Cast :
Leeteuk
Heechul
Yesung

~Prolog~

Kehidupan, adalah awal dari kematian. Dan ada banyak ikatan di antaranya. Mungkin, itulah sebabnya, aku hidup kembali.

Karena ikatan ku belum terputus dengan nya.


#CHAPTER 3#

Klik. Klik. Klik. Klik.

Bukk. Ttakk.

"Yaakk! Leeteukie!"

Leeteuk menggaruk belakang kepalanya. "Mian. Mian."

Bletak.

"Yaaa! Kan aku sudah minta maaf!"

"Apa maksudmu?!" Heechul berkacak pinggang. "Kalau remote tivi itu rusak, kau mau ganti?"

"Pelit sekali!" Leeteuk meleletkan lidah.

"Tidak ada hubungannya dengan pelit!" Heechul bertolak pinggang.

"Dasar iblis pelit!"

"Bicara seperti itu lagi, akan ku tarik lidah mu, Leeteukie!"

"Ancaman iblis memang selalu mengerikan," gidik Leeteuk, "wajah cantik memang hanya kamuflase saja ternyata."

Sekali lagi, Leeteuk mendapat pukulan penuh semangat dari Heechul. "Aku tampan, arra?"

"Yaaa! Sekali lagi kau memukulku, kepala ku bisa menggelinding ke depan tivi, iblis sadis!"

"Kalian berisik sekali," seorang namja melayang rendah sembari menguap dan menggosok sebelah matanya dengan punggung tangannya. "Ini masih pagi, arra?"

"Harus nya kau mandi, Yesungie. Karena sudah pagi," Heechul ikut melayang mendekati Yesung.

Yesung menyeringai. "Kau tahu apa yang baru saja kau katakan, Hyung?"

"Eh?"

"Kau baru saja menyuruh seorang iblis untuk mandi pagi. Astaga. Apa kau mulai ketularan Leeteuk?"

Leeteuk menggaruk kepalanya lagi. "Kenapa rumah ku bisa di isi oleh dua iblis bodoh yang mengerikan?"

Heechul menghampiri Leeteuk dan melayangkan pukulan nya lagi. Tapi kali ini Leeteuk berhasil menghindar.

"Yaa!. Sudah ku bilang jika sekali lagi kau memukul ku, kepala ku bisa menggelinding, Heechulie. Dan aku baru ingat. Remote itu milikku. Jika rusak, mana mungkin aku tidak memperbaikinya?"

"Kenapa rumah ini di isi oleh orang orang idiot seperti mereka?" Yesung menggumam dengan suara yang cukup keras.

"Dan salah satu penghuni nya adalah kau!" sentak Leeteuk dan Heechul serempak, membuat Yesung melongo. Lalu menyeringai lucu. Dan kemudian terpingkal pingkal.

"Sudah! Aku mau mandi," gerutu Leeteuk, lalu beranjak ke kamar mandi.

Yesung hanya memperhatikan langkah Leeteuk. Setelah Leeteuk menjauh, Yesung segera melayang menghampiri Heechul.

"Hyung, kenapa kita tidak pergi saja dari hidup Leeteuk dan kembali ke kastil iblis?"

"Wae?"

"Aish, kenapa kau menggunakan bahasa korea? Supaya Leeteuk mengerti pembicaraan kita, eoh?"

"Hei, kau juga tadi memanggil ku 'Hyung'. Kau tidak tahu itu bahasa korea juga?" dengus Heechul. Yesung nyengir.

"Spontan," jawabnya singkat. "Jadi? Apa jawabanmu?"

"Kenapa kita harus kembali? Aku di usir karena membunuh malaikat. Kau di usir karena menyelamatkan malaikat. Jangan bilang saat kau menyelamatkan Leeteuk saat itu, itu juga hanya spontan, Yesung ah!"

"Tapi aku gagal menyelamatkan nya, Heechul ah. Kau juga di sana saat itu."

"Itulah sebabnya aku di sini. Juga kau. Selama Leeteuk tidak mengingat kita, kita bisa menjaganya. Benar kan?"

"Tolong di ingat," Yesung meringis, "kita adalah iblis. Iblis tidak bertugas menjaga manusia seperti Leeteuk sekarang. Saat menjadi malaikat saja, dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Apalagi setelah mendapat tubuh manusia?"

"Aku tak ingin melihat nya terbunuh lagi, Yesung ah," manik mata Heechul berkilat. "Tidak lagi oleh orang yang sama. Biar saja aku bertengkar setiap hari dengan nya. Biar saja kita melayang layang di rumahnya. Membayangi dia kemana pun. Asal aku bisa memastikan Leeteuk tidak lagi bertemu orang itu, aku bisa menjaga nya sampai aku musnah."

"Kau mencarinya, membayanginya, dan menemukannya berkali kali," Yesung menatap sedih, "hentikan saja semua itu. Aku tidak sanggup melihat nya di bunuh sekali lagi karena mu, Heechul ah."

"Bukan aku yang membunuhnya!"

"Tapi kau penyebabnya!" Yesung menekankan perkataannya. "Dalam dua kehidupan, selalu Ryeowook yang mencintai mu. Dan selalu Ryeowook yang di cintai Leeteuk. Tidakkah kau sadar, Kim Heechul? Kau mengejar Leeteuk dan mencintainya. Leeteuk bertemu Ryeowook dan jatuh cinta. Ryeowook bertemu dengan mu dan jatuh cinta. Selalu begitu. Apa sampai sekarang kau tidak mengerti juga kenapa Leeteuk terbunuh?"

"Karena aku?" Heechul menatap Yesung. "Karena aku? Kenapa harus karena aku?"

