Cast :
ALL SUPER JUNIOR MEMBERS


#Chapter 16#

~Dissapointment~

Leeteuk berjalan bersisian dengan Shindong, menuju kantin. Setelah berkutat dengan pelajaran yang menguras otak mereka, lebih baik memanjakan perut yang sudah berteriak teriak minta di isi.

"Seminggu kemarin kemana saja, Teuk? Kau terlihat lebih kurus lagi saja. Jika orang lain melihat kita, pasti mereka akan langsung mengingat angka sepuluh."

Leeteuk tertawa kecil. "Kenapa begitu?"

"Yah," Shindong nyengir lebar, "kamu kurus seperti angka satu, dan aku bulat seperti angka nol. Jika di gabung, bukankah jadi sepuluh?"

Leeteuk tertawa lagi. "Lalu aku harus bagaimana?"

"Makan yang banyak supaya kita jadi tak terhingga."

"Apa lagi itu?"

"Supaya kamu juga terlihat bulat. Lalu jika kita berjalan bersisian begini, orang lain akan menganggap kita sebagai lambang infinity," jelas Shindong sambil tertawa.

Leeteuk ikut tertawa, "Bagaimana jika kau saja yang berdiet? Lalu kita akan di ingat oleh yang lain sebagai lambang absolute."

"Kau pikir mudah, mengubah tubuh ku yang sudah menjadi lambang abadi dari function composition ini?" rungut Shindong.

Leeteuk tergelak mendengar protes Shindong. "Mau bagaimana lagi? Aku juga susah mengubah tubuh ku yang merupakan lambang abadi dari inference," ujarnya lucu.

Keduanya berpandangan sejenak, lalu kemudian, meledak lagi tawa mereka. Semua lambang yang di sebutkan mereka itu adalah lambang di aritmatika yang sedari tadi di kerjakan mereka dalam kelas.

"Sepertinya otak ku mulai berseliweran simbol lain selain infinity dan function composition ini," gelak Shindong.

"Tentu saja. Summation, universal quantification, dan isomorphism saja masih melayang layang di kepala ku," ucap Leeteuk sembari mengetuk ngetuk pelan kepalanya.

"Melayang atau bergelombang?" goda Shindong.

"Keduanya," jawab Leeteuk, dan mereka berdua tertawa lagi. "Jung Songsaenim benar benar sukses meracuni kita."

"Racun pintar, memang. Tapi tetap saja mata ku masih terasa nanar sehabis memelototi simbol simbol yunani begitu."

"Yah, demi beasiswa kita..." ucapan Leeteuk terhenti saat melihat Kibum dan Henry duduk di meja mereka yang biasa di kantin. "Sebentar ya, Dongie. Aku mau bicara dengan Kibum dan Henry dulu," ucap Leeteuk kemudian, lalu segera meninggalkan Shindong yang memasang wajah kebingungan.

"Bum, Hen," sapa Leeteuk ceria. Keduanya menoleh ke arah Leeteuk.

"Hai Hyung," senyum Kibum. Sementara Henry kembali melihat ke arah Kibum.

"Bukannya kau ada kelas, sekarang?" tanya Henry pada Kibum, jelas jelas tidak menganggap Leeteuk ada di situ. Kibum memandangi Henry dengan bingung. Begitupun dengan Leeteuk.

"Tidak," geleng Kibum, "jam pelajaran ku sudah habis, Hen."

"Ayo masuk kelas. Jelas jelas tadi kau mengatakan akan ada kelas sebentar lagi. Jadi kau mengisi perut dulu sebentar. Perlu ku temani ke kelas mu?"

Henry bangun dan menarik lengan Kibum. Kibum menuruti Henry dengan tatapan bertanya tanya, tapi tidak membantah Henry. Hanya mengikuti Henry yang menariknya pergi. Lalu berpaling untuk melihat Leeteuk.

Dan menemukan orang yang di sukainya menatap ke arah kepergian mereka dengan wajah sedih sekali. Kibum tidak tahu Leeteuk menangis atau tidak, tapi raut wajah Leeteuk terlihat begitu sedih. Memandangi mereka yang pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Terutama Henry. Setelah cukup jauh Henry membawanya, Kibum mulai menahan langkah Henry.

"Kau itu kenapa?"

"Apanya?"

"Leeteuk Hyung terlihat sedih sekali saat kau menarikku pergi seperti itu. Belum lagi, sikap mu yang tiba tiba seperti menganggapnya transparan begitu. Kau tidak memikirkan perasaan Leeteuk Hyung sekarang?"

