Cast :
Leeteuk
Henry
Kibum
Shindong


#Chapter 6#

"Hyung..." Henry menghampiri dua namja yang sedang berjalan berdampingan, dan menyeruak di antara mereka. "Nanti ajarkan aku soal soal fisika, ya?"

"Shireo," Leeteuk langsung menyahut.

"Eiy, aku tidak minta padamu. Aku minta pada Kibum Hyung," mehrong Henry. Kibum langsung terbahak mendengarnya sementara Leeteuk merengut.

"Huh, tidak sopan," gerutu Leeteuk.

"Jangan ngambek, Hyung," rayu Henry. "Nanti cantiknya hilang."

"Cantik kepala mu."

"Tapi dia benar, Hyung. Kau itu cantik," tambah Kibum menyetujui, sementara Henry tertawa tawa karena di dukung Kibum, "aku saja jatuh cinta padamu."

"Hei, dia milikku," Henry segera memeluk lengan Leeteuk. Dan yang bersangkutan segera menjitak kedua temannya dengan bersemangat.

"Aww!"

"Aduh!"

"Hei, apa salah ku?" protes Kibum.

Leeteuk meleletkan lidahnya. Berjalan cepat cepat, dan kedua namja di belakang mengekorinya.

"Hyung~~ ayolah jangan ngambek. Nanti ku belikan puding strawberry kesukaanmu. Jangan ngambek padaku, jebal?"

"Ne, ku belikan jus strawberry juga sebagai tambahannya. Jangan ngambek lagi, ne? Rasanya dunia ku suram kalau kau ngambek."

"Memang aku iblis?!" Leeteuk lagi lagi menjitak Kibum.

"Bukan iblis," ringis Kibum, "masalahnya, aku bisa gelisah seharian kalau kamu masih mengerucutkan bibir seperti itu. Ayolah~."

"Eum, Kibum Hyung benar," tambah Henry, "kalau kau cemberut begitu rasanya akan turun hujan seharian karena Tuhan marah pada kami yang telah membuatmu cemberut."

"Sudah, hentikan kata kata menjijikkan seperti itu," Leeteuk bergidik. "Arraseo, belikan aku jus dan puding sesuka kalian saja. Aku masuk kelas dulu."

"Eh? Kau masih ada kelas, Hyung?"

"Kau pikir sekarang jam berapa? Kelas ku baru di mulai jam 10. Dan sekarang hampir jam 10. Sudah. Annyeong," ucap Leeteuk, lalu berlari kecil menuju kelasnya, meninggalkan Kibum dan Henry yang saling berpandangan.

"Jadi? Bagaimana dengan kita?"

Kibum mengangkat bahu. "Ke kantin saja. Aku sudah tak ada kelas lagi. Kalau kau?"

"Aku juga."

"Kalau begitu, kita belajar fisika mu saja, sembari menunggu Leeteuk Hyung selesai kelas. Eottae?"

"Begitu juga boleh. Kajja."

Mereka pun berjalan bersisian menuju kantin kampus. Sepanjang jalan, mereka sesekali berdebat menu apa yang enak, yang kemudian sibuk menyebutkan menu yang di sukai Leeteuk, atau sibuk membicarakan film film terbaru, dan berakhir dengan film apa yang kira kira bisa membuat Leeteuk tertarik menontonnya.

Bisa di bilang, mereka sangat hapal di luar kepala mengenai kebiasaan, kesukaan, bahkan hal hal kecil yang remeh mengenai Leeteuk. Dan jika Leeteuk mengingat salah satu kesukaan mereka, mereka pasti bertingkah lucu karena terlalu senang.

Lagipula, bukankah dari awal mereka sudah mengatakan terang terangan? Baik Kibum, atau pun Henry, mereka sama sama menyukai Leeteuk, yang meskipun lebih tua beberapa tahun, tetap saja terlihat imut dan tidak terlihat dewasa sama sekali saat bersama mereka. Menggemaskan.

Lucu juga mengingat persahabatan mereka pertama kali. Henry yang lebih muda setahun di banding Kibum, yang memang lebih dulu saling berteman, bertemu dengan Leeteuk yang sudah lebih dulu menjadi mahasiswa di kampus itu.

