Cast :
Ryeowook
Eunhyuk
Sungmin
Kangin
Donghae
~Prolog~
Siapa aku? Aku hidup atau mati?
Kurasa, sekarang aku adalah monster yang tidak bisa mati.
#Chapter 4#
"Kenapa tidak mau makan?"
Ryeowook membuang muka, meskipun aroma makanan yang terhidang di depan wajahnya benar benar membuatnya tergoda.
"Kau pikir aku mau memakan sampah seperti ini?!" ucap Ryeowook sinis. Sungmin hanya menyeringai.
"Aku mau tahu, seberapa lama kau tahan untuk tidak makan makanan sampah ini," dia mengedikkan bahu ke arah Kangin, "bahkan kakak kandung mu sendiri juga sudah menikmati sampah macam itu."
"Tak usah seperti itu, Wookie ya. Harus nya kau sadar dengan tubuhmu sekarang," ucap Kangin dengan wajah lemah, wajah yang sama sekali tidak pernah di munculkan nya, dulu. "Setidaknya kau masih bisa bertahan hidup karena itu."
"Aku tidak mau mengakuinya. Walau aku sekarat pun aku tak akan mengakuinya. Memiliki tubuh seperti ini saja sudah membuatku muak. Dan sekarang, Hyung ku tersayang, kau menyuruhku untuk mengakui diriku? Menyuruh ku untuk tetap hidup? Aku sudah mati, kau tahu? Dan kau juga, Kangin Hyung!"
"Hah, dasar tak tahu diri!" Donghae datang dan menarik Ryeowook hingga ke tembok dengan kecepatan dan kekuatan menakutkan miliknya.
Ryeowook hanya menyeringai saat tangan Donghae mencekik lehernya dan mengangkatnya ke atas seolah tubuhnya hanya berupa boneka ringan semata.
"Bunuh saja aku. Aku lebih suka terbunuh daripada memiliki tubuh seperti ini!"
"Hae," tegur satu suara lembut, membuat Donghae segera melepas cekikannya hingga Ryeowook merosot jatuh.
Eunhyuk, pemilik suara itu, mendekat ke arah Donghae dan Ryeowook. Dan menghampiri Donghae.
"Kau tidak boleh membunuh kaum kita sendiri, Hae ya~."
Eunhyuk berbisik tepat di telinga Donghae, di iringi sentuhan lembutnya di pipi Donghae, yang seketika terlihat lunak dan lemah hanya karena sentuhan dari Eunhyuk.
"Ne... arra..." lidah nya terasa kelu, hingga hanya bisa menyahut dengan dua kata itu.
Eunhyuk tersenyum. "Baguslah," lalu beralih pada Ryeowook yang masih terduduk dengan wajah heran karena Donghae terlihat takluk dengan Eunhyuk yang baru kali ini di lihatnya.
"Hai, keluarga baru, maaf sebelum sebelum ini aku tidak menyapa kalian," Eunhyuk berjongkok di depan Ryeowook, dan kali ini mengelus pipinya, "dan sebagai keluarga yang baik, aku akan mentraktir kalian dengan hidangan istimewa," tambahnya sambil tersenyum.
Ryeowook akhirnya mengerti mengapa Donghae terlihat sangat takluk dengan Eunhyuk. Sentuhan dari Eunhyuk, yang di rasakan juga olehnya, seketika membuat seluruh tubuhnya melemah. Hatinya di penuhi ketakutan dan kengerian yang amat sangat. Dan rasanya begitu tak berdaya. Lalu otak nya pun serasa membayangkan adegan adegan yang membuatnya sangat takut.
Eunhyuk membantu Ryeowook berdiri, yang dengan patuhnya di turuti oleh Ryeowook. Eunhyuk menuntunnya kembali ke meja makan milik keluarga nya, dan mendudukkannya di sana.
Sungmin menahan bahu Kangin, tatkala dia merasa Kangin akan berdiri untuk membantu Ryeowook.
"Jangan melakukan apapun," bisik Sungmin dengan suara sepelan mungkin, "Ryeowook sedang dalam pengaruhnya. Itu sebabnya dia begitu tenang di samping Eunhyuk."
"Aku mendengarnya, Hyung," Eunhyuk tersenyum, tanpa menoleh ke arah siapapun. Dan meski Eunhyuk tidak menoleh ke arahnya juga, Sungmin tetap terkesiap sesaat.
