktunya akan aku beritahu nanti" Umi melangkah keluar kamar mandi meninggalkan Elyas.

"Kencan dibalas kencan, huh?"


Sepertinya mood menulis saya belakangan ini jadi meningkat. Moga bisa terus update buat cerita yang masih belum lengkap ini.

K. Yahiro : Moga chapter chapter yang akan datang bisa menjawab pertanyaan kamu

Joelthesatan3 : semoga kamu menyukai cerita saya yang lain "The Waiter", karna disana aka nada UmiMaki nya