Leeteuk yang awalnya adalah Sunbae mereka, begitu innocent meskipun termasuk mahasiswa terpintar. Yang benar saja, mana ada Sunbae yang dengan polosnya mendekat ke arah mereka dan bertanya apakah mereka berpacaran atau sejenisnya, yang mengharuskan mereka untuk terus berdampingan satu sama lain, atau selalu berdua kemana pun.

Saat itu, Kibum dan Henry bahkan tertawa hingga sakit perut, sebelum akhirnya kepala mereka di pukul oleh kamus tebal milik Leeteuk, yang mengakibatkan mereka migrain tiga hari. Setelah itu, mereka seperti anak bebek yang mengikuti kemanapun Leeteuk pergi. Sampai Leeteuk sendiri pun capek mengusir mereka dan akhirnya membiarkan mereka bertingkah sesukanya di sekitarnya.

Dan mereka memang bertingkah jinak di samping Leeteuk. Menurut, manis, dan tidak bertingkah yang aneh aneh. Bagi Leeteuk sendiri pun, mereka nyaris seperti bodyguard nya saat di kampus. Dan menganggap mereka hanya sebagai adik adik nya saja.

Tapi, meskipun Leeteuk menganggap mereka adik, tidak begitu untuk Kibum dan Henry. Kibum menyukai kepolosan dan kepintarannya, sementara Henry menyukai perhatian dan keceriaannya. Dan di luar dari penampilan manis milik Leeteuk, ada semacam aura yang begitu lembut, yang sanggup meluluhkan hati siapapun.

Seperti aura seorang Malaikat, meski tak pernah tahu bagaimana aura sebenarnya Malaikat itu seperti apa.


"Sudah selesai?" tanya Leeteuk, pada teman sebangku nya, Shindong.

"Hehehe," Shindong hanya memberikan cengiran nya, dan Leeteuk langsung paham. Dia menyodorkan catatannya pada Shindong.

"Thanks, Teuk," Shindong segera menyambar buku catatan Leeteuk dan mulai mencatat dengan ganas.

Leeteuk tersenyum senyum melihatnya. Sudah terbiasa. "Memang apa lagi yang sedang kau kerjakan tadi? Bukannya kau juga mencatat apa yang baru di jelaskan Songsaenim tadi?"

"Aku mencatat, tapi begitulah, aku selalu terlambat menyelesaikan tulisanku. Dan tahu tahu saja, Songsaenim sudah menghapus lagi tulisannya. Kau tahu lah, aku sering sekali seperti itu," ucap Shindong. Tangan nya masih terus menyalin catatan milik Leeteuk. Dengan tulisannya yang begitu rapi.

Leeteuk meringis mendengarnya. Memang alasan itu yang selalu di lontarkan Shindong dari dulu. Sejak mereka bersekolah di Sekolah Menengah bersama sama, dan sekarang, Universitas pun sama. Jurusan yang sama, dan memiliki jam kelas yang sama.

Leeteuk dan Shindong memang sudah bersahabat dari dulu. Shindong juga salah satu mahasiswa terpintar. Keduanya masuk di Universitas itu dengan beasiswa. Dan nilai keduanya selalu lima teratas.

Tapi Shindong mengalami kelainan. Sejak dulu, dia selalu mengalami kesulitan jika di suruh menulis panjang dalam waktu singkat. Kemampuan menulis tercepat nya adalah sepuluh kata per menit. Itulah kenapa Leeteuk selalu di sampingnya. Leeteuk berusaha mungkin untuk menulis dengan sangat baik dan lengkap, untuk di salin ulang oleh Shindong.

Kenapa Leeteuk mau bersusah susah begitu?

Sebenarnya tak ada alasan khusus untuk Leeteuk. Dia melakukannya, karena dia ingin melakukan. Entah terlalu baik atau terlalu bodoh, seperti yang sering dia tebak sendiri, tapi Leeteuk tetap saja melakukannya. Dan di akhir tebak tebakannya dengan pikirannya sendiri, selalu sampai pada kesimpulan akhir yang sama. Karena Shindong adalah temannya.

Tapi apapun alasannya, Leeteuk selalu senang membantu Shindong. Apapun itu. Jika Shindong meminta sesuatu dari nya, akan di usahakan bagaimanapun caranya. Termasuk materi.