"Ah ya, mianhae, Dongsaeng manis ku. Aku lupa dengan kemampuan mu yang satu itu," Sungmin ikut tersenyum.
"Aku berbakat, benar kan, Hyung?" tanya Eunhyuk dengan suara manis. Membuat semua yang ada di situ terpana, kecuali Sungmin tentunya. "Perpaduan manis, cantik, dan lembut. Benar benar berbahaya dan mengerikan. Bukan begitu, Hyung?"
"Aku tahu, jadi tolong kendalikan kemampuanmu itu, atau kau membuat keluarga kita berantakan, Eunhyuk ah," ucap Sungmin dengan suara lembut, tapi nada tegas terpancar di suaranya. Keistimewaan keluarga yang hanya di miliki Si Sulung.
"Kau pandai membujuk, Hyung," ucap Eunhyuk lagi, lalu menunduk dengan sendu, "tapi kau juga tahu, meski aku mau melakukannya, aku tak bisa mengendalikannya. Bagaimana ini, Hyung?"
"Hanya kembali ke tempat mu, Eunhyuk ah. Aku yang akan membereskan sisanya."
"Baiklah."
Dan Eunhyuk pun pergi dari ruang makan itu. Membuat Donghae dan Sungmin menghela napas.
"Astaga, aku tak bisa mengendalikan diri ku jika dia ada di dekat ku, Hyung," adu Donghae. Sungmin tersenyum lagi.
"Pengendalian dirimu akhir akhir ini semakin baik, Hae ya."
"Siapa dia?" tanya Kangin dengan wajah kagum. "Rasanya dia menyihir ku sampai aku tak berani mendongak untuk melihat tatapannya."
"Aku juga," ucap Ryeowook dengan nada tersengal. "Dia seolah menyengatku dan mengendalikan ku tanpa perlawanan ku sama sekali."
"Dia Dongsaeng kedua ku," jelas Sungmin, sementara Donghae menyeringai. "Dia memiliki aura yang begitu kuat. Dia sanggup melemahkan siapapun dan apapun, asalkan itu makhluk hidup, hanya dengan berada di sekitarnya. Dan dengan kata kata lembutnya, itu bisa menjadi candu untuk kalian, atau menjadi racun, bahkan bom waktu."
"Apa? Bom waktu? apa selama ini kalian tinggal dengan makhluk mengerikan itu?" tanya Ryeowook dengan wajah ngeri.
Wajah Donghae berubah marah, dan tangannya terkepal.
"Jangan bicara seperti itu tentang Hyung ku!"
"Dia adalah keluarga ku. Dongsaeng ku. Dan sekarang adalah Hyung mu. Berbaik baik lah padanya jika tidak ingin kecanduan padanya," wajah Sungmin mengeras.
"Ah, Sungmin, bagaimana kau bisa mengendalikannya seperti tadi?" tanya Kangin, berusaha mengalihkan kemarahan Sungmin dan Donghae pada Ryeowook.
"Karena aku adalah Si Sulung. Aku tidak mengendalikannya. Akulah yang mengendalikan diriku. Bagaimana pun, aku harus bisa mengatur dongsaeng dongsaeng ku. Benar kan, Hyung?"
"Kenapa kau memanggil ku Hyung?" tanya Kangin.
"Secara teknis, aku berkali lipat lebih tua dari mu, tapi secara logika dan rasional di mata manusia lain, kau lebih tua dari ku. Lebih baik dengan panggilan Hyung, kan?"
"Logika dan rasional di mata manusia lain?" tanya Donghae dengan mata berkilat. Sungmin hanya mengangkat bahu.
"Kau tak mendengar ucapan Eunhyuk, Hae ya?"
Ucapan Sungmin menarik minat saudara saudaranya.
"Ucapan Eunhyuk?"
"Dia mengatakan, bahwa akan mentraktir seseorang, malam ini," dia mengerling ke arah Ryeowook yang berwajah bingung, "jadi ku rasa, kita harus bersikap seperti manusia manusia pada umumnya."
"Ayo semuanya, jangan malu," ucap Eunhyuk lembut. Dia mempersilakan saudara saudaranya berjalan lebih dulu, dan dia mengikuti dengan Sungmin di belakang mereka.