"Hentikan itu, Heechul ah. Aku mohon. Bukankah kau merasakan bagaimana sakit nya melihat orang yang kau cintai, terbunuh? Dua kali. Atau kau memang suka melihat dia terbunuh, Heechul ah?"

"Itu sebabnya aku harus di sampingnya!" teriak Heechul. "Aku harus di samping nya! Aku harus menjaganya. Kau adikku. Kau selalu bersama ku. Harus nya kau melihat bagaimana aku saat melihat Leeteuk terbunuh!"

Yesung menggeleng. "Otak mu. Hati mu. Darah mu. Bahkan tulang dan raga mu, semua nya adalah iblis. Kau tidak bisa menjaga seorang manusia dengan keadaan tubuhmu yang seperti itu!"

"Aku punya perasaan. Dari dulu, perasaan ku tulus padanya. Aku memang iblis, tapi aku menjaga hati ku agar tetap mencintainya. Tidak kah kau memahamiku?"

Yesung menggeleng. "Kau tahu kan, kutukan bagi makhluk yang di aliri darah iblis macam kita? Jika kau melakukan-,"

"Jika aku melakukannya," potong Heechul, "sekali lagi aku melakukannya, maka, tubuhku akan hancur. Aku tahu itu."

"Kau tahu? Dan kau juga tahu takdir nya, kan? Kau tahu masa depanmu seperti apa, dan kau masih di sini?!" tanya Yesung tak percaya.

"Aku masih di sini," perlahan, Heechul menoleh ke tempat dimana Leeteuk tadi berlalu, "aku akan di sini sampai dia memutuskan ikatan takdir kami..."


"Aku paling benci situasi seperti ini!" gerutu Heechul. Leeteuk terkikik di sampingnya. Sementara Yesung, seperti biasa, berwajah datar.

"Sudah ku bilang, bergaul di sampingnya hanya menyusahkan kita saja," ucap Yesung. Leeteuk tertawa geli.

"Aku suka. Dan kalian tidak bisa mengatakan 'tidak', kan, kalau aku menyukainya?" tanya Leeteuk, tangannya masih setia menggamit lengan kedua iblis di sampingnya yang sedang berjalan menggunakan t-shirt dan celana jeans. Dengan sepatu sport dan ransel. Berjalan jalan di tempat pejalan kaki, di kota besar seperti Seoul.

"Aku bisa," jawab Yesung datar.

"Aku lebih memilih menggendong sayap daripada menggendong tas seperti ini," gerutu Heechul lagi, "membuat sayap indahku jadi kusut."

"Nanti ku setrika," gelak Leeteuk. Dia selalu senang menggoda kedua iblis di sampingnya ini. Melihat wajah sebal Heechul dan wajah datar tanpa ekspresi milik Yesung, yang akan mereka tampilkan saat sudah tidak berdaya dengan Leeteuk, terlihat lucu dan menggemaskan di mata Leeteuk.

"Ku hajar kau sampai berani menyentuh sayapku!"

"Hahahahaha."

Heechul hanya menggerutu sementara Leeteuk tertawa geli. Kenyataan bahwa Heechul dan Yesung adalah iblis yang sudah hidup entah berapa lama, tak membuat Leeteuk takut sedikitpun pada mereka. Wajah mereka yang terlihat seperti ahjussi di mata Leeteuk kecil, kini berubah menjadi seperti teman sebaya nya. Saat itu, dia tak mengerti apa apa. Dia hanya senang karena ada orang yang lebih tua dari nya, mau menemani nya di rumah besar miliknya. Rumah besar yang tidak mau di huni siapapun, kecuali dirinya.

Ya. Leeteuk kecil awalnya memiliki kebahagiaan sempurna. Ayah Ibu yang menyayanginya. Kakek yang memanjakannya. Pelayan pelayan yang membuatkan makanan apapun yang dia mau. Juga banyak teman di sekelilingnya.

Dan Leeteuk mengutuk hari di mana semuanya hilang dalam sekejap. Kakek, Ayah, dan Ibu nya, tidak pernah kembali lagi ke hadapannya, setelah mengatakan akan merayakan ulang tahunnya. Pelayan pelayan nya, pergi setelah mereka. Dan teman temannya... mereka bahkan menyakitinya. Melukainya. Dan yang paling parah, melecehkan dirinya hingga ke fisik.

Tapi, di saat itulah mereka datang. Yesung yang langsung mengusir orang orang yang hampir saja merusak dirinya. Dan Heechul yang langsung memeluk tubuh kecilnya yang gemetar hebat.

Dirinya yang masih kecil, awalnya selalu takjub dengan kemampuan kemampuan Yesung dan Heechul. Dan setiap hari, tiap tahun usianya bertambah, tapi dua orang yang selalu dianggapnya sebagai penyelamatnya itu tidak menunjukkan tanda tanda menua, di situ lah dia tahu kebenarannya. Dan dia tak keberatan karenanya.

"Senang bersama kalian," ucap Leeteuk lagi. Membuat Heechul dan Yesung menoleh kearahnya secara bersamaan. Mereka melihat kilau di manik mata Leeteuk, membuat kedua nya tersenyum.

"Itu sudah berlalu, Leeteukie. Bukankah sekarang aku dan Yesung selalu di sisi mu?"

Leeteuk mengangguk semangat. "Ne."

"Senang bersama mu," timpal Yesung. Membuat Leeteuk tersenyum lebar.

"Nee!"

TBC-


Thanks for all review ^^ di chapter ini, harusnya udah bisa kasih clue untuk chapter 1 dan 2 nya sih yaa ^^ sekian^^

Minta review nya yaa?