Shindong mengembalikan buku catatan Leeteuk. "Ternyata hanya sedikit, ya?"

Leeteuk tertawa. "Memang."

"Kelasku sudah selesai. Bagaimana dengan mu?"

"Sepertinya aku juga."

"Bagaimana kalau kita ke kantin? Aku lapar. Semoga masih ada makanan yang murah."

"Ne. Kajja?"

"Kajja."


"Ah, Hyungiee~~," seru Henry, melambaikan tangan saat di lihat orang yang sedari tadi di tungguinya muncul.

"Oh?" Leeteuk dan Shindong mendekat. "Kalian menungguku?"

"Geurom. Aku janji mentraktir puding, kan?" senyum Henry.

"Eh..." Leeteuk memperhatikan Shindong yang sedang menebarkan pandangannya di kantin.

"Ah, sepertinya makan itu di rumah akan terasa nikmat ya? Sayang uang ku kurang," ucap Shindong sembari menatapi salah satu kedai makanan di kantin.

"Kita beli itu?" tanya Leeteuk. "Sepertinya memang enak. Kau satu dan aku satu," tambahnya.

"Ah, uang ku kurang, Teuk," ucap Shindong.

"Eum, anggap saja hari ini aku mentraktir mu makan itu. Eottae?"

"Eiy, kau yang katakan sendiri ya," ucap Shindong dengan wajah berbinar. Tangannya menggamit lengan Leeteuk dan menariknya. "Kajja."

Leeteuk mengikuti Shindong. Sementara Kibum dan Henry hanya saling pandang.

"Aku sudah tahu teman Leeteuk Hyung yang satu itu tidak pernah benar," ucap Kibum datar. Henry mengangguk.

"Leeteuk Hyung terlalu baik. Jelas jelas dia hanya di manfaatkan. Tapi malah membela orang itu dengan alasan teman harus saling berbagi. Apa apaan itu? Jelas jelas Leeteuk Hyung yang selalu membelikan makanan untuk beruang itu."

"Kita juga selalu membelikan Leeteuk Hyung makanan kesukaannya," timpal Kibum.

"Kita beda, Hyung," protes Henry, "kita membelikannya karena memang kita yang mau. Tapi kalau Leeteuk Hyung itu, dia itu di manipulasi. Aku sebal melihatnya. Huh!"

"Tapi Leeteuk Hyung juga yang mau membelikan si beruang itu makanan. Kau tidak mendengar tawarannya tadi? Leeteuk Hyung sendiri yang menawarkannya makanan."

"Ash. Kau tidak dengar sebelumnya, si beruang itu bicara apa? Dia menyinggung makanannya itu, makanya Leeteuk Hyung menawarkan. Jika itu bukan manipulasi, aku tak tahu lagi apa namanya," gerutu Henry.

"Sudahlah," ujar Kibum, "Leeteuk Hyung datang. Kau tahu kan, bagaimana sulitnya kita minta maaf jika salah ucap hal yang buruk pada temannya itu?"

"Yeah," sahut Henry, "dia mengira temannya itu baik dan tulus, padahal... sampah."

"Sttt..."

"Ah, mian," ucap Leeteuk meringis, setelah sampai di hadapan Henry dan Kibum, "aku meninggalkan kalian. Tapi aku membelikan ini untuk kalian. Suka?"

Leeteuk menaruh makanan yang di belinya bersama Shindong tadi di depan keduanya. Henry dan Kibum berpandangan.

"Kau?"

"Kan aku punya puding dan jus dari kalian," cengir Leeteuk, menunjuk ke arah puding dan jus yang ada di tengah meja.

"Mungkin jus masih bisa mengenyangkan, Hyung, tapi puding?"

"Ah, gwaenchana. Kan pudingnya ada tiga. Buatku semua, ya?" Leeteuk langsung menarik kursi terdekat, lalu duduk di tengah mereka, dan mulai mengambil pudingnya. Mengunyahnya cepat.

"Aish, arra, arra. Makanlah pelan pelan, nanti tersedak," ucap Kibum, sementara Henry hanya tertawa tawa melihat tingkah Hyung yang di sukainya itu. Lucu dan sayang untuk di lewatkan.