Malam ini, Kangin dan Ryeowook mengenakan kaus trendi dengan model santai namun terlihat high-class. Sementara Sungmin dan Donghae mengenakan kemeja ber merk dengan postur tubuh tegap mereka yang mendukung.
Sedangkan Eunhyuk... meskipun dia juga sejenis dengan saudara saudaranya, namun dia lebih nyaman menggunakan pakaian semi-dress yang begitu cocok di tubuh rampingnya. Paras manis dan tubuh ramping serta rambutnya yang hitam agak panjang bergelombang memang sangat mendukung jika dia memutuskan untuk mengenakan pakaian yang sama sekali bukan menunjukkan jenisnya itu.
Lagipula, jangan lupakan bahwa aura Eunhyuk adalah sebuah candu. Perpaduan manis, cantik dan lembut. Perpaduan yang cocok untuk seorang yeoja yang terlihat mahal yang sedang di perankan Eunhyuk saat ini.
Eunhyuk hanya berjalan dengan lembut dan anggun, memasuki sebuah restaurant kelas mahal di pusat kota, sementara semua orang orang yang ada di sana terasa terhipnotis hanya dengan melihatnya. Dan dia tak peduli. Dia menggamit tangan Sungmin, dan berjalan bersisian dengan Hyungnya itu.
"Tak perlu begini," ucap Sungmin risih. Dia mendengar dengan jelas, bahwa sekitar nya sedang bergosip tentangnya dan Eunhyuk dalam waktu singkat.
"Biar saja, Hyung," Eunhyuk justru mempererat tangan Sungmin ke dalam pelukannya, membuat Sungmin menggeleng geleng karena kelakuan Dongsaengnya itu.
"Aku tidak nyaman berada di sini," gerutu Donghae saat mereka sudah duduk di tempat yang telah di pesan Eunhyuk.
Eunhyuk tersenyum simpul. "Bukankah sudah ku bilang aku akan mentraktir sesuatu yang istimewa?"
"Jadi? Apa?" tanya Donghae. Sementara yang lain menatap penuh minat.
"Yang ada di sekeliling kita," ucap Eunhyuk, dengan suara lembut miliknya.
"Hei, kau sadar siapa mereka?" sergah Ryeowook, namun kembali menunduk saat tatapan Eunhyuk jatuh padanya.
"Bukan untukmu, tentu saja," Eunhyuk lagi lagi tersenyum lembut, membuat Ryeowook merutuki mulut lancangnya yang berani menyela ucapan Eunhyuk dengan kasar. Membuatnya kembali lemah dan ketakutan karena di tatap oleh Eunhyuk.
"Jadi? Apa yang kau siapkan untuk... err... kami... err... Eunhyuk... ssi?" tanya Kangin berusaha berani. Tak tega juga dia melihat Dongsaeng kandung nya selalu di tindas meskipun Dongsaeng nya yang keras kepala itu selalu berusaha melawan. Apa daya, mereka sudah ada dalam pengaruh Sungmin sekarang. Saat ini, Kangin hanya berusaha mencari aman menghadapi Sungmin dan keluarganya saja.
"Ah ne," tatapan Eunhyuk yang lembut, ganti menatap Kangin, membuat Kangin merasa lemah dan takut sekali. Perasaan sama yang di rasakan Ryeowook saat ini. "Aku menyiapkan menu khusus untuk kalian berdua".
Eunhyuk melambaikan tangan pada seorang waitress, yang dengan wajah setengah memuja, berjalan ke arahnya sembari membawa nampan yang rupanya sudah terisi makanan. Waitress itu meletakkan dua piring tertutup isi makanan ke depan Ryeowook dan Kangin, sesuai instruksi dari Eunhyuk.
"Bukalah penutupnya," suruh Eunhyuk, dan keduanya menuruti ucapannya. Sementara Donghae hanya menatap tak mengerti dan Sungmin yang memasang wajah datar.
"Steak?" Ryeowook mengerjapkan matanya beberapa kali. "Jinjja?"
Eunhyuk mengangguk. "Makanlah."
Ryeowook segera memotong dengan tipis, daging yang terlihat sangat lezat di depannya. Dan menyuapnya dengan sekali suapan. Lalu mulai mengunyahnya.
Satu kali. Ryeowook memiringkan kepalanya.