"Kau menyuruh ku memikirkan perasaan Leeteuk Hyung. Lalu, apa selama ini dia memikirkan perasaan kita? Perasaan ku? Dan perasaan mu? Tidakkah dia merasa dia itu keterlaluan? Hanya karena merasa banyak yang menyayanginya, jadi dia tak perlu menganggap perasaan orang lain penting? Bukankah ciri ciri orang egois itu yang seperti dia?"

"Hei," Kibum menatap Henry dengan serius, "tolong jaga ucapanmu mengenai Leeteuk Hyung!"

"Untuk apa?" Henry mendengus. "Aku tahu aku masih menyukainya. Tapi, semakin menyukainya, semakin sakit buat ku saat dia mengatakan bahwa dia mau Ryeowook Hyung. Apa maksud nya itu? Bukankah arti kata itu secara tersirat adalah mengatakan bahwa dia tidak mau kita? Kita selalu menganggu nya. Selalu mengikutinya kemana pun. Dan selama ini, dia pasti menganggap kita menjengkelkan."

"Kenapa sekarang pikiran mu penuh dengan negative thinking tentang dia?" tukas Kibum. "Dia menyukai Ryeowook Hyung, tapi bukankah dia paling menyayangi kita? Kau sendiri juga tahu soal itu."

Henry terdiam sejenak. "Aku tahu itu. Tapi itu dulu. Dulu dia tidak menyatakan bahwa dia mau nya Ryeowook Hyung. Ingat?"

Ganti Kibum yang terdiam. Memang benar. Dulu, jika mereka merangkul lengan Leeteuk dan mengatakan keposesifan mereka, Leeteuk tidak membantah, dan hanya tertawa geli. Tapi kemarin, dia bukan hanya membantah, tapi jelas jelas mengatakan bahwa dia sudah memiliki orang yang di sukainya, dan secara tidak langsung, dia menyuruh mereka untuk menghindarinya.

"Dia yang mau kita menghindarinya, Hyung," ucap Henry lagi, menyentakkan Kibum. "Lagipula, aku tidak ingin bersaing dengan Hyung mu. Ku rasa sudah cukup keterlibatan ku dengan keluarga mu. Aku tidak perlu mengetahui siapa saja yang menyukai Hyung Hyung mu. Apalagi, tahu bahwa orang yang ku sukai juga menyukai Hyung mu."

"Kenapa kau jadi sinis padaku dan keluarga ku?" sergah Kibum.

"Tidak sinis. Aku menganggap keluarga mu seperti keluarga ku sendiri. Dan itu artinya, Ryeowook Hyung juga ku anggap sebagai Hyung ku. Tapi bagaimanapun, kita tidak berhubungan keluarga sama sekali. Mengerti maksudku?"

"Jadi sekarang kau memutuskan menjaga jarak dengan ku dan keluarga ku juga?"

"Kenapa sih, kau jadi sensitif begini?" gerutu Henry. "Kau tidak mengerti, eoh? Aku hanya tidak ingin ikut campur terlalu dalam di keluarga mu. Tidak ikut campur dan menjaga jarak itu tidak sama satu sama lain. Nilai bahasa mu itu berapa, sih?"

"Tidak ikut campur dalam urusan keluarga ku, lalu kenapa kau justru memusuhi Leeteuk Hyung?"

"Karena aku sakit hati," tukas Henry. "Orang yang ku sukai, menyukai Hyung ku."

"Tidakkah kau bersikap biasa saja?"

"Eh?"

"Walau dia menyukai Hyung ku, aku tetap menyukainya. Aku akan tetap bersikap baik dan menjadi anak baik untuk nya. Tak peduli siapa yang di sukainya. Dan melihat nya bersedih tadi, membuatku merasa bersalah. Apa kau tidak punya perasaan itu?"

Henry memandangi Kibum sejenak. "Tidak."

Kibum balas memandangi Henry, mendengar jawaban sedingin itu, keluar dari seorang Henry. Setengah tidak percaya, karena sebelum ini, Henry justru salah satu orang yang paling memperhatikan perasaan Leeteuk.

"Kau ini kenapa, Hen?"

"Sudahlah, Hyung," tukas Henry lagi, "aku juga tidak tahu aku kenapa. Untuk sementara, jangan menanyakan perasaan ku pada Leeteuk Hyung dulu. Sampai aku yakin, dan aku akan mengatakannya sendiri padamu."