Lalu mereka mulai makan. Leeteuk menghabiskan puding dan jusnya, sementara Henry dan Kibum menghabiskan makanan yang di beli Leeteuk untuk mereka.

"Menyenangkan dengan kalian," ucap Leeteuk setengah menggumam.

"Hm?" keduanya menoleh.

"Cuma kalian yang membelikan ku makanan kesukaan ku. Kalian, dan kedua Hyung ku."

Kibum dan Henry berpandangan lagi. Mereka tahu semua hal tentang Leeteuk, kecuali masa lalu nya. Tapi mereka tidak mempermasalahkan. Leeteuk tidak pernah menceritakan masalah pribadi nya, apa yang di dalam hatinya, apa yang di pikirannya, dan bertingkah seperti tidak pernah memiliki masalah berat. Tapi ada saat nya, topeng Leeteuk terbuka. Seperti saat ini.

Leeteuk menyendokkan puding nya pelan pelan, menuruti Kibum. Senyumnya tidak lepas dari wajahnya. Tapi sorot matanya terasa begitu menyedihkan. Henry bahkan bisa melihat bulir airmata menggenang di sudut matanya.

"Hyung..." Henry mengelus perlahan pipi Leeteuk. Leeteuk tidak menepisnya. Hanya menoleh kearahnya dengan sendok puding yang masih di tempel di mulutnya. Terlihat polos, tapi kesedihannya tetap terlihat.

Henry menyunggingkan senyum yang paling baik menurutnya, "Apa kau sebegitu terharunya karena ku belikan puding?"

Leeteuk nyengir, sementara Kibum tersenyum maklum. "Ne. Aku terharu sekali."

"Kalau kau mau, aku akan membelikan mu setiap hari. Eottae?"

Leeteuk menggeleng. "Nanti sakit perut," dia berpikir sejenak, "belikan saja aku dua hari sekali."

Henry menyembunyikan kepuasannya dan tersenyum lebar, "Arra. Mulai hari ini, aku akan membelikan puding tiap dua hari sekali. Eottae?"

"Nee!"

Kibum tersenyum penuh arti ke arah Henry, melihat wajah sendu Leeteuk dengan cepat terhapus oleh Henry, yang dengan cepat mengubah mood Leeteuk. Henry memang jago mengubah suasana hati. Apalagi jika itu Leeteuk.

"Aku juga akan membelikan jus untuk mu setiap dua hari. Kau mau?" ucap Kibum. Leeteuk mengangguk bersemangat.

"Kau yang mengatakannya ya. Jangan ingkar, Bum ah."

"Ne. Memang kapan aku pernah ingkar padamu?"

"Tidak pernah," Leeteuk mengepalkan kedua tangannya dan menempelkan nya di pipi, lalu memejamkan matanya di sertai mimik lucu di wajahnya, "Omooo~~!"

TBC-


Udah update as soon as possible nih^^ hai my readers and my reviewers^^ seneng deh baca baca komen kalian yang terkaget-kaget karena ada siluman/spesies baru(?) hehehe.. :D

so, thanks a lot for yours :

~Neko chan: gambarannya udah ada, tapi emang masih bingung nampilin konflik nya itu sendiri. nah loh, 'dia' nya itu siapa hayoo? hehe. bakal update A.S.A.P koq tenang aja^^. Thanks for your review^^

~Angelika Park: Hai hai^^ maaf yah ga bilang bilang , *bow* tapi untunglah kamu suka, yah?^^ kenapa teuk suka wook? kenapa ya? mungkin krn author nya shipper juga sih :p siwon? siwon muncul di chap 5 loh :) semua cast di sini penting koq, tenang aja^^ oh ya, teuki ngga cuma hidup 3 kali loh^^ Tunggu aja ya :D Thanks for your review^^

~TeukTeukTeukie: ada kemunculan ryeowook hehe :D bingung? baguslah. saia suka bikin bingung koq :p udah update nih :D Thanks for your review^^

~Xelo: Anda benarrr...! *tari hula hula* saia memang mau menjelaskan dan memasukkan banyak cast di sini^^ dan udah semua kan? xixixi :D Thanks for your review^^

thanks a lot for yours, guys^^ jangan bocen yah, baca ff ku^^

dan yang paling penting...

Please give me your review ^^ gomawo :D *bow*