Dua kali. Dahi Ryeowook mengernyit.
Tiga kali. Ryeowook mulai meringis. Dan juga mulai mengunyah perlahan.
Empat kali. Ryeowook memuntahkan daging yang sudah di kunyahnya.
"Kenapa rasanya seperti mengunyah karet?!"
Sungmin tertawa tertahan, sementara Eunhyuk tersenyum lebar dan Donghae tertawa geli mendengar ucapan Ryeowook. Hanya Kangin yang buru buru memotong daging di depannya dan kemudian mengunyahnya. Lalu setelah empat kali mengunyahnya, dia juga memuntahkannya.
"Kau benar. Kurasa ini daging buatan," komentar Kangin.
"Begitukah?" Eunhyuk masih tersenyum, sedangkan Sungmin hanya menggeleng gelengkan kepalanya, dan Donghae bahkan sudah sakit perut menertawakan mereka.
"Lalu? Apa kau ingin menjelaskan sesuatu pada kami?" tanya Ryeowook dengan nada agak tinggi. Eunhyuk hanya menatapnya, dan seperti biasa, dia tak berdaya melawan kekuatan Eunhyuk.
"Tentu," ucap Eunhyuk sambil tersenyum kalem. Lalu dia menatap ke arah Hyung nya. Sungmin.
Tanpa menoleh, Sungmin tahu apa yang di inginkan Eunhyuk. Masih di kursinya, dia kemudian mengangkat sebelah tangannya. Waitress yang sama, kembali mendekat.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap Waitress itu ramah. Tapi tatapannya tak lepas dari Sungmin. Wajah mereka semua memang memiliki kadar ketampanan yang keterlaluan. Apalagi di tambah aura mereka masing masing, tentu saja tidak bisa di tolak oleh orang orang yang melihat mereka.
Terutama manusia.
"Dua saudara ku mengeluh tentang hidangan ini," ucap Sungmin santai, "bisa kau cicipi makanan yang kau hidangkan ini?"
Waitress itu hanya berdiri bingung, sementara Kangin yang mengerti maksud Sungmin, dengan cepat memotong daging yang ada di hadapannya, lalu memberikannya pada Waitress itu.
"Ku rasa ada yang aneh pada rasanya. Bisakah kau mencoba nya untuk ku?" tanya Kangin dengan nada manis.
Waitress itu menyuapkan daging yang sudah di potong Kangin. Mengunyah sejenak, lalu menelannya.
"Rasanya enak. Seperti biasa. Apa yang aneh, Tuan?"
Kangin dan Ryeowook berpandangan. "Bagaimana bisa?"
Sungmin tiba tiba merentangkan kedua tangannya. Dan tiba tiba saja, seluruh isi restaurant itu hening. Bahkan tidak ada detik jam pun yang berbunyi. Sungmin menghentikan waktu.
"Akan ku jelaskan mengapa kalian tidak lagi bisa merasakan steak lezat itu," ucap Sungmin. Lalu menoleh pada Donghae.
Donghae mengangkat bahu. "Sekarang?"
"Tentu saja. Kau pikir dunia ini akan terhenti selamanya?"
"Haha, arra," sahut Donghae, lalu dia mengangkat tangannya ke depan, dan memutar telapak tangannya sekali.
Tiba tiba saja, mereka sudah berada di sudut jalan gelap yang kotor dan kumuh. Mereka semua. Beserta Waitress yang tadi di samping mereka dan empat Waitress lainnya yang berada dalam genggaman masing masing.
"Apa ini?!" ucap Ryeowook kaget, dan marah. Dia menyentakkan tangan Waitress yang ada dalam genggamannya. Merasa gemetar karena bisa merasakan aliran darah di tangan Waitress itu.
"Waktu masih berhenti," ucap Sungmin kalem.
Eunhyuk mendekati Ryeowook, mengelus pipi Ryeowook yang kali ini gemetar ketakutan. "Cobalah kau dekati dia," ucap Eunhyuk lembut. Tanpa sadar, Ryeowook menuruti keinginan Eunhyuk.
Kangin hanya menatap Sungmin. Meminta penjelasan dari Sungmin, selaku ketua dan yang tertua di antara mereka semua.
"Lakukan saja seperti yang Eunhyuk katakan," ucap Sungmin santai pada Kangin. Dia tahu Kangin lebih mudah di atur ketimbang Ryeowook yang begitu keras.