"Yagsog?"

"Yagsog."


Leeteuk membanting tas nya keras keras di lantai kamarnya. Lalu membanting tubuhnya ke atas kasur miliknya. Menelungkup di sana. Dan menangis dengan keras. Dia tidak takut ada yang mendengarnya, karena di siang hari, tidak pernah ada orang di rumahnya.

Leeteuk juga tidak tahu, kenapa dia justru pulang, hanya karena di anggap tak ada oleh Henry, padahal masih ada dua kelas lagi yang harus di hadirinya. Dia hanya mengikuti kemauan hatinya saat ini.

Tadi, saat di tinggal begitu saja oleh Henry yang juga menarik Kibum pergi, mendadak dia merasa begitu kesepian dan menyedihkan. Dia tidak meladeni pertanyaan Shindong, dan memilih kembali ke kelas nya. Duduk di meja nya selama beberapa menit, sebelum akhirnya dia mengangkat tas nya dan berlalu begitu saja untuk pulang.

Sampai di rumah pun, kesepian nya semakin terasa, membuatnya melampiaskan sedihnya dengan menangis meraung di kamarnya.

Dia tidak tahu kenapa dia menangis. Perasaan nya bercampur menjadi satu. Menyesal, sedih, kesepian.

Satu lagi. Perasaan yang sama, di masa lalu nya, tiba tiba muncul. Lagi.

Perasaan bahwa dia di buang oleh orang orang yang sangat di sayangi.


"Ah, itu Tuan Angel," tunjuk Siwon gembira, saat dia melihat Leeteuk melangkah pelan, menuju ke arah luar kampus. "Tuan, kau tidak mengejar Tuan Angel?"

Henry memandangi Leeteuk yang semakin menjauh. "Tidak tertarik."

Siwon dan Kyuhyun memandangi Henry dengan wajah aneh, sementara Kibum hanya menghela napas. Dia sendiri juga bingung, harus memihak siapa. Di satu sisi, dia ingin sekali menghibur Leeteuk. Tapi disisi lain, Henry benar. Dia memang sakit hati karena Leeteuk memilih Hyung kandungnya sendiri. Menyedihkan.

"Lagipula, untuk apa kau ke sini, Max?" ujar Henry, menatap Siwon. "Hanya iseng, atau apa?"

"Akhir akhir ini kau sinis sekali, Tuan," ucap Kyuhyun. "Kenapa? Penyakit bulanan?"

Siwon cengar cengir dan Kibum menahan senyum mendengar komentar Kyuhyun, sementara Henry cemberut.

"Pulang saja kau, Husk."

"Aku juga tidak ingin di sini, Tuan. Kau pikir kami tidak punya kerjaan?"

"Lalu kenapa di sini? Urus saja urusan mu."

"Masalahnya, Tuan iblis menyuruh Han dan Mimi untuk menugaskan kami untuk mengawasi dan melindungi kalian," sela Siwon. "Tuan Hen, Tuan aneh dan Tuan Angel."

"Kenapa hanya nama ku yang tidak bagus, heh?" protes Kibum. Siwon nyengir.

"Aku tidak pandai menghafal nama mu, Tuan."

"Untuk apa?" sela Henry. "Kenapa Heechul Hyung dan Yesung Hyung menyuruh kalian mengawasi kami?"

"Entahlah. Aku bukan peramal seperti Tuan Iblis. Lagipula, Han dan Mimi tidak memberitahu kami apapun."

"Sepertinya, kita harus berbagi tugas, Won," ucap Kyuhyun. Siwon menoleh padanya.

"Maksudmu?"

"Itu," Kyuhyun menunjuk ke arah Leeteuk yang pergi naik taksi, "dia pergi."

"Ya ampun!" Siwon menatap Kyuhyun panik. "Siapa yang akan mengikuti dia?"

"Kau saja," kerling Kyuhyun santai.

"Arra." Lalu Siwon bergegas melesat ke arah Leeteuk. Sementara Henry dan Kibum kebingungan.

"Bukankah kau lebih bisa di andalkan, Husk?"

"Kau salah, Tuan," senyum Kyuhyun, lalu membisikkan sesuatu pada Henry, "Siwon adalah keturunan serigala yang sesungguhnya."

TBC-


Jongmal mianhae karena hari ini baru di apdet T,T kompie error hari senin dan baru bisa apdet hari ini :(

minta review nya buat chapter ini ya^^ gomawo ^^