"Sudah boleh kita mulai?" tanya Donghae, mengerling ke arah Kangin dan Sungmin.
Eunhyuk mengangguk sekali. Lalu berbisik di telinga Ryeowook. "Mendekatlah ke leher nya. Rasakan aroma nya yang begitu menggoda."
Ryeowook menuruti kata kata Eunhyuk. Dia memegang tengkuk Waitress itu, dan menyusupkan wajahnya ke leher putih dan halus milik Waitress itu. Dia merasakan ada aroma yang menggoda, dan aliran darahnya terasa lembut. Sama sekali tak ada perlawanan. Perlahan, Ryeowook menjilati leher Waitress itu. Terasa begitu lezat dalam indera pengecapnya. Dan kali ini, tanpa ragu lagi, dia menancapkan taring nya ke leher putih itu. Dan menghisap darahnya hingga tak ada yang tersisa.
Lalu saat Ryeowook tersadar, di depannya sudah ada lima yeoja yang terbujur dengan wajah pucat kehilangan darah, dan empat namja yang menyeringai ke arah nya.
"Kerja bagus, Wook," ucap kakaknya, "ku harap setelah ini kau tidak lagi mengingkari kehidupan mu."
"Aku... apa?" tanya Ryeowook ling lung.
"Kau baru saja menikmati mangsa pertama mu. Bagaimana? Lezat bukan? Aku melihat kau sangat menikmatinya," ejek Donghae.
"Selamat bergabung dalam keluarga ku, Kim Ryeowook." tambah Sungmin. Sementara Eunhyuk hanya tersenyum melihatnya.
Ryeowook menyeka sudut bibirnya yang terasa lengket. Darah.
Dan seketika, Ryeowook tahu dia tidak bisa mengelak dari mereka semua. Meskipun dia sudah bertahan lebih dari 3 bulan, akhirnya pertahanannya runtuh. Dia memang tak bisa menentang kehidupannya sekarang.
Bahwa dia sudah menjadi Vampire seutuhnya. Malam ini.
TBC-
Yaps. Ryeowook muncul~ horee *tebar confetti*. yang bertanya tanya kemana Ryeowooknya, ini dia. Ryeowook 'nyasar' di keluarga Vampire. Hehehe ^_^v Nanti, di chapter chapter mendatang, bakal di jelasin, kenapa Ryeowook sama Kangin baru "3 bulan" jadi Vampire. Ho-ho. Sementara itu, saia akan merusak mood readers dengan menambahkan masalah masalah baru. jadi, mari menunggu~~ ^^
for all my review, thanks to:
~TeukTeukTeukie : yakin nih, mulai ngerti? *grins* kalo readers ku udah pada mulai ngerti, harus waspada dan siap siap mengubah alur biar pada ngga ngerti lagi *eh. Eum... masa kecil Leeteuk? Mungkin akan muncul sebagai flashback aja, sih ya, saia juga belum kepikiran buat menggambarkan masa kecilnya Leeteuk koq. Hehe :D So, thanks for your review^^
~ nekochan: sebenernya bukan drabble, tapi, yaps, di dua chapter pertama emg agak mirip drabble sih yee *elus jenggot(?)* di chapter ini Ryeowook muncul loh, meski belum masuk ke dunianya Leeteuk sih, tapi uda keliatan kan dia jadi apa di sini :D dan yg manggil leeteuk di chap 1 harusnya udah ketauan siapa di chap 3. meskipun masih agak 'berbayang' yah? :D So, thanks for your review^^
~xelo : takdirnya sampe kapan ya? mungkin sampe di situ aja takdirnya kali ya? kkk~ hayo, kenapa bisa nebak heechul nih? mari kita lihat, yah, takdir nya leeteuk bakal kemana.. haha~ so, thanks for your review^^
~ryeohyun09 : harus mati supaya bisa next chapter donk, hohoho *author sadis* dan saia suka kalo kamu kebingungan, soalnya kalo ampe ketebak, authornya yang pusing bikin chapter selanjutnya. Xixi ^^ So, thanks for your review^^
Seneng bgt baca review^^ itu bisa bikin author kayak saia jadi termotivasi buat ngelanjutin nulisnya. Untuk di chapter ini, di tunggu review nya yaa ^^
